@ Cecep Y Pramana
Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Semua yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu.” (QS.Ali ‘Imran: 185). Setiap orang pernah kehilangan. Ada yang kehilangan orang yang dicintai, dan ada yang kehilangan pekerjaan, kesehatan, kesempatan, jabatan, atau masa-masa indah yang pernah dimiliki.
Bahkan, tidak sedikit yang kehilangan semangat hidup karena kenyataan tidak berjalan seperti harapan atau yang diinginkan. Begitulah kehidupan. Ia selalu bergerak, tidak pernah berhenti, dan tidak pernah menetap pada satu keadaan.
Karena itu, salah satu pelajaran terbesar yang perlu kita pahami adalah bahwa tidak ada yang benar-benar abadi di dunia ini. Ada saat kebahagiaan datang, lalu berlalu, dan ada saat kesedihan pun demikian. Kesuksesan akan memiliki waktunya, begitu pula kegagalan.
Masa muda kita akan berganti usia senja. Tubuh yang kuat suatu hari akan melemah juga. Rumah yang megah nan elok akan lapuk, harta bisa berpindah tangan, serta popularitas perlahan akan dilupakan. Hanya Allah Yang Maha Kekal. Kekal berarti tidak ada awal dan tidak ada akhir.
Alam semesta ini seperti sebuah baterai jam. Baterai itu pasti akan habis suatu hari nanti. Sebaliknya, Allah Subhanahu wata’ala tidak seperti baterai. Kuasa dan keberadaan Allah Subhanahu wata’ala tidak akan pernah habis atau hilang. Allah Subhanahu wata’ala abadi selama-lamanya
Dan semua makhluk hidup pasti binasa atau hancur. Hanya Allah Subhanahu wata’ala yang tetap ada selamanya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman, “Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 26-27).
Ayat ini bukan sekadar mengingatkan tentang kematian, tetapi ayat ini mengajarkan cara memandang kehidupan. Apa pun yang kita miliki hari ini hanyalah titipan, dan apa pun yang kita rasakan hari ini hanyalah sebuah persinggahan.
Karena itu, jangan terlalu larut ketika sedang berada di puncak. Jangan pula terlalu hancur ketika sedang berada di dasar, karena semuanya pasti akan berubah. Saat sedang menikmati rezeki yang lapang dan berlimpah, maka bersyukurlah dan berbagi. Jangan sombong, sebab keadaan bisa berubah kapan saja.
Saat sedang diuji dengan kesulitan, maka bersabarlah. Jangan putus asa, sebab tidak ada malam yang berlangsung selamanya. Sering kali manusia merasa bahwa masalahnya tidak akan selesai. Padahal, jika ia melihat ke belakang, maka begitu banyak ujian yang dulu terasa berat, ternyata kini hanya menjadi kenangan.
Begitu pula kebahagiaan. Momen yang dulu terasa sangat membahagiakan kini tinggal cerita. Semua datang silih berganti, dan inilah sunnatullah, yaitu sebuah ketetapan, aturan, atau hukum Allah Subhanahu wata’ala yang berlaku secara tetap dan otomatis dalam mengatur alam semesta dan kehidupan manusia.
Kesadaran bahwa tidak ada yang abadi justru membuat kita lebih bijaksana menjalani hidup. Kita belajar menikmati nikmat tanpa diperbudak olehnya. Kita belajar menerima ujian tanpa kehilangan harapan.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir.” (HR. Bukhari). Seorang musafir tidak akan membangun rumah mewah di tempat persinggahannya, karena ia sadar bahwa tujuan akhirnya bukan di sana.
Begitu pula seorang mukmin. Dunia bukan tempat menetap. Dunia adalah perjalanan menuju kehidupan yang sesungguhnya. Sayangnya, banyak orang justru memperlakukan dunia seolah-olah akan hidup selamanya.
Mereka mengejar harta tanpa batas, jabatan tanpa jeda, pengakuan tanpa akhir. Hingga lupa bahwa waktu terus berjalan mendekati batas yang telah Allah Subhanahu wata’ala tetapkan. Padahal, tidak ada satu pun yang mampu menghentikan waktu.
Usia kita akan terus berkurang, meski kalender terus bertambah. Maka, pertanyaan yang layak kita renungkan bukanlah, “Berapa lama lagi saya hidup?” Melainkan, “Apa yang telah saya persiapkan sebelum kehidupan ini berakhir?”
Kesadaran akan kefanaan bukanlah ajakan untuk kita bersikap pesimis. Tetapi sebaliknya, inilah sumber semangat yang paling kuat. Karena waktu terbatas, maka gunakanlah sebaik mungkin. Karena kesempatan tidak selalu datang dua kali, maka manfaatkanlah hari ini
.
Karena orang-orang yang kita cintai tidak akan selalu bersama kita, maka berikan perhatian selagi masih ada waktu. Karena kesehatan tidak selamanya kuat, maka jagalah sebelum datang kelemahan. Karena hidup tidak abadi, maka perbanyaklah amal yang pahalanya terus mengalir sampai hari akhir.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu.” (HR. Al-Hakim)
Hadis ini mengajarkan bahwa setiap fase kehidupan adalah amanah. Jangan menunggu keadaan sempurna untuk mulai berbuat baik. Jangan menunggu tua untuk mendekat kepada Allah Subhanahu wata’ala, dan jangan menunggu kehilangan untuk belajar bersyukur.
Hari ini adalah kesempatan berharga, besok belum tentu menjadi milik kita. Mungkin hari ini kita masih bisa tersenyum bersama keluarga, besok belum tentu. Hari ini kita masih diberi kesehatan, besok belum tentu Allah Subhanahu wata’ala kasih kesehatan.
Hari ini kita masih memiliki kesempatan meminta maaf, memperbaiki hubungan, memperbanyak ibadah, dan menebar manfaat kepada orang lain. Besok belum tentu kesempatan itu masih ada. Karena itu, jangan tunda-tunda kebaikan. Jangan menunggu hati benar-benar siap, dan jangan menunggu hidup menjadi sempurna.
Yang perlu kita lakukan adalah terus melangkah, terus memperbaiki diri, dan terus mendekat kepada Allah Subhanahu wata’ala. Pada akhirnya, dunia ini akan kita tinggalkan. Dan yang akan menemani perjalanan kita bukanlah harta, jabatan, ataupun popularitas, melainkan amal saleh yang dikerjakan dengan ikhlas.
Maka, ketika hati ini mulai terlalu mencintai dunia, maka ingatlah satu kalimat sederhana yang mampu menenangkan sekaligus menyadarkan diri ini, yaitu: “Tak Ada yang Abadi”. Kesedihan akan berlalu, dan kebahagiaan pun juga akan berlalu.
Yang kekal hanyalah Allah Subhanahu wata’ala dan balasan-Nya di akhirat. Semoga kesadaran ini menjadikan kita lebih rendah hati saat berhasil, dan lebih sabar saat diuji, lebih bersyukur ketika diberi nikmat, dan lebih bersungguh-sungguh mempersiapkan bekal menuju kehidupan yang benar-benar abadi.
“Ya Allah, jangan jadikan dunia sebagai tujuan terbesar kami, tetapi jadikanlah ia sebagai jalan untuk meraih ridha-Mu dan kebahagiaan abadi di akhirat”. Dunia ini ibarat jembatan, dan kita hanya melewatinya sebentar saja. Sedangkan harta dan kesenangan dunia adalah alat ibadah, dan kita hanya memakainya untuk membantu sesama dan mencari pahala di sisi Allah Subhanhu wata’ala. Wallahu a’lam bishawab.