Skip to content

RUMAH PENA MOTIVASI

Menu
  • Home
  • Artikel
    • Ramadhan
    • Umroh
    • Keluarga
  • Motivasi
  • Cerita
  • Coretan
  • Dari Anda
  • Berita Iklan
  • Tentang Admin
Menu

Asy-Syaja’ah, Keberanian Jiwa (bagian 1)

Posted on 20 April 202619 April 2026 by ceppangeran

@ Cecep Y Pramana

Keberanian dalam Islam bukan sekadar soal keberanian menghadapi risiko. Ia tumbuh dari hati yang lurus, dari keyakinan kepada Allah Subhanahu wata’ala yang tidak goyah. Inilah yang disebut asy-syaja’ah. Salah satu tanda dari orang yang istiqamah di jalan Allah Subhanahu wata’ala.

Istiqamah melahirkan tiga kekuatan dalam diri, yaitu hati yang tenang, pandangan yang optimis, dan sikap yang berani. Bukan karena merasa kuat, tetapi karena yakin berada di jalan yang benar. Ada kepercayaan yang dalam bahwa pertolongan Allah Subhanahu wata’ala itu sangat dekat, meski belum terlihat.

Namun, menjaga istiqamah bukan perkara ringan. Dalam Surat Hud, terdapat perintah yang sangat tegas untuk tetap berada di jalan yang lurus. Perintah ini begitu dalam maknanya, hingga membuat Nabi Muhammad merasakan beban yang besar.

“Maka tetaplah kamu (pada jalan yang benar), sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertaubat bersama kamu. Dan janganlah kalian melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kalian kerjakan”. (QS. Hud: 112)

Istiqamah bukan hanya tentang bertahan, tetapi juga tentang tidak melampaui batas, tidak menyimpang, dan terus lurus di tengah berbagai tarikan. Ketika ada yang bertanya tentang inti ajaran Islam yang paling mendasar, jawabannya sederhana namun dalam.

Beriman kepada Allah Subhanahu wata’ala, lalu teguh pada iman itu. Tidak berpindah, tidak goyah, tidak mengikuti arus yang menyesatkan. Di masa akhir, tantangannya justru semakin berat. Istiqamah diibaratkan seperti menggenggam bara api. Panas dan menyakitkan, tetapi tidak boleh dilepas.

Di titik inilah keberanian diuji. Keberanian untuk tetap beriman, meski tekanan datang dari berbagai arah. Keberanian untuk tetap jujur, saat kebohongan terasa lebih mudah. Keberanian untuk tetap lurus, saat jalan lain terlihat lebih cepat dan menguntungkan.

Sejarah iman mencatat banyak teladan. Dalam Surat Al-Buruj, dikisahkan orang-orang beriman yang tetap teguh meski harus menghadapi api. Mereka tidak mundur. Tidak mengingkari iman. Mereka memilih tetap bersama Allah Subhanahu wata’ala, meski harus kehilangan segalanya.

Begitu pula Asiyah binti Muzahim dan Masyitah. Dua sosok yang menunjukkan bahwa iman tidak bisa dibeli dengan kenyamanan. Mereka memilih beriman kepada Allah Subhanahu wata’ala, meski harus menghadapi penderitaan yang berat.

Di sisi lain, manusia memang dibekali rasa takut. Hal itu adalah wajar. Takut adalah bagian dari perlindungan diri. Takut terhadap bahaya, terhadap sakit, takut miskin, takut tidak punya keturunan, takut terhadap kehilangan, dan lainnya. Namun dalam Islam, rasa takut ini diarahkan bukan dihapus.

Rasa takut yang alami harus tunduk pada rasa takut kepada Allah Subhanahu wata’ala. Kita bisa melihatnya dalam kisah Nabi Musa ‘alaihissalam. Di hadapannya terbentang laut, sedangkan di belakangnya musuh yang mengejar. Secara manusiawi, hal itu situasi yang menakutkan.

Namun ketenangan, keyakinan, dan keberanian membuatnya tetap melangkah. Hingga Allah Subhanahu wata’ala membuka jalan yang tidak pernah terbayangkan. Hal yang sama tampak pada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Api yang menyala tidak membuatnya mundur dari keyakinan kepada Allah Subhanahu wata’ala.  

Rasa takut yang manusiawi kalah oleh keyakinan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Dan pertolongan itu datang dengan cara yang tidak biasa. Begitu pula saat Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam bersama Abu Bakar As-Siddiq berada di Gua Tsur. Situasi genting, dan musuh begitu dekat. Namun kalimat yang keluar begitu tenang, “Jangan takut, sesungguhnya Allah bersama kita”.

Kalimat itu begitu sederhana, tetapi mengandung kekuatan besar. Keberanian bukan berarti tidak takut. Keberanian adalah kemampuan untuk tetap melangkah, meski ada rasa takut. Tetap teguh, meski keadaan tidak mudah. Tetap yakin, meski belum melihat hasilnya.

Asy-syaja’ah (keberanian) bukan tentang kerasnya sikap, tetapi tentang dalamnya iman kepada Allah Subhanahu wata’ala. Dan pada akhirnya, keberanian sejati adalah ketika hati hanya bergantung kepada Allah Subhanahu wata’ala. Tidak pada situasi, tidak pada manusia, dan tidak pada kekuatan diri sendiri. Maka di situlah istiqamah menemukan bentuknya. Tenang, teguh, dan berani. Wallahua’lam bishawab.

*** Bersambung… nantikan: “Realita Hari Ini”

Twitter: @CepPangeran | IG/Tiktok: cecep.asmadiredja | LinkedIn: cecep y pramana

0Shares
Category: Artikel

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Statistik

  • 1
  • 4,266
  • 1,080,020
  • 2,498

Tiket.com

banner

HALO MOTIVASI

Pelago.com – Travel

KREMES KRATON

ADIDAS ID

EIGER

LAZADA INDONESIA

diskonMU

NEOZEN KOREA

Pengunjung

Flag Counter

Arsip

Kategori

© 2026 RUMAH PENA MOTIVASI | Powered by Minimalist Blog WordPress Theme