@ Cecep Y Pramana
Ada kalanya hidup membawa kita pada jalan yang terasa buntu. Pintu yang diharapkan terbuka justru tertutup. Doa yang dipanjatkan bertahun-tahun seakan belum menemukan jawabannya. Ikhtiar telah dilakukan, tetapi hasil belum juga terlihat. Pada titik seperti itu, hati sering kali bertanya, “Masih adakah harapan?”
Sebagai seorang mukmin, jawaban atas pertanyaan itu selalu sama. Selalu ada harapan, selama Allah masih menjadi tempat bergantung. Di dalam Al-Qur’an terdapat sebuah ungkapan yang sangat singkat, tetapi mengandung makna yang begitu agung, yaitu “Kun Fayakun”.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman, “Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, ‘Jadilah!’ Maka jadilah sesuatu itu.” (QS. Yasin: 82). Kalimat ini bukan sekadar rangkaian kata yang indah. Ia adalah penegasan tentang kekuasaan Allah Subhanahu wata’ala yang tidak terbatas.
Tidak ada yang sulit bagi-Nya, tidak ada yang terlalu besar untuk diwujudkan, dan tidak ada yang terlalu rumit untuk diselesaikan. Bagi manusia, sesuatu mungkin tampak mustahil. Namun bagi Allah Subhanahu wata’ala, tidak ada kata mustahil.
Kun Fayakun Bukan Alasan untuk Berdiam Diri
Sebagian orang memahami “Kun Fayakun” seolah-olah cukup dengan berdoa tanpa berusaha. Padahal Islam mengajarkan keseimbangan antara ikhtiar (usaha) dan tawakal (berserah diri kepada Allah Subhanahu wata’ala setelah usaha maksimal).
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Allah akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung. Burung itu keluar pada pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang pada sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. At-Tirmidzi).
Perhatikan burung dalam hadits tersebut. Ia tidak menunggu makanan datang ke sarangnya. Ia terbang, mencari, berusaha, lalu bertawakal kepada Allah Subhanahu wata’ala. Begitu pula kita. Berdoalah dengan penuh keyakinan, bekerjalah dengan sungguh-sungguh, lalu serahkan hasilnya kepada Allah Subhanahu wata’ala. Kun Fayakun bukan menghapus ikhtiar, tetapi mengajarkan bahwa hasil akhir tetap berada dalam kuasa Allah Subhanahu wata’ala.
Allah Selalu Memiliki Jalan yang Tidak Terduga
Manusia sering kali hanya melihat satu jalan menuju impiannya. Ketika jalan itu tertutup, ia merasa semuanya telah berakhir. Padahal Allah Subhanahu wata’ala memiliki jalan yang tidak pernah kita bayangkan.
Allah SWT berfirman, “…Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya. Dan Dia akan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya…”(QS. At-Talaq: 2-3).
Ayat ini mengajarkan bahwa pertolongan Allah Subhanahu wata’ala tidak selalu datang sesuai dengan rencana kita. Terkadang Allah Subhanahu wata’ala mengganti sesuatu yang kita inginkan dengan sesuatu yang jauh lebih baik.
Ada doa yang dikabulkan segera, ada yang ditunda karena waktu terbaik belum tiba, dan ada pula yang diganti dengan kebaikan yang tidak pernah kita bayangkan. Karena itu, jangan terburu-buru mengatakan bahwa doa kita tidak didengar. Mungkin Allah Subhanahu wata’ala sedang mempersiapkan jawaban yang lebih indah daripada yang kita minta.
Tidak Ada yang Terlambat dalam Rencana Allah
Di era media sosial, kita mudah membandingkan perjalanan hidup dengan orang lain. Ada yang berhasil di usia muda. Ada yang lebih cepat meraih karier, keluarga, atau rezeki. Tanpa sadar kita mulai merasa tertinggal. Padahal setiap orang memiliki waktu terbaiknya masing-masing.
Allah Subhanahu wata’ala tidak pernah terlambat. Yang sering terlambat adalah kesabaran kita. Ketika Nabi Ibrahim AS telah berusia lanjut, Allah Subhanahu wata’ala mengaruniakan putra yang telah lama dinantikannya. Ketika Nabi Zakaria AS merasa usianya tidak lagi muda, Allah Subhanahu wata’ala mengabulkan doanya dengan menghadirkan Nabi Yahya AS.
Ketika Nabi Yusuf AS berada di dasar sumur dan kemudian dipenjara, tidak ada yang menyangka bahwa suatu hari beliau akan menjadi pemimpin Mesir. Semua terjadi pada waktu yang telah Allah tetapkan. Bukan lebih cepat, bukan lebih lambat, tetapi paling tepat.
Kun Fayakun Menguatkan Hati yang Sedang Berjuang
Mungkin hari ini kita sedang mencari pekerjaan. Sedang membangun usaha, sedang menanti pasangan hidup, sedang berjuang menyembuhkan keluarga, dan sedang menghadapi ujian ekonomi. Atau sedang memohon ampun atas masa lalu. Jangan pernah merasa doa Anda sia-sia. Tidak ada satu pun doa yang hilang di sisi Allah Subhanahu wata’ala.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah seorang muslim berdoa kepada Allah dengan suatu doa yang tidak mengandung dosa atau memutus silaturahmi, melainkan Allah akan memberikan salah satu dari tiga hal: dikabulkan segera, disimpan untuknya di akhirat, atau dihindarkan dari keburukan yang semisal dengannya”. Para sahabat berkata, “Kalau begitu kami akan memperbanyak doa”. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah lebih banyak lagi (karunia-Nya).” (HR. Ahmad).
Hadits ini mengajarkan bahwa tidak ada doa yang sia-sia. Setiap doa selalu bernilai di sisi Allah Subhanahu wata’ala, meskipun bentuk jawabannya berbeda dari harapan kita.
Terus Berikhtiar, Terus Berdoa
Kun Fayakun mengajarkan kita untuk tidak membatasi kuasa Allah Subhanahu wata’ala dengan keterbatasan logika manusia. Apa yang hari ini terasa mustahil, bisa menjadi kenyataan jika Allah Subhanahu wata’ala menghendakinya.
Apa yang hari ini hilang, bisa Allah Subhanahu wata’ala gantikan dengan yang lebih baik. Apa yang hari ini membuat kita menangis, bisa menjadi alasan kita bersyukur di masa depan. Karena itu, jangan berhenti mengetuk pintu langit.
Jangan berhenti memperbaiki diri, jangan berhenti berbuat baik, jangan berhenti berharap. Selama Allah Subhanahu wata’ala masih menjadi tempat bergantung, selalu ada alasan untuk optimis. Kun Fayakun bukan sekadar kalimat yang indah untuk diucapkan. Ia adalah keyakinan yang menenangkan hati dan menguatkan langkah.
Kalimat ini mengajarkan bahwa di balik setiap kesulitan ada kekuasaan Allah Subhanahu wata’ala yang tidak terbatas. Di balik setiap penantian ada hikmah yang sedang dipersiapkan. Dan di balik setiap doa ada kasih sayang Allah Subhanahu wata’ala yang bekerja dengan cara terbaik.
Maka, teruslah melangkah. Iringi setiap ikhtiar dengan doa, setiap doa dengan keyakinan, dan setiap keyakinan dengan kesabaran. Sebab ketika Allah Subhanahu wata’ala telah berkehendak, tidak ada yang mampu menghalangi. Ketika Allah berkata “Kun” (Jadilah), maka “Fayakun” (terjadilah).
Semoga Allah Subhanahu wata’ala meneguhkan hati kita dalam setiap ujian, melapangkan jalan bagi setiap ikhtiar yang diridhai-Nya, dan menjadikan kita hamba-hamba yang selalu yakin kepada kekuasaan-Nya. Karena bagi Allah Subhanahu wata’ala, tidak ada yang mustahil. Yang dibutuhkan dari kita adalah iman yang terus hidup, ikhtiar yang tidak berhenti, dan doa yang tidak pernah putus. Wallahu a’lam bishawab.