@ Cecep Y Pramana
Menjadi seorang murabbi (pembina/mentor) bukanlah tanda bahwa seseorang telah mencapai puncak ilmu, kesempurnaan iman, atau terbebas dari kekurangan. Sebaliknya, amanah itu adalah panggilan untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan berjalan bersama orang lain menuju kebaikan.
Murabbi bukanlah sosok yang merasa paling benar, melainkan pribadi yang bersedia membersamai, menguatkan, dan menginspirasi dengan penuh ketulusan. Di balik amanah yang tampak mulia, terdapat tanggung jawab yang tidak ringan.
Seorang murabbi tidak hanya diminta menyampaikan ilmu, tetapi juga menghadirkan keteladanan. Ucapan yang baik akan lebih mudah diterima ketika selaras dengan perilaku. Nasihat yang sederhana akan terasa bermakna apabila lahir dari hati yang tulus dan kehidupan yang mencerminkan apa yang disampaikan.
Allah Subhanahu wata’ala mengingatkan dalam Al-Qur’an: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, pelajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang paling baik.” (QS. An-Nahl: 125).
Ayat ini mengajarkan bahwa dakwah tidak hanya berbicara tentang isi pesan, tetapi juga tentang cara menyampaikannya. Hikmah, kelembutan, kesabaran, dan penghormatan kepada orang lain adalah bagian yang tidak terpisahkan dari tugas seorang murabbi.
Menjadi murabbi bukan berarti memiliki jawaban atas semua persoalan. Ada kalanya murabbi justru belajar dari mereka yang dibinanya. Setiap pertemuan menjadi ruang untuk saling menguatkan, saling mengingatkan, dan sama-sama bertumbuh dalam keimanan.
Hubungan antara murabbi dan mutarabbi bukan hubungan yang dibangun di atas rasa paling tahu, tetapi di atas semangat saling menolong dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Di era yang penuh perubahan, tantangan dakwah pun semakin beragam.
Generasi hari ini hidup di tengah derasnya arus informasi, media sosial, dan berbagai pandangan hidup yang datang tanpa batas. Mereka tidak hanya membutuhkan ceramah, tetapi juga sosok yang mampu mendengar tanpa menghakimi, memahami tanpa meremehkan, dan membimbing tanpa memaksa.
Sering kali seseorang tidak mengingat seluruh isi materi yang disampaikan. Namun, ia akan selalu mengingat bagaimana dirinya diperlakukan. Ia akan mengingat senyum yang tulus, perhatian yang sederhana, sapaan yang hangat, serta kesediaan seseorang untuk mendengarkan ketika ia sedang menghadapi kesulitan.
Di situlah dakwah menemukan makna yang paling dalam, yaitu ketika hati menyentuh hati. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam adalah teladan terbaik dalam membina manusia. Beliau tidak hanya mengajarkan ayat-ayat Allah Subhanahu wata’ala, tetapi juga menghadirkan kasih sayang dalam setiap interaksi.
Tidak mengherankan jika para sahabat mencintai beliau bukan hanya karena ilmunya, tetapi juga karena akhlaknya yang begitu mulia. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya kelembutan tidaklah ada pada sesuatu melainkan akan menghiasinya, dan tidaklah dicabut dari sesuatu melainkan akan membuatnya buruk.” (HR. Muslim).
Hadis ini menjadi pengingat bahwa kelembutan bukanlah kelemahan. Justru dengan kelembutan, nasihat lebih mudah diterima, hubungan lebih mudah terjalin, dan hati lebih mudah disentuh. Seorang murabbi juga perlu menyadari bahwa dirinya hanyalah penyampai risalah. Ia berkewajiban menyampaikan, membimbing, mendoakan, dan memberikan teladan.
Adapun perubahan hati seseorang bukan berada dalam kekuasaannya. Hidayah adalah hak prerogatif Allah Subhanahu wata’ala. Kesadaran ini akan menjauhkan seorang murabbi dari rasa kecewa yang berlebihan ketika binaannya belum berubah, sekaligus menjaganya dari rasa bangga ketika melihat keberhasilan mereka.
Semua hasil akhirnya tetap berada dalam kehendak Allah Subhanahu wata’ala. Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Qashash: 56).
Karena itu, ukuran keberhasilan seorang murabbi bukanlah seberapa banyak pengikut/anggota yang dimiliki atau seberapa cepat perubahan yang terlihat. Keberhasilannya terletak pada kesungguhan menjaga keikhlasan, konsistensi dalam membimbing, serta kesabaran dalam membersamai proses yang terkadang panjang dan melelahkan.
Menjadi murabbi berarti siap hadir, bahkan ketika tidak ada yang melihat. Tetap mendoakan binaan meski mereka sedang menjauh. Tetap menyapa ketika mereka mulai jarang hadir. Tetap membuka pintu maaf ketika mereka melakukan kesalahan. Sebab dakwah bukan sekadar aktivitas, melainkan wujud cinta kepada Allah dan kasih sayang kepada sesama.
Pada akhirnya, seorang murabbi tidak sedang membangun popularitas, melainkan sedang menanam benih-benih kebaikan yang mungkin baru akan tumbuh bertahun-tahun kemudian. Mungkin namanya tidak dikenal, tetapi doa-doa dari orang yang pernah dibimbingnya akan terus mengalir. Mungkin nasihatnya tidak selalu diingat, tetapi akhlaknya akan tetap membekas dalam hati mereka.
Marilah kita terus meluruskan niat dalam setiap langkah dakwah. Jadikan amanah ini sebagai jalan untuk semakin dekat kepada Allah Subhanahu wata’ala, bukan sebagai alasan untuk merasa lebih baik daripada orang lain.
Teruslah belajar, memperbaiki diri, dan membersamai umat dengan ilmu, keteladanan, kesabaran, serta kasih sayang. Semoga Allah Subhanahu wata’ala menjadikan kita murabbi yang tidak hanya mampu menyampaikan ilmu, tetapi juga mampu menghadirkan ketenangan, menumbuhkan harapan, dan menjadi sebab bertambahnya keimanan orang-orang di sekitar kita. Wallahu a’lam bishawab.