Menempa Keteguhan Jiwa di Majelis UPA

@ Cecep Y Pramana

Ada seorang anggota yang setiap pekan datang ke majelis UPA dengan wajah yang sederhana. Tidak selalu menjadi orang pertama yang datang. Tidak pula selalu menjadi orang yang paling banyak berbicara. Kadang ia hanya duduk, mendengarkan, mencatat beberapa hal, lalu pulang.

Tidak ada yang istimewa dari penampilannya. Namun, ada satu hal yang terus ia lakukan. Ia tetap datang.Ketika pekerjaan sedang padat, ia berusaha mengatur waktu. Ketika tubuh lelah, ia mencoba tetap hadir. Ketika suasana hati tidak sedang baik, ia tetap menyempatkan diri. Sebab dakwah yang panjang membutuhkan jiwa yang tidak mudah menyerah

Bukan karena setiap pertemuan selalu menyenangkan. Bukan karena ia selalu memiliki energi yang cukup. Tetapi karena ia memahami bahwa ada sesuatu yang lebih penting daripada sekadar perasaan sesaat. Ada proses yang harus dijaga. Ada iman yang harus dirawat. Ada jiwa yang harus terus ditempa.

Bertahun-tahun kemudian, orang yang dahulu hanya duduk mendengarkan itu mulai mengambil peran. Ia mulai peduli kepada anggota lain. Ia mulai menghubungi mereka yang tidak hadir. Ia mulai berani menyampaikan nasihat. Ia mulai siap menerima amanah.

Ketika ditanya apa yang membuatnya berubah, jawabannya sederhana: “Saya hanya terus belajar untuk hadir.”Ternyata, keteguhan tidak selalu dibentuk oleh peristiwa besar. Kadang ia tumbuh dari kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus. Dan majelis UPA dapat menjadi salah satu ruang tempat keteguhan itu ditempa.

Majelis yang Mengajarkan Kita untuk Tetap Datang

Kehidupan memiliki banyak alasan untuk membuat seseorang berhenti. Kesibukan pekerjaan, pendidikan, keluarga, persoalan ekonomi, kesehatan, hubungan sosial, target kehidupan. Bahkan rasa lelah yang tidak selalu bisa dijelaskan. Karena itu, mempertahankan komitmen bukan perkara sederhana.

Ada hari ketika seseorang begitu bersemangat. Ada hari ketika ia harus memaksa dirinya untuk bangkit. Ada hari ketika ia merasa sangat dekat dengan Allah Subhanahu wata’ala. Ada pula hari ketika hati terasa kering. Di tengah perubahan itu, majelis UPA menjadi ruang untuk mengingatkan bahwa iman perlu dirawat secara terus-menerus.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Dan tetaplah engkau berjalan lurus sebagaimana engkau diperintahkan…”(QS. Hud: 112). Istiqamah adalah salah satu kata yang mudah diucapkan, tetapi membutuhkan latihan panjang untuk dijalankan. Istiqamah bukan berarti hidup tanpa masalah.

Istiqamah berarti tetap memiliki arah ketika masalah datang. Tetap kembali ketika sempat menjauh. Tetap berusaha ketika hasil belum terlihat. Tetap memilih kebaikan ketika pilihan lain terasa lebih mudah. Majelis UPA menjadi ruang untuk melatih itu. Setiap pertemuan adalah pengingat bahwa perjalanan iman tidak boleh bergantung sepenuhnya pada suasana hati.

Hadir Adalah Bagian dari Perjuangan

Ada orang yang menganggap hadir dalam UPA sebagai rutinitas biasa. Padahal, jika direnungkan lebih dalam, hadir merupakan bentuk keputusan. Kita memilih menyediakan waktu. Kita memilih meninggalkan sejenak kesibukan. Kita memilih duduk bersama saudara-saudara seiman. Kita memilih mendengarkan nasihat. Kita memilih belajar.

Pilihan-pilihan kecil seperti itu perlahan membentuk karakter. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang paling kontinu meskipun sedikit.”(HR. Bukhari dan Muslim). Konsistensi memiliki nilai yang besar. Satu pertemuan mungkin terasa kecil.

Tetapi puluhan pertemuan yang dijaga selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun dapat membentuk seseorang menjadi pribadi yang berbeda. Karena manusia dibentuk oleh apa yang terus ia lakukan. Hal ini mencerminkan realitas psikologis serta filosofis yang kuat.

Keteguhan Tidak Berarti Tidak Pernah Lelah

Ada kesalahpahaman yang perlu diluruskan. Orang yang istiqamah bukan berarti orang yang tidak pernah lelah. Orang yang kuat bukan berarti orang yang tidak pernah menangis. Orang yang aktif dalam dakwah bukan berarti hidupnya selalu baik-baik saja. Setiap orang memiliki batas.

Setiap orang memiliki hari yang berat. Setiap orang pernah kehilangan semangat. Bahkan seseorang yang terlihat kuat di hadapan banyak orang bisa saja sedang berjuang dengan persoalan yang tidak diketahui siapa pun. Maka jangan merasa bersalah hanya karena sesekali merasa lelah.

Yang perlu dijaga adalah jangan sampai kelelahan membuat kita kehilangan arah. Beristirahatlah jika perlu. Ambil waktu untuk menata diri. Berbicaralah kepada orang yang dipercaya. Kemudian kembali berjalan.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman: Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”(QS. Al-Baqarah: 286). Ayat ini memberikan ketenangan. Allah mengetahui kemampuan hamba-Nya.

Allah Subhanahu wata’ala mengetahui batas kekuatannya. Allah Subhanahu wata’ala mengetahui perjuangan yang tidak terlihat. Karena itu, ketika perjalanan terasa berat, jangan buru-buru mengatakan, “Saya tidak mampu.” Bisa jadi kita hanya sedang berada dalam fase belajar menjadi lebih kuat.

Ketika Hati Mulai Jenuh

Ada masa ketika seseorang mengikuti banyak agenda tetapi merasa kosong. Ia hadir. Ia menjalankan aktivitas. Namun hatinya tidak lagi mendapatkan energi seperti sebelumnya. Pada titik itu, yang dibutuhkan bukan selalu lebih banyak aktivitas. Kadang yang dibutuhkan adalah kembali menemukan makna.

Mengapa saya berada di sini? Mengapa saya mengikuti pembinaan? Mengapa saya ingin berdakwah? Mengapa saya harus menjaga ukhuwah? Mengapa saya harus terus belajar? Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting. Sebab seseorang akan lebih mudah bertahan ketika ia memahami alasan di balik perjuangannya.

Dakwah bukan sekadar kesibukan. Pembinaan bukan sekadar jadwal. UPA bukan sekadar pertemuan mingguan. Semua itu adalah bagian dari perjalanan menuju kehidupan yang lebih dekat kepada Allah Subhanahu wata’ala. Ketika makna itu kembali ditemukan, rutinitas berubah menjadi ibadah. Pertemuan berubah menjadi proses. Dan kehadiran berubah menjadi bentuk kesungguhan.

Majelis UPA dan Seni Menjaga Hati

Dakwah tidak hanya membutuhkan kemampuan. Dakwah membutuhkan hati yang terjaga. Sebab seseorang dapat memiliki banyak ilmu, tetapi jika hatinya dipenuhi kesombongan, ilmu itu dapat kehilangan keberkahannya. Seseorang dapat memiliki kemampuan komunikasi yang baik, tetapi jika ia mudah merendahkan orang lain, dakwahnya akan terasa jauh.

Seseorang dapat memiliki posisi penting, tetapi jika ia sulit menerima nasihat, amanah dapat berubah menjadi beban bagi dirinya dan orang lain. Karena itu, pembinaan jiwa tidak pernah boleh ditinggalkan.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”(QS. Asy-Syams: 9-10). Keteguhan dimulai dari hati. Belajar ikhlas. Belajar sabar. Belajar memaafkan. Belajar menerima kritik.

Selain itu, belajar mengendalikan emosi. Belajar tidak mudah tersinggung. Belajar bekerja sama. Belajar mengutamakan kepentingan bersama. Semua itu merupakan latihan jiwa. Dan majelis UPA dapat menjadi tempat latihan yang sangat berharga.

Belajar Menerima Nasihat

Tidak semua orang mudah menerima nasihat. Kadang kita lebih senang dipuji. Lebih nyaman mendengar sesuatu yang sesuai dengan keinginan. Namun orang yang ingin bertumbuh harus memiliki keberanian untuk mendengar sesuatu yang mungkin tidak menyenangkan.

Nasihat bukan tanda bahwa kita buruk. Nasihat adalah kesempatan untuk menjadi lebih baik. Rasulullah SAW bersabda: “Agama itu nasihat.”(HR. Muslim). Dalam UPA, nasihat seharusnya menjadi bagian dari budaya. Bukan untuk mencari kesalahan.

Bukan untuk mempermalukan. Tetapi untuk saling menjaga. Cara menyampaikan nasihat pun penting. Kebenaran membutuhkan adab. Ketegasan membutuhkan kelembutan. Karena tujuan pembinaan bukan memenangkan perdebatan. Tujuannya adalah membantu seseorang semakin dekat kepada kebaikan.

Ukhuwah yang Membuat Kita Bertahan

Ada masa ketika seseorang bertahan bukan karena dirinya sangat kuat. Ia bertahan karena ada saudara yang menguatkan. Satu pesan sederhana. “Bagaimana kabarmu?” Satu telepon. “Sudah lama tidak hadir. Semoga baik-baik saja.” Satu kunjungan. Satu doa. Satu percakapan setelah pertemuan.

