@ Cecep Y Pramana
Dakwah tidak selalu hadir dalam forum besar, mimbar yang tinggi, atau panggung yang penuh perhatian. Terkadang, dakwah hadir dalam perjalanan di bus kota, dalam percakapan singkat di ruang kerja, di meja makan bersama keluarga, dalam sapaan yang tulus, dan dalam sikap yang jujur.
Bahkan, dalam satu pesan sederhana di grup dan saluran WhatsApp, Telegram, dan lainnya. Dakwah tidak selalu membutuhkan panggung. Sering kali, ia hanya membutuhkan seseorang yang bersedia hadir dengan ketulusan, membawa kebaikan, dan menjadi sebab orang lain melihat Islam dengan lebih dekat.
Karena itu, dakwah bukan semata-mata tentang banyaknya program yang diselenggarakan. Bukan pula tentang padatnya agenda, panjangnya daftar kegiatan, atau ramainya aktivitas yang kita lakukan. Semua itu hal yang penting. Namun, ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar: Apa yang berubah melalui kehadiran kita?
Seorang pengemban dakwah tidak hanya bertanya, “Berapa banyak kegiatan yang telah saya lakukan?” Ia juga bertanya: Adakah seseorang yang menjadi lebih dekat kepada Allah Subhanahu wata’ala karena kehadiran saya? Adakah yang menjadi lebih memahami Islam? Adakah hati yang menjadi lebih yakin?
Atau adakah seseorang yang terdorong untuk memperbaiki ketaatannya? Adakah jiwa yang kembali memiliki harapan setelah bertemu dengan saya? Dakwah yang sejati tidak berhenti pada aktivitas. Ia meninggalkan pengaruh.
Mungkin pengaruh itu tidak langsung terlihat. Tidak selalu tercatat dalam laporan, tidak selalu mendapatkan apresiasi. Bahkan, bisa jadi kita tidak pernah mengetahui sejauh mana sebuah nasihat, teladan, atau kebaikan kecil telah mengubah kehidupan seseorang.
Namun, perubahan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Kadang, seseorang hanya membutuhkan satu orang yang mau mendengarkan. Satu orang yang tidak menghakimi, satu orang yang mengingatkan dengan kasih sayang, satu orang yang menunjukkan bahwa menjadi baik dan taat kepada Allah Subhanahu wata’ala adalah sesuatu yang mungkin dijalani dengan penuh ketenangan dan keteguhan.
Di situlah dakwah menemukan maknanya. Jika setelah sekian lama kita berdakwah tidak ada satu pun hati yang menjadi lebih dekat kepada Allah Subhanahu wata’ala, tidak ada pemahaman yang bertambah, tidak ada semangat kebaikan yang tumbuh, maka kita perlu berhenti sejenak dan melakukan muhasabah (evaluasi diri).
Mungkin kita terlalu sibuk dengan aktivitas, tetapi lupa menghadirkan pengaruh. Mungkin kita terlalu fokus pada banyaknya program, tetapi kurang memperhatikan manusia yang menjadi tujuan dakwah. Sebab, dakwah pada akhirnya bukan tentang seberapa ramai kegiatan yang kita lakukan.
Dakwah adalah tentang seberapa banyak cahaya kebaikan yang Allah Subhanahu wata’ala izinkan menyala melalui kehadiran kita di wajah dan kehidupan orang lain. Maka, jadilah cahaya yang tidak harus selalu terang dan besar.
Cukup hadir dengan ikhlas, cukup konsisten dalam kebaikan, cukup menjadi sebab seseorang melangkah sedikit lebih dekat kepada Allah Subhanahu wata’ala. Karena bisa jadi, satu senyum kita menjadi penguat. Satu nasihat kita menjadi pengingat, dan Satu teladan kita menjadi jalan perubahan.
Bisa jadi, satu kehadiran kita menjadi sebab seseorang kembali menemukan arah. Semoga setiap langkah dakwah kita tidak berhenti sebagai aktivitas, tetapi tumbuh menjadi pengaruh yang menghadirkan perubahan.
Semoga melalui diri kita, ada hati yang lebih dekat kepada Allah Subhanahu wata’ala, ada jiwa yang lebih kuat dalam kebaikan, dan ada cahaya yang terus menyala di wajah-wajah lain., dan ada banyak kenikmatan yang menghampiri kita. Bismillah.