Mengapa Membaca Al-Qur’an Diawali dengan Ta’awudz?
@ Cecep Y Pramana
Ada kebiasaan sederhana yang sering kita lakukan ketika hendak membaca Al-Qur’an. Kita mengambil mushaf, membuka halaman yang ingin dibaca, lalu mengucapkan isti’adzah atau ta’awudz (“A’uudzu billaahi minasy syaithaanir rajiim”, Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk) sebelum melantunkan ayat-ayat Allah. Setelah itu, barulah kita membaca basmalah dan memulai tilawah.
Kebiasaan ini mungkin terasa biasa karena telah dilakukan berulang kali. Bahkan, sebagian dari kita mungkin mengucapkannya secara otomatis tanpa benar-benar merenungkan maknanya. Padahal, ada pesan penting di balik perintah membaca ta’awudz sebelum membaca Al-Qur’an.
Allah Subhanahu wata’ala mengajarkan bahwa untuk mendekati kalam-Nya, manusia tidak hanya membutuhkan kesiapan lisan, tetapi juga perlindungan dan kesiapan hati. Membaca Al-Qur’an bukan sekadar aktivitas melafalkan huruf demi huruf.
Di dalamnya terdapat proses mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wata’ala, memahami petunjuk kehidupan, memperbaiki perilaku, dan membangun hubungan yang lebih kuat dengan Sang Pencipta. Namun, perjalanan menuju kebaikan tidak selalu berjalan mudah.
Ada banyak gangguan yang dapat menghalangi seseorang untuk berinteraksi secara sungguh-sungguh dengan Al-Qur’an. Karena itu, sebelum membaca, Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan kita untuk memohon perlindungan kepada-Nya dari godaan setan.
1. Perintah Allah untuk Berlindung Sebelum Membaca Al-Qur’an
Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Apabila engkau membaca Al-Qur’an, hendaklah engkau meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl: 98). Ayat ini memberikan pelajaran mendasar. Sebelum membaca Al-Qur’an, seorang mukmin diperintahkan untuk memohon perlindungan kepada Allah Subhanahu wata’ala.
Mengapa demikian? Karena setan selalu berusaha menghalangi manusia dari jalan kebaikan. Ketika seseorang hendak melakukan sesuatu yang mendekatkannya kepada Allah Subhanahu wata’ala, setan berusaha mengganggu, melemahkan semangat, mengalihkan perhatian, bahkan membisikkan berbagai alasan agar kebaikan itu tidak terlaksana.
Termasuk ketika seseorang hendak membaca Al-Qur’an. Ada orang yang sudah berniat membaca satu halaman, tetapi tiba-tiba merasa malas. Ada yang baru membuka mushaf, kemudian perhatiannya beralih kepada telepon genggam. Ada pula yang membaca Al-Qur’an, tetapi pikirannya justru dipenuhi urusan pekerjaan, persoalan keluarga, atau berbagai hal yang sedang dihadapinya.
Tidak sedikit pula yang merasa lebih baik menunda tilawah karena menunggu waktu luang, suasana tenang, atau kondisi hati yang benar-benar siap. Akhirnya, waktu berlalu dan mushaf kembali tertutup. Di sinilah kita memahami bahwa godaan setan tidak selalu hadir dalam bentuk sesuatu yang menakutkan.
Terkadang ia datang melalui rasa malas, penundaan, kelalaian, dan pikiran yang terus-menerus menjauhkan kita dari kebaikan. Ta’awudz menjadi pengingat bahwa kita membutuhkan pertolongan Allah Subhanahu wata’ala untuk menghadapi gangguan tersebut.
2. Mengapa Tidak Cukup Hanya Membaca Basmalah?
Basmalah dan ta’awudz memiliki makna yang saling melengkapi. Ketika mengucapkan basmalah, kita memulai aktivitas dengan menyebut nama Allah Subhanahu wata’ala. Kita mengakui bahwa segala sesuatu yang baik harus dimulai dengan mengingat-Nya dan mengharapkan keberkahan dari-Nya.
Sementara itu, ketika membaca ta’awudz, kita menyatakan kebutuhan untuk mendapatkan perlindungan Allah Subhanahu wata’ala dari gangguan setan. Keduanya mengajarkan dua sikap penting seorang hamba: memohon pertolongan untuk memperoleh kebaikan dan memohon perlindungan dari keburukan.
Dalam membaca Al-Qur’an, kedua sikap ini menjadi sangat penting. Kita tidak hanya ingin membaca dengan lancar, tetapi juga berharap mendapatkan petunjuk. Kita tidak hanya ingin menyelesaikan satu juz, tetapi juga berharap ayat-ayat yang dibaca mampu menyentuh hati dan memengaruhi kehidupan.
Sebab, membaca Al-Qur’an tanpa menghadirkan hati dapat membuat seseorang kehilangan kesempatan untuk mengambil pelajaran darinya. Lisan mungkin bergerak, tetapi pikiran mengembara. Mata mungkin mengikuti tulisan, tetapi hati belum tentu memahami pesan yang disampaikan.
Karena itu, ta’awudz mengajarkan kita untuk berhenti sejenak sebelum membaca. Menghadirkan kesadaran bahwa kita sedang berhadapan dengan kalam Allah Subhanahu wata’ala. Kita membutuhkan penjagaan-Nya agar dapat membaca dengan penuh penghormatan, kekhusyukan, dan kesungguhan.
3. Setan Tidak Ingin Manusia Dekat dengan Al-Qur’an
Salah satu tugas setan adalah menyesatkan manusia dari jalan Allah Subhanahu wata’ala. Ia berusaha menjauhkan manusia dari sumber petunjuk dan kebaikan. Al-Qur’an adalah petunjuk kehidupan. Di dalamnya terdapat penjelasan tentang keimanan, ibadah, akhlak, keluarga, kehidupan sosial, serta berbagai prinsip yang membimbing manusia menuju keselamatan.
Ketika seseorang dekat dengan Al-Qur’an, maka ia memiliki kesempatan untuk mengenali kebenaran, memperbaiki kesalahan, dan mengarahkan kehidupannya sesuai petunjuk Allah Subhanahu wata’ala. Karena itu, kedekatan dengan Al-Qur’an menjadi sesuatu yang harus dijaga.
Godaan untuk menjauh dari Al-Qur’an dapat muncul dalam berbagai keadaan. Ketika masih muda, seseorang mungkin merasa terlalu sibuk dengan pendidikan, pekerjaan, pergaulan, dan berbagai aktivitas. Ketika sudah dewasa, kesibukan keluarga dan tanggung jawab pekerjaan sering menjadi alasan untuk mengurangi waktu tilawah.
Bahkan, ketika usia semakin bertambah, seseorang terkadang merasa sudah terlambat untuk memulai kebiasaan membaca dan mempelajari Al-Qur’an secara lebih serius. Padahal, tidak ada kata terlambat untuk mendekat kepada Allah Subhanahu wata’ala.
Al-Qur’an bukan hanya bacaan untuk orang yang memiliki banyak waktu. Al-Qur’an justru menjadi kebutuhan bagi manusia yang sedang menjalani berbagai persoalan kehidupan. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).
Hadis ini memberikan motivasi bahwa hubungan dengan Al-Qur’an tidak berhenti pada aktivitas membaca. Ada proses belajar, memahami, mengamalkan, dan mengajarkan. Semakin dekat seseorang dengan Al-Qur’an, semakin besar peluang baginya untuk memperbaiki kualitas kehidupannya. Maka, jangan biarkan kesibukan membuat kita kehilangan hubungan dengan kitab suci ini.
4. Ta’awudz Bukan Sekadar Ucapan, tetapi Kesadaran untuk Meminta Pertolongan Allah
Kita sering mengucapkan: A’uudzu billaahi minasy syaithaanir-rajiim. Artinya: “Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk”. Kalimat ini pendek, tetapi memiliki makna yang dalam. Kita sedang mengakui bahwa manusia memiliki keterbatasan.
Kita tidak selalu mampu mengendalikan pikiran, menjaga konsentrasi, atau mempertahankan semangat dalam beribadah. Ada kalanya hati terasa berat. Ada saatnya pikiran dipenuhi persoalan. Ada pula waktu ketika kita mengetahui bahwa membaca Al-Qur’an itu penting, tetapi tetap sulit meluangkan waktu untuk melakukannya.
Dalam keadaan seperti itu, seorang mukmin tidak hanya mengandalkan kekuatan dirinya sendiri. Ia memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Inilah hakikat ta’awudz. Kita menyadari bahwa perlindungan Allah Subhanahu wata’ala jauh lebih kuat daripada kemampuan manusia dalam menghadapi godaan setan.
Namun, memohon perlindungan juga harus diikuti dengan kesungguhan. Setelah mengucapkan ta’awudz, kita berusaha menjaga perhatian, memahami bacaan, dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi gangguan. Ta’awudz bukan alasan untuk menjadi pasif. Ia justru menjadi awal dari ikhtiar untuk membangun hubungan yang lebih baik dengan Al-Qur’an.
5. Membaca Al-Qur’an Membutuhkan Kesiapan Lisan dan Hati
Ada perbedaan antara membaca Al-Qur’an sebagai rutinitas dan membaca Al-Qur’an sebagai kebutuhan jiwa. Rutinitas membuat seseorang membaca karena sudah terbiasa. Sementara kebutuhan jiwa membuat seseorang merasa membutuhkan petunjuk Allah Subhanahu wata’ala dalam menjalani kehidupan.
Keduanya tentu baik. Namun, akan lebih indah apabila kebiasaan membaca Al-Qur’an tumbuh menjadi kebutuhan yang dirindukan. Ketika menghadapi persoalan, kita kembali kepada Al-Qur’an. Ketika merasa gelisah, kita mencari ketenangan melalui ayat-ayat-Nya.
Ketika melakukan kesalahan, kita membuka mushaf untuk menemukan petunjuk dan memperbaiki diri. Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28). Ayat ini mengingatkan bahwa ketenangan sejati bersumber dari kedekatan dengan Allah Subhanahu wata’ala.
Membaca Al-Qur’an menjadi salah satu jalan untuk mengingat-Nya. Namun, ketenangan itu juga perlu dibangun melalui pemahaman dan pengamalan terhadap petunjuk yang terkandung di dalamnya. Karena itu, sebelum membaca Al-Qur’an, mari kita persiapkan diri.
Bersihkan niat, lalu hadirkan hati yang khusyu. Ucapkan ta’awudz dengan kesadaran. Kemudian bacalah ayat-ayat Allah Subhanahu wata’ala dengan penuh penghormatan. Tidak perlu terburu-buru mengejar banyak halaman apabila hati belum mampu mengikuti maknanya.
Mulailah dengan bacaan yang baik, lalu luangkan waktu untuk memahami pesan yang terkandung di dalamnya. Sebab, Al-Qur’an bukan sekadar untuk diselesaikan bacaannya, melainkan untuk menjadi petunjuk yang membimbing kehidupan.
6. Jangan Biarkan Godaan Menghalangi Kedekatan Kita dengan Al-Qur’an
Pada akhirnya, membaca ta’awudz sebelum tilawah mengajarkan sebuah prinsip penting: setiap langkah menuju kebaikan membutuhkan pertolongan Allah Subhanahu wata’ala. Kita mungkin memiliki niat yang baik, tetapi niat saja tidak selalu cukup.
Kita membutuhkan kekuatan untuk memulai, keteguhan untuk melanjutkan, dan perlindungan agar tidak mudah berpaling. Setan akan terus berusaha mengganggu manusia dari berbagai arah. Karena itu, jangan merasa heran apabila ada rasa malas ketika hendak membaca Al-Qur’an. Jangan pula langsung menyerah ketika pikiran terasa sulit berkonsentrasi.
Lawanlah dengan doa, kesungguhan, dan kebiasaan yang terus dijaga. Jika hari ini baru mampu membaca beberapa ayat, teruskanlah. Jika sebelumnya jarang membuka mushaf, mulailah kembali. Jika selama ini membaca tanpa memahami maknanya, berusahalah menyediakan waktu untuk mempelajarinya.
Jangan menunggu menjadi sempurna untuk mendekat kepada Al-Qur’an. Justru melalui Al-Qur’an, kita berharap Allah Subhanahu wata’ala membimbing kita menjadi pribadi yang lebih baik. Inilah sebuah pesan yang sangat indah dan menyejukkan hati.
Penutup: Mengawali Bacaan dengan Memohon Perlindungan
Mengapa membaca Al-Qur’an diawali dengan ta’awudz? Karena kita membutuhkan perlindungan Allah Subhanahu wata’ala dari godaan setan yang dapat menghalangi manusia dalam membaca, memahami, dan mengamalkan kalam-Nya.
Basmalah mengajarkan kita untuk memulai dengan menyebut nama Allah Subhanahu wata’ala. Ta’awudz mengajarkan kita untuk memohon perlindungan-Nya. Keduanya mengingatkan bahwa seorang mukmin selalu membutuhkan Allah Subhanahu wata’ala dalam setiap langkah kebaikan.
Maka, jangan jadikan ta’awudz sekadar ucapan yang berlalu di bibir. Hadirkan maknanya dalam hati. Mohonlah perlindungan Allah Subhanahu wata’ala dengan sungguh-sungguh, kemudian dekatilah Al-Qur’an dengan penuh kesadaran.
Semoga setiap huruf yang kita baca akan menjadi cahaya bagi hati, setiap ayat Al-Qur’an yang kita renungkan menjadi petunjuk bagi kehidupan, dan setiap pesan yang kita amalkan menjadi jalan untuk semakin dekat kepada Allah Subhanhu wata’ala.
Sebab, tujuan akhir membaca Al-Qur’an bukan sekadar menyelesaikan ayat demia ayat, atau halaman demi halaman, melainkan menjadikan petunjuk Allah Subhanahu wata’ala sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan. Wallahu a’lam bishawab.