Dakwah Fardiyah, Strategi Mendekati Obyek Dakwah

@ Cecep Y Pramana

Mengajak manusia mendekat kepada Allah Subhanahu wata’ala adalah pekerjaan yang mulia sekaligus penuh tanggung jawab. Tidak semua orang dapat disentuh dengan cara yang sama. Ada yang mudah menerima nasihat, ada yang membutuhkan waktu, ada yang cukup dengan sebuah percakapan sederhana.

Strategi Mendekati Hati dan Menuntun kepada Kebaikan

Ada pula yang baru terbuka setelah menemukan seseorang yang bersedia mendengarkan tanpa menghakimi. Di sinilah dakwah fardiyah menemukan ruangnya. Dakwah fardiyah adalah pendekatan dakwah secara personal.

Seorang da’i (murabbi) berinteraksi langsung dengan seseorang, mengenalnya, membangun kepercayaan, kemudian secara bertahap mengajaknya memahami dan menjalankan nilai-nilai Islam. Dakwah seperti ini membutuhkan ilmu, kesabaran, keteladanan, dan kepekaan membaca keadaan.

Sebab yang sedang kita hadapi bukan sekadar “objek dakwah”. Yang sedang kita temui adalah manusia. Ia memiliki keluarga, pengalaman, harapan, kegelisahan, kelebihan, kekurangan, dan perjalanan hidup yang tidak selalu kita ketahui.

Karena itu, dakwah fardiyah bukan seni “merekrut” sebanyak-banyaknya orang. Ia lebih tepat dipahami sebagai seni membangun hubungan, menumbuhkan kesadaran, dan menemani seseorang menuju kebaikan.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik.” (QS. An-Nahl: 125). Ayat ini mengingatkan bahwa dakwah membutuhkan hikmah. Bukan hanya tentang apa yang disampaikan, tetapi juga bagaimana, kapan, dan kepada siapa pesan itu disampaikan.

Berikut beberapa langkah yang dapat menjadi panduan dalam dakwah fardiyah.

1. Mengenal Sebelum Mengajak

Dakwah dimulai dengan hubungan. Kenalilah orang yang ingin kita dampingi. Bangun komunikasi yang sehat. Hadir dalam kehidupannya secara wajar. Jadilah seseorang yang nyaman diajak berbicara. Jangan terburu-buru membawa setiap percakapan kepada materi agama.

Ada kalanya pembicaraan dimulai dari pekerjaan. Tentang keluarga, pendidikan, kehidupan sehari-hari, cita-cita dan kegelisahan. Dari percakapan seperti itu, kita belajar memahami siapa dirinya. Ketika kepercayaan telah tumbuh, hati biasanya menjadi lebih terbuka.

Inilah salah satu prinsip penting dakwah fardiyah: Sebelum mengajak seseorang mendengarkan kita, belajarlah terlebih dahulu untuk mendengarkan dirinya. Hubungan yang baik bukan tujuan akhir. Ia adalah pintu menuju komunikasi yang lebih bermakna.

2. Membangkitkan Iman yang Ada di Dalam Jiwa

Setiap manusia memiliki ruang dalam dirinya untuk mengenal kebenaran. Karena itu, pembicaraan tentang iman tidak harus selalu dimulai dengan ceramah yang panjang. Sering kali, kehidupan sendiri menyediakan pintunya. Ketika seseorang sedang menghadapi masalah, kita dapat berbicara tentang kesabaran.

Ketika ia mendapatkan nikmat, kita dapat mengajaknya berbicara tentang syukur. Ketika ia sedang mencari arah, kita dapat mengajaknya merenungkan tujuan hidup. Ketika ia merasa kehilangan, kita dapat mengingatkannya bahwa manusia memiliki tempat untuk kembali, yaitu Allah Subhanahu wata’ala.

Pembicaraan yang lahir secara alami sering kali lebih mudah diterima karena sesuai dengan keadaan yang sedang dialami. Dari sana, kesadaran iman dapat perlahan tumbuh. Ketika iman mulai hidup, seseorang tidak lagi hanya mencari jawaban untuk masalahnya. Ia mulai mencari hubungan yang lebih dekat dengan Allah Subhanahu wata’ala. Di titik inilah dakwah mulai bergerak dari sekadar percakapan menjadi proses perubahan.

3. Membantu Memperbaiki Kehidupan dan Membentuk Kebiasaan Baik

Iman yang tumbuh perlu diterjemahkan dalam amal. Pada tahap ini, seseorang perlu dikenalkan dengan berbagai bentuk ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Shalat, dzikir, doa, membaca Al-Qur’an, sedekah, puasa, berbuat baik kepada orang tua. Menjaga hubungan dengan sesama. Meninggalkan kebiasaan yang buruk.

Namun, perubahan tidak perlu dipaksakan sekaligus. Yang penting adalah adanya kemajuan. Sedikit demi sedikit, hari demi hari. Kebiasaan baik yang dijaga secara konsisten akan membentuk karakter. Selain pembiasaan ibadah, lingkungan juga memiliki pengaruh besar.

Seseorang yang sedang tumbuh dalam kebaikan membutuhkan lingkungan yang mendukung. Ia perlu bertemu dengan orang-orang baik. Ia perlu memiliki teman yang mengingatkan. Ia perlu mendapatkan bahan bacaan yang sesuai dengan tahap pemahamannya. Ia perlu mendapatkan pendampingan dan evaluasi secara bijaksana.

Dalam konteks ini, pemantauan bukan berarti mengontrol kehidupan seseorang secara berlebihan. Pendampingan adalah bentuk kepedulian. Tujuannya agar seseorang tidak berjalan sendirian ketika sedang berusaha memperbaiki dirinya.

4. Memahami Ibadah secara Luas

Ketika kebiasaan ibadah mulai terbentuk, maka pemahaman tentang ibadah perlu diperluas. Ibadah tidak hanya terbatas pada ritual. Islam mengajarkan bahwa aktivitas kehidupan dapat bernilai ibadah ketika dilakukan dengan niat yang benar dan sesuai dengan tuntunan Allah Subhanahu wata’ala.

Belajar dengan sungguh-sungguh dapat menjadi ibadah. Bekerja dengan jujur dapat menjadi ibadah. Menafkahi keluarga dapat menjadi ibadah. Menolong orang lain dapat menjadi ibadah. Menjaga amanah dapat menjadi ibadah. Mengajak kepada kebaikan dapat menjadi ibadah.

Karena itu, keberagamaan tidak semestinya membuat seseorang hanya baik di masjid, tetapi juga baik di rumah, di tempat kerja, di lingkungan sosial, dan di ruang publik. Kesalehan pribadi seharusnya melahirkan manfaat sosial. Semakin dekat seseorang kepada Allah Subhanahu wata’ala, semestinya semakin baik pula hubungan dan kontribusinya kepada manusia.

5. Menumbuhkan Kesadaran terhadap Tanggung Jawab Sosial

Pada tahap berikutnya, seseorang diajak memahami bahwa keberagamaan tidak berhenti pada kesalehan pribadi. Menjadi Muslim bukan hanya tentang menjaga ibadah diri sendiri. Ada tanggung jawab terhadap keluarga.

Ada tanggung jawab terhadap tetangga. Ada tanggung jawab terhadap masyarakat. Ada tanggung jawab untuk menjaga kebaikan dan mencegah kemudaratan dengan cara yang benar. Islam tidak mengajarkan manusia hidup hanya untuk dirinya sendiri.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, dan lainnya). Karena itu, dakwah perlu menumbuhkan kepedulian. Ketika seseorang melihat persoalan di sekitarnya, ia tidak hanya bertanya: “Apa yang bisa saya dapatkan?” Tetapi juga: “Apa yang bisa saya lakukan?”

Pertanyaan sederhana itu dapat mengubah cara seseorang memandang kehidupan. Ia mulai melihat dirinya bukan hanya sebagai individu yang menjalani kehidupan, tetapi sebagai bagian dari masyarakat yang memiliki tanggung jawab.

6. Memahami Pentingnya Amal Jama’i

Tanggung jawab yang besar tidak selalu dapat diselesaikan sendirian. Ada persoalan yang membutuhkan ilmu banyak orang. Ada persoalan yang membutuhkan tenaga banyak orang. Ada persoalan yang membutuhkan pengalaman, sumber daya, organisasi, dan kerja sama.

Karena itu, Islam mengajarkan pentingnya saling membantu dalam kebaikan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman: ““Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan.” (QS. Al-Ma’idah: 2). Di sinilah pentingnya memahami amal jama’i, yaitu bekerja bersama dalam kebaikan untuk mencapai tujuan yang lebih besar.

Setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda. Ada yang kuat dalam ilmu, dalam komunikasi, dalam pelayanan. Ada yang memiliki kemampuan mengorganisasi. Ada yang memiliki jaringan. Ada yang memiliki waktu.

Semua potensi tersebut dapat dipertemukan untuk menghadirkan manfaat yang lebih luas. Amal jama’i mengajarkan bahwa kita tidak harus menjadi orang yang paling hebat. Kita hanya perlu menjadi bagian yang berguna.

7. Memilih Ruang Pengabdian dengan Bijaksana

Pada tahap berikutnya, seseorang dapat diajak memahami pentingnya memiliki ruang pengabdian yang terarah. Ada banyak komunitas dan organisasi yang bergerak dalam kebaikan. Masing-masing memiliki sejarah, visi, metode, budaya, dan cara kerja yang berbeda.

Karena itu, memilih ruang pengabdian tidak seharusnya dilakukan secara terburu-buru. Pelajari visi dan nilai yang diperjuangkan. Kenali sejarahnya. Perhatikan cara mereka bekerja. Lihat bagaimana mereka memperlakukan manusia. Pahami bagaimana mereka mengambil keputusan. Pertimbangkan pula apakah ruang tersebut benar-benar membantu kita menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih bermanfaat.

Keterlibatan dalam sebuah komunitas atau organisasi seharusnya bukan sekadar untuk mendapatkan identitas. Lebih penting dari itu, ia menjadi sarana untuk memperluas manfaat. Sebab organisasi adalah sarana. Pengabdian kepada Allah dan kemaslahatan manusia adalah tujuan yang lebih besar.

Dakwah Fardiyah Adalah Seni Menemani

Dari seluruh proses tersebut, kita dapat memahami bahwa dakwah fardiyah bukan pekerjaan instan. Ia membutuhkan waktu, membutuhkan kesabaran, membutuhkan hubungan yang tulus, dan ia juga membutuhkan keteladanan. Seorang da’i tidak cukup hanya pandai berbicara tentang Islam.

Ia juga perlu menunjukkan bagaimana Islam menghadirkan ketenangan dalam kehidupan. Bagaimana iman melahirkan kesabaran. Bagaimana ibadah membentuk disiplin. Bagaimana ilmu melahirkan kebijaksanaan. Bagaimana kedekatan kepada Allah Subhanahu wata’ala melahirkan kepedulian kepada manusia.

Mungkin kita tidak akan melihat seluruh hasil dari dakwah yang kita lakukan. Mungkin seseorang yang hari ini kita dampingi baru mengalami perubahan beberapa tahun kemudian. Tidak mengapa. Hidayah bukan milik kita. Kita hanya berusaha menjadi jalan.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Qashash: 56). Ayat ini mengajarkan kerendahan hati kepada setiap da’I (murabbi).

Kita boleh mengajak, boleh menjelaskan, boleh mendampingi, boleh memberikan teladan. Namun, hati manusia tetap berada dalam kuasa Allah Subhanahu wata’ala. Karena itu, dakwah harus dilakukan dengan ikhtiar yang sungguh-sungguh dan doa yang tidak putus-putus.

Menjadi Jalan Kebaikan

Pada akhirnya, dakwah fardiyah bukan tentang seberapa banyak orang yang berhasil kita ajak. Bukan pula tentang seberapa besar nama kita dikenal. Dakwah adalah tentang seberapa tulus kita menjalankan amanah. Ada orang yang mungkin hanya kita temui sekali, ada yang kita dampingi bertahun-tahun, ada yang berubah cepat, dan ada juga yang membutuhkan waktu panjang.

Tugas kita adalah tetap menghadirkan kebaikan dengan cara yang baik. Mengenal sebelum mengajak. Mendengarkan sebelum menasihati. Memahami sebelum menilai. Memberi contoh sebelum menuntut. Menemani sebelum meminta perubahan. Dan terus berdoa ketika hasil belum terlihat.

Sebab bisa jadi, sebuah percakapan sederhana yang kita anggap biasa justru menjadi titik balik dalam kehidupan seseorang. Bisa jadi, perhatian kecil yang kita berikan menjadi alasan seseorang kembali percaya bahwa kebaikan masih ada. Bisa jadi, satu nasihat yang disampaikan dengan kasih sayang menjadi jalan seseorang kembali kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Maka jangan meremehkan dakwah yang sederhana. Satu hati yang menemukan jalan menuju Allah Subhanahu wata’ala adalah sebuah amanah yang sangat berharga. Semoga Allah Subhanahu wata’ala menjadikan kita bukan hanya orang yang pandai berbicara tentang kebaikan, tetapi juga orang yang mampu menghadirkan kebaikan dalam kehidupan.

Semoga Allah Subhanahu wata’ala memudahkan langkah kita dalam mendampingi saudara-saudara kita. Dan semoga setiap langkah kecil dalam dakwah menjadi amal yang diterima di sisi-Nya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Dan Al-Qur’an ini adalah suatu peringatan yang mempunyai berkah yang telah Kami turunkan. Maka apakah kamu mengingkarinya?” (QS. Al-Anbiya: 50).

Orang yang besar bukan hanya orang yang memiliki kemampuan besar. Orang yang besar adalah mereka yang memahami untuk apa kemampuan itu diberikan, kepada siapa manfaatnya diberikan, dan untuk siapa seluruh perjuangannya dipersembahkan. Itulah seni dakwah fardiyah: mendekati hati, menumbuhkan kesadaran, menemani perubahan, lalu mengantarkan manusia semakin dekat kepada Allah Subhanahu wata’ala. Wallahu a’lam bishawab.

6Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *