Skip to content

RUMAH PENA MOTIVASI

Menu
  • Home
  • Artikel
    • Ramadhan
    • Umroh
    • Keluarga
  • Motivasi
  • Cerita
  • Coretan
  • Dari Anda
  • Berita Iklan
  • Tentang Admin
Menu

Jubah Demokrasi: Antara Narasi dan Substansi

Posted on 15 June 202615 June 2026 by ceppangeran

@ G24 – Yogi Agus Salim

Rumah besar pasca reformasi tahun 1998 sering kita sebut Demokrasi. Sejak itulah, kita rakyat Indonesia bangga telah melucuti “Jubah Otoriter” dan mengganti “Jubah Demokrasi” sering diibaratkan sebagai rumah besar demokrasi.

Hajatan besar digelar 5 tahun sekali (Pemilu) DPR bersidang, media bebas bersuara. Semua atributnya lengkap. Pertanyaannya apakah rumah itu benar-benar dihuni penghuninya, atau hanya dipajang fasadnya saja?

Apakah benar demokrasi tersebut sesuai dengan nilai-nilai pancasila? Sesuai dengan sila ke 4  Pancasila, “Kerakyatan yang di Pimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan”.

Inilah yang disebut “jubah demokrasi”. Jubah adalah pakaian luar. Indah, megah, terlihat dari jauh. Tapi jubah tidak menjamin kehangatan. Begitu pula demokrasi. Kita punya semua simbolnya: kotak suara, fraksi partai, ruang sidang, hingga tagar #demokrasi.

Namun, substansinya sering terasa kosong. Aspirasi rakyat dibuka saat “reses”, tapi UU tetap disahkan saat tengah malam. Kritik dilabeli “tidak nasionalis”. Partisipasi publik jadi formalitas, bukan penentu kebijakan.

Akibatnya fatal, rakyat mulai apatis. Golput naik karena merasa suara tidak didengar. Kepercayaan ke lembaga demokrasi merosot. Yang terjadi bukan lagi “dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat”, tapi “dari elite, oleh elite, untuk elite” yang dibalut jubah demokrasi agar terlihat sah.

Demokrasi sejati bukan soal seringnya pemilu atau banyaknya partai. Demokrasi hidup saat suara tukang becak di pinggir jalan punya bobot sama dengan suara pengusaha di ruang rapat. Demokrasi nyata saat proses lebih penting dari hasil, dan transparansi lebih utama dari pencitraan.

Karena itu, mari kita berhenti hanya merapikan jubahnya. Sudah saatnya kita isi rumah demokrasi itu dengan keberanian, akuntabilitas, dan rasa keadilan. Karena tanpa substansi, jubah semegah apa pun pada akhirnya hanya akan jadi kostum.

Demokrasi di Indonesia masih terlalu muda, penuh dinamika, tidak kebal terhadap infiltrasi elite global. Polarisasi politik, manipulasi informasi di media sosial, pembungkaman suara dan praktik korupsi berjaring adalah bagian dari gejala yang kita alami. 

Sudah saatnya kita mendiagnosis di tengah situasi geopolitik global yang semakin tegang dan praktik kekuasaan otoriter. Berhenti bersikaf naif  dan mulai aktif menghadang laju otoritarianisme global baik dalam pemerintahan, ekonomi maupun teknologi. Wallahu a’lam bishawab.

0Shares
Category: Dari Anda

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Statistik

  • 2
  • 6,686
  • 1,122,809
  • 2,538

Tiket.com

banner

HALO MOTIVASI

Pelago.com – Travel

KREMES KRATON

ADIDAS ID

EIGER

LAZADA INDONESIA

diskonMU

NEOZEN KOREA

Pengunjung

Flag Counter

Arsip

Kategori

© 2026 RUMAH PENA MOTIVASI | Powered by Minimalist Blog WordPress Theme