Mengenal Rasulullah SAW

@ Cecep Y Pramana

I. Pendahuluan

Ada banyak hal yang perlu kita kenal dalam kehidupan. Kita mengenal keluarga, sahabat, guru, pekerjaan, bahkan berbagai tokoh yang kita kagumi. Namun, bagi seorang Muslim, ada satu sosok yang pengenalannya tidak boleh berhenti pada nama dan sejarah. Dialah Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam.

Jalan Memahami Syahadat dan Meneladani Kehidupan

Mengenal Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bukan sekadar mengetahui kapan beliau lahir, siapa keluarganya, atau bagaimana perjalanan hidupnya. Mengenal Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam berarti berusaha memahami siapa beliau, risalah yang dibawanya, akhlaknya, perjuangannya, serta bagaimana beliau membimbing manusia menuju keridhaan Allah Subhanahu wata’ala.

Hal ini menjadi sangat penting karena keislaman kita dibangun di atas syahadatain, dua kesaksian yang menjadi pintu masuk seorang Muslim kepada Islam. Kita bersaksi bahwa: Asyhadu alla ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah. “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah”.

Syahadat pertama meneguhkan hubungan seorang hamba dengan Allah Subhanahu wata’ala. Syahadat kedua mengajarkan bahwa jalan untuk mengenal, mencintai, menaati, dan beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala harus mengikuti petunjuk Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.

Karena itu, semakin dalam seseorang mengenal Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, maka semestinya semakin jelas pula arah kehidupannya. Ia bukan hanya mengetahui ajaran Islam, tetapi berusaha menghayatinya. Bukan hanya menghafal sunnah, tetapi berusaha mengamalkannya.

Bukan hanya mengagumi Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, tetapi menjadikan beliau sebagai teladan dalam kehidupan. Di sinilah pentingnya ma’rifatur rasul, mengenal Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Kita hidup pada zaman yang berbeda dengan zaman Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.

Kita tidak pernah melihat wajah beliau secara langsung. Kita tidak pernah mendengar suara beliau secara langsung. Kita tidak pernah duduk dalam satu majelis bersama beliau. Namun, Allah Subhanahu wata’ala menghadirkan kepada kita warisan yang sangat berharga: Al-Qur’an, sunnah, dan perjalanan kehidupan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam yang terus dipelajari dari generasi ke generasi.

Maka, mengenal Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bagi generasi hari ini bukan sekadar aktivitas intelektual. Ia adalah bagian dari upaya menghidupkan kembali makna syahadat dalam kehidupan nyata. Ibnu Qayyim menjelaskan bahwa kebutuhan manusia yang sangat mendasar adalah mengenal para rasul dan ajaran yang mereka bawa, membenarkan berita yang mereka sampaikan, serta menaati perintah mereka.

Sebab, keselamatan dan kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat tidak dapat dilepaskan dari petunjuk yang Allah Subhanahu wata’ala sampaikan melalui para rasul-Nya. Tanpa petunjuk wahyu, manusia mudah kehilangan arah. Ia mungkin memiliki ilmu, tetapi tidak memiliki tujuan.

Memiliki kemampuan, tetapi tidak mengetahui untuk apa kemampuan itu digunakan. Memiliki banyak pilihan, tetapi kesulitan menentukan mana yang benar. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam hadir membawa petunjuk.

Beliau mengajarkan manusia bukan hanya bagaimana beribadah, tetapi juga bagaimana menjadi manusia yang jujur, amanah, sabar, adil, penyayang, bertanggung jawab, dan bermanfaat bagi sesama. Karena itu, mengenal Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam pada akhirnya adalah sebuah perjalanan untuk mengenal jalan kehidupan yang diridhai Allah Subhanahu wata’ala.

II. Pengertian Rasul, Nabi, dan Risalah

1. Rasul

Rasul adalah manusia pilihan Allah Subhanahu wata’ala yang menerima wahyu dan diutus untuk menyampaikan risalah-Nya kepada manusia. Para rasul memiliki kedudukan mulia karena mereka dipilih untuk membawa amanah besar dari Allah Subhanahu wata’ala.

Mereka menyampaikan kebenaran, memberikan peringatan, membawa kabar gembira, serta membimbing manusia menuju jalan yang lurus. Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam adalah rasul terakhir yang diutus Allah Subhanahu wata’ala untuk seluruh umat manusia.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Katakanlah, sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Esa.” (QS. Al-Kahfi: 110). Ayat ini mengajarkan sebuah keseimbangan. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia, tetapi beliau bukan manusia biasa dalam kedudukannya sebagai pembawa wahyu dan utusan Allah Subhanahu wata’ala.

2. Nabi

Nabi adalah manusia pilihan Allah Subhanahu wata’ala yang menerima wahyu. Dalam penjelasan ulama, istilah nabi dan rasul memiliki perbedaan tertentu dalam konteks tugas dan pengutusan, meskipun keduanya sama-sama menerima wahyu dari Allah Subhanahu wata’ala. Yang terpenting bagi seorang Muslim adalah meyakini bahwa Allah Subhanahu wata’a telah mengutus para nabi dan rasul sebagai pembawa petunjuk bagi manusia.

3. Risalah

Risalah adalah ajaran dan petunjuk yang Allah Subhanhu wata’ala wahyukan kepada rasul untuk disampaikan kepada manusia. Risalah mencakup berbagai aspek kehidupan, seperti: akidah dan keimanan, ibadah, akhlak, prinsip kehidupan, hubungan antarmanusia, keadilan dan tanggung jawab, pedoman kehidupan dunia menuju kebahagiaan akhirat.

Dengan demikian, Islam tidak hanya berbicara tentang ritual. Islam juga membimbing cara manusia berpikir, bersikap, bekerja, bermasyarakat, dan menjalani kehidupan. Dalam ajaran Islam, ibadah dan kehidupan sehari-hari tidak terpisahkan. Agama ini mengatur seluruh aspek kehidupan, mulai dari hubungan dengan Sang Pencipta hingga hubungan antarmanusia dan alam sekitar.

III. Ciri dan Karakteristik Para Rasul

Para rasul memiliki karakteristik yang menunjukkan kemuliaan dan kebenaran risalah yang mereka bawa.

1. Berasal dari kalangan manusia

Para rasul adalah manusia yang Allah Subhanahu wata’ala pilih untuk menyampaikan risalah-Nya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Katakanlah, sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu…” (QS. Al-Kahfi: 110). Hal ini menunjukkan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dapat menjadi teladan yang nyata bagi manusia.

2. Terjaga dalam menyampaikan risalah

Allah Subhanahu wata’ala menjaga para rasul dalam menyampaikan wahyu dan risalah-Nya. Apa yang mereka sampaikan berkaitan dengan wahyu tidak berasal dari hawa nafsu pribadi. Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Dan tidaklah dia berbicara menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan.” (QS. An-Najm: 3-4).

3. Menjadi suri teladan

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bukan hanya menyampaikan ajaran. Beliau menjalankan ajaran itu dalam kehidupan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu…” (QS. Al-Ahzab: 21). Inilah salah satu alasan mengapa sirah Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam sangat penting dipelajari.

Kita tidak hanya belajar tentang apa yang beliau katakan. Kita juga belajar bagaimana beliau bersikap ketika menghadapi kesulitan, bagaimana beliau memperlakukan keluarga, bagaimana beliau bermuamalah, bagaimana beliau memimpin, dan bagaimana beliau menghadapi orang yang berbeda dengan dirinya.

4. Memiliki akhlak yang mulia

Allah Subhanahu wata’ala memberikan kesaksian yang sangat tinggi terhadap akhlak Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam: “Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.”(QS. Al-Qalam: 4). Kejujuran (shiddiq), amanah, menyampaikan kebenaran (tabligh), dan kecerdasan (fathanah) merupakan sifat yang melekat pada para rasul.

5. Diberikan mukjizat

Allah Subhanahu wata’ala memberikan mukjizat kepada para rasul sebagai tanda kekuasaan-Nya dan sebagai bukti kerasulan mereka. Salah satu mukjizat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam yang disebutkan dalam Al-Qur’an adalah terbelahnya bulan, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Qamar ayat 1.

6. Membawa berita dan petunjuk dari Allah

Kedatangan para rasul merupakan bagian dari rangkaian petunjuk Allah Subhanahu wata’ala kepada manusia. Risalah para nabi memiliki kesinambungan dalam mengajak manusia kepada tauhid dan ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Dan ketika Isa putra Maryam berkata, ‘Wahai Bani Israil! Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, yang membenarkan kitab yang turun sebelumku dan memberi kabar gembira dengan seorang rasul yang akan datang setelahku, yang namanya Ahmad’.” (QS. Ash-Shaff: 6).

7. Melahirkan perubahan pada manusia dan masyarakat

Salah satu bukti keberhasilan dakwah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dapat dilihat dari perubahan yang terjadi pada para sahabat. Mereka bukan sekadar menjadi orang yang mengetahui Islam. Mereka menjadi manusia yang berubah karena Islam.

Dari masyarakat yang tercerai-berai menjadi umat yang memiliki ukhuwah. Dari kehidupan yang penuh konflik menuju masyarakat yang memiliki aturan dan tanggung jawab. Dari individu-individu yang sebelumnya hidup dalam tradisi jahiliah menjadi generasi yang mampu membawa risalah Islam ke berbagai penjuru.

Allah Subhanahu wata’ala menggambarkan karakter para sahabat: “Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka…” (QS. Al-Fath: 29). Perubahan inilah yang menarik untuk kita renungkan. Dakwah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam membentuk manusia sebelum membangun masyarakat.

IV. Tugas Para Rasul

A. Tugas Umum

1. Menyampaikan risalah Allah

Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Wahai Rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.”(QS. Al-Ma’idah: 67). Rasul memiliki amanah untuk menyampaikan wahyu dengan benar. Tidak boleh ada risalah Allah yang disembunyikan atau dikurangi.

2. Memperkenalkan manusia kepada Al-Khaliq

Para rasul mengajak manusia mengenal siapa Penciptanya. Ketika manusia memperhatikan penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, serta keteraturan alam, semuanya mengantarkan kepada kesadaran bahwa kehidupan ini tidak terjadi tanpa tujuan.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali ‘Imran: 190). Mengenal Allah Subhanahu wata’ala adalah awal dari kehidupan yang benar.

3. Menjelaskan tata cara beribadah

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam tidak hanya memerintahkan umat untuk beribadah. Beliau juga memberikan contoh bagaimana ibadah dilakukan. Dalam perkara salat, beliau bersabda: “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku salat.” (HR. Bukhari).Dari sini kita belajar bahwa ibadah memiliki tuntunan. Semangat beribadah perlu berjalan bersama ilmu dan keteladanan.

4. Menjelaskan pedoman kehidupan

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam membimbing manusia agar mampu menjalani kehidupan berdasarkan petunjuk Allah Subhanahu wata’ala. Beliau Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa yang dikehendaki Allah kebaikan baginya, niscaya Dia akan memahamkannya dalam agama.” (HR. Bukhari dan Muslim). Islam bukan sekadar pengetahuan yang disimpan dalam pikiran. Ia harus menjadi pedoman yang membentuk pilihan dan perilaku.

5. Mendidik manusia

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam adalah seorang pendidik. Beliau mendidik para sahabat secara bertahap. Mereka dibina dalam keimanan, ilmu, ibadah, akhlak, ukhuwah, kesabaran, dan perjuangan. Salah satu gambaran penting dalam sejarah dakwah adalah pembinaan para sahabat di rumah Al-Arqam bin Abi Al-Arqam.

Dari proses pendidikan yang panjang itu lahirlah generasi yang kemudian menjadi pembawa risalah Islam setelah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam wafat. Ini mengajarkan kepada kita bahwa perubahan besar tidak selalu dimulai dari jumlah yang besar. Perubahan sering kali dimulai dari manusia yang dibina dengan benar.

B. Tugas dalam Perjuangan Risalah

1. Menegakkan agama Allah

Para rasul membawa misi tauhid dan mengajak manusia untuk berpegang teguh pada agama Allah Subhanahu wata’ala.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Dia telah mensyariatkan bagi kamu agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh…” (QS. Asy-Syura: 13). Risalah para rasul memiliki satu inti yang sama: mengajak manusia menyembah Allah dan menjalani kehidupan sesuai petunjuk-Nya.

2. Membangun kehidupan yang berlandaskan iman

Islam tidak berhenti pada keyakinan pribadi. Iman yang benar seharusnya melahirkan kehidupan yang memiliki nilai, keadilan, amanah, dan tanggung jawab. Allah Subhanahu wata’ala memberikan janji kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh dalam QS. An-Nur ayat 55 berupa kekuasaan dan keteguhan di muka bumi.

Karena itu, pembahasan tentang kehidupan bermasyarakat dalam Islam perlu dipahami sebagai bagian dari tanggung jawab umat dalam menghadirkan nilai-nilai kebaikan, keadilan, dan kemaslahatan.

3. Membina generasi penerus

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam tidak hanya berdakwah kepada masyarakat pada masanya. Beliau membentuk generasi yang mampu melanjutkan risalah. Inilah salah satu pelajaran penting dari sirah. Dakwah yang baik tidak hanya bertanya, “Berapa banyak orang yang hadir hari ini?” Dakwah juga bertanya: “Manusia seperti apa yang sedang kita bentuk untuk masa depan?”

Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh berbuat yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar.” (QS. Ali ‘Imran: 104). Maka, pembinaan manusia merupakan bagian penting dalam keberlanjutan dakwah.

4. Mengembangkan metode dakwah yang penuh hikmah

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menunjukkan bahwa dakwah tidak cukup hanya dengan semangat. Dakwah membutuhkan hikmah, kesabaran, ilmu, kelembutan, ketegasan pada tempatnya, serta kemampuan membaca kondisi manusia.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Maka berkat rahmat Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka.”(QS. Ali ‘Imran: 159). Ayat ini memberikan pelajaran bahwa kelembutan bukan tanda kelemahan. Dalam banyak keadaan, kelembutan justru menjadi jalan yang membuka hati manusia.

5. Melaksanakan dakwah dengan menyeluruh

Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan…” (QS. Al-Baqarah: 208). Islam mengajarkan kesatuan antara iman, ibadah, akhlak, dan kehidupan.

Karena itu, dakwah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam tidak hanya mengajarkan manusia bagaimana beribadah di masjid, tetapi juga bagaimana menjadi manusia yang baik di rumah, di tempat kerja, di tengah masyarakat, dan dalam berbagai amanah kehidupan.

V. Mengapa Kita Perlu Mengenal Rasulullah SAW?

Pertanyaan ini sederhana, tetapi jawabannya sangat dalam. Mengapa kita perlu mengenal Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam? Karena kita ingin tahu bagaimana iman seharusnya dijalani. Kita ingin tahu bagaimana seorang Muslim bersikap ketika diuji.

Bagaimana menghadapi kehilangan. Bagaimana memperlakukan keluarga. Bagaimana memimpin. Bagaimana memaafkan. Bagaimana bersabar. Bagaimana tetap jujur ketika kejujuran terasa berat. Bagaimana tetap berbuat baik ketika kebaikan belum mendapatkan balasan. Semua itu tidak cukup dipelajari melalui teori.

Kita membutuhkan teladan. Dan Allah Subhanahu wata’ala telah menghadirkan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam sebagai uswah hasanah, teladan yang baik. Maka, semakin kita mengenal beliau, seharusnya semakin banyak bagian kehidupan kita yang berubah.

Jika setelah membaca sirah kita tetap mudah marah, mungkin kita belum cukup menghayati kesabaran beliau. Jika kita mudah merendahkan orang lain, mungkin kita belum cukup memahami akhlak beliau. Jika kita hanya memikirkan diri sendiri, mungkin kita belum cukup memahami kepedulian beliau terhadap umat.

Jika kita mengaku mencintai Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, tetapi tidak berusaha mengikuti sunnah dan akhlaknya, maka cinta itu perlu terus diperiksa dan dibuktikan. Sebab cinta kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bukan hanya perasaan. Ia adalah kesediaan untuk mengikuti.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Katakanlah, jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai dan mengampuni dosa-dosamu.” (QS. Ali ‘Imran: 31). Inilah titik pentingnya. Mengenal Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam melahirkan cinta. Cinta melahirkan ketaatan. Ketaatan melahirkan perubahan. Dan perubahan itulah yang semestinya terlihat dalam kehidupan seorang Muslim.

VI. Penutup: Jangan Hanya Mengenal Namanya

Ada orang yang mengenal Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam melalui sejarah. Ada yang mengenal beliau melalui hadis. Ada yang mengenal beliau melalui kisah perjuangan. Ada pula yang mengenal beliau melalui lantunan shalawat. Semua itu baik.

Namun, perjalanan kita tidak seharusnya berhenti pada pengetahuan. Mari kita naik satu tingkat lebih jauh. Dari mengetahui menjadi memahami. Dari memahami menjadi mencintai. Dari mencintai menjadi mengikuti.

Dan dari mengikuti menjadi menghadirkan akhlak Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dalam kehidupan sehari-hari. Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan kita dalam mengenal Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bukan hanya seberapa banyak kisah beliau yang kita hafal.

Ukuran yang lebih penting adalah: Seberapa jauh kehidupan kita berubah setelah mengenal beliau. Semoga Allah Subhanahu wata’ala menanamkan dalam hati kita kecintaan kepada Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam.

Semoga Allah Subhanahu wata’ala memberi kita kemampuan untuk mengikuti sunnahnya, meneladani akhlaknya, memahami perjuangannya, serta meneruskan nilai-nilai kebaikan yang beliau ajarkan. Karena kita mungkin tidak pernah hidup satu zaman dengan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.

Tetapi kita tetap bisa hidup dengan nilai-nilai yang beliau ajarkan. Dan mudah-mudahan, ketika kelak bertemu dengan beliau di akhirat, kita termasuk umat yang dikenali dan mendapatkan syafaatnya dengan izin Allah Subhanahu wata’ala. “Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala ali Sayyidina Muhammad”. Wallahu a’lam bishawab.

0Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *