Skip to content

RUMAH PENA MOTIVASI

Menu
  • Home
  • Artikel
    • Ramadhan
    • Umroh
    • Keluarga
  • Motivasi
  • Cerita
  • Coretan
  • Dari Anda
  • Berita Iklan
  • Tentang Admin
Menu

Tarbiyah dan Militansi Kader

Posted on 26 April 202622 April 2026 by ceppangeran

@ Cecep Y Pramana

Ada satu kisah yang layak kita renungi perlahan. Ini tentang Abdullah bin Rawahah, seorang sahabat yang dipilih menjadi panglima dalam Perang Mu’tah. Ketika amanah itu diberikan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, maka ia tidak menyambutnya dengan kebanggaan.
Ia justru menangis.

Para sahabat bertanya, apa yang membuatnya demikian. Jawaban Abdullah bin Rawahah sederhana, tetapi mengguncang. Bukan karena cinta dunia, bukan karena ingin dipuji, melainkan karena ia teringat satu ayat. Bahwa setiap manusia akan mendatangi neraka.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan”. (QS Maryam: 71). Sebuah ketetapan yang pasti, dan tidak bisa ditawar.

Di titik itu, jabatan dan kedudukan tidak lagi terasa sebagai kehormatan. Ia berubah menjadi pertanyaan yang sunyi. Apakah amanah ini akan menyelamatkannya, atau justru memberatkannya? Ini adalah momen refleksi saat kekuasaan dirasakan sebagai amanah yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat, bukan fasilitas duniawi.

Di sinilah terlihat kedalaman tarbiyah. Ayat tidak berhenti di lisan, ia turun ke hati. Lalu mengubah cara seseorang memandang hidup, tugas, dan dirinya sendiri. Ini adalah puncak tarbiyah ruhiyah, di mana iman mengakar, melahirkan qalbun salim (hati yang bersih) yang ikhlas, progresif, dan solutif dalam beramal.

Tarbiyah sejatinya bekerja seperti itu. Ia tidak hanya menambah pengetahuan, ia juga membentuk cara merasa, cara berpikir, dan cara mengambil sikap. Karena itu, tarbiyah bukan pelengkap, ia adalah kebutuhan yang tidak bisa diganti. Dalam perjalanan dakwah, ada fase di mana pertumbuhan jumlah menjadi penting.

Lingkaran meluas, jangkauan pun bertambah. Namun di saat yang sama, selalu ada risiko yang sering luput disadari. Secara kuantitas bisa meningkat, tetapi secara kualitas bisa menurun. Al-Qur’an memberi pelajaran yang jelas.

Dalam kisah pasukan Thalut, yang sedikit mampu bertahan dan menang karena keyakinan mereka.
Sebaliknya, dalam Perang Hunain, jumlah yang besar sempat membuat sebagian merasa cukup. Dan rasa cukup itu justru akan melemahkan.

Di sini, tarbiyah mengambil peran penting. Ia menjaga kedalaman di tengah keluasan, ia merawat kualitas di tengah pertumbuhan. Hal yang sama berlaku ketika medan dakwah semakin luas, maka  tanggung jawab juga tersebar, dan peran akan bertambah. Tidak semua orang bisa berdiri kokoh tanpa fondasi yang kuat.

Sejarah mencatat bagaimana sahabat Mus’ab bin Umair diutus Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam seorang diri ke Madinah. Tidak dengan kekuatan besar, tidak dengan fasilitas lengkap, tetapi dengan bekal tarbiyah yang kuat dan matang dari seorang Murabbi, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.

Hasilnya tidak instan, tetapi juttru mengakar. Masyarakat Madinah berubah, bukan hanya di permukaan, tetapi dari dalam. Ini memberi pesan yang jelas bahwa perluasan dakwah tanpa penguatan hanya akan melahirkan kelelahan. Tetapi perluasan yang ditopang dengan tarbiyah yang kuat dan mendalam, akan melahirkan ketahanan.

Lalu, bagaimana tarbiyah menumbuhkan militansi? Militansi bukan sekadar semangat tinggi. Bukan pula sekadar kesiapan berkorban. Ia adalah keteguhan yang tenang, bertahan dalam jangka panjang, bukan hanya di awal perjalanan. Ada dua hal yang perlu dijaga, diantaranya:

Pertama, peran seorang murabbi. Ia bukan hanya pengajar, tetapi pembimbing jiwa. Ia hadir untuk mengarahkan, menguatkan, dan menjaga ritme perjalanan dakwah dan tarbiyah. Kedua, adanya manhaj. Ia adalah peta. Tanpanya, langkah bisa cepat, tetapi tidak tentu arah.

Dan ketika keduanya berjalan selaras, maka tarbiyah tidak hanya melahirkan kader, tetapi ia melahirkan pribadi yang matang. Lalu apa yang perlu dilakukan hari ini? Perkuat kembali kesungguhan dalam tarbiyah. Bukan hanya sekadar kehadiran fisik, tetapi benar-benar terlibat.

Jaga kesinambungan karena yang membentuk bukan satu pertemuan, tetapi proses yang sangat panjang. Lakukan evaluasi dengan jujur, bukan untuk menyalahkan, tetapi untuk memperbaiki arah yang dijalankan. Dan yang paling penting, luruskan niat agar semua yang dijalani tidak berhenti pada aktivitas, tetapi menjadi ibadah.

Pada akhirnya, jalan ini memang tidak singkat, dan tidak selalu ringan. Namun ia jelas arahnya. Tarbiyah adalah jalan yang membentuk. Dengan tarbiyah, seseorang tidak hanya bergerak, tetapi juga bertahan, tidak hanya berkontribusi, tetapi juga tetap istiqamah.

Dan dari sanalah lahir militansi kader yang sejati. Tenang, dalam, dan tidak mudah goyah. Bukan sekadar semangat yang meledak-ledak, melainkan keyakinan mendalam yang berakar dari pemahaman, pengalaman, atau prinsip yang kuat. Wallahu a’lam bishawab.

Twitter: @CepPangeran | IG/Tiktok: cecep.asmadiredja | LinkedIn: cecep y pramana

0Shares
Category: Artikel

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Statistik

  • 4
  • 7,166
  • 1,087,015
  • 2,505

Tiket.com

banner

HALO MOTIVASI

Pelago.com – Travel

KREMES KRATON

ADIDAS ID

EIGER

LAZADA INDONESIA

diskonMU

NEOZEN KOREA

Pengunjung

Flag Counter

Arsip

Kategori

© 2026 RUMAH PENA MOTIVASI | Powered by Minimalist Blog WordPress Theme