Hal-hal sederhana itu kadang memiliki pengaruh yang besar. Sebab manusia membutuhkan manusia lain. Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.”(QS. Al-Hujurat: 10).Ukhuwah bukan sekadar berkumpul dalam keadaan senang. Ukhuwah diuji ketika seseorang sedang lemah.

Ketika ada anggota yang mulai menjauh, apakah kita mencarinya? Ketika ada yang sedang menghadapi persoalan, apakah kita peduli? Ketika ada yang gagal menjalankan amanah, apakah kita hanya mengkritik? Atau kita membantu agar ia dapat bangkit kembali? Inilah wajah ukhuwah yang sesungguhnya.

Jangan Biarkan Ada yang Berjuang Sendirian

UPA yang sehat bukan hanya UPA yang penuh. Tetapi ia adalah UPA yang peduli. Anggota merasa dikenal. Kehadirannya diperhatikan. Ketidakhadirannya ditanyakan dengan cara yang baik. Pendapatnya dihargai. Kesulitannya tidak dianggap sepele. Pertumbuhannya didukung.

Karena pembinaan manusia tidak bisa dilakukan hanya dengan sistem. Sistem penting, tetapi hubungan juga penting. Program perlu, tetapi perhatian juga perlu. Materi dibutuhkan, tetapi keteladanan jauh lebih kuat.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seorang mukmin bagi mukmin lainnya seperti bangunan yang saling menguatkan.”(HR. Bukhari dan Muslim). Dakwah menjadi lebih kuat ketika orang-orang di dalamnya tidak berjalan sendiri-sendiri.

Menjadi Kuat untuk Memikul Amanah

Keteguhan jiwa pada akhirnya bukan untuk diri sendiri. Ia dipersiapkan untuk amanah. Semakin seseorang matang dalam pembinaan, semakin besar peluangnya untuk memberikan manfaat kepada orang lain. Dahulu ia dibina. Kemudian ia belajar membina.

Dahulu ia diperhatikan. Kemudian ia belajar memperhatikan. Dahulu ia dikuatkan. Kemudian ia belajar menguatkan. Dahulu ia diajak. Kemudian ia belajar mengajak. Begitulah sebuah proses pembinaan seharusnya berjalan. Ada regenerasi. Ada kesinambungan. Ada keberlanjutan.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar.”(QS. Ali ‘Imran: 104). Dakwah membutuhkan orang-orang yang bersedia mengambil bagian.

Tidak harus selalu menjadi pemimpin. Tidak harus selalu tampil. Tidak harus selalu berbicara. Kadang dakwah justru berjalan melalui orang yang bekerja dengan tenang di belakang layar. Menyiapkan tempat. Menghubungi anggota.

Mengantar seseorang. Mendengarkan keluhan. Mengajarkan satu ayat. Mengajak kepada kebaikan. Membantu keluarga yang kesulitan. Menjadi teladan di tempat kerja. Menjadi orang tua yang baik. Menjadi tetangga yang peduli. Semua itu adalah ruang dakwah.

Keteguhan Dibutuhkan Ketika Tidak Ada Tepuk Tangan

Salah satu ujian dalam dakwah adalah ketika kebaikan tidak mendapatkan penghargaan. Ada pekerjaan yang tidak diketahui orang. Ada pengorbanan yang tidak disebut. Ada waktu yang diberikan tanpa ucapan terima kasih. Ada usaha yang hasilnya tidak langsung terlihat.

Di sinilah keikhlasan diuji. Jika seseorang hanya bergerak ketika dipuji, ia akan mudah berhenti. Jika seseorang bergerak karena Allah Subhanahu wata’ala, ia akan memiliki alasan untuk terus melangkah. Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Dan tidaklah mereka diperintah kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya…”(QS. Al-Bayyinah: 5).

Keikhlasan membuat seseorang tetap bekerja ketika tidak ada yang melihat. Tetap melayani ketika tidak mendapatkan posisi. Tetap membantu ketika tidak mendapatkan penghargaan. Tetap berbuat baik meskipun tidak disebut. Sebab ia tahu bahwa yang paling penting bukan penilaian manusia. Tetapi penerimaan Allah Subhanahu wata’ala.

Majelis UPA sebagai Ruang Menata Kembali Diri

Setiap pekan kita datang membawa diri yang berbeda. Mungkin minggu sebelumnya kita sedang bersemangat. Minggu berikutnya kita sedang lelah. Pekan berikutnya kita sedang menghadapi persoalan. Namun majelis UPA memberi kesempatan untuk berhenti sejenak.

