@ Cecep Y Pramana
Bagi seorang Muslim, dakwah tidak pernah berdiri di ruang kosong. Ia selalu hadir dalam konteks kehidupan yang nyata. Dalam tanah tempat berpijak. Dalam masyarakat tempat berinteraksi. Karena itu, kerja dakwah tidak bisa dipisahkan dari kehidupan berbangsa.
Tanah dan manusia menjadi dua unsur yang tidak terpisahkan. Di atas tanah inilah kehidupan tumbuh. Bersama manusialah nilai-nilai disampaikan, diuji, dan diwujudkan. Dakwah hidup di sana. Bergerak bersama denyut kehidupan sehari-hari.
Bumi ini adalah milik Allah SWT. Namun dalam perjalanan sejarah, manusia diberi amanah untuk mengelolanya. Dari generasi ke generasi, ada jejak kepemilikan, ada tanggung jawab yang diwariskan. Di situlah manusia menjalankan perannya sebagai khalifah. Mengelola, menjaga, dan memakmurkan. Bukan sekadar memanfaatkan.
Sebuah bangsa yang baik memberi ruang bagi tumbuhnya kebaikan. Ia memungkinkan setiap individu berkembang dalam suasana saling menghargai. Ada kasih sayang. Ada kelembutan. Ada semangat saling menolong. Semua itu tidak lahir tiba-tiba. Ia berawal dari lingkaran paling kecil, yaitu keluarga.
Apa yang tidak selesai di rumah, sulit disempurnakan di ruang publik. Seseorang yang belum mampu berbuat baik kepada keluarganya akan kesulitan menghadirkan kebaikan yang utuh bagi masyarakat. Dari keluarga, nilai itu tumbuh. Dari keluarga, karakter itu dibentuk.
Dalam pandangan Islam, kehidupan tidak dipisah-pisahkan. Islam hadir secara menyeluruh. Menyentuh sisi pribadi, sosial, hingga kehidupan bernegara. Karena itu, komitmen kebangsaan bukan sesuatu yang berada di luar dakwah. Ia justru bagian dari dakwah itu sendiri.
Mencintai bangsa bukan sekadar perasaan. Ia adalah bentuk syukur. Bangsa ini adalah tempat kita dilahirkan. Tempat kita belajar, berjuang, dan memberi arti. Sementara dakwah adalah cara kita menjalankan amanah penghambaan. Keduanya saling terhubung, mengarah pada satu tujuan yang sama. Mencari ridha Allah SWT.
Dalam perjalanan sejarah Indonesia, Islam tidak pernah menjadi penghalang bagi tumbuhnya nasionalisme. Justru dari nilai-nilai Islam, semangat kebangsaan itu menemukan akarnya. Ada dorongan untuk menjaga persatuan. Ada kesadaran untuk memperjuangkan keadilan. Ada semangat untuk menghadirkan kebaikan bersama.
Relasi antara Islam dan negara bukan hubungan yang saling menegasikan. Ia adalah ruang dialog yang terus hidup. Ruang untuk mencari bentuk terbaik dalam menghadirkan kemaslahatan. Dalam konteks ini, dakwah tidak hanya berbicara tentang ibadah personal, tetapi juga tentang bagaimana nilai-nilai itu hadir dalam sistem, kebijakan, dan kehidupan bersama.
Pada akhirnya, komitmen kebangsaan dalam perspektif dakwah adalah tentang kehadiran. Hadir dengan kesadaran. Hadir dengan tanggung jawab. Menguatkan nilai di tengah masyarakat. Menjaga arah di tengah perubahan.
Kita tidak hanya hidup untuk diri sendiri. Kita bagian dari perjalanan bangsa ini. Apa yang kita lakukan hari ini akan menjadi jejak bagi masa depan. Maka dakwah dan kebangsaan tidak perlu dipertentangkan. Keduanya berjalan beriringan. Saling menguatkan. Mengantar kita menuju tujuan yang lebih besar dan lebih dalam. Bismillah…
Twitter: @CepPangeran | IG/Tiktok: cecep.asmadiredja | LinkedIn: cecep y pramana