@ Cecep Y Pramana
Ia tidak menunggu waktu yang tepat. Ia sudah ada. Saat kita memberi cinta, maka kita tidak kehilangan apa pun. Justru sebaliknya. Cinta bertumbuh ketika dibagikan. Cinta kepada-Nya lebih penting dari apa pun. Tanpanya, pencapaian terasa kosong. Keberhasilan menjadi sunyi.
Bahkan cinta itu sendiri kehilangan makna jika tidak dijalani dengan tulus ikhlas. Ketika tindakan digerakkan hanya oleh kepentingan diri, maka ruang batin menyempit. Hidup terasa kecil, meski terlihat penuh. Namun, saat langkah dipandu oleh kepedulian pada orang lain, sesuatu di dalam diri ikut terangkat. Kita tumbuh, bersama mereka yang kita cintai.
Cinta tidak rapuh. Saat diserang, ia tidak hilang. Ia terus menguat. Saat ditolak, ia tidak padam. Ia justru bertahan. Dalam keadaan paling sulit, cinta tetap tinggal. Ia tidak melawan dengan kekerasan, tetapi dengan kesabaran. Dari sikap mengalah itulah, cinta menemukan jalannya sendiri.
Cobalah menoleh ke masa sepuluh atau dua puluh tahun lalu. Banyak detail yang mungkin telah memudar. Wajah, tempat, dan peristiwa tidak lagi utuh dalam ingatan. Namun, rasa cinta yang pernah hadir masih terasa jelas di pelupuk mata. Bahkan lebih kuat dari yang kita duga.
Di sanalah jawabannya. Bahwa cinta sejati itu adalah nyata. Ia ada. Dan ia akan selalu ada. Melampaui perasaan sementara, sering kali diuji melalui ketulusan dan komitmen. Cinta bukan sekadar emosi, melainkan tindakan nyata, ada dalam setiap situasi, dan ia selalu hadir. Bismillah…
Twitter: @CepPangeran | IG/Tiktok: cecep.asmadiredja | LinkedIn: cecep y pramana