@ Cecep Y. Pramana
Ketika mendengar kata hijrah, banyak orang langsung membayangkan perubahan yang tampak dari luar. Perubahan cara berpakaian, lingkungan pergaulan, kebiasaan sehari-hari, atau aktivitas yang dilakukan. Semua itu memang merupakan bagian dari proses hijrah.
Namun sesungguhnya, hijrah yang paling menentukan bukanlah yang terlihat oleh mata manusia. Hijrah yang paling penting adalah hijrah yang terjadi di dalam hati. Sebab setiap perubahan besar dalam hidup selalu berawal dari perubahan hati.
Hati adalah pusat dari niat, keyakinan, harapan, dan keputusan. Ketika hati berubah, maka cara berpikir ikut berubah. Ketika cara berpikir berubah, maka sikap dan perilaku pun akan mengikuti. Dari sanalah lahir perubahan yang nyata dalam kehidupan.
Tidak ada bangunan yang berdiri kokoh tanpa fondasi. Begitu pula tidak ada perubahan yang bertahan lama tanpa perubahan hati sebagai dasarnya. Banyak orang ingin mengubah hidupnya, tetapi melupakan akar dari perubahan itu sendiri.
Mereka berusaha memperbaiki penampilan, mengejar berbagai target, atau memulai kebiasaan baru, tetapi tidak memberi perhatian yang cukup pada kondisi hatinya. Padahal, hati yang dipenuhi dengan keikhlasan, maka akan melahirkan amal yang tulus.
Hati yang dipenuhi rasa syukur kepada Allah Subhanahu wata’ala akan melahirkan ketenangan. Hati yang dekat dengan Allah Subhanahu wata’ala akan melahirkan kekuatan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan. Karena itu, hijrah bukan sekadar berpindah dari satu keadaan ke keadaan yang lain.
Hijrah adalah perjalanan untuk mendekat kepada Allah Subhanahu wata’ala. Sebuah perjalanan yang dimulai dari dalam diri sebelum tampak dalam tindakan. Sering kali perjalanan itu berlangsung sunyi. Perjuangan yang sunyi, tanpa sorak-sorai atau pengakuan dari manusia, memang terasa berat.
Tidak selalu diketahui orang lain, dan tidak selalu mendapatkan pujian. Bahkan terkadang hanya diri sendiri dan Allah Subhanahu wata’ala yang mengetahui perjuangan yang sedang dijalani. Namun, ketahuilah bahwa setiap lelah, air mata, dan langkah sabar yang kita lalui ini disaksikan sepenuhnya oleh Allah Subhanahu wata’ala.
Ada yang sedang berhijrah dari yang buruk menuju yang lebih baik.
Ada yang sedang berhijrah dari rasa malas menuju kesungguhan.
Ada yang sedang berhijrah dari kebiasaan menunda menuju kedisiplinan.
Ada yang sedang berhijrah dari amarah menuju kesabaran.
Ada yang sedang berhijrah dari prasangka buruk menuju prasangkan baik.
Ada yang sedang berhijrah dari kesibukan dunia yang berlebihan menuju kehidupan yang lebih seimbang dan bermakna.
Semua itu adalah bentuk hijrah yang bernilai di sisi Allah Subhanahu wata’ala. Muharram hadir setiap tahun untuk mengingatkan kita tentang makna hijrah yang sesungguhnya. Hijrah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bukan hanya perpindahan dari Makkah ke Madinah.
Ia adalah simbol keberanian untuk meninggalkan sesuatu yang menghalangi jalan menuju ridha Allah Subhanahu wata’ala dan bergerak menuju kehidupan yang lebih baik. Pesan itu tetap relevan hingga hari ini. Setiap manusia memiliki “Makkah” yang harus ditinggalkan dan “Madinah” yang harus dituju.
Ada kebiasaan buruk yang harus dilepaskan, ada luka yang harus disembuhkan, ada ego yang harus dikendalikan, dan ada amal saleh yang harus mulai dilakukan dan dibiasakan. Perjalanan itu mungkin tidak mudah. Terkadang kita jatuh dan harus bangkit kembali, bahkan terkadang kita merasa lambat dan tertinggal dibandingkan orang lain.
Namun, hijrah bukan perlombaan untuk menjadi lebih baik dari orang lain. Hijrah adalah proses menjadi lebih baik dari diri kita yang kemarin. Allah Subhanahu wata’ala tidak menuntut kesempurnaan dalam satu malam.
Allah Subhanahu wata’ala menyukai hamba yang terus berusaha memperbaiki diri, meskipun dengan langkah-langkah kecil yang dilakukan secara istiqamah. Karena itu, jangan meremehkan perubahan sederhana yang sedang kita perjuangkan hari ini.
Mungkin hanya menambah beberapa menit untuk membaca Al-Qur’an, mungkin mulai menjaga salat tepat waktu, dan mungkin lebih sabar kepada pasangan, lebih lembut kepada orang tua, atau lebih peduli kepada sesama.
Perubahan kecil yang dilakukan dengan sungguh-sungguh sering kali menjadi awal dari perubahan besar yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Muharram mengajarkan bahwa setiap awal adalah kesempatan. Kesempatan untuk memperbarui niat, memperbaiki arah, dan menguatkan tekad.
Bukan untuk menjadi manusia yang sempurna, tetapi untuk menjadi manusia yang terus bertumbuh, melakukan kebaikan. Bukan untuk menjadi yang paling hebat, tetapi untuk menjadi pribadi yang lebih dekat kepada Allah Subhanahu wata’ala dari hari ke hari.
Sebab pada akhirnya, perubahan yang paling berharga bukanlah perubahan yang membuat kita terlihat lebih baik di hadapan manusia, melainkan perubahan yang membuat hati kita semakin hidup, semakin bersih, dan semakin dekat kepada Sang Pencipta, Allah Azza Wa Jalla.
Hijrah hati atau menata hati adalah awal dari semua perubahan. Dan ketika hati telah bergerak menuju Allah Subhanahu wata’ala, maka seluruh kehidupan akan perlahan mengikuti arah yang sama. Ketika niat dan hati telah diluruskan, maka langkah-langkah kehidupan, pikiran, dan tindakan akan perlahan selaras menuju kebaikan. Wallahu a’lam bishawab.
Twitter: @CepPangeran | IG/Tiktok: cecep.asmadiredja | LinkedIn: cecep y pramana