@ Cecep Y. Pramana
Hari-hari terasa begitu cepat, Ramadhan hampir berlalu. Seakan baru kemarin kita menyambutnya dengan harapan dan doa, namun kini bulan yang penuh berkah itu perlahan mendekati perpisahan. Ramadhan tahun 1447 Hijriyah segera meninggalkan kita.
Tidak ada seorang pun yang mengetahui apakah kita masih diberi kesempatan untuk bertemu kembali dengan Ramadhan di tahun yang akan datang. Karena itu, di penghujung Ramadhan ini ada satu hal yang patut kita lakukan dengan sungguh-sungguh. Kita perlu berhenti sejenak dan menengok ke dalam diri.
Menanyakan kembali kepada hati masing-masing, sejauh mana kesungguhan kita dalam menjalani ibadah selama bulan yang mulia ini. Apakah puasa yang kita jalani benar-benar mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wata’ala. Apakah ia membawa kita lebih dekat kepada tujuan besar yang dijanjikan Allah Subhanahu wata’ala, yaitu meraih derajat takwa.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman dalam Al-Qur’an bahwa puasa diwajibkan agar manusia menjadi orang-orang yang bertakwa. Namun pada hakikatnya, hanya Allah Subhanahu wata’ala yang mengetahui siapa yang benar-benar mencapai derajat tersebut.
Manusia tidak memiliki kemampuan untuk menilai secara pasti apakah seseorang telah meraih ketakwaan atau belum. Meski demikian, para ulama memberikan penjelasan tentang tanda-tanda yang dapat menjadi bahan renungan bagi diri kita sendiri.
Penjelasan ini bukan untuk menilai orang lain, tetapi sebagai cermin untuk melihat keadaan hati dan kehidupan kita setelah Ramadhan berlalu. Para ulama mendefinisikan takwa sebagai sikap hidup yang selalu taat kepada Allah dan menjauhi maksiat kepada-Nya.
Takwa juga berarti selalu mengingat Allah Subhanahu wata’ala dalam setiap keadaan, tidak lalai dari dzikir kepada-Nya, serta senantiasa bersyukur atas nikmat yang diberikan.
Dengan pengertian ini, takwa menjadi konsep yang sangat luas. Ia tidak hanya berkaitan dengan ibadah ritual, tetapi juga mencakup akidah, akhlak, hubungan sosial, serta seluruh perilaku kehidupan seorang muslim.
Takwa bukan sekadar ucapan di lisan. Ia bukan pula sekadar pengakuan tanpa bukti. Takwa adalah sikap hidup yang terlihat dari perbuatan nyata. Ia tercermin dari ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala dan kesungguhan dalam menjauhi segala bentuk larangan-Nya.
Ramadhan pada dasarnya adalah waktu pembinaan jiwa. Selama sebulan penuh, seorang muslim dilatih untuk menahan diri, mengendalikan keinginan, memperbanyak ibadah, serta memperkuat kepedulian kepada sesama.
Karena itu, Ramadhan sering kali menghadirkan suasana yang berbeda dalam kehidupan pribadi maupun dalam masyarakat. Kebaikan terasa lebih mudah dilakukan. Sedekah mengalir lebih banyak. Masjid menjadi lebih ramai dan hati terasa lebih lembut.
Namun pertanyaannya adalah, apakah perubahan itu akan berhenti ketika Ramadhan berakhir? Jika seseorang setelah Ramadhan tetap menjaga kebiasaan baik yang telah dibangun selama bulan suci, maka itu adalah pertanda yang baik.
Ketika shalat tetap dijaga, sedekah tetap dilakukan, hati tetap lembut terhadap sesama, serta lisan tetap dijaga dari perkataan yang menyakiti, maka Ramadhan telah meninggalkan jejak yang baik dalam kehidupannya.
Sebaliknya, jika setelah Ramadhan kehidupan seseorang kembali seperti sebelum Ramadhan, tanpa ada perubahan berarti dalam ibadah maupun perilaku, maka hal itu patut menjadi bahan renungan. Bukan untuk berputus asa, tetapi sebagai pengingat bahwa perjalanan menuju takwa masih harus terus diperbaiki.
Dalam kehidupan sehari-hari, tanda-tanda ketakwaan sering kali terlihat dari perubahan sikap dan kebiasaan. Hubungan seseorang dengan Allah Subhanahu wata’ala menjadi lebih terjaga. Shalat dilakukan dengan lebih khusyuk. Doa menjadi lebih sering dipanjatkan. Hati lebih mudah mengingat Allah Subhanahu wata’ala.
Di sisi lain, hubungan dengan sesama manusia juga menjadi lebih baik. Ia lebih mudah memaafkan. Lebih ringan membantu orang lain. Lebih berhati-hati dalam bersikap dan berbicara. Ia berusaha menjaga kejujuran, menepati janji, serta menghindari perbuatan yang dapat merugikan orang lain.
Orang yang berusaha menjaga ketakwaan juga akan terus memperbaiki dirinya. Ia tidak berhenti belajar. Ia berusaha menambah ilmu, terutama ilmu yang dapat mendekatkannya kepada Allah Subhanahu wata’ala.
Ia bekerja dengan sungguh-sungguh untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarganya dengan cara yang halal. Pada saat yang sama, ia juga berusaha memberi manfaat bagi orang lain. Semua ini tidak terjadi secara tiba-tiba.
Ketakwaan bukan sesuatu yang terbentuk dalam waktu singkat. Ia adalah proses panjang yang membutuhkan kesungguhan, kesabaran, dan pembinaan yang terus-menerus. Salah satu cara menjaga proses ini adalah dengan saling menasihati dalam kebaikan.
Mendengarkan nasihat yang baik, mengajak orang lain kepada kebaikan, serta bekerja sama dalam perbuatan yang bermanfaat bagi masyarakat. Lingkungan yang baik akan membantu seseorang untuk tetap berada di jalan yang benar.
Karena itu, di penghujung Ramadhan ini muhasabah menjadi sangat penting. Muhasabah berarti menilai kembali perjalanan diri kita. Menimbang apa saja yang telah kita lakukan selama Ramadhan.
Apakah ibadah yang kita lakukan sudah maksimal. Apakah puasa benar-benar mendidik hati menjadi lebih sabar dan lebih jujur. Apakah sedekah yang kita berikan sudah lahir dari keikhlasan.
Dengan melakukan muhasabah, kita dapat melihat dengan lebih jujur kelebihan dan kekurangan diri. Kita dapat mengetahui bagian mana yang perlu diperbaiki dan kebiasaan baik mana yang harus terus dijaga.
Muhasabah juga membantu kita agar ibadah tidak berhenti sebagai rutinitas. Ibadah seharusnya membawa perubahan dalam cara berpikir, bersikap, dan menjalani kehidupan. Jika ibadah mampu menghadirkan perubahan tersebut, maka ia telah memberi pengaruh yang nyata dalam kehidupan kita.
Di penghujung Ramadhan ini, marilah kita menata kembali niat dan harapan. Semoga Ramadhan yang telah kita jalani tidak berlalu begitu saja tanpa meninggalkan bekas dalam diri kita. Hati kita menjadi lebih bersih, langkah kita menjadi lebih terarah dan Allah Subhanahu wata’ala menerima setiap amal yang telah kita lakukan.
Kita berharap kepada Allah Subhanahu wata’ala agar dipertemukan kembali dengan Ramadhan di masa yang akan datang dalam keadaan yang lebih baik, lebih siap, dan lebih dekat kepada-Nya. Aamiin Allahumma Aamiin.