Tujuh Tahapan Dakwah Fardiyah

@ Cecep Y Pramana

Tidak semua dakwah dimulai dari mimbar. Sebagian justru bermula dari sebuah pertemuan sederhana. Dua orang berbicara, saling mengenal, saling mendengarkan. Mungkin awalnya hanya membicarakan pekerjaan, keluarga, pendidikan, atau kehidupan sehari-hari. Tidak ada pembahasan agama yang panjang.

Namun, dari hubungan yang sederhana itu, perlahan tumbuh kepercayaan. Dari kepercayaan lahir keterbukaan. Dari keterbukaan, seseorang mulai bersedia mendengar nasihat. Dan dari sana, perjalanan menuju kebaikan dapat dimulai. Inilah salah satu wajah dakwah fardiyah.

Dakwah yang berlangsung secara personal, dari manusia kepada manusia. Bukan sekadar menyampaikan pesan, tetapi menemani seseorang dalam proses menemukan dan menjalani kebaikan. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam pernah mengutus Ali bin Abi Thalib untuk menjalankan tugas dakwah.

Kepada Ali, beliau bersabda: “Demi Allah, seandainya Allah memberikan petunjuk kepada seseorang melalui dirimu, maka itu lebih baik bagimu daripada unta-unta merah.” (Muttafaqun ‘alaih). Hadis ini menggambarkan betapa besar nilai dakwah.

Satu manusia yang menemukan jalan kebaikan melalui perantara kita memiliki nilai yang sangat besar di sisi Allah Subhanahu wata’ala. Karena itu, dakwah bukan hanya tentang seberapa banyak orang yang mendengar. Dakwah adalah tentang bagaimana seseorang perlahan bergerak dari satu keadaan menuju keadaan yang lebih baik dan lebih dekat kepada Allah.

Dari Mengenal Hati hingga Menemukan Jalan Pengabdian

Salah satu pendekatan untuk mewujudkan proses tersebut adalah dakwah fardiyah, yaitu dakwah yang dilakukan secara interpersonal, langsung, dan personal antara da’i (murabbi) dengan mad’u (mutarabbi). Dakwah fardiyah membutuhkan kesabaran karena manusia tidak berubah dalam satu malam. Ia membutuhkan pendekatan karena setiap manusia memiliki latar belakang yang berbeda.

Ia membutuhkan ilmu agar arah pembinaan tidak kehilangan tujuan. Dan ia membutuhkan keteladanan karena sering kali manusia lebih mudah menerima kebaikan yang mereka lihat daripada nasihat yang hanya mereka dengar. Menurut Syaikh Musthafa Masyhur, dakwah fardiyah dapat ditempuh melalui tujuh tahapan.

1. Membina Hubungan dan Pengenalan

Dakwah dimulai dengan mengenal. Seorang da’i (murabbi) perlu mengetahui siapa mad’unya (mutarabbi). Apa latar belakangnya. Apa yang sedang ia pikirkan. Apa yang menjadi kekhawatirannya. Apa yang menjadi harapannya.

Bukan untuk menghakimi. Bukan untuk mencari kelemahannya. Tetapi agar dakwah disampaikan dengan cara yang tepat. Hubungan yang baik membutuhkan ketulusan. Terkadang seseorang belum siap menerima nasihat, tetapi ia siap menerima persahabatan. Maka jangan terburu-buru mengubah seseorang sebelum kita bersedia mengenalnya.

Ada waktunya berbicara, ada waktunya mendengarkan, ada waktunya memberikan nasihat, dan ada waktunya cukup hadir sebagai seorang teman. Rasulullah Shalallahu ’alaihi wasallam sendiri mengajarkan pentingnya kelembutan dalam mengajak manusia kepada kebaikan. Karena hati yang merasa dihargai akan lebih mudah terbuka.

2. Membangun dan Menguatkan Iman

Setelah hubungan mulai terbangun, perjalanan berikutnya adalah menguatkan iman. Inilah fondasi. Iman bukan sekadar pengetahuan bahwa Allah Subhanahu wata’ala itu ada. Iman harus tumbuh menjadi keyakinan yang memengaruhi cara seseorang berpikir, bersikap, mengambil keputusan, dan menjalani kehidupan.

Generasi awal Islam juga dibina dengan penguatan iman. Mereka belajar mengenal Allah Subhanahu wata’ala. Mereka belajar memahami kehidupan. Mereka belajar tentang akhirat. Mereka juga belajar bahwa hidup bukan sekadar mengejar dunia, tetapi memiliki tujuan yang lebih tinggi.

