@ G24 – Slamet S, Novian Triwidia Jaya, Abdul Qodir Jaelani, Yogi Agus Salim
Ada malam-malam tertentu dalam sejarah yang tidak hanya mengubah perjalanan seseorang, tetapi juga mengubah arah dunia. Malam hijrah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dari Makkah menuju Madinah adalah salah satunya.
Peristiwa itu bukan sekadar perpindahan dari satu kota ke kota lain. Hijrah adalah titik balik yang mengubah penderitaan menjadi harapan, tekanan menjadi kekuatan, dan sebuah dakwah yang tertindas menjadi fondasi peradaban yang kelak menerangi dunia.
Selama lebih dari tiga belas tahun, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan risalah Islam di Makkah. Beliau mengajak manusia untuk menyembah Allah Yang Maha Esa, menegakkan keadilan, dan memuliakan sesama manusia. Namun, jalan yang beliau tempuh jauh dari kata mudah.
Cacian, hinaan, boikot ekonomi, penyiksaan terhadap para sahabat, hingga berbagai upaya pembunuhan menjadi bagian dari perjuangan yang harus dihadapi. Meski demikian, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah berhenti menyampaikan kebenaran. Beliau tetap berdakwah dengan kesabaran yang luar biasa dan keyakinan yang tidak pernah goyah.
Sementara itu, sebagian kaum Muslimin telah lebih dahulu berhijrah ke Yatsrib, sebuah kota yang kelak dikenal sebagai Madinah. Di sana mereka disambut dengan hangat oleh kaum Anshar yang membuka rumah, hati, dan kehidupan mereka untuk saudara-saudaranya sesama Muslim.
Namun Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam masih berada di Makkah. Para pemuka Quraisy semakin gelisah. Mereka menyaksikan Islam terus berkembang. Mereka memahami bahwa jika Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam berhasil meninggalkan Makkah dan membangun kekuatan di luar kota, maka pengaruh Islam akan semakin besar.
Dalam kegelisahan itu, para pembesar Quraisy berkumpul di Darun Nadwah. Mereka mencari cara untuk menghentikan dakwah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam untuk selamanya. Setelah berbagai usulan disampaikan, muncullah rencana yang paling kejam.
Dari setiap kabilah akan dipilih seorang pemuda yang kuat. Mereka akan menyerang Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam secara bersamaan sehingga tanggung jawab pembunuhan tidak akan dibebankan kepada satu kabilah saja.
Rencana itu tampak sempurna menurut perhitungan manusia. Namun, tidak ada satu pun rencana yang dapat mengalahkan kehendak Allah Subhanahu wata’ala. Allah Yang Maha Mengetahui memberitahukan rencana tersebut kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam melalui Malaikat Jibril.
Pada malam yang menentukan itu, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam memanggil sepupunya yang masih muda, Ali bin Abi Thalib. Beliau meminta Ali untuk tidur di tempat beliau dan mengenakan selimut yang biasa dipakai Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.
Sebuah amanah yang sangat berisiko. Ali bin Abi Thalib mengetahui bahwa para pemuda Quraisy telah mengepung rumah dan siap menghunuskan pedang kapan saja. Namun, kecintaannya kepada Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya mengalahkan rasa takut.
Dengan penuh keyakinan ia bertanya, “Apakah dengan itu engkau akan selamat, wahai Rasulullah?” Ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Ya,” maka Ali bin Abi Thalib menerimanya tanpa keraguan.
Malam itu, keberanian seorang pemuda menjadi bagian dari sejarah besar Islam. Sementara para pengepung masih mengawasi rumah, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam keluar dengan perlindungan Allah Subhanahu wata’ala. Tidak seorang pun mampu menghalangi langkah beliau.
Beliau kemudian menemui sahabat terdekatnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ketika mengetahui bahwa dirinya dipilih untuk menemani Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dalam perjalanan hijrah ini, maka hati Abu Bakar Ash-Shiddiq dipenuhi kebahagiaan yang sulit digambarkan.
Air matanya mengalir, bukan karena ketakutan. Melainkan karena syukur dan kebahagiaan. Ia mendapatkan kehormatan menjadi teman perjalanan manusia paling mulia yang pernah hidup di muka bumi.
Untuk menghindari pengejaran Quraisy, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dan Abu Bakar tidak langsung menuju Madinah. Mereka justru bergerak ke arah selatan dan bersembunyi di Gua Tsur selama tiga hari.
Sementara itu, kaum Quraisy marah besar ketika mengetahui bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam berhasil lolos dari kepungan mereka. Mereka mengerahkan para pencari jejak terbaik dan menawarkan hadiah besar bagi siapa saja yang berhasil menangkap beliau.