Menata kembali hati. Mengevaluasi diri. Mendengarkan nasihat. Mengingat Allah Subhanahu wata’ala. Berbagi dengan saudara. Kemudian pulang dengan semangat yang baru. Itulah mengapa UPA perlu dijaga agar menjadi tempat yang dirindukan. Bukan karena selalu memberikan kesenangan.

Tetapi karena memberikan makna. Tempat seseorang merasa bahwa dirinya sedang bertumbuh. Tempat seseorang boleh belajar. Tempat seseorang boleh bertanya. Tempat seseorang dapat memperbaiki kesalahan. Tempat seseorang menemukan saudara yang mengingatkan. Tempat seseorang kembali menemukan arah.

UPA yang Hidup Akan Melahirkan Jiwa yang Hidup

UPA yang hidup bukan berarti setiap pertemuan harus ramai. UPA yang hidup adalah ketika hati para anggotanya masih memiliki keinginan untuk bertumbuh. Masih ingin belajar. Masih ingin memperbaiki diri. Masih ingin mendengar nasihat. Masih ingin membantu. Masih ingin berkontribusi.

Masih ingin mengajak kepada kebaikan. Sebab yang kita rawat sebenarnya bukan hanya pertemuan. Kita sedang merawat manusia, sedang merawat iman, sedang merawat ukhuwah, sedang merawat semangat beramal. Dan pada akhirnya, kita sedang merawat keberlanjutan dakwah.

Keteguhan Itu Dilatih

Keteguhan jiwa tidak turun begitu saja. Ia dibangun. Sedikit demi sedikit. Pertemuan demi pertemuan. Nasihat demi nasihat. Pengalaman demi pengalaman. Kadang melalui keberhasilan. Kadang melalui kegagalan. Kadang melalui kebahagiaan. Kadang melalui ujian. Semua menjadi bagian dari proses.

Maka jangan meremehkan langkah kecil. Jangan meremehkan kehadiran yang sederhana. Jangan meremehkan satu jam yang digunakan untuk belajar. Jangan meremehkan satu nasihat yang mungkin hari ini belum terasa manfaatnya. Sebab kita tidak pernah tahu kapan Allah Subhanahu wata’ala menggunakan sebuah proses kecil untuk membentuk seseorang menjadi pribadi yang besar manfaatnya.

Mungkin hari ini kita masih menjadi orang yang dibina. Besok kita menjadi orang yang membantu membina. Hari ini kita masih membutuhkan penguatan. Besok mungkin ada seseorang yang membutuhkan kekuatan dari kita. Hari ini kita masih belajar menjaga diri. Besok kita mungkin dipercaya menjaga amanah yang lebih besar.

Semua membutuhkan satu hal, yaitu: keteguhan.Keteguhan untuk tetap belajar. Keteguhan untuk tetap hadir. Keteguhan untuk tetap memperbaiki diri. Keteguhan untuk tetap menjaga ukhuwah. Keteguhan untuk tetap melayani. Keteguhan untuk tetap berdakwah dengan cara yang baik.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka meneguhkan pendirian, maka malaikat akan turun kepada mereka…”(QS. Fussilat: 30). Ada ketenangan dalam istiqamah. Tidak perlu selalu terburu-buru. Tidak perlu membuktikan diri kepada semua orang. Tidak perlu mengejar pengakuan.

Cukup terus berjalan. Terus belajar. Terus memperbaiki niat. Terus menjaga hati. Terus hadir dalam majelis yang menguatkan. Sebab suatu hari, kita akan melihat bahwa perjalanan yang dahulu terasa sederhana ternyata telah membentuk kita menjadi pribadi yang lebih matang.

Majelis UPA mungkin hanya berlangsung beberapa jam dalam sepekan. Tetapi nilai yang dibangun di dalamnya dapat menemani seseorang sepanjang hidup. Di sana jiwa belajar sabar. Hati belajar ikhlas. Pikiran belajar terbuka. Lisan belajar beradab. Tangan belajar memberi. Dan kaki belajar melangkah menuju kebaikan.

Keteguhan jiwa tidak dibentuk dalam satu pertemuan. Ia ditempa melalui kesediaan untuk terus kembali kepada Allah, terus belajar, dan terus berjalan bersama dalam kebaikan. Maka mari menjaga majelis UPA. Menjaga kualitas pertemuannya. Menjaga ukhuwahnya. Menjaga pembinaannya. Menjaga semangat anggotanya.

Dan yang paling penting, menjaga tujuan akhirnya: melahirkan jiwa-jiwa yang kokoh dalam iman, matang dalam akhlak, luas dalam kepedulian, dan siap memikul amanah dakwah. Karena ketika jiwa terbina, kita tidak mudah goyah. Ketika hati terjaga, kita tidak mudah kehilangan arah. Dan ketika keteguhan tumbuh dalam diri, dakwah akan memiliki generasi yang siap melanjutkan perjalanan. Wallahu a’lam bishawab.

1Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *