@ Cecep Y Pramana
Menjadi mentor, murabbi murabbiyah, atau pengisi halaqah adalah amanah yang sering datang tanpa banyak pilihan. Ia terasa dekat karena sering diminta. Terkadang diterima dengan ragu, dan tidak sedikit yang menolaknya, dengan alasan yang beragam.
Namun, di balik itu, ada satu pertanyaan yang lebih penting. Bagaimana menjadikan kegiatan mentoring itu sangat berkesan. Berkesan bukan sekadar ramai atau menarik sesaat. Berkesan adalah ketika ia menyentuh perhatian, tinggal dalam ingatan, lalu perlahan menggerakkan perubahan.
Dalam setiap halaqah, ada banyak rangkaian kegiatan, tetapi satu yang paling menentukan yaitu penyampaian materi. Di sanalah arah dibentuk, di sanalah makna ditanam. Maka, persoalannya bukan sekadar apa yang disampaikan, tetapi bagaimana ia disampaikan.
Ada dua hal yang perlu dijaga, yaitu pertama, pemahaman tentang prinsip, kedua adalah kesungguhan dalam praktik. Secara prinsip memberi arah, sedangkan secara praktik memberi ketajaman. Sebuah gagasan tidak otomatis melekat hanya karena ia benar. Ia perlu dikemas dengan cara yang membuatnya hidup dalam benak para peserta.
Salah satu pendekatan yang bisa digunakan adalah prinsip yang dikenal dalam Made to Stick, yang diringkas dalam enam kerangka kerja atau unsur sederhana (SUCCESs) untuk membuat ide mudah diingat dan berdampak.
Pertama, sederhana (simple). Setiap materi harus memiliki inti yang jelas (inti dari ide). Tidak melebar, juga tidak bercabang ke mana-mana. Peserta tidak butuh banyak hal. Mereka butuh satu hal yang kuat, yang bisa mereka bawa pulang. Kalimat yang ringkas, struktur yang rapi, yang akan membantu gagasan itu menetap lebih lama.
Kedua, tak terduga (unexpected). Perhatian tidak datang dengan sendirinya. Banyak orang merasa sudah tahu sebelum mendengar. Di titik ini, perlu ada kejutan kecil. Sesuatu yang menggugah. Membuat mereka berhenti sejenak dan berpikir ulang. Dari sana, minat bisa dijaga.
Ketiga, konkret (cocrete). Gagasan yang terlalu abstrak akan mudah hilang. Maka, turunkan ia ke dalam contoh yang nyata, yaitu cerita sederhana. Peristiwa sehari-hari, dan hal yang dekat dengan pengalaman peserta. Di situlah pemahaman mulai tumbuh.
Keempat, kredibel (credible). Orang akan lebih mudah menerima ketika mereka percaya. Kepercayaan bisa dibangun dari dalil yang kuat, dan data yang jelas, atau dari pengalaman yang jujur. Tidak perlu berlebihan, hanya cukup yang relevan dan dapat dipahami.
Kelima, menyentuh emosi (emotional). Membuat orang “merasakan” sesuatu, bukan hanya memikirkannya. Perubahan jarang lahir dari logika saja, justru ia sering dimulai dari rasa. Ketika hati terlibat, maka perhatian menjadi utuh. Cerita tentang satu orang, satu peristiwa nyata, sering lebih menggerakkan daripada angka yang besar tetapi terasa jauh.
Keenam, cerita (stories). Menggunakan narasi (cerita) untuk memotivasi dan menginspirasi aksi. Manusia mudah mengingat cerita. Dari cerita, maka nilai akan menjadi hidup. Dari cerita, maka dorongan untuk bertindak muncul. Cerita yang sederhana, jujur, dan dekat, seringkali lebih kuat daripada penjelasan panjang.
Namun, memahami prinsip saja tidak cukup. Mentoring yang berkesan lahir dari persiapan yang serius. Temukan inti gagasan, lalu susun alur yang jelas. Awal yang mengundang, tengah yang menggugah, dan akhir yang menguatkan.
Gunakan alat bantu jika diperlukan. Peta pikiran bisa membantu merapikan ide. Maka dari sana, alur akan lebih mudah disusun. Setelah itu, masuk ke tahap yang tidak bisa digantikan oleh sebuah teori, yaitu berlatih.
Rasa canggung di awal adalah hal yang wajar. Tidak perlu menunggu untuk sempurna, mulai saja dengan langkah-langkah kecil. Bicaralah meski belum lancar, lalu sampaikan meski masih terbata-bata. Karena dari situ, keberanian akan tumbuh, dan keterampilan pun akan terbentuk.
Tidak ada jalan yang singkat. Hanya ada proses yang dijalani dengan sabar dan ketekunan. Karena pada akhirnya, mentoring bukan tentang tampil baik di depan. Ia tentang menghadirkan makna dan semangat di dalam hati orang lain. Dan ketika satu hati mulai bergerak, maka di situlah mentoring menjadi berkesan. Wallahu a’lam bishawab.
Twitter: @CepPangeran | IG/Tiktok: cecep.asmadiredja | LinkedIn: cecep y pramana