@ Cecep Y. Pramana
Hari ini, Jumat tanggal 10 Dzulhijjah 1446 H atau 6 Juni 2025 M, kita semua berkumpul kembali, tua, muda, dan anak-anak duduk bersimpuh di atas hamparan sajadah syukur, dinaungi langit yang membentang luas, seluas hamparan keikhlasan seorang hamba kepada Illahi Rabbi.
Menggemakan sekaligus mengagungkan kebesaran Allah Subhanahu wata’ala, sehingga bumi dan langit di sekitar kita pun ikut bergemuruh syahdu dengan suara takbir, tasbih, tahlil dan tahmid.
Seluruh umat muslim bergembira karena hari kemenangan dan kebahagiaan, juga rasa haru. Berbahagialah seluruh umat muslim, hamba Allah yang mengikuti sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dengan berpuasa arafah dan shalat Idul adha yang sekaligus menghidupkan sunnah Nabi Ibrahim as berupa Ibadah Haji dan penyembelihan hewan kurban.
Penyembelihan hewan kurban setelah shalat Ied tanggal 10 Dzulhijjah ini dan tiga hari tasyrik (tanggal 11,12, dan 13). Berkurban dengan pengorbanan harta berupa kambing, sapi atau unta adalah tonggak awal untuk mampu memperluasnya kepada kebaikan-kebaikan yang lebih luas, hablum minallah dan hablum minannas.
Sejatinya ibadah kurban adalah ujian diri untuk menampakkan dan membuktikan keimanan, sekaligus ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wata’ala. Dia Allah (Ar Rozzaq) Sang Maha Pemberi, apakah lebih kita cintai dari pada kenikmatan dunia yang kita miliki.
Apakah pemberian Allah Subhanahu wata’ala berupa harta yang berlimpah, pangkat, jabatan yang tinggi, keluarga dan anak-anak yang membanggakan dan berbagai macam kenikmatan hidup lainnya lebih utama dari sekedar berkurban seekor kambing atau sapi.
Berkurban tentu akan terasa berat dirasakan bagi orang yang tidak tahu rasa bersyukur kepada Allah Subhanahu wata’ala. Orang yang kufur nikmat menganggap bahwa apabila dia berkurban maka akan mengurangi jumlah hartanya.
Namun, tidak bagi orang yang beriman dan bertakwa. Bagi mereka justru berkurban adalah ibadah yang ditunggu-tunggu dalam momen Idul Adha, karena ibadah kurban akan mengantarkannya menjadi seseorang yang bisa merasakan manisnya iman dalam hidupnya.
Dan sesungguhnya harta yang dikurbankan tidak akan hilang begitu saja bahkan nantinya akan berbuah manis dalam kehidupan mereka di dunia maupun akhirat kelak.
“Tiga perkara jika kalian memilikinya, maka akan didapati manisnya iman. Pertama, orang yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selainnya. Kedua, mencintai seseorang semata-mata karena Allah SWT. Ketiga, tidak senang kembali kapada kekufuran setelah diselamatkan oleh Allah SWT, sebagaimana ketidak-senangannya dilempar ke dalam api neraka”. (HR Bukhari dan Muslim)
Berkurban adalah perwujudan ketakwaan dan cinta seseorang kepada Penciptanya, Allah Azza Wa Jalla yang juga direalisasikan lewat ibadah sosial. Dengan adanya ibadah kurban, dimaksudkan pula untuk menjembatani hubungan antara si kaya dan si miskin agar tetap harmonis.
Wujud kepedulian terhadapa sesama lewat ibadah kurban ini merupakan satu rangkaian pengabdian kepada Allah Subhanahu wata’ala yang memiliki dimensi ibadah murni (hablumminallah) dan juga dimensi kemanusiaan (hablumminannas).
Semangat untuk berbagi antar sesama dengan ikhlas merupakan kunci dan esensi berkorban yang akan menumbuhkan ketentraman, kedamaian dan solidaritas sosial masyarakat sekaligus kesuksesan ibadah yang baik dan benar kepada Allah Subhanahu wata’ala.
Semoga kita semua selalu diberi kekuatan, kebahagiaan, kemudahan, kesuksesan dalam bersyukur, beriman dan bertakwa kepada Allah Subhanahu wata’ala sekaligus kita semua tergolong orang yang bersemangat untuk berkurban dengan penuh ikhlas karena Allah Subhanahu wata’ala. Wallahua’lam.
TikTok/IG: cecep.asmadiredja | LinkedIn: cecepypramana | lynk.id/ceppangeran
.