@ Cecep Y Pramana
Ada satu misi yang sering kita pahami, tetapi belum selalu kita rasakan sepenuhnya. Bahwa hidup ini bukan sekadar tentang diri kita. Bukan hanya tentang capaian pribadi. Bukan pula tentang kenyamanan yang ingin kita jaga.
Hidup ini adalah amanah untuk menjadi rahmat. Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Dan tidaklah Kami mengutus engkau, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)
Rahmat itu hadir dalam wujud yang nyata. Ia tampak dalam kepedulian, dalam bimbingan, dalam kesediaan untuk hadir bagi orang lain. Ia tidak berhenti pada niat baik, tetapi bergerak menjadi manfaat. Di titik inilah dakwah menemukan maknanya.
Dakwah bukan hanya aktivitas. Ia adalah jalan hidup, jalan yang menghubungkan hati dengan hati. Jalan yang mengantarkan kebaikan agar tidak berhenti pada diri sendiri. Tanpa dakwah, kebaikan sering diam, dan dengan dakwah, maka ia mengalir.
Allah Subhanahu wata’ala mengingatkan: “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, beramal saleh, dan berkata: sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (QS. Fussilat: 33). Ayat ini tidak sekadar memuji, tetapi ia mengajak. Mengajak setiap diri untuk mengambil bagian.
Dakwah yang Menyentuh, Dakwah yang Membina
Perjalanan dakwah terus berkembang. Dulu kita banyak mengenalnya dalam bentuk ceramah. Dari mimbar ke mimbar. Dari satu majelis ke majelis lain. Hari ini, ruang dakwah semakin luas. Ia hadir di berbagai media, menjangkau lebih banyak manusia. Dan ini adalah sebuah anugerah.
Namun ada satu bentuk dakwah yang tidak banyak terlihat, tetapi sangat menentukan. Dakwah yang tidak hanya menyampaikan, tetapi membina. Dakwah yang tidak hanya menyentuh sesaat, tetapi menumbuhkan perlahan.
Dakwah ini berjalan dalam lingkaran kecil. Dalam sebuah pertemuan yang mungkin sederhana, tetapi hangat. Dalam hubungan yang tidak terburu-buru. Di sinilah lahir peran murabbi dan murabbiyah. Mereka bukan sekadar penyampai, tetapi mereka adalah penjaga proses.
Peran yang Menuntut Kedalaman
Menjadi murabbi murabbiyah berarti siap hadir dalam banyak sisi kehidupan orang lain. Ia memimpin, namun tidak mendominasi. Ia mengajar, namun tetap rendah hati untuk belajar. Ia membimbing, tanpa menghakimi. Ia menjadi sahabat, tanpa kehilangan arah.
Seorang murabbi murabbiyah tidak cukup hanya pandai berbicara. Ia perlu mendengar, perlu memahami, dan ia perlu juga hadir dengan utuh. Ia mengenal orang yang dibinanya, bukan hanya dari cerita luar, tetapi dari kegelisahan yang kadang tidak terucap. Di sinilah peran ini menjadi dalam, tidak instan, dan tidak mudah.
Berbeda dengan dakwah umum yang menjangkau banyak orang dalam waktu singkat, peran murabbi murabbiyah berjalan pelan. Namun justru di situlah kekuatannya. Ia tidak hanya membuat orang paham. Ia menumbuhkan keterikatan, dari sekadar tahu, menjadi mau. Dari sekadar mau, menjadi istiqamah.
Jejak yang Telah Ditempuh
Peran ini bukan hal baru. Ia telah dicontohkan sejak awal perjalanan Islam. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam membina para sahabat dalam ruang yang sederhana. Di rumah Al-Arqam, dalam suasana yang tenang, tetapi penuh makna. Dari sana lahir generasi yang kokoh.
Perjalanan itu tidak berhenti. Ia diteruskan oleh para ulama, lalu oleh berbagai gerakan dakwah di berbagai tempat. Semua bertumpu pada satu hal, yaitu pembinaan yang hidup. Dari tangan murabbi murabbiyah, lahir kader-kader yang tidak hanya kuat secara ilmu, tetapi juga kokoh secara jiwa.
Mengapa Tidak Semua Siap Melangkah
Menjadi murabbi murabbiyah bukan tanpa tantangan. Ada hal-hal yang sering membuat langkah ini tertunda. Pertama, kemauan. Ada yang merasa belum pantas, ada yang ragu, dan ada yang belum melihat pentingnya peran ini.
Padahal, nilai sebuah amal tidak selalu terlihat di mata manusia. Banyak yang sunyi, tetapi bernilai besar di sisi Allah Subhanahu wata’ala. Kedua, kemampuan. Peran ini memang menuntut banyak hal. Ilmu, kesabaran, keterampilan berinteraksi. Namun semua itu tidak harus sempurna di awal. Ia tumbuh bersama proses yang berjalan.
Ketiga, kesempatan. Kesibukan dunia sering mengambil ruang yang besar. Hingga hal yang penting terasa tidak sempat dilakukan. Padahal, seringkali yang kita sebut tidak sempat adalah perkara prioritas. Ketiga hal ini nyata, namun bukan alasan untuk berhenti. Ia justru menjadi pintu untuk memperbaiki niat dan langkah.
Keutamaan yang Menyentuh Diri Sendiri
Menjadi murabbi murabbiyah bukan hanya memberi kepada orang lain. Ia juga membentuk diri sendiri. Saat seseorang mengajak, ia sedang diingatkan. Saat ia membimbing, ia sedang belajar. Saat ia menguatkan, ia sedang dikuatkan.
Ia belajar sabar, belajar memahami, dan belajar mendengar. Ia juga merasakan ukhuwah yang lebih dalam. Hubungan yang tidak dibangun oleh kepentingan, tetapi oleh keimanan. Dan yang paling terasa, hatinya lebih terjaga. Karena tidak mungkin ia mengajak pada kebaikan, sementara dirinya jauh darinya. Perjalanan ini pelan, tetapi pasti mengubah.
Menjadi Bagian dari Jalan Ini
Menjadi murabbi murabbiyah bukan tentang kesiapan yang sempurna. Tidak ada yang benar-benar siap sejak awal. Ia adalah keputusan untuk memulai, langkah kecil yang dijaga, dan proses yang dijalani dengan sabar.
Dunia ini selalu membutuhkan orang-orang yang mau hadir untuk orang lain. Yang bersedia menuntun, bukan hanya menonton. Yang memilih membina, bukan hanya berbicara. Mungkin kita tidak melihat hasilnya hari ini. Namun bisa jadi, dari proses yang kita jalani, maka lahir kebaikan yang panjang.
Dan di situlah, perlahan, makna hidup menjadi lebih jernih. Bukan tentang seberapa banyak yang kita miliki. Tetapi tentang seberapa jauh kita memberi arti. Mari melangkah, pelan tapi pasti.
Menjadi murabbi murabbiyah, dan menjadi jalan kebaikan yang hidup. Wallahu a’lam bishawab.
Twitter: @CepPangeran | IG/Tiktok: cecep.asmadiredja | LinkedIn: cecep y pramana