Skip to content

RUMAH PENA MOTIVASI

Menu
  • Home
  • Artikel
    • Ramadhan
    • Umroh
    • Keluarga
  • Motivasi
  • Cerita
  • Coretan
  • Dari Anda
  • Berita Iklan
  • Tentang Admin
Menu

Mutarabbi yang Menghargai Murabbinya

Posted on 21 July 202620 July 2026 by ceppangeran

@ Cecep Y Pramana

“Adab dalam menuntut ilmu, hormat dalam proses pembinaan, dan rasa syukur kepada orang yang menuntun. Adab merupakan fondasi utama dalam menuntut ilmu, bahkan ditempatkan lebih tinggi daripada ilmu itu sendiri. Tanpa adab dan rasa hormat, ilmu yang diperoleh rentan kehilangan keberkahan dan manfaatnya bagi diri sendiri maupun orang lain”.

Ada seorang mutarabbi (binaan) yang pernah berkata kepada murabbinya, “Ustadz, saya mungkin tidak selalu mampu menjalankan semua nasihat yang diberikan. Saya juga masih sering lalai, tetapi saya ingin antum tahu, bahwa kehadiran antum dalam hidup saya telah membuat saya melihat banyak hal dengan cara yang berbeda.”

Murabbinya pun tersenyum. Ia tidak membutuhkan pujian, ia juga tidak menunggu penghargaan. Seorang murabbi hanya berharap proses pembinaan itu tidak berhenti. Begitulah hubungan yang baik antara seorang murabbi (pembina) dan mutarabbi (yang dibina).

Ia bukan sekadar hubungan antara seseorang yang menyampaikan materi dan seseorang yang mendengarkan. Ia adalah hubungan pembinaan, ada ilmu yang disampaikan, ada nasihat yang diberikan, ada waktu yang dikorbankan.

Ada pula kesabaran yang dilatih, dan ada doa-doa yang mungkin tidak pernah diketahui oleh seorang mutarabbi. Karena itu, seorang mutarabbi yang baik bukan hanya mampu menerima ilmu, tetapi ia juga harus mampu menghargai orang yang dengan ikhlas membantu dirinya bertumbuh.

Murabbi Bukan Manusia Sempurna
Dalam proses tarbiyah, ada satu hal yang perlu dipahami. Murabbi bukan manusia super yang sempurna. Ia juga memiliki kelemahan, ia bisa lelah, ia bisa lupa, bahkan ia mungkin juga tidak selalu menyampaikan sesuatu dengan cara yang sesuai dengan harapan kita.

Namun, kekurangan seorang murabbi tidak seharusnya membuat kita melupakan seluruh kebaikan yang telah ia berikan. Sebab, dalam kehidupan, kita sering kali mendapatkan manfaat dari seseorang yang juga masih terus belajar. Seorang murabbi tidak harus mengetahui segala hal untuk dapat mengajarkan sesuatu.

Seorang murabbi tidak harus sempurna untuk dapat membantu mutarabbinya menjadi lebih baik. Yang penting adalah ketulusan untuk belajar, berbagi, membimbing, dan terus memperbaiki diri. Seorang mutarabbi yang dewasa memahami hal ini.

Ia tidak menempatkan murabbinya sebagai sosok yang tidak boleh dikritik. Namun, ia juga tidak menjadikan kekurangan sebagai alasan untuk kehilangan adab kepada murabbinya. Kritik dapat disampaikan, pertanyaan boleh diajukan, perbedaan pendapat dapat dibicarakan. Namun, semua itu tetap dilakukan dengan penghormatan.

Menghargai Murabbi Berarti Menghargai Proses Ilmu
Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11). Ilmu memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam.

Dan orang yang membantu kita mendapatkan ilmu memiliki tempat yang layak untuk dihormati. Menghargai murabbi bukan berarti mengkultuskan, menghargai murabbi berarti menyadari bahwa ada seseorang yang telah bersedia menyediakan waktu untuk membantu proses pertumbuhan kita.

Bayangkan, seorang murabbi yang tetap hadir setelah menjalani hari yang panjang. Ia mungkin memiliki pekerjaan, ia mungkin memiliki keluarga, ia mungkin memiliki masalah pribadi. Namun, ia tetap berusaha hadir dalam halaqah.

Menyiapkan materi, mendengarkan cerita, menjawab pertanyaan, mengingatkan ketika kita lalai, menyemangati ketika kita lemah, dan bahkan mendoakan kita, bahkan ketika kita tidak mengetahuinya. Terkadang, kita terlalu mudah menganggap semua itu sebagai sesuatu yang biasa. Padahal, tidak semua orang bersedia melakukannya.

Jangan Hanya Menghargai Murabbi dengan Kata-Kata
Menghargai murabbi bukan hanya dengan mengatakan, “Terima kasih”. Ucapan itu baik, namun penghargaan yang lebih dalam terlihat dari sikap. Datang tepat waktu, memberi kabar ketika berhalangan, menyimak ketika murabbi menyampaikan materi.

Mempersiapkan diri sebelum halaqah, mengamalkan ilmu yang dipelajari, bertanya ketika belum memahami, menerima nasihat dengan hati yang terbuka. Dan menunjukkan kesungguhan untuk terus bertumbuh. Seorang murabbi tentu tidak mengharapkan mutarabbinya menjadi sempurna dalam waktu singkat.

Namun, ia akan merasa bahagia ketika melihat ada perubahan. Mutarabbi yang dahulu mudah menyerah, kini mulai bertahan, mutarabbi yang dahulu jarang membaca, kini mulai mencintai ilmu. Mutarabbi yang dahulu mudah marah, kini belajar menahan diri, mutarabbi yang dahulu jauh dari Al-Qur’an, kini mulai kembali mendekat. Perubahan kecil seperti itu adalah hadiah besar bagi seorang murabbi.

Jangan Menunggu Kehilangan untuk Menghargai
Ada banyak orang yang baru menyadari nilai seseorang setelah orang itu tidak lagi hadir. Ketika masih ada, nasihat dianggap biasa. Ketika masih bisa bertemu, kehadiran dianggap sederhana. Ketika masih dapat berdiskusi, waktu dianggap tidak terlalu berharga.

Namun, setelah jarak memisahkan, barulah kita menyadari: “Ternyata, saya merindukan nasihatnya”. “Ternyata, saya membutuhkan percakapan itu”. “Ternyata, ada banyak hal yang dulu saya anggap biasa, tetapi sekarang sangat berarti”. Jangan menunggu kehilangan untuk menghargai.

Jika ada murabbi yang telah membantu kita dalam perjalanan, maka hargailah selagi masih ada kesempatan. Sampaikan terima kasih, jaga komunikasi, doakan kebaikan untuknya. Tunjukkan bahwa proses pembinaan itu tidak sia-sia.

Sebab, salah satu kebahagiaan terbesar seorang murabbi adalah melihat mutarabbinya terus tumbuh, bahkan ketika suatu hari nanti ia tidak lagi berada di dekatnya. Kebahagiaan tertinggi seorang murabbi bukan terletak pada ketergantungan mutarabbi kepadanya, melainkan pada kemandirian dan keberhasilan mutarabbi dalam mengamalkan ilmu serta menebarkan manfaat secara mandiri.

Mutarabbi yang Baik Akan Menjadi Penerus Kebaikan
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim).

Ilmu yang ditanamkan oleh seorang murabbi dapat terus hidup melalui mutarabbinya. Satu nasihat dapat diteruskan, satu kebiasaan baik dapat diwariskan, satu pemahaman dapat disampaikan kepada generasi berikutnya. Karena itu, penghargaan terbaik kepada seorang murabbi bukan hanya dengan mengingat namanya.

Tetapi dengan melanjutkan kebaikan yang pernah ia ajarkan. Jika dahulu murabbi mengajarkan kita untuk mencintai Al-Qur’an, maka teruslah mencintai Al-Qur’an. Jika dahulu ia mengajarkan kita untuk peduli kepada umat, maka teruslah peduli.

Jika dahulu ia mengajarkan kita untuk berdakwah, maka lanjutkan dakwah itu. Jika dahulu ia mengajarkan kita untuk menjadi manusia yang bermanfaat, maka jadilah manusia yang bermanfaat. Dengan cara itulah, seorang mutarabbi dapat menjadi bukti bahwa proses tarbiyah telah memberikan pengaruh.

Menghargai Murabbi adalah Bagian dari Adab
Dalam Islam, adab memiliki kedudukan yang sangat penting. Ilmu tanpa adab dapat kehilangan keberkahan. Kecerdasan tanpa kerendahan hati dapat berubah menjadi kesombongan. Karena itu, seorang mutarabbi perlu belajar bukan hanya bagaimana memahami materi, tetapi juga bagaimana bersikap kepada orang yang mengajarkan dan membimbingnya.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang lebih muda dan tidak mengetahui hak orang yang lebih tua.” (HR. Tirmidzi). Menghormati orang yang lebih dahulu belajar, lebih dahulu berjuang, dan lebih dahulu menjalani proses adalah bagian dari akhlak.

Namun, penghormatan tidak berarti kehilangan sikap kritis. Seorang mutarabbi tetap boleh bertanya. Tetap boleh berdiskusi, tetap boleh menyampaikan pandangan. Tetapi ia melakukannya dengan adab. Karena perbedaan pendapat tidak harus menghilangkan rasa hormat.

Pada Akhirnya, Tarbiyah adalah Perjalanan Bersama
Murabbi dan mutarabbi sebenarnya sedang berjalan menuju tujuan yang sama. Keduanya sama-sama membutuhkan Allah Subhanahu wata’ala. Keduanya sama-sama perlu belajar, keduanya sama-sama memiliki kelemahan.

Perbedaan mereka mungkin hanya pada posisi dan tanggung jawab dalam proses pembinaan. Murabbi membimbing, dan mutarabbi belajar. Namun, dalam perjalanan itu, keduanya sama-sama bertumbuh. Seorang murabbi mungkin mengajarkan kesabaran kepada mutarabbinya. Namun, melalui mutarabbinya, ia juga belajar menjadi lebih sabar.

Seorang murabbi mungkin mengajarkan keikhlasan. Namun, dalam proses membimbing, ia juga terus belajar untuk ikhlas. Maka, hubungan murabbi dan mutarabbi bukan hubungan yang sempurna. Ia adalah hubungan manusia yang sedang berusaha berjalan menuju kebaikan. Karena itu, jagalah dengan adab.

Hormatilah dengan tulus, hargailah dengan tindakan. Jika kita memiliki seorang murabbi yang pernah membantu kita dalam perjalanan hidup, maka jangan anggap kehadirannya sebagai sesuatu yang biasa. Mungkin ia pernah mengingatkan ketika kita lalai, mungkin ia pernah bertanya ketika kita menghilang.

Mungkin ia pernah menunggu kehadiran kita, mungkin ia pernah mendoakan kita dalam diam. Dan mungkin, tanpa kita sadari, ada bagian dari kebaikan yang kita miliki hari ini yang tumbuh dari proses yang pernah ia tanamkan. Karena itu, jadilah mutarabbi yang menghargai murabbinya.

Bukan dengan pujian yang berlebihan, bukan dengan penghormatan yang melampaui batas. Tetapi dengan adab, kesungguhan, dan kesediaan untuk terus bertumbuh. Karena penghargaan terbaik seorang mutarabbi kepada murabbinya adalah ketika ia mampu berkata melalui kehidupannya: “Nasihat yang dahulu engkau ajarkan tidak berhenti di telingaku. Ia tumbuh dalam hidupku, dan akan terus aku lanjutkan dalam kebaikan.”

Semoga Allah Subhanahu wata’ala menjaga para murabbi yang ikhlas membimbing umat. Semoga Allah Subhanahu wata’ala memberikan kesabaran, kekuatan, dan keberkahan kepada mereka. Dan semoga Allah Subhanahu wata’ala menjadikan para mutarabbi sebagai pribadi-pribadi yang beradab, bersungguh-sungguh, dan mampu meneruskan kebaikan yang telah mereka terima. Wallahu a’lam bishawab.

2Shares
Category: Artikel

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Statistik

  • 2
  • 3,914
  • 1,149,757
  • 2,579

Tiket.com

banner

HALO MOTIVASI

Pelago.com – Travel

KREMES KRATON

ADIDAS ID

EIGER

LAZADA INDONESIA

diskonMU

NEOZEN KOREA

Pengunjung

Flag Counter

Arsip

Kategori

© 2026 RUMAH PENA MOTIVASI | Powered by Minimalist Blog WordPress Theme