Jangan Iri pada Rezeki Orang Lain

@ Cecep Y Pramana

Pagi itu, seorang lelaki duduk cukup lama di teras rumahnya. Secangkir kopi di hadapannya mulai dingin, sementara pikirannya masih tertuju pada sebuah foto yang baru saja dilihatnya di media sosial. Seorang teman lama tampak tersenyum di depan rumah barunya. Kariernya berkembang, usahanya semakin maju, dan kehidupan keluarganya terlihat begitu menyenangkan.

Lelaki itu ikut tersenyum saat melihat foto tersebut. Namun, setelah beberapa saat, senyumnya perlahan menghilang. Ia mulai memikirkan kehidupannya sendiri. Usahanya belum berkembang seperti yang diharapkan. Ada kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi, cicilan yang menunggu, dan sejumlah rencana yang belum juga terwujud.

Dalam hati, ia bertanya, “Mengapa rezeki orang lain begitu mudah terlihat lapang, sementara saya masih harus berjuang seperti ini?” Ia tidak membenci temannya. Ia bahkan ikut senang atas keberhasilan itu. Namun, ada sesuatu yang diam-diam mengusik hatinya. Ia mulai merasa tertinggal, seolah-olah hidupnya berjalan lebih lambat dibandingkan kehidupan orang lain.

Begitulah perasaan yang kadang muncul tanpa kita sadari. Kita melihat keberhasilan seseorang, lalu menjadikannya ukuran untuk menilai kehidupan sendiri. Kita membandingkan penghasilan, pekerjaan, rumah, kendaraan, bahkan kebahagiaan keluarga.

Tanpa sadar, perhatian kita lebih banyak tertuju pada apa yang belum dimiliki daripada mensyukuri apa yang telah Allah Subhanahu wata’ala titipkan. Padahal, foto yang kita lihat hanya memperlihatkan satu bagian dari kehidupan seseorang. Kita tidak mengetahui seluruh perjuangannya, pengorbanannya, kegelisahannya, atau ujian yang mungkin sedang dihadapinya.

Kita melihat hasil yang tampak di permukaan, tetapi tidak selalu mengetahui perjalanan panjang di baliknya. Dari situlah kita perlu belajar berhenti sejenak. Bukan untuk menyerah pada keadaan, melainkan untuk menata kembali cara memandang kehidupan.

Jangan sampai keberhasilan orang lain membuat kita lupa bahwa Allah Subhanahu wata’ala juga sedang memberikan banyak nikmat dalam kehidupan kita sendiri. Allah Subhanahu wata’ala berfirman dalam Al-Qur’an: “Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain.” (QS. An-Nisa’: 32).

Ayat ini mengingatkan kita bahwa karunia Allah Subhanahu wata’ala tidak selalu hadir dalam bentuk yang sama. Ada yang diberi kelapangan harta, ada yang diberi kesehatan, keluarga yang menguatkan, sahabat yang tulus, atau kesempatan untuk terus belajar dan memperbaiki diri.

Setiap orang memiliki perjalanan, tanggung jawab, dan ujian yang berbeda. Karena itu, kehidupan bukan perlombaan untuk membuktikan siapa yang paling cepat berhasil atau paling banyak memiliki sesuatu. Kita tetap boleh memiliki cita-cita.

Kita boleh ingin meningkatkan penghasilan, mengembangkan usaha, membangun rumah, melanjutkan pendidikan, dan memperbaiki kehidupan keluarga. Keinginan tersebut dapat menjadi dorongan untuk berikhtiar lebih sungguh-sungguh.

Namun, jangan biarkan keinginan untuk maju berubah menjadi iri hati. Jadikan keberhasilan orang lain sebagai inspirasi, bukan alasan untuk merendahkan kehidupan sendiri. Pelajari ikhtiarnya, ambil pelajaran dari kedisiplinannya, lalu lanjutkan perjuangan dengan kemampuan yang Allah Subhanahu wata’ala berikan kepada kita.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Lihatlah orang yang berada di bawah kalian dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian. Hal itu lebih patut agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah kepada kalian.” (HR. Muslim).

Hadis ini bukan mengajarkan kita untuk berhenti berkembang. Pesannya adalah menjaga hati agar tidak kehilangan rasa syukur. Ketika melihat orang lain memiliki lebih banyak, kita belajar untuk tidak mudah mengeluh. Ketika menyadari bahwa masih banyak orang yang menghadapi kesulitan, kita belajar menghargai nikmat yang selama ini mungkin dianggap biasa.

Masih bisa bangun pada pagi hari, menghirup udara dengan lega, menikmati kebersamaan keluarga, bekerja dengan jujur, dan beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala adalah nikmat yang sangat berharga. Sayangnya, kita sering baru menyadari nilainya ketika keadaan berubah atau ketika sesuatu yang biasa kita miliki tidak lagi mudah didapatkan.

Bersyukur bukan berarti berhenti berusaha. Bersyukur berarti mampu menghargai apa yang ada, sambil tetap memperjuangkan apa yang belum tercapai. Kita tidak harus memilih antara menerima keadaan dan berusaha menjadi lebih baik. Keduanya dapat berjalan beriringan.

Jika penghasilan belum mencukupi, perbaiki ikhtiar dan kelola pengeluaran dengan bijak. Jika usaha belum berkembang, pelajari kekurangannya dan carilah peluang baru. Jika cita-cita belum terwujud, susun kembali langkah-langkah yang dapat dilakukan. Tetaplah bergerak, tetapi jangan mengukur harga diri hanya dari pencapaian materi.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya.” (QS. At-Talaq: 3). Tawakal bukan berarti duduk diam sambil menunggu rezeki datang. Tawakal adalah mengerahkan kemampuan terbaik melalui jalan yang halal, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah dengan hati yang percaya.

Kita berusaha tanpa curang, bekerja tanpa menghalalkan segala cara, dan berdoa tanpa kehilangan harapan. Sebab, tidak semua yang cepat datang membawa keberkahan, dan tidak semua yang lambat berarti sebuah kegagalan. Ada kalanya perjalanan yang panjang mengajarkan kesabaran, kedisiplinan, kerendahan hati, dan keteguhan yang tidak diperoleh melalui jalan yang mudah.

Rezeki pun bukan semata-mata tentang jumlah yang berhasil dikumpulkan. Ada keberkahan dalam penghasilan yang halal, ketenteraman dalam keluarga yang saling menguatkan, serta kebahagiaan ketika apa yang kita miliki dapat bermanfaat bagi orang lain.

Maka, ketika melihat teman berhasil membeli rumah, doakan agar rumah itu menjadi tempat yang penuh keberkahan. Ketika melihat sahabat memperoleh pekerjaan yang baik, ikutlah bersyukur atas karunia yang diterimanya. Ketika orang lain memperoleh kesempatan yang belum kita dapatkan, jangan buru-buru menganggap diri kita dilupakan oleh Allah Subhanahu wata’ala.

Kita tidak pernah tahu kapan pintu kesempatan akan terbuka. Yang dapat kita lakukan adalah mempersiapkan diri, menjaga niat, memperbaiki usaha, dan memohon kepada Allah Subhanahu wata’ala agar setiap rezeki yang datang membawa kebaikan.

Pada akhirnya, kita tidak harus memiliki apa yang dimiliki orang lain untuk menjalani kehidupan yang bermakna. Kita hanya perlu terus berusaha, menjaga kehalalan langkah, mensyukuri nikmat yang ada, dan bertawakal atas apa yang belum tiba.

Jangan iri pada rezeki orang lain. Doakan kebaikan untuk mereka, lalu lanjutkan perjuangan kita sendiri. Sebab, ketenangan bukan lahir ketika semua keinginan telah terpenuhi, melainkan ketika hati mampu menerima bagian yang Allah tetapkan tanpa berhenti berikhtiar menjadi lebih baik.

Semoga Allah Subhanahu wata’ala membersihkan hati kita dari iri yang melelahkan, melapangkan dada untuk mensyukuri nikmat-Nya, dan memberkahi setiap rezeki yang kita terima. Semoga kita tidak hanya menjadi orang yang pandai mengejar rezeki, tetapi juga mampu menjaga amanah dan berbagi manfaat melalui rezeki tersebut. Aamiin ya Rabbal ‘alamin. Wallahu a’lam bishawab..

2Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *