Konsekuensi Cinta (Lawaazimul Mahabbah)
@ Cecep Y Pramana
Ada kalimat yang sering kita ucapkan dalam doa, dalam majelis, bahkan dalam kesendirian: “Ya Allah, aku mencintai-Mu”. Kalimat itu sederhana. Namun, sebenarnya ia mengandung makna yang sangat besar. Sebab cinta kepada Allah Subhanahu wata’ala bukan sekadar perasaan yang bersemayam di dalam hati.
Cinta kepada Allah Subhanahu wata’ala memiliki konsekuensi. Ia akan terlihat dalam pilihan hidup, cara kita bersikap, siapa yang kita dekati, apa yang kita perjuangkan, apa yang kita sukai, bahkan apa yang kita tinggalkan. Cinta yang benar selalu melahirkan jejak.
Ketika Cinta kepada Allah Memiliki Konsekuensi
Ketika seseorang mencintai Allah Subhanahu wata’ala, cintanya tidak berhenti pada kata-kata. Ia perlahan mengubah dirinya. Shalat menjadi kebutuhan, bukan sekadar kewajiban. Kebaikan menjadi kebiasaan. Al-Qur’an menjadi teman. Kesabaran menjadi kekuatan. Dan dosa menjadi sesuatu yang ingin ia jauhi.
Inilah yang dapat kita renungkan melalui konsep “LAWAZIMUL MAHABBAH”, yaitu konsekuensi atau tuntutan dari sebuah cinta. Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah”. (QS. Al-Baqarah: 165).
Ayat ini mengajarkan bahwa salah satu ciri keimanan adalah adanya cinta yang kuat kepada Allah Subhanahu wata’ala. Namun, bagaimana kita mengetahui bahwa cinta itu benar-benar tumbuh? Salah satunya adalah dengan melihat apa yang lahir dari cinta tersebut.
Cinta Membuat Kita Mencintai yang Dicintai Allah
Bayangkan seseorang mengatakan kepada sahabatnya, “Aku sangat mencintaimu”. Namun, ketika sahabat itu menyukai sesuatu, ia justru membencinya. Ketika sahabat itu menyukai seseorang, ia justru menjauhinya. Ketika sahabat itu menginginkan sebuah kebaikan, ia malah memilih melakukan sesuatu yang bertentangan dengannya.
Ada yang tidak selaras. Begitu pula cinta kepada Allah Subhanahu wata’ala. Konsekuensi pertama dari cinta kepada Allah Subhanahu wata’ala adalah “mahabbatu man ahabbahul mahbub”, artinya mencintai siapa pun yang dicintai oleh Sang Kekasih. Jika kita benar-benar mencintai Allah Subhanahu wata’ala, maka kita akan belajar mencintai hamba-hamba yang Allah Subhanahu wata’ala cintai.
Allah Subhanahu wata’ala mencintai orang-orang yang bertaubat dan menyucikan diri. Allah Subhanahu wata’ala mencintai orang-orang yang berbuat baik. Allah Subhanahu wata’ala mencintai orang-orang yang sabar. Allah Subhanahu wata’ala mencintai orang-orang yang bertawakal.
Allah Subhanahu wata’ala mencintai orang-orang yang berlaku adil. Allah Subhanahu wata’ala mencintai orang-orang yang bertakwa. Maka, ketika kita mencintai Allah Subhanahu wata’ala, seharusnya kita pun berusaha menjadi bagian dari orang-orang yang dicintai-Nya.
Bukan sekadar ingin dekat dengan Allah Subhanahu wata’ala, tetapi juga ingin memiliki sifat-sifat yang membuat Allah Subhanahu wata’ala ridha. Al-Qur’an bahkan memberikan gambaran indah tentang orang-orang yang mendapatkan nikmat dari Allah Subhanahu wata’ala:
Artinya: “Barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, mereka akan bersama orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”. (QS. An-Nisa: 69). Ada kerinduan yang indah dalam ayat ini.
Orang yang mencintai Allah Subhanahu wata’ala tidak hanya ingin mendapatkan kenikmatan dunia. Ia juga ingin bersama orang-orang saleh di akhirat. Karena cinta selalu mencari kedekatan. Jika kita mencintai Allah Subhanahu wata’ala, kita akan senang berada di lingkungan yang mendekatkan kita kepada-Nya.
Kita akan menghargai orang-orang yang mengingatkan kita kepada kebaikan. Kita akan merasa nyaman bersama mereka yang membuat hati kita semakin dekat kepada Allah Subhanahu wata’ala. Dikelilingi oleh orang-orang yang mengingatkan kepada kebaikan merupakan nikmat besar dan wujud kasih sayang Allah Subhanahu wata’ala yang menuntun hati menuju ketenangan.
Cinta Membuat Kita Mencintai Apa yang Dicintai Allah
Konsekuensi kedua adalah “mahabbatu maa ahabbul mahbub”, artinya mencintai apa pun yang dicintai oleh Sang Kekasih. Allah Subhanahu wata’ala mencintai amal saleh. Karena itu, orang yang mencintai Allah Subhanahu wata’ala akan belajar mencintai amal yang Allah Subhanahu wata’ala cintai.
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Amal apakah yang paling dicintai Allah?” Rasulullah menjawab Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Shalat pada waktunya.” Ia bertanya lagi: “Kemudian apa?” Beliau menjawab: “Berbakti kepada kedua orang tua.” Kemudian beliau menyebutkan jihad di jalan Allah. (HR. Bukhari dan Muslim)
Perhatikan jawabannya. Cinta kepada Allah Subhanahu wata’ala diterjemahkan menjadi tindakan yang nyata. Shalat tepat waktu. Berbakti kepada orang tua. Berjuang di jalan Allah Subhanahu wata’ala. Cinta tidak berhenti sebagai emosi. Ia berubah menjadi amal.
Karena itu, terkadang ukuran cinta bukan seberapa sering seseorang mengatakan bahwa ia mencintai Allah Subhanahu wata’ala, tetapi seberapa jauh ia bersedia melakukan apa yang Allah Subhanahu wata’ala cintai. Ada orang yang mengatakan dirinya mencintai Allah Subhanahu wata’ala, tetapi masih merasa berat ketika azan memanggil.
Ada yang mengaku mencintai Al-Qur’an, tetapi hampir tidak pernah membacanya. Ada yang mengatakan mencintai kebaikan, tetapi selalu menunda ketika ada kesempatan untuk berbuat baik. Mungkin bukan berarti cintanya tidak ada. Bisa jadi cintanya masih perlu dirawat.
Cinta kepada Allah Subhanahu wata’ala perlu dilatih melalui amal. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan bahwa amal yang paling dicintai Allah Subhanahu wata’ala adalah amal yang dilakukan secara konsisten, meskipun sedikit.
Artinya: “Amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling kontinu meskipun sedikit.” (HR. Bukhari). Pesannya sangat dalam. Allah Subhanahu wata’ala tidak selalu meminta kita melakukan sesuatu yang besar. Kadang Allah Subhanahu wata’ala hanya ingin kita istiqamah.
Satu halaman Al-Qur’an setiap hari. Dua rakaat tahajud yang terus dijaga. Sedekah yang rutin. Dzikir yang tidak ditinggalkan. Menghubungi orang tua. Menolong seseorang. Menyisihkan waktu untuk belajar. Sedikit, tetapi terus dilakukan. Sebab cinta yang matang tidak selalu terlihat spektakuler. Ia terlihat dari kesetiaan.
Cinta Juga Membuat Kita Menjauhi yang Dibenci Allah
Ada sisi lain dari cinta. Jika seseorang mencintai Allah Subhanahu wata’ala, ia bukan hanya mencintai apa yang dicintai Allah Subhanahu wata’ala. Ia juga belajar membenci apa yang dibenci-Nya. Konsekuensi ketiga adalah “bughdu man abghadhahul mahbub”, artinya membenci siapa pun yang dibenci oleh Sang Kekasih.
Allah Subhanahu wata’ala tidak menyukai kesombongan. Allah Subhanahu wata’ala tidak menyukai kezaliman. Allah Subhanahu wata’ala tidak menyukai pengkhianatan. Allah Subhanahu wata’ala tidak menyukai kerusakan. Allah Subhanahu wata’ala tidak menyukai sikap berlebih-lebihan.
Maka seorang mukmin harus berhati-hati agar tidak memiliki sifat-sifat tersebut. Namun ada satu musuh yang secara tegas Allah Subhanahu wata’ala perintahkan untuk kita jadikan sebagai musuh, yaitu setan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagi kalian, maka jadikanlah ia sebagai musuh”. (QS. Fathir: 6).
Ayat ini mengingatkan kita bahwa kehidupan seorang mukmin adalah perjuangan. Setan tidak selalu datang dengan sesuatu yang terlihat buruk. Kadang ia datang melalui penundaan. “Nanti saja shalatnya”. “Besok saja membaca Al-Qur’annya”. “Tidak apa-apa sedikit berbohong”. “Semua orang juga melakukan”. “Sekali ini saja”.
Begitulah dosa terkadang dimulai. Tidak selalu dengan langkah besar. Sering kali dengan pembenaran kecil yang terus diulang. Karena itu, mencintai Allah Subhanahu wata’ala berarti menjaga hati agar tidak mudah menerima bisikan yang menjauhkan kita dari-Nya.
Cinta Membuat Kita Tidak Menyukai Perbuatan yang Dibenci Allah
Konsekuensi keempat adalah “bughdu maa abghadhahul mahbub”, artinya membenci apa pun yang dibenci oleh Sang Kekasih. Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Allah tidak menyukai perkataan buruk yang diucapkan dengan terang-terangan, kecuali oleh orang yang dizalimi”. (QS. An-Nisa: 148).
Ayat ini terasa sangat dekat dengan kehidupan kita hari ini. Betapa mudahnya seseorang berbicara. Betapa cepatnya sebuah komentar ditulis. Betapa mudahnya sebuah kabar disebarkan. Padahal satu kalimat dapat menyakiti seseorang. Satu komentar dapat mempermalukan orang lain. Satu kabar yang belum jelas dapat menimbulkan fitnah.
Di sinilah cinta kepada Allah Subhanahu wata’ala diuji. Apakah kita mencintai Allah Subhanahu wata’ala sehingga mampu menahan lisan? Apakah kita mencintai Allah Subhanahu wata’ala sehingga tidak ikut menyebarkan kabar yang belum jelas? Apakah kita mencintai Allah Subhanahu wata’ala sehingga memilih diam ketika ucapan kita hanya akan menambah masalah?
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengingatkan bahwa Allah Subhanahu wata’ala membenci beberapa perkara, di antaranya qila wa qala, banyak memperbincangkan kabar yang tidak perlu, banyak bertanya tanpa kebutuhan, dan menyia-nyiakan harta.
Pesannya sangat relevan. Tidak semua hal harus kita komentari. Tidak semua berita harus kita teruskan. Tidak semua perdebatan harus kita menangkan. Tidak semua keinginan harus dipenuhi. Ada saatnya iman meminta kita berhenti.
Masjid, Pasar, dan Cara Kita Menjalani Dunia
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tempat yang paling Allah cintai adalah masjid-masjid, dan tempat yang paling Allah benci adalah pasar-pasar.” (HR. Muslim). Hadis ini tidak berarti Islam melarang seorang muslim pergi ke pasar.
Rasulullah dan para sahabat juga melakukan aktivitas perdagangan. Para ulama menjelaskan bahwa hadis tersebut berkaitan dengan kondisi yang dominan terjadi di tempat tersebut. Masjid menjadi tempat yang dipenuhi ibadah dan ketaatan. Sementara pasar pada masa itu sering menjadi tempat terjadinya penipuan, riba, sumpah palsu, perselisihan, dan kelalaian dari mengingat Allah Subhanahu wata’ala.
Pelajarannya bukan sekadar tentang tempat. Pelajarannya tentang perilaku. Pasar dapat menjadi tempat yang Allah Subhanahu wata’ala cintai jika di dalamnya ada kejujuran, amanah, dan rezeki halal. Masjid pun perlu dijaga kesuciannya dari perilaku yang buruk. Artinya, cinta kepada Allah Subhanahu wata’ala tidak hanya terlihat ketika kita berada di masjid.
Cinta itu harus ikut bersama kita ketika kita bekerja. Ketika berbisnis. Ketika menggunakan media sosial. Ketika berbicara dengan keluarga. Ketika menghadapi perbedaan. Ketika tidak ada seorang pun yang melihat. Di situlah cinta diuji.
Cinta kepada Allah Melahirkan Wala’ dan Bara’
Pada akhirnya, mencintai siapa dan apa yang dicintai Allah Subhanahu wata’ala merupakan bagian dari al-wala’, yaitu loyalitas karena Allah Subhanahu wata’ala. Sementara menjauhi dan membenci apa yang dibenci Allah merupakan bagian dari al-bara’, yaitu berlepas diri dari sesuatu yang bertentangan dengan ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tali iman yang paling kokoh adalah loyalitas karena Allah, permusuhan karena Allah, mencintai karena Allah, dan membenci karena Allah”. (HR. Ath-Thabarani). Namun, prinsip ini perlu ditempatkan dengan ilmu dan adab.
Membenci keburukan tidak berarti membenci manusia secara membabi buta. Menolak kemaksiatan tidak berarti kehilangan kasih sayang. Menjauhi perilaku yang salah tidak berarti kita boleh berlaku zalim.
Seorang mukmin dapat membenci dosa, tetapi tetap berharap pelakunya mendapatkan hidayah. Ia dapat menolak kebatilan tanpa kehilangan akhlak. Ia dapat tegas tanpa menjadi kasar. Inilah pentingnya ilmu dalam menjalani cinta kepada Allah Subhanahu wata’ala.
Ketika Cinta Tidak Lagi Sekadar Kata
Pada suatu titik dalam perjalanan hidup, kita mungkin perlu bertanya kepada diri sendiri: “Apakah aku benar-benar mencintai Allah?” Jawabannya tidak harus kita cari melalui kata-kata. Lihatlah shalat kita. Lihatlah hubungan kita dengan Al-Qur’an.
Lihatlah cara kita memperlakukan orang tua. Lihatlah bagaimana kita berbicara kepada orang lain. Lihatlah bagaimana kita menggunakan waktu. Lihatlah apa yang kita lakukan ketika tidak ada orang yang melihat. Lihatlah apa yang kita lakukan ketika memiliki kesempatan untuk berbuat baik.
Di sanalah cinta menemukan bentuknya. Sebab cinta kepada Allah Subhanahu wata’ala bukan sekadar perasaan yang membuat hati hangat. Cinta kepada Allah Subhanahu wata’ala adalah kekuatan yang mengarahkan kehidupan. Ia membuat kita ingin menjadi lebih baik.
Ia membuat kita ingin berada dekat dengan orang-orang saleh. Ia membuat kita mencintai amal yang Allah Subhanahu wata’ala cintai. Ia membuat kita menjauhi dosa. Ia membuat kita berhati-hati terhadap lisan. Ia membuat kita tidak nyaman ketika hidup terlalu jauh dari Allah Subhanahu wata’ala.
Dan yang paling indah, cinta itu membuat kita terus kembali. Kembali setelah jatuh. Kembali setelah lalai. Kembali setelah melakukan kesalahan. Kembali melalui taubat. Kembali melalui shalat. Kembali melalui doa. Kembali melalui istighfar. Karena seorang hamba yang mencintai Allah Subhanahu wata’ala mungkin pernah lemah, tetapi ia tidak ingin kehilangan arah.
Cinta yang Mengubah Kehidupan
Cinta kepada Allah bukan gelar. Bukan pula sekadar ungkapan. Ia adalah perjalanan panjang untuk menyelaraskan hati, pikiran, ucapan, dan perbuatan dengan apa yang Allah cintai. Maka, semakin besar cinta kita kepada Allah Subhanahu wata’ala, semestinya semakin terlihat pengaruhnya dalam kehidupan.
Kita mencintai orang-orang yang Allah cintai. Kita mencintai amal yang Allah Subhanahu wata’ala cintai. Kita membenci sifat yang Allah benci. Kita menjauhi perbuatan yang Allah Subhanahu wata’ala benci. Kita belajar mencintai kebaikan, sekaligus belajar meninggalkan keburukan. Inilah lawazimul mahabbah. Konsekuensi cinta.
Semoga Allah Subhanahu wata’ala tidak hanya menjadikan lisan kita pandai mengatakan, “Aku mencintai-Mu, ya Allah”. Tetapi juga menjadikan seluruh hidup kita sebagai bukti dari cinta tersebut. Sebab pada akhirnya, cinta yang benar akan menemukan jalannya melalui ketaatan. Wallahu a’lam bishawab.