Skip to content

RUMAH PENA MOTIVASI

Menu
  • Home
  • Artikel
    • Ramadhan
    • Umroh
    • Keluarga
  • Motivasi
  • Cerita
  • Coretan
  • Dari Anda
  • Berita Iklan
  • Tentang Admin
Menu

Goyangkan Pohon Kurmamu!

Posted on 29 July 202628 July 2026 by ceppangeran

@ Cecep Y Pramana

Ada masa dalam hidup ketika seseorang merasa tidak lagi memiliki banyak pilihan. Tenaga menipis, hati terasa berat, jalan di depan tampak gelap. Sementara persoalan datang bertubi-tubi, seolah tidak memberi kesempatan untuk bernapas. Pada saat seperti itu, seseorang bisa merasa sangat sendirian.

Maryam (nama surah ke-19 dalam Al-Qur’an. Kata ini juga merujuk pada ibu Nabi Isa) pernah berada pada titik tersebut. Ia bukan sedang menghadapi masalah kecil, tetapi ia berada dalam keadaan yang sangat berat. Ketika Maryam berada di titik paling lemah dalam hidupnya. Sendirian, mengandung, menghadapi rasa sakit. Dan harus berhadapan dengan kemungkinan tuduhan serta penilaian manusia.

Dalam kondisi yang begitu berat, bahkan Maryam sampai berkata: “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi seorang yang tidak berarti, lagi dilupakan.” (QS. Maryam: 23). Ayat ini memperlihatkan sisi kemanusiaan seorang hamba yang sedang berada di puncak kelemahan.

Ada saat ketika orang yang kuat pun merasa lemah, ada saat ketika orang yang sabar pun menangis, dan ada saat ketika seseorang yang selama ini menjadi tempat bersandar bagi orang lain, justru merasa dirinya sendiri tidak memiliki tempat untuk bersandar.

Pelajaran Tarbiyah dari QS Maryam Ayat 25

Namun, justru di titik itulah Allah Subhanahu wata’ala memberikan arahan yang sangat menarik. Ada satu ayat yang seharusnya mengguncang cara berpikir kita tentang perjuangan, dakwah, dan kehidupan.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.” (QS. Maryam: 25).Perhatikan perintah Allah Subhanahu wata’ala tersebut.

Maryam sedang berada dalam kondisi yang sangat lemah. Ia baru saja mengalami proses persalinan. Sementara yang diperintahkan untuk digoyangkan adalah pangkal pohon kurma yang kokoh. Secara manusiawi, kekuatan Maryam tentu tidak sebanding dengan kekuatan pohon itu.

Namun Allah Subhanahu wata’ala tetap memerintahkannya untuk bergerak. Allah Subhanahu wata’ala tidak berkata, “Duduklah dan tunggulah”. Allah Subhanahu wata’ala tidak berkata, “Engkau sedang lemah, maka tidak perlu melakukan apa-apa”. Allah Subhanahu wata’ala juga tidak berkata, “Aku akan memberikan pertolongan tanpa engkau melakukan ikhtiar”.

Tetapi Allah Subhanahu wata’ala berkata: “Goyangkanlah”. Di sinilah salah satu pelajaran tarbiyah yang sangat dalam dimulai. Allah Subhanahu wata’ala tidak menuntut kita melakukan hal yang mustahil.Allah Subhanahu wata’ala tidak sedang meminta Maryam menghasilkan kurma dengan kekuatannya sendiri.

Allah Subhanahu wata’ala tidak sedang mengajarkan bahwa keberhasilan sepenuhnya bergantung pada kekuatan manusia. Justru sebaliknya. Allah Subhanahu wata’ala sedang mengajarkan bahwa seorang hamba tetap harus mengambil sebab, meskipun ia menyadari bahwa sebab itu tampak kecil.

Maryam menggoyangkan pohon. Lalu Allah Subhanahu wata’ala yang menjatuhkan buah kurma.

Maryam bergerak. Allah Subhanahu wata’ala yang menghadirkan hasil. Maryam berikhtiar. Allah Subhanahu wata’ala yang memberikan pertolongan. Inilah keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal.

Tawakal bukan berarti berhenti berusaha. Tawakal juga bukan alasan untuk menunggu tanpa melakukan apa-apa. Tawakal adalah melakukan apa yang mampu kita lakukan, dengan hati yang bergantung kepada Allah Subhanahu wata’ala, lalu menyerahkan hasil akhirnya kepada-Nya.

Sebab, sering kali Allah Subhanahu wata’ala tidak meminta kita melakukan sesuatu yang besar. Allah Subhanahu wata’ala hanya meminta kita melakukan bagian kita. Satu langkah, satu usaha, satu percobaan, satu percakapan, satu doa, dan satu keputusan untuk tidak menyerah.

Iman Tidak Membuat Kita Pasif

Ada orang yang mengira bahwa tawakal berarti menunggu. Menunggu keadaan berubah, menunggu peluang datang, menunggu orang lain membantu, atau menunggu diri sendiri menjadi lebih kuat. Padahal, dalam banyak kisah Al-Qur’an, pertolongan Allah Subhanahu wata’ala datang bersama gerakan manusia.

Nabi Musa diperintahkan untuk memukul laut dengan tongkatnya. Ibunda Maryam diperintahkan untuk menggoyangkan pohon kurma. Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya berjuang, berhijrah, menyusun strategi, membangun masyarakat, dan menghadapi berbagai ujian.

Semua itu mengajarkan satu hal. Keimanan tidak mematikan ikhtiar, tetapi keimanan justru menghidupkan keberanian untuk bergerak. Seorang mukmin memahami bahwa hasil berada di tangan Allah Subhanahu wata’ala. Namun, ia juga memahami bahwa dirinya tetap memiliki tanggung jawab untuk berusaha.

Karena itu, jangan menunggu semua keadaan sempurna untuk memulai. Jangan menunggu rasa takut hilang untuk melangkah. Jangan menunggu semua persoalan selesai untuk kembali berjuang.

Bisa jadi, keberanian bukan berarti tidak merasa takut. Keberanian adalah tetap melakukan kebaikan meskipun rasa takut masih ada.

Setiap Orang Memiliki “Pohon Kurma” Masing-Masing

Hari ini, mungkin kita sedang menghadapi pohon kurma kita sendiri. Bagi seseorang, pohon kurma itu adalah dakwah yang terasa berat. Bagi yang lain, mungkin keluarga yang belum seperti yang diharapkan. Ada yang sedang berjuang memperbaiki ekonomi, ada yang sedang memikul amanah organisasi, ada yang sedang berusaha menyelesaikan pendidikan.

Ada juga yang sedang membangun usaha, ada yang sedang berjuang memperbaiki dirinya sendiri, dan ada pula yang sedang mencoba mempertahankan iman di tengah dunia yang semakin bising. Setiap orang memiliki medan perjuangannya masing-masing.

Dan sering kali, kita hanya melihat hasil perjuangan orang lain tanpa mengetahui berapa banyak pohon yang telah mereka goyangkan dalam kesunyian. Kita melihat keberhasilan, kita tidak selalu melihat air mata, kita melihat pencapaian, kita tidak selalu mengetahui berapa kali mereka hampir menyerah, dan kita melihat seseorang berdiri.

Kita juga tidak selalu tahu berapa kali ia jatuh lalu memilih untuk bangkit kembali. Karena itu, jangan terlalu cepat merasa bahwa ikhtiar kita tidak berarti. Bisa jadi, satu langkah kecil yang kita anggap tidak penting justru merupakan bagian dari jalan menuju pertolongan Allah Subhanahu wata’ala.

Goyangkan dengan Sisa Kekuatan yang Ada

Mungkin hari ini engkau tidak memiliki tenaga sebanyak kemarin. Tidak mengapa. Goyangkan pohon kurmamu dengan tenaga yang masih tersisa. Mungkin imanmu sedang naik turun. Tidak mengapa. Bergeraklah dengan iman yang masih ada, sambil terus memohon kepada Allah Subhanahu wata’ala agar menguatkannya.

Mungkin engkau belum memiliki kemampuan yang sempurna. Tidak mengapa. Mulailah dengan kemampuan yang ada. Jangan menunggu menjadi sempurna untuk melakukan kebaikan, jangan menunggu menjadi kuat untuk memulai perjuangan, dan jangan menunggu semua orang mendukungmu untuk melangkah.

Maryam tidak diperintahkan untuk menumbangkan pohon. Ia hanya diperintahkan Allah Subhanahu wata’ala untuk menggoyangkannya. Dan terkadang, itulah yang Allah Subhanahu wata’ala minta dari kita. Bukan kemenangan besar hari ini, bukan perubahan total dalam satu malam, dan bukan pencapaian yang langsung mengubah seluruh kehidupan.

Mungkin Allah Subhanahu wata’ala hanya meminta kita untuk tidak berhenti. Untuk tetap membaca satu halaman Al-Qur’an. Tetap menghadiri satu majelis ilmu, tetap memperbaiki satu kebiasaan, tetap menghubungi seseorang yang membutuhkan nasihat, dan tetap mendidik keluarga dengan sabar.

Tetap juga bekerja dengan jujur, tetap berdakwah dengan cara yang baik, tetap bangun setelah jatuh, tetap berdoa setelah lama menunggu, dan tetap berusaha meskipun hasilnya belum terlihat. Karena kita tidak pernah tahu, pada ikhtiar yang keberapa pertolongan Allah Subhanahu wata’ala akan datang.

