@ Cecep Y Pramana
Di tengah kehidupan yang terus bergerak cepat dan serba instan, maka banyak orang berusaha mencari ketenangan. Ada yang mencarinya melalui pencapaian, harta, kesibukan, perjalanan, atau berbagai bentuk hiburan. Namun sering kali, setelah semua itu diraih, maka hati tetap merasa ada ruang yang belum terisi.
Manusia sesungguhnya tidak hanya membutuhkan kesuksesan untuk hidup dengan baik. Hati juga membutuhkan kedekatan dengan Allah Subhanahu wata’ala agar tetap hidup, tenang, dan terarah. Hati yang dekat dengan Allah Subhanahu wata’ala adalah hati yang selalu merasa terhubung dengan-Nya dalam setiap keadaan.
Saat mendapatkan nikmat, maka ia akan bersyukur. Saat menghadapi ujian, maka ia akan bersabar. Saat melakukan kesalahan, maka ia segera kembali memohon ampunan. Dalam setiap fase kehidupan, Allah Subhanahu wata’ala tetap menjadi tempat bergantung dan tujuan kembali.
Kedekatan kepada Allah Subhanahu wata’ala bukanlah sesuatu yang hanya dirasakan oleh orang-orang yang sempurna. Justru kedekatan itu tumbuh dari kesadaran bahwa kita adalah hamba yang penuh keterbatasan dan selalu membutuhkan pertolongan-Nya.
Semakin dekat hati kepada Allah Subhanahu wata’ala, maka semakin ia memahami bahwa kehidupan ini bukan sekadar tentang mengejar apa yang diinginkan, tetapi tentang menjalani apa yang Allah Subhanahu wata’ala ridhai. Dari pemahaman itulah lahir ketenangan yang tidak mudah terguncang oleh perubahan keadaan.
Hati yang dekat dengan Allah Subhanahu wata’ala tidak berarti bebas dari masalah. Ia tetap menghadapi kesulitan, kekecewaan, kehilangan, dan berbagai ujian kehidupan. Namun ada sesuatu yang berbeda. Di dalam hatinya tumbuh keyakinan bahwa setiap peristiwa berada dalam pengaturan Allah yang Maha Bijaksana.
Keyakinan itu membuat seseorang tidak mudah putus asa ketika harapan belum terwujud. Tidak mudah sombong ketika mendapatkan keberhasilan. Dan tidak mudah kehilangan arah ketika menghadapi kegagalan. Kedekatan kepada Allah Subhanahu wata’ala juga membentuk cara pandang yang lebih jernih terhadap kehidupan.
Seseorang tidak lagi mengukur kebahagiaan hanya dari apa yang dimiliki, tetapi dari seberapa dekat dirinya dengan Allah Subhanahu wata’ala dan seberapa besar manfaat yang dapat ia berikan kepada sesama. Hati yang dekat dengan Allah Subhanahu wata’ala akan lebih mudah bersyukur atas yang ada daripada mengeluh atas yang belum dimiliki.
Lebih mudah memaafkan daripada menyimpan dendam. Lebih mudah berharap kepada Allah Subhanahu wata’ala daripada menggantungkan seluruh harapan kepada manusia. Kedekatan itu tumbuh melalui hal-hal sederhana yang dilakukan dengan istiqamah.
Yaitu menjaga salat tepat waktu, membaca Al-Qur’an dengan hati yang hadir, memperbanyak dzikir, berdoa dengan penuh harap, juga menolong sesama. Dan terus memperbaiki diri meskipun perlahan. Sesungguhnya, hati yang paling kaya bukanlah hati yang memiliki segalanya, melainkan hati yang merasa cukup karena dekat dengan Allah Subhanahu wata’ala.
Ketika hati telah menemukan kedekatan itu, maka kehidupan tidak selalu menjadi lebih mudah. Namun kehidupan akan terasa lebih bermakna, lebih nikmat, lebih tenang, dan lebih penuh harapan. Karena pada akhirnya, setenang-tenangnya hati adalah hati yang mengenal Tuhannya, mencintai-Nya, dan senantiasa berusaha dekat dengan-Nya. Bismillah…
Twitter: @CepPangeran | IG/Tiktok: cecep.asmadiredja | LinkedIn: cecep y pramana