Jejak demi jejak akhirnya mengarah ke Gua Tsur. Saat para pengejar berada sangat dekat, Abu Bakar merasa khawatir. Ia tidak takut untuk dirinya sendiri, tetapi takut jika sesuatu terjadi kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.
Dengan suara pelan ia berkata, “Wahai Rasulullah, seandainya salah seorang dari mereka melihat ke bawah kakinya, niscaya ia akan melihat kita”. Dalam situasi yang begitu menegangkan, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab dengan kalimat yang terus menguatkan hati kaum beriman sepanjang zaman: “Laa tahzan innallaha ma’anaa.”
“Jangan bersedih. Sesungguhnya Allah bersama kita.” Kalimat itu bukan sekadar penghiburan. Ia adalah pelajaran tentang tawakal. Ketika semua jalan tampak tertutup, ketika ancaman datang dari segala arah, seorang mukmin tetap memiliki tempat bergantung yang tidak pernah mengecewakan, yaitu Allah Subhanahu wata’ala.
Setelah keadaan aman, perjalanan menuju Madinah kembali dilanjutkan. Di tengah perjalanan, seorang pemburu bernama Suraqah bin Malik mengejar Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dengan harapan memperoleh hadiah besar dari Quraisy.
Namun setiap kali ia mendekat, maka kudanya terjatuh dan terperosok ke dalam tanah. Suraqah mulai menyadari bahwa orang yang sedang dikejarnya berada dalam penjagaan Allah Subhanahu wata’ala. Ia pun menghentikan pengejarannya dan meminta perlindungan.
Yang menakjubkan, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam tidak membalas permusuhan dengan kemarahan. Beliau justru berbicara dengan penuh harapan. Beliau berkata, “Wahai Suraqah, bagaimana jika suatu hari engkau memakai gelang kebesaran Raja Persia?”
Suraqah terdiam. Ucapan itu terdengar mustahil. Saat itu kaum Muslimin masih dalam keadaan lemah dan terusir dari tanah kelahiran mereka. Namun seorang Rasul Shalallahu ‘alaihi wasallam melihat dengan mata keyakinan apa yang belum mampu dilihat oleh manusia biasa.
Bertahun-tahun kemudian, pada masa pemerintahan Umar bin Khattab, Persia benar-benar ditaklukkan. Gelang kebesaran Raja Persia dibawa ke Madinah, dan janji Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam kepada Suraqah menjadi kenyataan.
Apa yang tampak mustahil di mata manusia ternyata sangat mudah bagi Allah Subhanahu wata’ala. Akhirnya, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam tiba di Quba pada tahun pertama Hijriah. Beberapa hari kemudian beliau memasuki Yatsrib.
Penduduk kota itu menyambut Nabi Muhammad dan Abu Bakar dengan cinta yang tulus. Penantian panjang mereka berakhir dengan kebahagiaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Sejak saat itu, Yatsrib dikenal sebagai Madinah Al-Munawwarah, kota yang bercahaya.
Namun, makna hijrah tidak berhenti pada peristiwa sejarah semata. Hijrah adalah pelajaran sepanjang zaman. Ia mengajarkan bahwa perubahan besar sering kali dimulai dengan keberanian meninggalkan zona nyaman. Hijrah mengajarkan bahwa kesulitan bukanlah akhir perjalanan, melainkan jembatan menuju pertumbuhan yang lebih baik.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam meninggalkan kota yang beliau cintai, tetapi Allah Subhanahu wata’ala menggantinya dengan tempat yang menjadi pusat peradaban Islam. Beliau meninggalkan keamanan demi mempertahankan kebenaran, dan Allah Subhanahu wata’ala menghadiahkan kemenangan yang jauh melampaui dugaan manusia.
Karena itu, setiap kita memiliki hijrah yang harus dilakukan. Meninggalkan kebiasaan buruk menuju kebaikan, meninggalkan keputusasaan menuju harapan, meninggalkan dosa menuju taubat, dan meninggalkan ketakutan menuju keyakinan kepada Allah Subhanahu wata’ala.
Sebab sejarah telah membuktikan bahwa satu langkah hijrah yang dilakukan karena Allah Subhanahu wata’ala mampu mengubah kehidupan seseorang. Sebagaimana hijrah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam yang tidak hanya mengubah sebuah kota, tetapi juga mengubah perjalanan dunia dan mengukir peradaban yang cahayanya masih menerangi manusia hingga hari ini. Wallahu a’lam bishawab.