Jangan Biarkan Iri Merampas Syukur

@ Cecep Y Pramana

Ada kalanya kita melihat kehidupan orang lain, lalu tanpa sadar hati mulai membandingkan. Mengapa dia lebih berhasil? Mengapa rezekinya terlihat lebih luas? Mengapa hidupnya tampak lebih mudah? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu mungkin muncul sesekali. Hal itu manusiawi.

Namun, jika dibiarkan, perbandingan dapat berubah menjadi rasa iri yang perlahan mengganggu ketenangan hati. Kita mulai sibuk melihat apa yang dimiliki orang lain, sampai lupa menghargai apa yang telah Allah Subhanahu wata’ala berikan kepada kita. Padahal, nikmat yang kita miliki mungkin terlihat sederhana bagi kita, tetapi bisa jadi sangat berarti bagi orang lain.

Kesehatan yang sering kita anggap biasa. Keluarga yang masih bisa berkumpul. Teman yang tulus. Pekerjaan yang mungkin belum sempurna. Rumah yang sederhana. Kesempatan untuk belajar. Bahkan kemampuan untuk bangun pagi dan menjalani hari. Semua itu adalah nikmat yang Allah Subhanahu wata’ala berikan kepada kita.

Di dalam Al-Qur’an surat Ibrahim ayat 34 Allah Subhanahu wata’ala berfirman, “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.” Ayat ini mengajarkan bahwa nikmat Allah Subhanahu wata’ala jauh lebih banyak daripada yang mampu kita sadari.

Masalahnya, manusia sering lebih mudah menghitung kekurangan daripada menghitung pemberian. Kita hafal apa yang belum dimiliki, tetapi lupa pada apa yang sudah diberikan. Kita mengingat keberhasilan orang lain, tetapi lupa pada perjalanan yang telah kita lewati sendiri.

Kita melihat halaman kehidupan orang lain yang tampak indah, tanpa mengetahui seluruh cerita di baliknya. Karena itu, jangan biarkan kehidupan orang lain menjadi alasan untuk tidak bersyukur. Rezeki bukan perlombaan. Allah Subhanahu wata’ala memberikan setiap manusia bagian yang berbeda.

Ada yang diberi kelapangan dalam harta, ada yang diberi kesehatan, ada yang diberi keluarga yang harmonis, ada yang diberi ilmu, ada yang diberi kesempatan berbuat baik, dan ada pula yang diuji dengan kekurangan, tetapi justru melalui kekurangan itu ia semakin dekat kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Kita tetap boleh memiliki cita-cita. Kita tetap boleh ingin hidup lebih baik. Boleh bekerja lebih keras. Boleh belajar dari keberhasilan orang lain. Boleh memiliki impian yang tinggi. Namun, ada perbedaan antara terinspirasi oleh keberhasilan orang lain dan merasa tidak bahagia karena keberhasilan orang lain.

Yang pertama membuat kita bertumbuh. Yang kedua membuat hati lelah. Maka, ketika melihat orang lain mendapatkan nikmat, maka belajarlah berkata: “MasyaAllah. Semoga Allah Subhanahu wata’ala memberkahinya. Semoga Allah Subhanahu wata’ala juga memberikan kepadaku rezeki yang terbaik menurut-Nya.”

Dengan begitu, hati tidak dipenuhi persaingan yang melelahkan. Kita tetap bisa berjalan dengan tenang. Tetap berusaha, tetap memperbaiki diri, dan tanpa harus merendahkan perjalanan sendiri. Sebab setiap orang memiliki cerita yang berbeda. Ada yang sampai lebih dahulu.

Ada yang membutuhkan waktu lebih panjang. Ada yang jalannya lurus. Ada yang harus berbelok berkali-kali. Namun, selama langkah itu menuju kebaikan, tidak ada alasan untuk merasa rendah diri. Jangan ukur nikmat kita dengan milik orang lain. Ukurlah dengan apa yang Allah Subhanahu wata’ala titipkan dan bagaimana kita menjaganya.

Syukuri rezeki yang datang. Nikmati secukupnya. Gunakan untuk kebaikan. Dan teruslah berusaha mendapatkan rezeki yang halal dan penuh keberkahan. Syukur bukan berarti berhenti memiliki keinginan. Syukur berarti mampu mengejar sesuatu tanpa membenci apa yang sudah dimiliki.

Kita boleh ingin lebih, tetapi jangan sampai keinginan membuat kita lupa bahwa hari ini pun Allah Subhanahu wata’ala telah memberi begitu banyak. Maka, jika suatu hari hati mulai membandingkan, berhentilah sejenak. Tarik napas. Lihat kembali kehidupan kita. Hitung nikmat yang masih ada. Keluarga, kesehatan, waktu, iman, kesempatan, orang-orang baik.

Dan begitu banyak karunia yang mungkin selama ini terlalu dekat sehingga kita lupa mensyukurinya. Lalu ucapkan dengan hati yang tenang: “Alhamdulillah atas apa yang Allah Subhanahu wata’ala berikan. Alhamdulillah atas apa yang belum diberikan. Aku percaya, Allah Subhanahu wata’ala mengetahui apa yang terbaik untukku.”

Sebab pada akhirnya, ketenangan bukan lahir karena kita memiliki semua yang diinginkan. Ketenangan lahir ketika hati mampu menerima pemberian Allah dengan syukur, menjalani ikhtiar dengan sungguh-sungguh, dan mempercayakan masa depan kepada-Nya.

Jangan biarkan iri mengambil kebahagiaan kita. Syukuri apa yang kita miliki. Hormati perjalanan orang dan kebahagiaan orang lain. Teruslah berusaha. Dan percayalah, bahwa rezeki Allah Subhanahu wata’ala tidak akan pernah tertukar. Bismillah.

1Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *