@ Cecep Y Pramana
Ramadhan sering disebut dengan beragam nama mulia, salah satunya syahrul ibadah, bulan ibadah. Sebutan ini lahir dari kenyataan bahwa Ramadhan menghadirkan ruang ketaatan yang begitu luas. Setiap detik di dalamnya menyimpan peluang pahala, dan setiap amal, sekecil apa pun, berpotensi dilipatgandakan. Di bulan ini, seakan langit direndahkan agar doa-doa hamba lebih dekat kepada Rabb-nya.
Ibadah yang menjadi poros Ramadhan adalah puasa (shiyam). Puasa bukan semata menahan lapar dan dahaga, melainkan latihan ketaatan total, saat ruh manusia terhubung secara langsung dengan Allah Azza wa Jalla. Dalam puasa, seorang hamba belajar tunduk bukan karena dilihat manusia, tetapi karena keyakinan bahwa Allah Subhanahu wata’ala Maha Mengetahui.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “(Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan, lalu ia berbuka, maka (wajib mengganti) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain”. (QS. Al-Baqarah: 184)
Ramadhan disebut syahrul ibadah karena ibadah tidak berhenti ketika matahari terbenam. Justru, malam-malam Ramadhan menjadi waktu paling sunyi dan mulia untuk bersimpuh di hadapan Allah Subhanahu wata’ala, melalui shalat tarawih, witir, dan tahajud. Dalam keheningan malam, doa-doa dilangitkan dengan harap yang paling jujur.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Keistimewaan bulan Ramadhan juga tampak pada ragam amalannya. Ibadah di bulan ini mencakup hubungan vertikal dengan Allah (hablum minallah) sekaligus hubungan sosial dengan sesama (hablum minannas). Al-Qur’an dibaca dan direnungi, karena Ramadhan adalah bulan turunnya wahyu.
Tangan dilapangkan untuk bersedekah dan berbagi, bahkan memberi makan orang berbuka puasa pun bernilai pahala seperti orang yang berpuasa itu sendiri. Di sepuluh malam terakhir, sebagian hamba memilih beritikaf, ‘mengasingkan’ diri sejenak dari dunia demi mengejar kemuliaan lailatul qadar.
Namun, agar Ramadhan benar-benar menjadi syahrul ibadah yang membekas dalam jiwa, maka kualitas amalan harus dijaga. Ibadah perlu dibersihkan dari penyakit hati seperti riya dan sum’ah, yaitu keinginan untuk dipuji dan didengar manusia yang secara halus dapat menggerogoti keikhlasan.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan bahwa hakikat ibadah terletak pada akhlak dan pengendalian diri: “Puasa itu bukan hanya menahan makan dan minum, tetapi juga menahan diri dari perbuatan sia-sia dan perkataan kotor”. (HR Al-Hakim).
Menjadikan Ramadhan sebagai syahrul ibadah berarti mengalihkan fokus hidup, walau sejenak, dari hiruk-pikuk dunia menuju puncak ketaatan. Di bulan ini, setiap aktivitas dapat bernilai ibadah, bahkan tidur orang yang berpuasa jika diniatkan sebagai penguat untuk taat kepada Allah Subhanahu wata’ala.
Mari kita manfaatkan setiap tarikan napas di bulan Ramadhan ini untuk memperbanyak sujud, menghidupkan tilawah, dan meluaskan kepedulian dan kepekaan kepada sesama. Semoga Ramadhan tahun ini benar-benar menjadi bulan yang mengubah kita, bukan hanya lebih rajin beribadah, tetapi juga lebih tunduk, jujur, dan ikhlas dalam penghambaan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Wallahu a‘lam bishawab.