Skip to content

RUMAH PENA MOTIVASI

Menu
  • Home
  • Artikel
    • Ramadhan
    • Umroh
    • Keluarga
  • Motivasi
  • Cerita
  • Coretan
  • Dari Anda
  • Berita Iklan
  • Tentang Admin
Menu

Memperoleh Perspektif

Posted on 8 August 20252 August 2025 by ceppangeran

@ Cecep Y. Pramana

Di lautan lepas, jauh dari pandangan daratan, kita jatuh dari perahu kecil ke air. Kita perenang yang handal, dan mampu mulai mengapung di air setelah beberapa saat. Namun, ada gelombang setinggi 1,8 meter di laut dan kita tidak dapat melihat ke atas untuk menentukan di mana perahu itu berada.

Meskipun kita hanya berjarak sekitar 7,8 meter dari perahu dan dapat dengan mudah berenang sejauh itu dengan sangat cepat, namun kita tidak tahu ke arah mana harus berenang. Dalam situasi seperti itu, maka kita akan sangat diuntungkan dengan memperoleh sedikit lebih banyak perspektif.

Misalnya, jika kita memiliki semacam platform terapung, seperti sekoci penyelamat, maka kita dapat berdiri di atasnya dan hal itu mungkin akan membuat kita cukup tinggi di atas permukaan air untuk melihat ke atas ombak dan menemukan perahu. Sedikit perspektif tambahan — 1,5 atau 1,8 meter — akan membuat perbedaan besar dalam situasi kita.

Sekarang mari kita pertimbangkan skenario yang lebih familiar dan lebih mungkin — terombang-ambing di lautan kehidupan sehari-hari yang bergolak. Kita duduk di meja kerja dengan 30 email tak terjawab di folder “mendesak” kita. Ponsel kita terus berdering, begitu kerasnya sehingga kita bahkan tidak bisa mulai mengerjakan email atau pekerjaan di sela-sela panggilan.

Saat ponsel di simpan di saku kita berdering kembali dan kita mendapat kabar bahwa anak kita harus segera dijemput dari sekolah karena demam. Namun, pertama-tama kita harus pergi ke kantor pos dan mengirimkan setumpuk tagihan, lalu menyetorkan sejumlah uang lagi di bank untuk membayar tagihan tersebut.

Ini adalah situasi di mana kita bisa mendapatkan manfaat dari mendapatkan perspektif. Dalam hal ini, bukan perspektif fisik yang akan membantu, melainkan perspektif mental dan spiritual. Kompleksitas kehidupan modern seringkali datang begitu cepat sehingga yang bisa kita lakukan hanyalah bereaksi terhadapnya, dan dengan begitu kita membiarkannya mengendalikan kita.

Namun, dengan perspektif yang cukup, maka kita tidak perlu menghabiskan seluruh energi kita untuk bereaksi terhadap apa yang terjadi di sekitar kita, dan hanya berdiam diri. Dengan perspektif yang cukup, maka kita dapat bergerak dengan tenang, percaya diri, dan efektif menuju impian kita yang paling berharga, apa pun yang terjadi.

Dengan mendapatkan lebih banyak perspektif, maka kita dapat bangkit dari rasa frustrasi karena hidup dari satu krisis ke krisis berikutnya, dan mencurahkan energi kita untuk kehidupan yang sungguh-sungguh dan terus-menerus memuaskan.

Jadi, bagaimana kita mendapatkan perspektif yang berharga ini? Nah, sesuatu yang bermanfaat dan berharga seperti peningkatan perspektif membutuhkan usaha. Ada banyak hal yang bisa dilihat dari puncak gunung, namun ada pendakian yang cukup jauh yang diperlukan untuk mencapainya. Dan untuk mendapatkan perspektif membutuhkan komitmen.

Perspektif bukanlah sesuatu yang bisa didapatkan dalam ‘karton tipis’ di toko swalayan setempat. Perspektif membutuhkan masukan, waktu, dan keinginan kita untuk mewujudkannya. Mengirim orang lain untuk mendaki gunung untuk kita mungkin memberi kita beberapa informasi berharga, tetapi hal itu tidak dapat dibandingkan dengan imbalan yang akan diperoleh dari mendaki gunung sendiri.

Langkah penting dalam mendapatkan perspektif adalah mengurangi tingkat kebisingan sehingga kita berada dalam posisi di mana kita dapat mendengar diri kita berpikir. Jika kita seperti kebanyakan orang, maka selalu ada begitu banyak aktivitas dan kebingungan yang berputar-putar di sekitar kita sehingga hampir tidak ada ruang yang tersedia untuk perenungan yang nyata dan mendalam.

Sebagian besar energi mental kita terkuras untuk bereaksi terhadap dunia serba cepat yang kita jalani dan geluti. Hal itu memang bisa mendebarkan dan memuaskan sampai batas tertentu, tetapi pada akhirnya terasa hampa. Pada akhirnya, kita sampai pada titik di mana semua itu terasa sia-sia, di mana kita terus melakukan hal yang sama berulang-ulang tanpa pernah bergerak maju secara nyata. Bismillah…

TikTok/IG: cecep.asmadiredja | LinkedIn: cecepypramana | lynk.id/ceppangeran
.

STASIUN GAMBIR, Jakarta Pusat, pukul 07.00 Wib perjalanan menuju STASIUN SOLO BALAPAN

0Shares
Category: Motivasi

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Statistik

  • 2
  • 2,759
  • 1,109,394
  • 2,515

Tiket.com

banner

HALO MOTIVASI

Pelago.com – Travel

KREMES KRATON

ADIDAS ID

EIGER

LAZADA INDONESIA

diskonMU

NEOZEN KOREA

Pengunjung

Flag Counter

Arsip

Kategori

© 2026 RUMAH PENA MOTIVASI | Powered by Minimalist Blog WordPress Theme