@ Cecep Y Pramana
Tidak sedikit orang menunda bersedekah karena merasa hidupnya sendiri masih pas-pasan. Kebutuhan belum tuntas, sedangkan tanggungan masih banyak. Ada rasa takut jika memberi justru akan membuat keadaan semakin sempit.
Perasaan itu manusiawi. Namun ‘iman’ akan mengajak kita untuk melihat lebih dalam. Rezeki bukan semata hasil kerja keras kita. Ia adalah titipan dan amanah dari Allah Subhanahu wata’ala. Saat kita memberi, maka sejatinya kita sedang menaruh percaya kepada Pemilik rezeki, Allah Azza wa Jalla.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al-Baqarah: 261).
Ayat ini mengajarkan satu hal penting. Apa yang tampak kecil di tangan kita bisa menjadi besar di sisi Allah Subhanahu wata’ala. Satu kebaikan tidak berhenti pada hitungan manusia. Ia berkembang dengan izin-Nya.
Sedekah di Waktu Sempit
Sering kali kita berpikir bahwa sedekah hanya bagi mereka yang lapang dan kaya. Padahal Allah Subhanahu wata’ala justru memuji orang yang tetap memberi dalam dua keadaan, sempit dan lapang.
Dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 134, Allah Subhanahu wata’ala menyebutkan ciri orang bertakwa sebagai mereka yang menafkahkan hartanya dalam keadaan lapang maupun sempit, menahan amarah, dan memaafkan sesama. Artinya, sedekah bukan soal kondisi, ia adalah sikap hati.
Mereka yang memberi saat berlebih terasa ringan, sedangkan mereka yang memberi saat kekurangan terasa berat. Namun, di situlah nilai keikhlasan diuji, saat kita tetap menyisihkan sebagian kecil dari yang harta, kita sedang melatih jiwa agar tidak dikuasai rasa takut miskin.
Nilai Besar dari Pemberian yang Kecil
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sedekah yang paling utama adalah sedekahnya orang yang kekurangan, dan mulailah dari orang yang kamu tanggung”. (HR. Abu Dawud).
Hadis ini memberi ketenangan bagi siapa saja yang merasa belum mampu. Allah Subhanahu wata’ala tidak menilai dari besarnya angka. Allah Subhanahu wata’ala melihat pengorbanan, niat, dan kadar kemampuan dari kita.
Dalam riwayat lain dari An-Nasa’i disebutkan, bahwa satu dirham bisa mengungguli seratus ribu dirham. Mengapa? Karena satu dirham itu diberikan oleh orang yang hanya memiliki dua dirham. Ia memberikan setengah dari yang ia miliki. Sementara yang lain memberi dari kelapangan hartanya.
Di sinilah letak kedalaman makna sedekah. Sedekah adalah wujud cinta kepada Allah Subhanahu wata’ala yang menonjolkan ketulusan hati dan keyakinan. Bukan tentang jumlahnya, tetapi tentang seberapa besar hati yang cinta kepada Allah Subhanahu wata’ala terlibat di dalamnya.
Nilai sedekah terletak pada keikhlasan serta besarnya pengorbanan di saat sulit, bahkan sekecil sebiji kurma sangat bernilai di sisi Allah Subhanahu wata’ala. Setiap kebaikan kecil yang tulus akan dibalas berlipat ganda oleh Allah Subhanahu wata’ala.
Salah seorang sahabat Nabi, Muawiyah bin Abi Sufyan, pernah menasihati agar jangan menunda sedekah dengan alasan kekurangan. Ia menegaskan bahwa sedekah orang yang berkekurangan bisa lebih utama daripada sedekah orang kaya.
Nasihat ini sangat relevan bagi kita hari ini. Bagi yang berada di usia dewasa dengan banyak tanggung jawab keluarga. Bagi generasi muda yang sedang merintis karier dan masa depan. Keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berbagi. Sedekah tidak harus besar, bisa berupa sedikit uang, berupa makanan, bantuan tenaga, bahkan doa yang tulus pun bernilai di sisi Allah Subhanahu wata’ala.
Menguatkan Hati, Menenangkan Jiwa
Saat seseorang tetap bersedekah meski sedang sempit atau merasa kesusahan, maka ada perubahan yang terjadi di dalam dirinya. Ia menjadi lebih tenang, lebih yakin dan lebih lapang dalam menerima takdir Allah Subhanahu wata’ala.
Kecukupan tidak selalu identik dengan jumlah. Kecukupan adalah ‘rasa cukup’ yang Allah Subhanahu wata’ala tanamkan di hati. Dan sering kali, rasa cukup itu justru tumbuh dari kebiasaan kita dalam memberi.
Karena itu, jangan kita menunggu kaya untuk bisa bersedekah. Mulailah dari yang mampu hari ini, walau sedikit tetapi konsisten. Percayalah, Allah Subhanahu wata’ala tidak pernah menyia-nyiakan kebaikan hamba-Nya.
Apa yang kita keluarkan di jalan-Nya, ia tidak akan hilang. Harta yang kita infakkan dan sedekahkan di jalan Allah Subhanahu wata’ala tidak berkurang, melainkan abadi dan kembali dalam bentuk yang mungkin tidak selalu sama. Bisa keberkahan hidup, ketenangan hati, maupun balasan berlipat di akhirat. Wallahu a’lam bishawab.