@ Cecep Y Pramana
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah Subhanahu wata’ala daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah pada hal yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah merasa lemah”. (HR Muslim).
Dalam Islam, konsep “Bina’ul Quwwah” atau بناء القوة yang artinya membangun kekuatan sering dikaitkan dengan hadis Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam diatas, yang mengajarkan tentang pembangunan kekuatan spiritual (iman) dan fisik. Kuncinya adalah bersungguh-sungguh, bergantung pada Allah Subhanahu wata’ala, dan menjadi pribadi yang berdaya serta bermanfaat, seperti dicontohkan oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam.
Konsep ini bukan sekadar hanya berbicara tentang kekuatan fisik, melainkan pembangunan kekuatan holistik yang melibatkan aspek spiritual, mental, dan sosial. Dalam era modern ini, di mana tantangan hidup semakin kompleks, memahami dan menerapkan ‘Bina’ul Quwwah’ dapat menjadi panduan bagi umat Muslim untuk mencapai kesuksesan dunia dan akhirat.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman dalam Al-Qur’an surat Al Baqarah ayat 31-34 yang artinya: Ayat ini menceritakan kisah penciptaan Nabi Adam Alaihissalam, di mana Allah Subhanahu wata’ala mengajarkan nama-nama segala sesuatu kepadanya dan kemudian menguji para malaikat dengan meminta mereka menyebutkan nama-nama tersebut.
Hal ini menunjukkan keunggulan ilmu nabi Adam atas mereka. Setelah Nabi Adam Alaihissalam berhasil, Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepada Adam, namun Iblis menolak karena sombong, menjadikannya termasuk golongan kafir.
“Dan Ia telah mengajarkan Nabi Adam, akan segala nama benda-benda dan gunanya, kemudian ditunjukkannya kepada malaikat lalu Ia berfirman: “Terangkanlah kepadaKu nama benda-benda ini semuanya jika kamu golongan yang benar”. (QS Al Baqarah: 31).
“Malaikat itu menjawab: “Maha suci Engkau (Ya Allah)! Kami tidak mempunyai pengetahuan selain dari apa yang Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkau jualah yang Maha Mengetahui, lagi Maha Bijaksana”. (QS Al Baqarah: 32).
“Allah berfirman: “Wahai Adam! Terangkanlah nama benda-benda ini semua kepada mereka”. Maka setelah Nabi Adam menerangkan nama benda-benda itu kepada mereka, Allah berfirman: “Bukankah Aku telah katakan kepada kamu, bahawasanya Aku mengetahui segala rahsia langit dan bumi, dan Aku mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan?“. (QS Al Baqarah: 33).
“Dan (ingatlah) ketika kami berfirman kepada malaikat: “Tunduklah (beri hormat) kepada Nabi Adam”. Lalu mereka sekaliannya tunduk memberi hormat melainkan Iblis; ia enggan dan takbur, dan menjadilah ia dari golongan yang kafir”. (QS Al Baqarah: 34).
Allah Subhanahu wata’ala juga berfirman di dalam Al-Qur’an Surat Al-Ahzab ayat 72. “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”.
Surat Al-Ahzab ayat 72 ini menjelaskan tentang “Amanah” yang ditawarkan Allah Subhanahu wata’ala kepada langit, bumi, dan gunung, namun semuanya menolak karena takut mengkhianatinya, lalu manusia yang menerimanya, meskipun pada akhirnya digambarkan sangat zalim (tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya) dan bodoh (sering melalaikan) dalam memikulnya.
Ayat ini menegaskan bahwa amanah itu adalah syariat dan tugas keagamaan Allah Subhanahu wata’ala yang jika dilaksanakan dengan baik mendapat pahala dan jika disia-siakan akan disiksa, sehingga manusia yang menerimanya perlu sadar akan konsekuensinya.
Ada tiga pilar utama dalam Bina’ul Quwwah secara mendalam, sesuai dengan hadis tersebut.
- Menetapkan Tujuan yang Tinggi dan Mulia
Pilar pertama Bina’ul Quwwah adalah menetapkan tujuan yang tinggi dan mulia. Hal ini berarti tidak puas dengan pencapaian kecil, melainkan harus berusaha menuju sesuatu yang bernilai abadi dan bermanfaat bagi umat manusia. Dalam Islam, tujuan mulia sering dikaitkan dengan ridha Allah Subhanahu wata’ala, seperti mencapai surga, menyebarkan dakwah Islam, atau berkontribusi pada kemajuan masyarakat.
Tanpa tujuan yang jelas dan ambisius, seseorang mudah terjebak dalam rutinitas yang tidak bermakna. Al-Qur’an menekankan pentingnya ambisi mulia dalam Surah Al-Insyirah ayat 5-6: “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan”.
Ayat ini mengingatkan bahwa perjuangan menuju tujuan tinggi akan diimbangi dengan kemudahan dari Allah Subhanahu wata’ala. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam sendiri menetapkan tujuan mulia: menyebarkan Islam di seluruh dunia, meskipun menghadapi tantangan besar. Untuk menetapkan tujuan tinggi, mulailah dengan introspeksi.
Tanyakan pada diri sendiri: Apa yang ingin saya capai dalam hidup ini? Apakah itu untuk keluarga, masyarakat, atau akhirat? Contohnya, seorang muslim modern bisa menetapkan tujuan menjadi ahli di bidangnya untuk berkontribusi pada umat, seperti dokter yang berjuang melawan pandemi atau pengusaha yang membangun bisnis halal serta memberdayakan para wirausaha, UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) dan lainnya.
Tujuan ini harus mulia, artinya tidak egois, melainkan berdasarkan nilai-nilai Islam seperti keadilan, persaudaraan, kebaikan, dan ibadah. Salah satu tantangan adalah rasa putus asa ketika tujuan terasa terlalu jauh.
Motivasi dari kisah para sahabat seperti Umar bin Khattab, yang berubah dari penentang Islam menjadi khalifah besar, menunjukkan bahwa tujuan tinggi dapat dicapai dengan ketekunan. Praktisnya, buatlah rencana langkah demi langkah: tetapkan target jangka pendek menuju tujuan besar, seperti belajar satu keterampilan baru setiap bulan untuk mencapai karier mulia.
Dalam konteks pendidikan, menetapkan tujuan tinggi berarti mendorong anak-anak muslim untuk bermimpi besar, seperti menjadi ulama atau ilmuwan yang berkontribusi pada dunia. Ini membangun kekuatan mental yang tahan lama, karena tujuan mulia memberikan motivasi intrinsik yang tidak bergantung pada imbalan duniawi semata.
2. Bersandar dan Bergantung kepada Zat yang Maha Kuat
Pilar kedua adalah bersandar dan bergantung kepada zat yang maha kuat, yaitu Allah Subhanahu wata’ala. Hal ini menekankan sikap tawakal, yaitu kepercayaan penuh kepada Allah Subhanahu wata’ala sambil berusaha maksimal. Tawakal adalah kombinasi antara usaha dan ketergantungan pada kekuatan Ilahi Rabbi.
Dalam Al-Qur’an Surat An-Nisa ayat 139, Allah Subhanahu wata’ala menjelaskan: “(Yaitu) orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin/pelindung dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang-orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan itu kepunyaan Allah”. Ayat ini menegaskan bahwa semua kekuatan (Al-‘Izzah) itu sepenuhnya milik Allah Subhanahu wata’ala, dan hanya Allah Subhanahu wata’ala Dia yang bisa memberikan kemuliaan sejati, bukan orang kafir.
Juga di dalam Al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 159, berfirman: “Dan bertawakallah kepada Allah yang Maha Kuat. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”. Tawakal mengajarkan bahwa manusia lemah, dan kekuatan sejati datang dari Allah Subhanahu wata’ala. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, meskipun pemimpin besar, selalu bertawakal dalam setiap keputusan, seperti saat hijrah ke Madinah atau perang Badar, dan lainnya.
Untuk bersandar kepada Allah Subhanahu wata’ala, mulailah dengan shalat lima waktu, dzikir, dan doa. Contoh; seorang pebisnis muslim yang menghadapi krisis ekonomi tidak hanya mengandalkan strategi bisnis, tetapi juga berdoa dan bertawakal bahwa Allah Subhanahu wata’ala akan memberikan jalan keluar. Ini membangun kekuatan spiritual yang membuat seseorang tenang di tengah badai.
Bersandar kepada Allah Subhanahu wata’ala mengurangi stres dan kecemasan, karena kita tahu bahwa segala sesuatu di bawah kendali-Nya. Dalam psikologi modern, hal ini mirip dengan “mindfulness” atau “trust in higher power,” yang terbukti meningkatkan resiliensi, yaitu kemampuan individu untuk beradaptasi, bangkit kembali, dan tetap tangguh menghadapi kesulitan, tekanan, trauma, atau perubahan besar dalam hidup, serta mampu berkembang menjadi lebih kuat setelah melewati masa sulit tersebut.
Kisah Nabi Yunus Alaihissalam, yang ditelan ikan karena lari dari tugas, lalu bertawakal kepada Allah Subhanahu wata’ala dan diselamatkan, menunjukkan bahwa tawakal membawa kekuatan luar biasa. Nabi Yunus bertawakal dan berdoa kepada Allah Subhanahu wata’ala, “Laa ilaha illa Anta, Subhanaka inni kuntu min al-zhalimin” (Tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang zalim).
Doa inilah yang membangkitkan kekuatan spiritualnya, membuat seluruh makhluk bertasbih, dan atas izin Allah Subhanahu wata’ala, ia diselamatkan karena doa tersebut dikabulkan sebagai pengakuan dosa dan penyerahan diri penuh.
Dalam era digital, tawakal membantu melawan godaan dunia maya. Seorang muslim yang bergantung pada Allah Subhanahu wata’ala akan lebih fokus pada ibadah daripada mencari validasi dari media sosial, sehingga membangun kekuatan karakter yang kokoh.
3. Tidak Bersandar kepada Kekuatan Diri Sedetik Pun
Pilar ketiga adalah tidak bersandar kepada kekuatan diri sedetik pun. Hal ini mengingatkan bahwa manusia pada dasarnya lemah dan rentan terhadap kesalahan. Bergantung pada diri sendiri dapat menimbulkan kesombongan atau kegagalan, karena kita tidak mampu mengontrol segala sesuatu.
Al-Qur’an Surah Al-Isra ayat 100: “Katakanlah (Muhammad), “Sekiranya kamu menguasai perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya (perbendaharaan) itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya. Dan manusia itu memang sangat kikir”. Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan manusia bersifat sementara. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, meskipun kuat, selalu mengakui kelemahannya dan bergantung pada Allah Subahanhu wata’ala, seperti dalam doa: “Ya Allah, aku lemah, maka kuatkanlah aku”.
Diri kita harus selalu diingatkan bahwa segala keberhasilan yang dicapai datang dari Allah Subhanahu wata’ala. Jika berhasil, maka ucapkan “alhamdulillah”; jika gagal, maka “bersabar dan introspeksi”. Contoh: seorang atlet muslim yang menang lomba, ia tidak sombong, melainkan bersyukur kepada Allah Subhanahu wata’ala, karena bagi atlet tersebut kekuatan fisiknya adalah anugerah dari Allah Subhanahu wata’ala.
Dalam dunia modern yang kompetitif ini, orang sering bergantung pada kemampuan pribadi, seperti kecerdasan atau kekayaan. Namun, ini dapat menyebabkan ‘burnout’ yaitu kondisi kelelahan fisik, emosional, dan mental yang ekstrem akibat stres berkepanjangan, terutama terkait pekerjaan, yang menyebabkan penurunan motivasi, kinerja, dan munculnya sikap negatif terhadap diri sendiri atau orang lain.
Dan sebaliknya, Bina’ul Quwwah mengajarkan keseimbangan: usaha maksimal tanpa mengklaim kekuatan sebagai miliknya sendiri. Hal ini dapat membangun kekuatan kolektif, seperti dalam komunitas muslim yang saling mendukung.
Jadi, Bina’ul Quwwah merupakan fondasi untuk membangun kekuatan sejati dalam kehidupan muslim. Dengan menetapkan tujuan tinggi, bertawakal kepada Allah Subhanahu wata’ala, dan menghindari ketergantungan pada diri sendiri, maka kita dapat mencapai kesuksesan yang berkelanjutan. Konsep ini tidak hanya teoritis, tetapi praktis: terapkan dalam rutinitas harian, seperti melalui niat yang kuat, doa yang tulus ikhlas, perencanaan, dan refleksi.
Kekuatan ini akan terbukti saat kita menghadapi hari perhitungan (yaumul hisab). Kekuatan tersebut adalah bekal spiritual (iman) dan amal jariyah yang menjadi penentu nasib seseorang di akhirat, di mana segala perbuatan baik dan buruk akan ditimbang dan dibalas setimpal, sebagaimana janji Allah Subhanahu wata’ala.
Mari kita jadikan Bina’ul Quwwah sebagai panduan hidup, sehingga kita menjadi umat yang kuat, mulia, dan bergantung pada Allah Subhanahu wata’ala. Melalui ketaatan pada Al-Qur’an, akhlak yang mulia, bermanfaat bagi sesama, serta membangun kekuatan bersama untuk kemajuan dunia dan akhirat, serta selaras dengan nilai-nilai kebangsaan seperti Pancasila sebagai fondasi kehidupan yang harmonis antara agama dan negara.
Semoga artikel ini bermanfaat; mari bersama-sama membangun kekuatan untuk memperkuat dakwah Islam, membawa manfaat dunia berupa kemajuan peradaban, kesejahteraan dan pahala akhirat dengan landasan persaudaraan (ukhuwah) yang saling menguatkan, sejalan dengan semangat membangun peradaban Islam yang berdimensi dunia dan akhirat. Wallahua’lam bishawab.
:: Tahun 2026 adalah lembaran kosong. Mari kita tulis dengan kisah-kisah positif dan membahagiakan, penuh makna, menyiratkan semangat positif untuk membangun kembali kebersamaan pribadi, keluarga, masyarakat dan dakwah Islam dengan penuh cinta dan pengertian. Mari kita tulis “babak baru” yang lebih baik dengan kasih sayang dan keharmonisan.
*** “2025: Thank you for the lessons. 2026: I am ready”. Siap menulis cerita baru. Pena sudah di tangan, 2026 adalah kertasnya. Bismillah 2026.
Twitter: @CepPangeran | IG/Tiktok: cecep.asmadiredja | LinkedIn: cecep y pramana