Ada Rindu dan Kedamaian Tatkala Hadir di UPA
@ Cecep Y Pramana
Ada sebuah perasaan yang sulit dijelaskan ketika seseorang mulai terbiasa hadir di UPA. Awalnya mungkin hanya sebuah jadwal. Ada hari, ada waktu, ada tempat. Kita datang karena memang sudah menjadi bagian dari agenda pembinaan. Kadang tubuh datang lebih dulu, sementara pikiran masih tertinggal pada pekerjaan, keluarga, perjalanan, atau berbagai urusan yang belum selesai.
Namun setelah beberapa kali hadir, sesuatu perlahan berubah. Ada yang terasa kurang ketika tidak datang. Bukan karena tempatnya mewah. Bukan pula karena hidangannya istimewa. Bahkan kadang pertemuan berlangsung sederhana, hanya duduk bersama, membaca Al-Qur’an, mendengarkan nasihat, berdiskusi, lalu saling mendoakan.
Tetapi justru dalam kesederhanaan itu, tumbuh sebuah rasa, yaitu: Rindu.Rindu untuk kembali duduk bersama. Rindu mendengar nasihat. Rindu bertemu saudara. Rindu berbagi cerita. Dan yang paling dalam, rindu kepada suasana ketika hati kembali diingatkan kepada Allah Subhanahu wata’ala.
Ada Sesuatu yang Berbeda Ketika Hati Berkumpul
Kita hidup dalam dunia yang semakin ramai. Setiap hari ada begitu banyak suara yang masuk ke dalam pikiran. Pesan di telepon, berita, pekerjaan, media sosial, target, persoalan keluarga, hingga berbagai tuntutan kehidupan. Kita bisa terhubung dengan banyak orang, tetapi belum tentu merasa benar-benar dekat.
Kita bisa memiliki banyak percakapan, tetapi belum tentu menemukan percakapan yang menenangkan hati. Di tengah keadaan seperti itu, UPA menjadi salah satu ruang untuk berhenti sejenak. Bukan untuk melarikan diri dari kehidupan, tetapi untuk menata kembali cara kita menjalaninya.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”(QS. Ar-Ra’d: 28). Barangkali inilah salah satu alasan mengapa majelis pembinaan terasa berbeda. Di sana kita tidak hanya bertemu manusia.
Kita berusaha menghadirkan Allah Subhanahu wata’ala dalam pertemuan. Ada ayat yang dibaca. Ada nasihat yang disampaikan. Ada kesalahan yang diingatkan dengan cara yang baik. Ada doa yang dipanjatkan bersama. Ada hati yang mungkin sebelumnya berat, lalu perlahan menjadi lebih ringan.
Maka ketika pertemuan selesai, sering kali yang dibawa pulang bukan hanya catatan materi. Ada ketenangan. Ada semangat. Ada tekad untuk memperbaiki diri. Dan terkadang, ada kerinduan untuk kembali.
Rindu Bukan Sekadar kepada Tempat
Ada orang yang mungkin bertanya, mengapa seseorang bisa merindukan UPA? Bukankah UPA hanya sebuah pertemuan rutin? Jawabannya mungkin sederhana. Karena yang dirindukan bukan sekadar tempat. Yang dirindukan adalah suasana hati yang lahir di dalamnya. Kita rindu saat seseorang bertanya, “Bagaimana kabar antum akhi?”
Bukan sekadar pertanyaan formal, tetapi benar-benar ingin mengetahui keadaan kita. Kita rindu ketika ada yang mengingatkan shalat. Kita rindu ketika ada yang mengajak membaca Al-Qur’an. Kita rindu ketika seseorang memberi nasihat tanpa merasa lebih tinggi. Kita rindu ketika cerita kita didengar tanpa buru-buru dihakimi.
Kita rindu ketika keberadaan kita dianggap penting. Dalam kehidupan sehari-hari, tidak semua tempat memberikan rasa seperti itu. Karena itu, ketika sebuah majelis mampu menghadirkan rasa diterima, didengar, diarahkan, dan dikuatkan, hati akan mengenal tempat itu dengan cara yang berbeda. Ia tidak lagi sekadar menjadi agenda. Ia menjadi bagian dari perjalanan hidup.
Di UPA, Kita Belajar Bahwa Iman Perlu Teman Perjalanan
Iman memang tumbuh di dalam hati. Namun manusia tetap membutuhkan lingkungan yang membantu menjaga iman itu. Kita bisa memiliki niat baik. Tetapi niat baik membutuhkan pengingat. Kita bisa ingin istiqamah. Tetapi istiqamah membutuhkan teman seperjalanan.
Kita bisa ingin menjadi lebih baik. Tetapi perjalanan menjadi lebih ringan ketika ada orang-orang yang saling menguatkan. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menggambarkan hubungan orang-orang beriman seperti sebuah bangunan. Satu bagian menguatkan bagian yang lain. “Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya seperti bangunan yang saling menguatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Itulah salah satu makna penting dari sebuah UPA. Bukan sekadar berkumpul, tetapi saling menguatkan. Ada yang sedang kuat, ia menguatkan yang sedang lemah. Ada yang sedang lapang, ia mengingatkan yang sedang sempit. Ada yang lebih dahulu memahami, ia membantu yang sedang belajar. Ada yang sedang kehilangan semangat, ia ditemani agar kembali bangkit.
Tidak ada manusia yang selalu kuat. Karena itu kita membutuhkan saudara yang mengingatkan ketika kita mulai lengah. Kita membutuhkan lingkungan yang membantu ketika langkah mulai berat. Dan kita membutuhkan majelis yang membuat hati kembali ingat kepada tujuan hidup.
Rindu kepada Nasihat yang Membuat Kita Pulang sebagai Orang yang Berbeda
Salah satu keindahan UPA adalah adanya kesempatan untuk bercermin. Kadang kita datang dengan membawa persoalan. Kemudian sebuah ayat membuat kita berpikir. Sebuah hadits membuat kita tersentuh. Sebuah nasihat membuat kita sadar bahwa selama ini ada sesuatu yang perlu diperbaiki. Nasihat yang baik tidak selalu membuat kita merasa nyaman.
Kadang justru membuat kita terdiam. Karena ia menyentuh bagian diri yang selama ini kita sembunyikan. Tetapi nasihat yang disampaikan dengan kasih sayang tidak bertujuan menjatuhkan. Ia ingin menyelamatkan. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Agama itu adalah nasihat.” (HR. Muslim).
Maka UPA bukan hanya tempat untuk mendapatkan pengetahuan. Ia adalah ruang untuk mendapatkan pengingat. Dan terkadang pengingat sederhana itulah yang menjaga seseorang tetap berada di jalan yang benar. Satu kalimat dari pembina. Satu ayat yang dibaca. Satu kisah dari saudara. Satu doa yang dipanjatkan bersama. Bisa menjadi sesuatu yang terus hidup di dalam hati selama berhari-hari.
Ada Pembina yang Membuat Kita Ingin Kembali
Di balik UPA yang hidup, ada sosok-sosok yang sering bekerja dalam diam. Pembina. Mereka mungkin tidak selalu mendapatkan apresiasi. Tidak selalu terlihat perjuangannya. Namun ada waktu yang diberikan. Ada materi yang dipersiapkan. Ada anggota yang diingat.
Ada pesan yang dikirim ketika seseorang tidak hadir. Ada doa yang dipanjatkan ketika mengetahui seorang anggota sedang menghadapi masalah. Kadang seorang pembina hanya menyampaikan beberapa kalimat. Tetapi kalimat itu bisa menjadi pegangan bagi seseorang dalam menghadapi satu pekan kehidupannya.
Di sinilah pembinaan menjadi lebih dari sekadar penyampaian materi. Pembinaan adalah proses menghadirkan kepedulian. Karena orang tidak hanya membutuhkan ilmu. Orang juga membutuhkan seseorang yang membantu menjaga agar ilmu itu hidup dalam perilaku. UPA yang dirindukan bukan hanya karena materi yang bagus. Ia dirindukan karena ada hati yang peduli.
Gen Z dan Generasi yang Berbeda Bisa Bertemu di Ruang yang Sama
Di UPA, usia bukan alasan untuk membuat jarak. Yang muda membawa energi, keberanian bertanya, kreativitas, dan cara pandang baru. Yang lebih dewasa membawa pengalaman, ketenangan, dan pelajaran dari perjalanan hidup. Keduanya bisa saling belajar. Generasi muda belajar dari pengalaman. Generasi yang lebih senior belajar memahami perubahan zaman.
Di sinilah UPA menjadi ruang pertemuan antargenerasi. Bukan ruang untuk menunjukkan siapa yang paling tahu. Tetapi ruang untuk sama-sama belajar menjadi hamba Allah Subhanahu wata’ala yang lebih baik. Anak muda tidak hanya membutuhkan nasihat. Mereka juga membutuhkan teladan. Sementara generasi yang lebih dewasa tidak hanya membutuhkan penghormatan.
