Skip to content

RUMAH PENA MOTIVASI

Menu
  • Home
  • Artikel
    • Ramadhan
    • Umroh
    • Keluarga
  • Motivasi
  • Cerita
  • Coretan
  • Dari Anda
  • Berita Iklan
  • Tentang Admin
Menu

Dari Murabbi untuk Murabbi

Posted on 22 July 202622 July 2026 by ceppangeran

@ Cecep Y Pramana

Menjadi seorang murabbi (pembina/mentor) bukanlah sebuah pencapaian, melainkan sebuah amanah. Amanah yang menuntut kita untuk terus belajar, terus memperbaiki diri, dan terus menjaga keikhlasan di hadapan Allah Subhanahu wata’ala.

Sebab, sebelum membimbing orang lain menuju kebaikan, sejatinya kitalah orang pertama yang harus terus dibimbing oleh Al-Qur’an, sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, dan nasihat orang-orang saleh. Sering kali seseorang merasa telah cukup hanya karena dipercaya menjadi pembina.

Padahal, amanah itu bukan tanda bahwa proses belajar telah selesai. Justru sejak saat itulah proses pembelajaran yang sesungguhnya dimulai. Murabbi bukan manusia yang sempurna. Ia hanyalah seorang hamba yang sedang berjalan di jalan yang sama bersama mutarabbinya.

Bedanya, Allah Subhanahu wata’ala menitipkan kepadanya tanggung jawab untuk berjalan sedikit lebih dahulu sambil menggandeng tangan saudaranya agar tidak tersesat di tengah perjalanan. Karena itu, menjadi murabbi berarti menjadi orang yang paling sadar bahwa dirinya masih membutuhkan ilmu, doa, dan pertolongan Allah Subhanahu wata’ala setiap hari.

Murabbi Adalah Orang yang Paling Membutuhkan Belajar

Salah satu kesalahan yang sering tidak disadari adalah ketika seorang pembina berhenti menjadi pembelajar. Kesibukan mengisi halaqah, menyampaikan materi, atau membimbing anggota terkadang membuat waktu untuk membaca, menghafal, menghadiri majelis ilmu, dan memperdalam pemahaman agama justru semakin berkurang.

Padahal, murabbi yang berhenti belajar lambat laun akan kehilangan kedalaman. Materinya mungkin masih sama, tetapi ruhnya mulai berkurang. Nasihatnya masih terdengar, tetapi tidak lagi menyentuh hati.

Imam Syafi’i pernah berkata, “Barang siapa menginginkan dunia maka hendaklah dengan ilmu. Barang siapa menginginkan akhirat maka hendaklah dengan ilmu”. Kalimat ini mengingatkan bahwa ilmu bukan hanya bekal bagi mutarabbi, tetapi terlebih dahulu merupakan kebutuhan seorang murabbi.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim). Karena itu, jangan pernah merasa cukup dengan ilmu yang dimiliki.

Jadikan setiap hari sebagai kesempatan untuk membaca, menghafal Al-Qur’an, memperdalam tafsir, mempelajari hadis, memperkaya wawasan, dan mengevaluasi diri. Murabbi yang terus belajar akan selalu memiliki energi baru untuk membimbing orang lain.

Bangunlah Malam, Sebab Dakwah Membutuhkan Kekuatan Hati

Tidak semua kelelahan dalam dakwah dapat diobati dengan istirahat. Ada lelah yang hanya bisa disembuhkan dengan sujud panjang di penghujung malam. Seorang murabbi akan menghadapi berbagai keadaan.

Ada seorang mutarabbi yang semangat, ada yang mulai menjauh, ada yang mudah diarahkan, ada yang membutuhkan kesabaran bertahun-tahun, dan ada harapan yang terwujud, tetapi ada pula ikhtiar yang belum memperlihatkan hasil dari seorang mutarabbi.

Dalam kondisi seperti itu, kekuatan terbesar bukanlah kemampuan berbicara, melainkan kedekatan murabbi kepada Allah Subhanahu wata’ala. Shalat malam bukan sekadar ibadah sunnah. Ia adalah tempat seorang murabbi mengembalikan seluruh kegelisahan kepada Rabb-nya. Di sana tidak ada tepuk tangan, tidak ada pujian, dan tidak ada penilaian manusia.

Yang ada hanyalah seorang hamba yang mengakui kelemahannya di hadapan Allah Yang Maha Perkasa. Allah Subhanahu wata’ala berfirman, “…Dan pada sebagian malam, bertahajudlah sebagai ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isra’: 79).

Mungkin orang lain melihat murabbi yang tenang ketika menyampaikan materi. Namun, mereka tidak melihat air mata yang jatuh ketika ia mendoakan mutarabbinya di sepertiga malam. Di situlah sumber kekuatan dakwah yang sesungguhnya.

Jangan Takut Mengatakan, “Saya Tidak Tahu”

Tidak ada murabbi yang mengetahui semua jawaban. Dan memang tidak pernah ada tuntutan agar seorang murabbi menjadi orang yang mengetahui segala hal. Salah satu bentuk kejujuran ilmiah adalah keberanian mengatakan, “Saya belum tahu.”

Kalimat sederhana ini bukan menunjukkan sisi kelemahan murabbi, melainkan kerendahan hati. Justru dengan mengaku belum mengetahui, seorang murabbi sedang mengajarkan adab terhadap ilmu. Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah mengingatkan, “Barang siapa mengetahui suatu ilmu, hendaklah ia menyampaikannya. Dan barang siapa tidak mengetahui, hendaklah ia mengatakan, ‘Allah lebih mengetahui’.”

Mengarang jawaban hanya demi menjaga wibawa jauh lebih berbahaya daripada mengakui keterbatasan. Sebab murabbi bukan sedang membangun citra dirinya, tetapi sedang menjaga kemurnian ilmu agama.

Tidak ada yang berkurang dari kehormatan seorang pembina ketika ia berkata, “Mari kita pelajari bersama,” atau, “Saya akan mencari jawabannya terlebih dahulu.” Justru dari situlah lahir budaya belajar yang sehat.

Jangan Hanya Banyak Berbicara, Tetapi Perbanyaklah Mendengar

Sering kali murabbi merasa tugas utamanya adalah berbicara. Padahal, banyak hati yang sebenarnya lebih membutuhkan telinga yang mau mendengar daripada lisan yang terus memberi nasihat. Tidak semua mutarabbi datang dengan persoalan yang membutuhkan solusi cepat. Sebagian hanya membutuhkan seseorang yang mau memahami kegelisahan mereka.

Generasi hari ini hidup di tengah tekanan akademik, pekerjaan, media sosial, keluarga, hingga persoalan identitas diri. Mereka membutuhkan ruang yang aman untuk didengar. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam adalah pendengar yang sangat baik. Beliau tidak memotong pembicaraan, tidak terburu-buru menghakimi, dan tidak meremehkan pertanyaan siapa pun.

Ketika seorang murabbi mau mendengar dengan sepenuh hati, sesungguhnya ia sedang membangun kepercayaan. Dan kepercayaan adalah pintu masuk bagi setiap proses pembinaan. Karena itu, jangan sampai waktu halaqah dipenuhi ceramah tanpa ruang dialog.

Biarkan mutarabbi bertanya, menyampaikan keresahan, bahkan mengungkapkan keraguannya. Dari sanalah pembinaan menjadi lebih hidup dan menyentuh kebutuhan mereka. Dengan membiarkan mereka bertanya, menyampaikan keresahan, dan mengungkap keraguan, murabbi dapat mentransformasikan proses pembinaan (tarbiyah) menjadi ruang belajar yang hidup, solutif, dan relevan dengan realitas kehidupan mereka.

Tugasmu Menyampaikan, Hidayah Milik Allah

Salah satu beban yang sering dipikul seorang murabbi adalah keinginan agar semua binaannya berubah sesuai harapan. Ketika ada yang mulai jarang hadir, hati menjadi sedih, ketika ada yang mundur dari pembinaan, muncul rasa gagal.

Ketika nasihat belum membuahkan perubahan, muncul pertanyaan, “Apakah aku kurang baik dalam membimbing?” Padahal Allah Subhanahu wata’ala telah mengajarkan sejak awal bahwa tugas manusia hanyalah menyampaikan.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman, “Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Qashash: 56).

Ayat ini menjadi penghibur bagi setiap murabbi. Kita diperintahkan untuk menyampaikan dengan hikmah, mendoakan dengan tulus, memberi teladan dengan ikhlas, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Ada benih yang tumbuh dengan cepat. Ada pula yang baru bersemi setelah bertahun-tahun. Bahkan mungkin setelah kita tiada. Maka, jangan lelah menanam kebaikan hanya karena belum melihat hasilnya. Teruslah menjadi penebar manfaat dan membiarkan waktu yang menjawab hasil dari setiap niat tulus kita.

Menjadi Murabbi yang Selalu Bertumbuh

Pada akhirnya, murabbi bukanlah orang yang selalu berada di depan. Murabbi adalah orang yang paling dahulu berusaha memperbaiki dirinya sebelum mengajak orang lain. Ia terus belajar agar ilmunya bertambah.

Ia bangun malam agar hatinya tetap hidup. Ia rendah hati untuk mengakui keterbatasannya. Ia lebih banyak mendengar daripada berbicara. Dan ia memahami bahwa keberhasilan dakwah bukan diukur dari banyaknya pengikut, melainkan dari keikhlasan dalam menjalankan amanah.

Semoga setiap langkah kecil yang kita tempuh di jalan dakwah dicatat sebagai amal saleh di sisi Allah Subhanahu wata’ala. Semoga setiap nasihat yang keluar dari lisan kita terlebih dahulu mengubah hati kita sendiri. Dan semoga Allah Subhanahu wata’ala menjaga kita agar tetap menjadi murabbi yang lembut, rendah hati, terus belajar, serta istiqamah hingga akhir hayat.

Karena sesungguhnya, murabbi terbaik bukanlah yang paling banyak berbicara, melainkan yang paling banyak memperbaiki dirinya, lalu mengajak orang lain menuju Allah Subhanahu wata’ala dengan ilmu, keteladanan, dan kasih sayang.

“Ya Allah, jadikanlah kami pembina yang Engkau bimbing sebelum kami membimbing orang lain, yang Engkau perbaiki sebelum kami memperbaiki orang lain, dan yang Engkau istiqamahkan hingga akhir kehidupan kami. Aamiin”. Wallahu a’lam bishawab.

0Shares
Category: Artikel

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Statistik

  • 4
  • 3,559
  • 1,150,557
  • 2,583

Tiket.com

banner

HALO MOTIVASI

Pelago.com – Travel

KREMES KRATON

ADIDAS ID

EIGER

LAZADA INDONESIA

diskonMU

NEOZEN KOREA

Pengunjung

Flag Counter

Arsip

Kategori

© 2026 RUMAH PENA MOTIVASI | Powered by Minimalist Blog WordPress Theme