Bisa Jadi, Tinggal Satu Goyangan Lagi

Ada masa ketika seseorang berhenti tepat sebelum pertolongan Allah Subhanahu wata’ala datang. Ia telah berusaha cukup lama, telah menunggu cukup sabar, dan ia telah melewati banyak kesulitan. Lalu, karena hasil belum terlihat, maka ia memutuskan untuk berhenti. Padahal, mungkin saja pertolongan itu sudah sangat dekat.

Mungkin tinggal satu langkah lagi, satu usaha lagi, satu doa lagi, satu keberanian lagi, atau satu goyangan lagi. Tentu, kita tidak boleh memahami ayat ini secara sederhana bahwa setiap usaha pasti langsung menghasilkan apa yang kita inginkan. Tidak semua pohon yang kita goyangkan akan memberikan hasil sesuai harapan kita.

Namun kita percaya bahwa tidak ada ikhtiar seorang mukmin yang sia-sia di sisi Allah Subhanahu wata’ala. Allah Subhanahu wata’ala melihat usaha yang mungkin tidak dilihat manusia. Allah Subhanahu wata’ala mengetahui air mata yang tidak pernah diceritakan. Allah Subhanahu wata’ala mengetahui perjuangan yang tidak pernah mendapatkan penghargaan.

Allah Subhanahu wata’ala juga mengetahui berapa kali kita ingin berhenti, tetapi memilih untuk tetap melangkah. Karena itu, jangan ukur nilai perjuangan hanya dari hasil yang segera terlihat. Ada usaha yang hasilnya hadir dalam bentuk keberhasilan.

Ada yang hadir dalam bentuk pelajaran, ada yang hadir dalam bentuk perlindungan dari keburukan, ada yang menjadi sebab terhapusnya dosa. Dan ada pula yang menjadi amal yang kelak kita temukan pahalanya di sisi Allah Subhanahu wata’ala.

Maka, Goyangkan Pohon Kurmamu

Hari ini, mungkin kita sedang lelah. Tidak apa-apa. Beristirahatlah jika perlu. Namun, jangan menjadikan kelelahan sebagai alasan untuk menyerah selamanya. Mungkin kita sedang takut. Tidak apa-apa, karena takut adalah bagian dari kemanusiaan.

Namun, jangan biarkan ketakutan mengambil seluruh masa depan kita. Mungkin kita merasa tidak cukup kuat. Tidak apa-apa. Allah Subhanahu wata’ala tidak selalu meminta kita melakukan sesuatu dengan kekuatan yang besar. Terkadang, Allah Subhanahu wata’ala hanya meminta kita untuk melakukan apa yang masih mampu kita lakukan.

Maka berdoalah, lalu bergeraklah. Bertawakallah, lalu berusahalah. Menangislah jika perlu, lalu bangkitlah kembali. Jangan menunggu menjadi kuat untuk bergerak. Sering kali, kekuatan justru tumbuh setelah seseorang memilih untuk bergerak. Jangan menunggu semua jalan terbuka.

Mulailah dari jalan yang ada. Jangan menunggu semua persoalan selesai. Kerjakan bagian yang mampu engkau kerjakan hari ini. Maryam menggoyangkan pohon, dan Allah Subhanahu wata’ala menurunkan kurma. Begitulah kita belajar bahwa tugas seorang hamba adalah berusaha. Sedangkan hasil adalah wilayah kekuasaan Allah Subhanahu wata’ala.

Maka, jika hari ini kita sedang menghadapi pohon kurma kita sendiri, maka jangan hanya berdiri di hadapannya. Jangan hanya mengeluh, jangan hanya menunggu, dan jangan hanya berharap tanpa ikhtiar. Dekati ia, pegang ia, dan goyangkan.

Dengan sisa tenaga yang ada, dengan iman yang masih tersisa, dengan doa yang belum berhenti, dan dengan hati yang masih berharap kepada Allah Subhanahu wata’ala. Sebab bisa jadi, pertolongan itu tidak sejauh yang kita bayangkan. Bisa jadi, Allah Subhanahu wata’ala sedang menunggu satu langkah lagi.

Satu ikhtiar lagi, satu keberanian lagi, dan satu goyangan lagi. Maka hari ini, jangan menyerah. Goyangkan pohon kurma kita, karena kita tidak pernah tahu, mungkin saja buah pertolongan Allah Subhanahu wata’ala sedang menunggu untuk jatuh. Wallahu a’lam bishawab.

0Shares
Category: Artikel

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Statistik

  • 3
  • 3,317
  • 1,153,765
  • 2,589

Tiket.com

banner

HALO MOTIVASI

Pelago.com – Travel

KREMES KRATON

ADIDAS ID

EIGER

LAZADA INDONESIA

diskonMU

NEOZEN KOREA

Pengunjung

Flag Counter

Arsip

Kategori

© 2026 RUMAH PENA MOTIVASI | Powered by Minimalist Blog WordPress Theme