Nikmat Terindah Bernama Rasa Cukup
@ Cecep Y Pramana
Ada nikmat yang sering kita cari jauh-jauh, padahal letaknya sangat dekat dengan hati. Nikmat itu bernama rasa cukup. Tidak semua orang yang memiliki banyak harta akan merasa cukup. Sebaliknya, seseorang yang hidup sederhana bisa merasakan ketenangan yang tidak selalu ditemukan oleh mereka yang memiliki segalanya.
Rasa cukup bukan berarti berhenti bermimpi. Bukan pula berarti menyerah pada keadaan dan tidak berusaha menjadi lebih baik. Rasa cukup adalah kemampuan hati untuk menerima apa yang Allah Subhanahu wata’ala berikan dengan penuh syukur, sambil tetap berikhtiar untuk meraih kehidupan yang lebih baik.
Ketika hati memiliki rasa cukup, maka kita tidak mudah terganggu oleh pencapaian orang lain. Melihat orang lain memiliki lebih banyak tidak membuat kita merasa hina. Melihat orang lain lebih berhasil tidak membuat kita kehilangan kebahagiaan.
Kita dapat ikut bersyukur atas nikmat yang Allah Subhanahu wata’ala berikan kepada mereka, tanpa merasa bahwa keberhasilan orang lain mengurangi bagian kita. Di situlah rasa cukup menjaga hati dari iri dan dengki. Allah Subhanahu wata’ala mengajarkan kita untuk memandang nikmat dengan kesadaran bahwa setiap orang memiliki bagian, perjalanan, ujian, dan waktunya masing-masing.
Sering kali yang membuat kita lelah bukan karena hidup kita terlalu sedikit, tetapi karena kita terlalu sering membandingkannya dengan kehidupan orang lain. Media sosial membuat kita mudah melihat pencapaian orang lain. Kita melihat keberhasilan mereka, tetapi tidak selalu melihat perjuangan di baliknya.
Kita melihat hasilnya, tetapi tidak mengetahui seluruh prosesnya. Akibatnya, kita lupa mensyukuri kehidupan sendiri. Padahal, bisa jadi apa yang kita anggap sederhana hari ini adalah sesuatu yang dahulu pernah kita doakan dengan sungguh-sungguh.
Rumah yang kita tempati. Keluarga yang masih bersama. Tubuh yang sehat. Pekerjaan yang kita jalani. Teman yang setia. Kesempatan untuk belajar. Waktu untuk beribadah. Semua itu adalah nikmat yang tidak boleh dianggap biasa.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Makanlah dari rezeki yang baik yang telah Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 172). Maka, sesekali berhentilah sejenak. Lihatlah kehidupan dengan lebih tenang.
Hitung bukan hanya apa yang belum dimiliki, tetapi juga apa yang sudah Allah Subhanahu wata’ala titipkan. Barangkali kebahagiaan bukan selalu tentang mendapatkan lebih banyak. Kadang kebahagiaan hadir ketika hati mampu berkata, “Alhamdulillah, ini sudah cukup untuk membuatku bersyukur kepada Allah hari ini.”
Tetaplah memiliki cita-cita. Tetaplah bekerja keras, dan tetaplah bertumbuh. Namun, jangan sampai keinginan untuk memiliki lebih banyak membuat kita kehilangan kemampuan untuk menikmati apa yang sudah ada. Nikmat terindah bukan hanya ketika Allah Subhanahu wata’ala menambah apa yang kita miliki, tetapi ketika Allah Subhanahu wata’ala menumbuhkan rasa cukup di dalam hati.
Sebab ketika hati merasa cukup, maka kita lebih mudah bersyukur. Lebih mudah berbagi, lebih ringan menghargai orang lain. Dan yang paling penting, kita tidak mudah kehilangan kedamaian hanya karena melihat apa yang dimiliki orang lain. Bismillah.