@ Cecep Y Pramana
Sesekali, berhentilah sejenak dari hiruk pikuk kehidupan. Diamkan pikiran yang terus berlari mengejar berbagai urusan. Berilah ruang bagi hati untuk kembali tenang, agar kita dapat mendengar suara nurani yang selama ini tertutup oleh kesibukan.
Di tengah dunia yang sibuk menilai, mudah sekali kita mengukur diri dari pekerjaan, jabatan, harta, pencapaian, atau penilaian orang lain. Padahal, semua itu hanyalah bagian dari perjalanan hidup, bukan hakikat diri kita.
Kita bukan sekadar profesi yang dijalani. Bukan pula jumlah harta yang dimiliki, pujian yang diterima, kegagalan yang pernah dialami, atau kecemasan yang sedang dirasakan. Semua itu dapat berubah seiring waktu.
Namun, ada sesuatu yang tetap ada dalam diri kita, yaitu fitrah sebagai hamba Allah Subhanahu wata’ala yang dimuliakan dan diberi amanah untuk menjalani kehidupan dengan penuh makna. Ketika kita mampu melepaskan diri dari berbagai label yang membatasi, maka hati akan menjadi lebih lapang.
Kita tidak lagi sibuk membuktikan diri kepada manusia, tetapi mulai fokus memperbaiki diri di hadapan Allah Subhanahu wata’ala. Dari ketenangan itulah lahir kejernihan dalam berpikir, kebijaksanaan dalam mengambil keputusan, dan keberanian untuk melangkah.
Sering kali, potensi terbaik kita tidak hilang. Ia hanya tertutup oleh rasa takut, gengsi, keraguan, atau keinginan untuk selalu terlihat sempurna. Padahal, Allah Subhanahu wata’ala telah menganugerahkan kemampuan yang berbeda kepada setiap hamba.
Tugas kita bukan menjadi seperti orang lain, melainkan menjadi versi terbaik dari diri yang Allah Subhanahu wata’ala titipkan kepada kita. Lepaskan keinginan untuk terus berpura-pura. Tidak ada ketenangan dalam kehidupan yang dibangun di atas pencitraan.
Keikhlasan jauh lebih menenangkan daripada pengakuan. Ketulusan jauh lebih indah daripada pujian yang sesaat. Biarkan cinta kepada Allah Subhanahu wata’ala menjadi arah kehidupan. Dari cinta itulah tumbuh rasa syukur, kepedulian kepada sesama, semangat untuk terus belajar, dan keberanian untuk tetap berbuat baik meskipun tidak selalu dihargai.
Saat hati kembali kepada fitrahnya, maka kita akan menyadari bahwa kekuatan terbesar bukan berasal dari apa yang kita miliki, tetapi dari kedekatan kita kepada Allah Subhanahu wata’ala. Ketenangan tidak lahir karena semua keinginan terpenuhi, melainkan karena hati yakin bahwa Allah Subhanahu wata’ala selalu membersamai setiap langkah hamba-Nya yang beriman.
Dari pemahaman itulah lahir versi terbaik dari diri kita. Bukan versi yang paling dikagumi manusia, tetapi versi yang paling tulus dalam beribadah, paling bermanfaat bagi sesama, dan paling dekat dengan ridha Allah Subhanahu wata’ala. Bismillah.