Begitu pula dalam dakwah fardiyah. Jangan hanya mengajarkan seseorang apa yang harus dilakukan. Bantu ia memahami mengapa ia harus melakukannya. Ketika hati mengenal Allah Subhanahu wata’ala, ibadah tidak lagi terasa sekadar kewajiban. Ia perlahan menjadi kebutuhan.

3. Membiasakan Ibadah dan Amal Kebaikan

Iman yang bertumbuh membutuhkan pembuktian dalam amal. Karena itu, mad’u (mutarabbi) kemudian diarahkan untuk membangun kebiasaan ibadah dan amal kebaikan. Salat, dzikir, doa, tilawah Al-Qur’an, puasa, sedekah. Berbuat baik kepada sesama.

Semua itu perlu dibangun secara bertahap dan konsisten. Dakwah tidak perlu membuat seseorang merasa harus menjadi sempurna dalam waktu singkat. Yang lebih penting adalah adanya kemajuan.

Sedikit demi sedikit. Hari demi hari.

Kebiasaan baik yang dilakukan secara konsisten dapat membentuk karakter. Pada saat yang sama, mad’u (mutarabbi) juga dibimbing untuk meninggalkan dosa dan kemaksiatan. Bukan dengan mempermalukannya.

Bukan dengan terus mengingatkan kesalahannya. Tetapi dengan membantunya menemukan jalan untuk memperbaiki diri. Sebab dakwah bukan sekadar menunjukkan kesalahan. Dakwah juga menunjukkan jalan pulang.

4. Memahami Luasnya Makna Ibadah

Pada tahap berikutnya, pemahaman tentang ibadah perlu diperluas. Ibadah tidak hanya berkaitan dengan ritual yang dilakukan di masjid atau di atas sajadah. Islam mengajarkan bahwa kehidupan seorang Muslim dapat menjadi ibadah ketika dilakukan dengan niat yang benar dan sesuai dengan tuntunan Allah Subhanahu wata’ala.

Belajar dapat menjadi ibadah. Bekerja dengan jujur dapat menjadi ibadah. Menafkahi keluarga dapat menjadi ibadah. Menolong orang lain dapat menjadi ibadah. Mengajak kepada kebaikan dapat menjadi ibadah. Amar ma’ruf dan nahi munkar juga merupakan bagian dari tanggung jawab seorang Muslim.

Bahkan usaha memperbaiki kehidupan masyarakat dengan cara yang baik dan sesuai prinsip Islam merupakan bagian dari pengabdian. Pada tahap ini, mad’u diajak keluar dari pemahaman bahwa agama hanya berada di ruang pribadi. Islam mengajarkan hubungan manusia dengan Allah Subhanahu wata’ala sekaligus hubungan manusia dengan sesama. Kesalehan pribadi perlu memiliki dampak sosial.

5. Memahami Prinsip Syumuliyatul Islam

Setelah memahami luasnya ibadah, pemahaman tentang Islam juga perlu diperluas. Islam tidak hanya berbicara tentang syahadat, salat, puasa, zakat, dan haji. Islam memiliki nilai dan prinsip yang memberikan panduan bagi berbagai sisi kehidupan.

Ekonomi, sosial, pendidikan, kesehatan, keluarga, budaya, kepemimpinan, kehidupan bermasyarakat. Semua bidang tersebut perlu dipahami dalam kerangka nilai Islam. Inilah yang dimaksud dengan syumuliyatul Islam, yaitu pemahaman tentang Islam sebagai ajaran yang menyentuh berbagai aspek kehidupan.

Namun, pemahaman yang luas harus selalu disertai ilmu, hikmah, dan sikap yang bertanggung jawab. Tujuannya bukan menjadikan agama sebagai alat untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain. Sebaliknya, semakin luas pemahaman seseorang tentang Islam, seharusnya semakin besar pula tanggung jawabnya untuk menghadirkan kemaslahatan.

6. Memahami Pentingnya Amal Jama’i

Semakin luas tanggung jawab yang ingin dilakukan, semakin jelas bahwa seseorang tidak mungkin berjalan sendirian. Membangun keluarga yang baik membutuhkan kerja bersama. Membangun masyarakat yang sehat membutuhkan kolaborasi.

Mengembangkan pendidikan membutuhkan banyak tangan. Menguatkan ekonomi membutuhkan kerja kolektif. Memperbaiki kehidupan sosial membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Karena itu, mad’u (mutarabbi) perlu memahami pentingnya amal jama’i, yaitu bekerja bersama dalam kebaikan untuk mencapai tujuan yang lebih besar.

Setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda. Ada yang memiliki ilmu, memiliki pengalaman, memiliki kemampuan komunikasi, memiliki kemampuan mengorganisasi, memiliki sumber daya, dan ada pula yang mungkin hanya memiliki waktu dan kesediaan untuk membantu. Semua dapat menjadi bagian dari kebaikan.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan.” (QS. Al-Ma’idah: 2). Amal jama’i mengajarkan bahwa kontribusi tidak harus selalu dilakukan sendirian. Kadang kita kuat karena kemampuan kita sendiri.

Namun, sering kali kita menjadi jauh lebih kuat ketika kemampuan itu dipertemukan dengan kemampuan orang lain. Sinergi dan penggabungan potensi antarindividu yang beragam menciptakan kekuatan yang jauh lebih besar daripada bekerja sendirian.

7. Mengenal dan Memilih Jalan Jamaah Dakwah yang Syamilah

Pada tahap berikutnya, mad’u (mutarabbi) diajak memahami bahwa kontribusi dalam dakwah membutuhkan ruang pengabdian yang terarah dan berkelanjutan. Ada banyak bentuk amal jama’i, ada banyak organisasi, ada banyak komunitas, dan ada banyak ruang untuk berbuat baik. Karena itu, seseorang perlu memiliki pemahaman yang matang sebelum menentukan ruang kontribusinya.

Jamaah dakwah yang syamilah dapat menjadi salah satu sarana untuk mengembangkan kontribusi dalam berbagai bidang kehidupan secara terarah. Namun, yang paling penting bukan sekadar berada dalam sebuah kelompok. Yang lebih penting adalah bagaimana keberadaan kita di dalamnya benar-benar menghasilkan amal.

Menambah ilmu, memperbaiki akhlak, memperkuat ukhuwah, meningkatkan kepedulian, memperluas manfaat. Dan menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat. Pada akhirnya, organisasi hanyalah sarana. Tujuan akhirnya tetap pengabdian kepada Allah Subhanahu wata’ala dan memberikan manfaat bagi manusia.

Dakwah adalah Perjalanan, Bukan Perlombaan

Tujuh tahapan ini mengajarkan satu hal penting: Manusia perlu dibimbing secara bertahap. Tidak semua orang dapat langsung memahami seluruh persoalan Islam. Tidak semua orang memiliki kecepatan perubahan yang sama. Karena itu, seorang da’i harus memiliki kesabaran.

Ia perlu tahu kapan harus berbicara dan kapan harus mendengarkan. Kapan harus mengajak dan kapan harus memberi ruang. Kapan harus memberikan tantangan dan kapan harus memberikan penguatan. Dakwah fardiyah bukan perlombaan untuk membuat seseorang berubah secepat mungkin.

Dakwah adalah perjalanan untuk membantu seseorang menemukan jalan menuju Allah Subhanahu wata’ala. Kadang langkahnya cepat, kadang lambat, kadang maju, kadang mundur. Tetapi selama pintu kebaikan masih terbuka, perjalanan itu belum selesai.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik.” (QS. An-Nahl: 125). Hikmah mengajarkan kita untuk memahami keadaan. Nasihat yang baik mengajarkan kita untuk menjaga cara.

Dan dakwah mengajarkan kita untuk tetap sabar dalam proses. Mungkin kita tidak akan melihat seluruh hasil dari dakwah yang kita lakukan. Mungkin orang yang hari ini kita dampingi baru merasakan manfaatnya bertahun-tahun kemudian. Mungkin satu kalimat sederhana yang kita sampaikan akan terus hidup dalam ingatannya.

Itulah sebabnya seorang da’i (murabbi) tidak boleh terlalu sibuk menghitung hasil. Tugas kita adalah menghadirkan ikhtiar terbaik. Menjadi teman yang baik. Menjadi teladan yang baik. Menyampaikan ilmu dengan benar. Mendampingi dengan sabar. Dan mengarahkan manusia kepada Allah Subhanahu wata’ala. Sebab hidayah bukan milik kita.

Kita hanya mengajak. Allah yang membuka hati.

Dan ketika suatu hari kita melihat seseorang menjadi lebih baik karena pernah berjalan bersama kita, jangan merasa bahwa kita telah menyelamatkannya. Ucapkanlah dalam hati: “Alhamdulillah. Allah telah memilih kita untuk menjadi salah satu jalan kebaikan bagi saudara kita.”

Itulah dakwah. Bukan tentang membuat manusia mengikuti kita. Tetapi tentang membantu manusia menemukan jalan untuk kembali kepada Allah Subhanahu wata’ala. Karena inti dari dakwah bukan mencari pengikut atau kekuasaan pribadi. Wallahu a’lam bishawab.

1Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *