@ Cecep Y Pramana
Di banyak majelis pengajian hari ini, ada satu kebiasaan baru yang perlahan dianggap biasa. Duduk bersama dalam majelis ilmu, tetapi pikiran tidak benar-benar hadir. Mata tertunduk, jari sibuk menggulir layar. Inilah yang dikenal sebagai phubbing (phone snubbing), mengabaikan orang lain di sekitar karena fokus pada ponsel (telepon).
Fenomena ini juga mulai terlihat di pengajian-pengajian, juga majelis UPA. Sebuah ruang yang seharusnya hangat, hidup, dan penuh perhatian, terkadang berubah menjadi sunyi secara batin. Suara kajian, tausiyah, atau taujih tetap terdengar, tetapi hati tidak sepenuhnya menyimak.
Ia justru asyik memainkan ponsel untuk berbagai keperluan. Mungkin chating, update status, searching, scroll tiktok, dan lain sebagainya. Ini bukan sekadar soal teknologi. Ini soal adab, soal kesadaran, soal bagaimana kita menghargai momen yang Allah Subhanahu wata’ala berikan. Menjaga adab, menghidupkan kehadiran di tengah gangguan layar.
Ketika Kehadiran Hanya Fisik
Majelis ilmu adalah tempat yang mulia. Tempat turunnya ketenangan dan rahmat. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah suatu kaum berkumpul untuk mengingat Allah, melainkan para malaikat mengelilingi mereka, rahmat meliputi mereka, dan Allah menyebut mereka di hadapan makhluk di sisi-Nya”. (HR. Muslim)
Namun, bagaimana jika tubuh kita hadir, tetapi pikiran kita tersebar ke mana-mana? Phubbing membuat kita kehilangan esensi kehadiran. Kita ada, tetapi tidak benar-benar hadir. Kita mendengar, tetapi tidak benar-benar menyimak. Padahal, keberkahan majelis ilmu bukan hanya pada duduknya, tetapi pada perhatian dan kesungguhan hati.
Sekilas terlihat sepele, hanya membuka pesan, dan hanya melihat notifikasi. Namun, dampaknya cukup dalam. Pertama, hilangnya fokus. Ilmu yang disampaikan tidak utuh diterima. Potongan-potongan informasi tidak membentuk pemahaman yang kuat.
Kedua, berkurangnya adab. Mengabaikan pembicara atau sesama anggota majelis adalah bentuk ketidakhadiran secara sosial. Ini bisa melukai, meski tidak diucapkan. Ketiga, menurunnya kualitas interaksi.
Majelis ilmu bukan hanya tempat mendengar, tetapi juga ruang untuk membangun kedekatan, saling menguatkan, dan berbagi makna. Phubbing (phone snubbing) memutus semua itu secara perlahan.
Islam Mengajarkan Fokus dan Adab
Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Sungguh beruntung orang-orang beriman, yaitu mereka yang khusyuk dalam shalatnya”. (QS. Al-Mu’minun: 1-2). Khusyuk bukan hanya dalam shalat. Ia adalah sikap hati yang fokus, hadir, dan sadar.
Jika dalam ibadah kita diminta untuk khusyuk, maka dalam majelis ilmu pun kita dituntut untuk menjaga perhatian. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam juga memberikan teladan dalam mendengarkan. Ketika berbicara dengan seseorang, beliau menghadapkan seluruh tubuhnya. Ini menunjukkan penghargaan penuh terhadap lawan bicara. Itulah adab, sederhana tetapi dalam maknanya.
Mengapa Phubbing Terjadi?
Tidak semua phubbing (phone snubbing) terjadi karena tidak peduli. Bisa jadi karena kebiasaan, atau karena ketergantungan. Notifikasi yang terus muncul membuat kita merasa harus selalu merespons. Ada rasa takut tertinggal informasi, dan ada dorongan untuk terus terhubung. Namun tanpa disadari, kita justru kehilangan momen yang lebih penting. Momen hadir sepenuhnya di tempat yang sedang kita jalani.
Menata Kembali Sikap di Majelis Ilmu (UPA)
Perubahan tidak perlu besar, cukup dimulai dari kesadaran kecil kita. Pertama, niatkan hadir untuk menuntut ilmu. Niat yang kuat akan membantu menjaga fokus. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga”. (HR. Muslim)
Kedua, disiplin terhadap diri sendiri. Letakkan ponsel, dan aktifkan mode senyap. Beri ruang bagi hati ini untuk benar-benar mendengar. Ketiga, hargai pembicara, pembimbing majelis atau sesama jamaah. Tatapan mata, sikap tubuh, dan perhatian adalah bentuk penghormatan. Keempat, latih kehadiran penuh. Tidak sekadar duduk, tetapi benar-benar menyimak, merenung, dan mengambil pelajaran.
Majelis UPA yang Hidup, Hati yang Terhubung
Majelis UPA memiliki potensi besar. Ia bukan hanya tempat berkumpul, tetapi tempat bertumbuh.
Bayangkan, jika setiap orang benar-benar hadir, lalu mendengar dengan sungguh-sungguh. Meresapi setiap pesan yang disampaikan, lalu membawa pulang nilai yang didapat untuk diamalkan.
Maka suasana akan berbeda. Majelis akan lebih hangat, lebih bermakna, dan lebih hidup. Dan semua itu dimulai dari hal yang sederhana. Menaruh ponsel sejenak, lalu mengangkat pandangan kepada pembicara atau pembimbing, selanjutnya menghadirkan hati dengan penuh kesungguhan.
Kembali ke Esensi Kehadiran
Teknologi bukanlah sebagai musuh. Ia hanya alat, namun kita yang menentukan, apakah ia membantu atau justru mengganggu. Phubbing (phone snubbing) di majelis UPA adalah sebagai pengingat. Bahwa kita perlu menata ulang cara kita hadir di UPA.
Tidak semua pesan di layar lebih penting dari ilmu yang sedang disampaikan. Tidak semua notifikasi yang masuk lebih berharga dari momen kebersamaan. Maka, belajarlah hadir sepenuhnya. Karena dari kehadiran yang utuh, maka lahir pemahaman yang dalam.
Dan dari pemahaman yang dalam, maka lahir perubahan yang nyata. Dan dari perubahan itu, maka hidup menjadi lebih bermakna. Majelis UPA akan berjalan lebih hangat. Wallahua’lam bishawab.
Twitter: @CepPangeran | IG/Tiktok: cecep.asmadiredja | LinkedIn: cecep y pramana