Skip to content

RUMAH PENA MOTIVASI

Menu
  • Home
  • Tentang Admin
  • Artikel
    • Ramadhan
    • Umroh
    • Keluarga
  • Motivasi
  • Cerita
  • Coretan
  • Dari Anda
  • Berita Iklan
Menu

Dua Nikmat Yang Sering Membuat Manusia Lalai

Posted on 7 August 20264 August 2026 by ceppangeran

@ Cecep Y Pramana

Ada nikmat yang kita sadari ketika kehilangannya. Kita baru memahami arti kesehatan ketika tubuh mulai sakit. Kita baru merasakan berharganya waktu ketika kesibukan datang tanpa jeda. Kita baru menyadari betapa luasnya kesempatan ketika kesempatan itu telah berlalu.

Padahal, setiap hari Allah Subhanahu wata’ala memberikan dua nikmat yang sering kita terima tanpa banyak berpikir. Kesehatan dan waktu luang. Keduanya hadir begitu dekat dengan kehidupan kita. Karena terlalu dekat, kita sering lupa bahwa keduanya adalah karunia.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu karenanya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari). Hadis ini singkat. Namun, maknanya sangat dalam. Manusia sering tertipu bukan karena tidak memiliki nikmat. Justru karena memiliki nikmat, tetapi tidak menyadari nilainya.

Sehat, tetapi tidak digunakan untuk beribadah. Memiliki waktu, tetapi tidak digunakan untuk belajar. Memiliki tenaga, tetapi tidak digunakan untuk membantu. Memiliki kesempatan, tetapi terus menunda kebaikan. Seolah-olah kesehatan akan selalu ada. Seolah-olah waktu akan selalu tersedia. Padahal, tidak ada satu pun yang dijamin akan terus kita miliki.

Saat Sehat Terasa Biasa

Ketika tubuh sehat, kita sering menganggapnya sebagai keadaan biasa. Kita bangun, berjalan, bekerja, belajar, beraktivitas, dan bertemu dengan orang-orang yang kita cintai. Semua terasa normal. Karena semuanya berjalan baik, kita jarang berhenti untuk bersyukur.

Kita baru menyadari betapa mahalnya kesehatan ketika satu bagian kecil dari tubuh kita terganggu.

Saat sakit, kita ingin kembali pada keadaan sebelumnya. Ingin kembali dapat beraktivitas, ingin kembali dapat beribadah dengan nyaman, dan ingin kembali dapat melakukan hal-hal sederhana yang sebelumnya dianggap biasa.

Di situlah kita menyadari bahwa kesehatan bukanlah sesuatu yang sederhana. Ia adalah karunia besar. Namun, banyak orang baru menyadarinya setelah nikmat tersebut berkurang. Abu al-Hasan Ali bin Khalaf bin Abdul Malik bin Baththal al-Baqri al-Qurthubi atau dikenal Ibnu Baththal (wafat 449 H / 1057 M) adalah seorang ulama besar ahli hadis dan pakar fikih dari mazhab Maliki yang berasal dari Kordoba, Al-Andalus (Spanyol Islam). Beliau paling dikenal di dunia Islam karena menulis salah satu kitab syarah (penjelasan) paling awal untuk Shahih Al-Bukhari.

Sebagaimana dinukil dalam penjelasan terhadap hadis ini, mengingatkan bahwa seorang Muslim seharusnya bersyukur atas nikmat kesehatan dan waktu luang. Syukur bukan hanya ucapan, syukur dibuktikan dengan menggunakan nikmat sesuai dengan tujuan yang diridai Allah Subhanahu wata’ala.

Jika Allah Subhanahu wata’ala memberikan kesehatan, maka gunakan kesehatan itu untuk ketaatan. Jika Allah Subhanahu wata’ala memberikan tenaga, maka gunakan tenaga itu untuk kebaikan. Jika Allah Subhanahu wata’ala memberikan kemampuan, gunakan kemampuan itu untuk memberi manfaat. Sebab, nikmat yang tidak digunakan untuk kebaikan dapat berubah menjadi penyesalan.

Waktu Luang yang Tidak Pernah Kembali

Nikmat kedua adalah waktu. Waktu memiliki sifat yang sangat berbeda dari harta. Harta yang hilang masih mungkin dicari kembali. Kesempatan yang terlewat kadang masih mungkin datang kembali. Namun, waktu yang telah berlalu tidak pernah dapat diulang.

Hari kemarin tidak dapat dikembalikan. Jam yang telah berlalu tidak dapat dibeli. Masa muda tidak dapat dipanggil kembali. Karena itu, waktu adalah salah satu bentuk amanah yang sangat besar. Allah Subhanahu wata’ala bahkan bersumpah dengan waktu:

“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-‘Asr: 1-3).

Surat yang sangat singkat ini memberikan peringatan yang sangat besar. Manusia berada dalam kerugian. Bukan hanya orang yang tidak memiliki harta, bukan hanya orang yang gagal mencapai jabatan, bukan hanya orang yang kehilangan kesempatan dunia.

Tetapi setiap manusia berada dalam kerugian apabila waktu yang dimilikinya tidak digunakan untuk iman dan kebaikan. Setiap hari, kita menerima jatah waktu yang sama. Tidak ada seorang pun yang mendapatkan lebih dari 24 jam dalam sehari.

Namun, hasil kehidupan setiap orang berbeda. Ada yang menggunakan waktunya untuk bertumbuh. Ada yang menggunakannya untuk memberi manfaat, ada yang menggunakannya untuk mendekat kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Ada pula yang membiarkan waktunya berlalu tanpa arah. Perbedaannya bukan pada jumlah waktu. Perbedaannya terletak pada bagaimana waktu itu digunakan. Yang membedakan adalah pencapaian dan kualitas hidup adalah bagaimana kita mengarahkannya

Mengapa Manusia Disebut Tertipu?

Para ulama menjelaskan bahwa manusia disebut tertipu ketika ia memiliki nikmat, tetapi tidak menyadari bahwa nikmat tersebut memiliki batas. Seseorang merasa sehat. Ia mengira akan selalu sehat. Seseorang memiliki waktu luang. Ia mengira akan selalu memiliki waktu.

Padahal, hidup selalu bergerak menuju perubahan. Setelah sehat, bisa datang sakit. Setelah waktu luang, bisa datang kesibukan. Setelah masa muda, datang masa tua. Setelah kesempatan, bisa datang penyesalan.

Abul Faraj Ibnul Jauzi atau yang lebih dikenal dengan nama Ibnul Jauzi adalah seorang ahli fikih, sejarawan, ahli tata bahasa, ahli tafsir, pendakwah, dan syekh yang merupakan tokoh penting dalam berdirinya kota Baghdad dan pedakwah mazhab Hambali yang terkemuka di masanya.

Ia menjelaskan bahwa orang yang tertipu adalah mereka yang mendapatkan kesehatan dan waktu luang, tetapi tidak menggunakannya untuk menambah ketaatan. Sebab, setelah waktu luang akan datang kesibukan. Dan setelah kesehatan dapat datang sakit.

Inilah yang sering terjadi dalam kehidupan. Hari ini kita berkata: “Nanti saja”. Nanti ketika lebih senggang, nanti ketika pekerjaan selesai, nanti ketika keadaan lebih baik, nanti ketika sudah siap. Namun, kita tidak pernah tahu apakah “nanti” benar-benar akan datang.

Banyak orang meninggalkan dunia dengan rencana kebaikan yang tidak pernah sempat dilakukan. Ada yang ingin mulai membaca Al-Qur’an, ada yang ingin memperbaiki shalat, ada yang ingin bersedekah, ada yang ingin meminta maaf, ada yang ingin belajar. Ada yang ingin memperbaiki hubungan dengan keluarga. Namun, waktu terus berjalan, dan kesempatan tidak selalu menunggu.

Sehat, Tetapi untuk Apa?

Pertanyaan penting yang perlu kita ajukan bukan hanya: “Apakah saya sehat?” Tetapi: “Untuk apa kesehatan ini saya gunakan?” Sehat untuk bekerja, sehat untuk mencari nafkah, sehat untuk mengurus keluarga, semua itu baik.

Namun, jangan sampai kesehatan hanya digunakan untuk mengejar dunia, sementara hubungan dengan Allah Subhanahu wata’ala semakin jauh. Kesehatan adalah modal untuk beribadah. Untuk menolong, belajar, bekerja dengan amanah, berdakwah, membangun keluarga, dan untuk memberikan manfaat.

Seorang yang sehat memiliki kesempatan untuk melakukan banyak hal yang tidak mampu dilakukan oleh orang yang sedang sakit. Karena itu, setiap langkah yang digunakan dalam kebaikan adalah bentuk syukur. Setiap tenaga yang digunakan untuk membantu adalah bentuk syukur.

Setiap waktu yang digunakan untuk mendekat kepada Allah adalah bentuk syukur. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam  bersabda: “Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu, kesehatanmu sebelum sakitmu, kekayaanmu sebelum kemiskinanmu, waktu luangmu sebelum kesibukanmu, dan hidupmu sebelum matimu.” (HR. Al-Hakim).

Hadis ini mengajarkan agar kita tidak menunggu kehilangan untuk menghargai. Jangan menunggu sakit untuk mulai menghargai kesehatan. Jangan menunggu sibuk untuk menghargai waktu. Jangan menunggu tua untuk memperbaiki diri, dan jangan menunggu kematian untuk menyadari bahwa hidup adalah amanah.

Generasi Muda, Gen Z dan Tantangan Waktu

Bagi generasi muda dan Gen Z, tantangan terbesar terhadap waktu bukan selalu kesibukan. Kadang, tantangannya adalah distraksi. Waktu dapat berlalu tanpa terasa, beberapa menit berubah menjadi berjam-jam. Seseorang membuka ponsel sebentar, kemudian berpindah dari satu konten ke konten lain.

Tanpa disadari, waktu telah berlalu. Tentu, teknologi bukan sesuatu yang harus dijauhi. Teknologi dapat menjadi sarana belajar. Sarana bekerja, sarana berdakwah, juga sarana membangun relasi. Namun, teknologi perlu digunakan dengan kesadaran.

Jangan sampai kita memiliki akses kepada begitu banyak informasi, tetapi kehilangan kendali atas waktu. Jangan sampai kita selalu terhubung dengan dunia, tetapi semakin jauh dari diri sendiri dan dari Allah Subhanahu wata’ala. Waktu luang bukan berarti waktu yang tidak berharga. Justru waktu luang adalah ruang untuk menentukan ke mana kehidupan akan diarahkan.

Ia dapat menjadi ruang untuk belajar. Ruang untuk membaca, ruang untuk beribadah, ruang untuk berpikir, ruang untuk membantu keluarga, dan ruang untuk memperbaiki diri. Pertanyaannya bukan: “Bagaimana saya menghabiskan waktu?” Tetapi: “Apakah waktu yang saya habiskan membawa saya menjadi pribadi yang lebih baik?”

Nikmat yang Akan Ditanya

Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan.” (QS. At-Takatsur: 8). Setiap nikmat memiliki pertanggungjawaban. Kesehatan akan ditanya, waktu akan ditanya, ilmu akan ditanya, harta akan ditanya, dan kesempatan akan ditanya.

Bukan untuk membuat kita hidup dalam ketakutan. Namun, agar kita hidup dalam kesadaran. Allah Subhanahu wata’ala memberikan nikmat bukan agar kita lupa kepada-Nya. Allah Subhanahu wata’ala memberikan nikmat agar kita semakin mengenal-Nya.

Ketika sehat, kita bersyukur. Ketika sakit, kita bersabar. Ketika memiliki waktu, kita mengisinya dengan kebaikan. Ketika sibuk, kita tetap menjaga kewajiban. Inilah keseimbangan seorang mukmin. Ia tidak hanya mengingat Allah Subhanahu wata’ala ketika kehilangan. Ia juga mengingat Allah Subhanahu wata’ala ketika memiliki.

Sebelum Nikmat Itu Pergi

Suatu hari, kesehatan kita mungkin tidak lagi seperti hari ini. Tenaga mungkin berkurang, gerak mungkin terbatas, waktu mungkin semakin sempit, dan tanggung jawab mungkin semakin banyak. Karena itu, gunakan kesempatan sebelum ia berubah.

Jika hari ini masih sehat, maka beribadahlah dengan sungguh-sungguh. Jika hari ini masih memiliki waktu, maka gunakan untuk belajar dan berbuat baik. Jika hari ini masih memiliki tenaga, maka gunakan untuk membantu. Jika hari ini masih memiliki kesempatan, maka jangan terlalu banyak menunda.

Tidak semua kebaikan harus dimulai dengan sesuatu yang besar. Baca satu halaman Al-Qur’an. Lakukan satu kebaikan. Bantu satu orang, hubungi orang tua, minta maaf, belajar sesuatu yang bermanfaat, berikan sedekah, bahkan datang ke majelis ilmu. Mulailah dari apa yang mampu dilakukan. Yang penting, jangan biarkan nikmat berlalu tanpa makna.

Jangan Menunggu Kehilangan

Dua nikmat yang paling sering membuat manusia lalai adalah kesehatan dan waktu luang. Keduanya begitu dekat sehingga sering tidak kita sadari. Kita merasa sehat, kita merasa masih punya waktu, dan kita merasa masih bisa melakukannya nanti.

Namun, kehidupan tidak pernah memberikan jaminan tentang hari esok. Karena itu, jangan menunggu kehilangan untuk belajar bersyukur. Jangan menunggu sakit untuk mulai beribadah. Jangan menunggu sibuk untuk menggunakan waktu dengan baik.

Jangan menunggu tua untuk memperbaiki diri. Jangan menunggu kesempatan hilang untuk menyadari nilainya. Hari ini kita masih memiliki kesehatan, hari ini kita masih memiliki waktu, dan hari ini kita masih memiliki kesempatan.

Karena itu, mari kita gunakan semuanya untuk mendekat kepada Allah Subhanahu wata’ala. Untuk belajar, untuk berbuat baik, untuk membantu, untuk memperbaiki diri, untuk memberi manfaat. Sebab, nikmat yang paling berharga bukan hanya nikmat yang kita miliki.

Nikmat yang paling berharga adalah nikmat yang berhasil kita gunakan sebelum ia pergi. Dan mungkin, pada akhirnya, pertanyaan terbesar bukan: “Berapa lama kita hidup?” Melainkan: “Berapa banyak kebaikan yang kita lakukan selama masih diberi kesempatan untuk hidup?”

Semoga Allah Subhanahu wata’ala menjadikan kita hamba yang mampu mengenali nikmat sebelum kehilangan. Mampu bersyukur sebelum diuji, mampu beramal sebelum sibuk, dan mampu menggunakan kesehatan serta waktu luang sebagai jalan untuk mendekat kepada-Nya.

Karena kesehatan tidak selamanya ada. Waktu tidak pernah berhenti berjalan. Dan kesempatan untuk berbuat baik tidak selalu datang dua kali. Dan langkah terbaik adalah menghargai setiap momen saat ini. Menjadikan kebaikan sebagai prioritas adalah investasi paling berharga untuk diri sendiri dan sesama. Wallahu a’lam bishawab.

0Shares
Category: Artikel

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Statistik

  • 3
  • 4,493
  • 1,160,099
  • 2,599

Tiket.com

banner

HALO MOTIVASI

Pelago.com – Travel

KREMES KRATON

ADIDAS ID

EIGER

LAZADA INDONESIA

diskonMU

NEOZEN KOREA

Pengunjung

Flag Counter

Arsip

Kategori

© 2026 RUMAH PENA MOTIVASI | Powered by Minimalist Blog WordPress Theme