Mereka juga membutuhkan kesempatan untuk terus belajar dari generasi berikutnya. Ketika keduanya bertemu dalam suasana ukhuwah, lahirlah energi yang indah. Ada pengalaman. Ada semangat. Ada kebijaksanaan. Ada keberanian. Semuanya dipertemukan dalam satu tujuan: mendekat kepada Allah Subhanahu wata’ala dan menjadi manusia yang lebih bermanfaat.
Yang Membuat Rindu Justru Hal-Hal Sederhana
Sering kali kita mencari sesuatu yang besar untuk membuat sebuah pertemuan berkesan. Padahal, kerinduan justru sering lahir dari hal-hal kecil. Senyum ketika datang. Sapaan sederhana. Secangkir minuman. Jamuan kecil. Tawa canda yang sehat. Cerita tentang kehidupan.
Pertanyaan tentang kabar keluarga. Ayat yang dibaca bersama. Doa yang diaminkan bersama. Bahkan seseorang yang duduk di samping kita tanpa banyak bicara pun dapat menghadirkan rasa nyaman. Karena manusia tidak selalu membutuhkan sesuatu yang besar. Kadang kita hanya membutuhkan tempat untuk merasa bahwa kita tidak sendirian.
Dan UPA bisa menjadi tempat itu. Tempat ketika seseorang datang membawa beban, lalu pulang membawa sedikit ketenangan. Datang dengan pikiran yang penuh, lalu pulang dengan hati yang lebih lapang. Datang dengan semangat yang melemah, lalu pulang dengan keinginan untuk mencoba kembali.
Ketika Tidak Hadir, Baru Terasa Nilainya
Ada kalanya seseorang baru menyadari nilai sebuah pertemuan ketika ia tidak bisa menghadirinya. Hari itu pekerjaan terlalu padat. Hari berikutnya ada urusan keluarga. Di kesempatan lain tubuh tidak memungkinkan. Lalu tiba-tiba muncul perasaan yang sederhana: “Ternyata saya rindu UPA.”
Rindu duduk bersama. Rindu mendengar ayat. Rindu berbincang. Rindu mendengar nasihat. Rindu suasana yang selama ini mungkin dianggap biasa. Di situlah kita belajar bahwa sesuatu yang rutin belum tentu tidak berharga. Shalat lima waktu adalah rutin, tetapi kita tidak pernah boleh kehilangan maknanya.
Makan bersama keluarga mungkin rutin, tetapi suatu hari kita bisa sangat merindukannya. Berkumpul dengan saudara mungkin sederhana, tetapi ketika jarak memisahkan, kenangan itu menjadi mahal. Begitu pula UPA. Jangan sampai kita baru memahami nilainya setelah terlalu lama meninggalkannya.
UPA Bukan Tempat Orang Sempurna
Ada satu hal penting yang perlu terus dijaga. UPA bukan tempat berkumpulnya orang-orang yang sudah sempurna. Justru UPA adalah tempat orang-orang yang sedang berusaha menjadi lebih baik. Ada yang masih belajar disiplin.
Ada yang masih berjuang memperbaiki shalat. Ada yang sedang belajar membaca Al-Qur’an. Ada yang sedang berusaha meninggalkan kebiasaan buruk. Ada yang sedang mencari kembali semangat dakwah. Ada pula yang mungkin sedang menghadapi persoalan pribadi yang tidak diketahui siapa pun.
Karena itu, jangan jadikan UPA sebagai ruang untuk saling menghakimi. Jadikan ia ruang untuk saling menguatkan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurat: 10).
Persaudaraan bukan berarti kita selalu memiliki pendapat yang sama. Persaudaraan berarti ketika saudara kita jatuh, kita tidak buru-buru meninggalkannya. Ketika ia lemah, kita membantunya. Ketika ia salah, kita mengingatkannya. Ketika ia berhasil, kita ikut bersyukur. Dan ketika ia membutuhkan teman perjalanan, kita bersedia berjalan bersamanya.
Rindu yang Seharusnya Menghasilkan Perubahan
Kerinduan kepada UPA jangan berhenti sebagai perasaan. Rindu harus melahirkan tindakan. Jika rindu kepada majelis ilmu, maka datanglah. Jika rindu kepada Al-Qur’an, maka bacalah. Jika rindu kepada saudara, maka tanyakan kabarnya.
Jika rindu kepada nasihat, maka bukalah hati untuk menerimanya. Jika rindu kepada Allah Subhanahu wata’ala, maka perbanyaklah dzikir dan amal saleh. Sebab ukuran keberkahan sebuah majelis bukan hanya seberapa indah suasananya ketika kita hadir.
Tetapi seberapa besar pengaruhnya setelah kita meninggalkannya. Apakah shalat kita menjadi lebih baik? Apakah akhlak kita menjadi lebih lembut? Apakah hubungan dengan keluarga menjadi lebih hangat? Apakah kepedulian kepada masyarakat semakin tumbuh? Apakah kita lebih mudah memaafkan?
Apakah kita lebih ringan membantu? Apakah kita semakin mencintai kebaikan? Jika jawabannya perlahan mulai “iya”, berarti UPA tidak hanya menjadi tempat kita berkumpul. Ia telah menjadi bagian dari proses perubahan diri.
Jangan Biarkan UPA Kehilangan Ruhnya
Sebuah UPA bisa memiliki jadwal yang rapi. Materi yang baik. Administrasi yang lengkap. Kehadiran yang terdata. Namun semua itu belum cukup jika ruh ukhuwah dan keikhlasan mulai hilang. Karena yang membuat seseorang rindu bukan hanya sistem. Yang membuatnya rindu adalah rasa.
Rasa diperhatikan, diterima, memiliki, bertumbuh, rasa bahwa pertemuan itu membawa kita semakin dekat kepada Allah Subhanahu wata’ala. Karena itu, setiap orang memiliki peran menjaga ruh UPA. Pembina menjaga dengan keteladanan. Anggota menjaga dengan kehadiran. Sesama anggota menjaga dengan kepedulian.
Semua menjaga dengan keikhlasan. Tidak perlu menunggu menjadi orang penting untuk membuat UPA hidup. Kadang cukup datang tepat waktu. Menyapa saudara. Membantu menyiapkan tempat. Mendengarkan ketika seseorang bercerita.
Mengirim pesan kepada yang lama tidak hadir. Mendoakan saudara yang sedang mengalami ujian kesulitan. Hal-hal kecil seperti itu bisa menjadi alasan seseorang berkata: “Saya ingin kembali ke UPA.”
Pada Akhirnya, Kita Merindukan Suasana yang Membuat Hati Hidup
Ada banyak tempat yang kita datangi dalam hidup. Ada kantor, sekolah, kampus, pusat perbelanjaan, rumah makan, bahkan tempat rekreasi. Tetapi tidak semua tempat membuat hati ingin kembali karena alasan yang sama.
UPA seharusnya menjadi tempat yang ketika kita tinggalkan, hati berkata: “Semoga pekan depan saya bisa hadir lagi.”Bukan karena pertemuannya selalu sempurna. Bukan karena semua orang selalu memiliki suasana hati yang baik. Bukan karena tidak pernah ada perbedaan. Tetapi karena di sana ada usaha bersama untuk mencari ridha Allah Subhanahu wata’ala.
Ada Al-Qur’an, nasihat, ukhuwah, doa, proses belajar, kesempatan untuk memperbaiki diri, dan ada saudara-saudara yang berjalan bersama. Mungkin itulah makna terdalam dari sebuah kerinduan. Kita sebenarnya tidak hanya rindu kepada tempat.
Kita rindu kepada versi diri kita yang perlahan tumbuh ketika berada di dalamnya. Kita rindu hati yang lebih tenang. Kita rindu semangat yang kembali menyala. Kita rindu nasihat yang membuat kita bercermin. Kita rindu saudara yang mengingatkan.
Dan kita rindu suasana ketika nama Allah Subhanahu wata’ala lebih sering disebut daripada persoalan dunia. Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk mencari keridaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-‘Ankabut: 69)
Maka, jika suatu hari kita merasa rindu kepada UPA, jangan anggap itu sekadar perasaan. Bisa jadi itu adalah kesempatan untuk kembali. Kembali duduk dalam majelis ilmu. Kembali mendengar ayat. Kembali menyapa saudara. Kembali memperbaiki niat. Kembali menguatkan langkah.
Dan yang paling penting, kembali mendekat kepada Allah Subhanahu wata’ala. Karena pada akhirnya, UPA yang dirindukan bukanlah UPA yang paling ramai, paling mewah, atau paling sempurna. UPA yang dirindukan adalah UPA yang membuat hati berkata: “Di sini saya diingatkan kepada Allah.”
Dan ketika hati sudah menemukan tempat seperti itu, ada satu kalimat yang sering muncul tanpa perlu dipaksa: “Kapan kita bertemu lagi?” Sebab ada rindu yang tumbuh bukan karena tempatnya. Ada rindu yang tumbuh karena kebaikan yang kita rasakan di dalamnya.
Dan semoga kerinduan itu menjadi jalan yang membawa kita lebih dekat kepada Allah Subhanahu wata’ala, lebih dekat kepada Al-Qur’an, lebih dekat kepada saudara, dan lebih dekat kepada kebaikan yang terus kita perjuangkan. Wallahu a’lam bishawab.