Rasulullah SAW Teladan Kita
@ Cecep Y Pramana
Ada nama yang begitu akrab di telinga seorang Muslim. Kita mendengarnya dalam adzan, menyebutnya dalam shalat, bershalawat atasnya. Kisah hidupnya diceritakan sejak kita kecil. Namanya hadir dalam kajian, buku, pengajian, dan berbagai bentuk pembelajaran Islam.
Nama itu adalah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam. Namun, ada satu pertanyaan yang lebih penting daripada sekadar, “Seberapa banyak kita mengenal Rasulullah SAW?” Pertanyaannya adalah: “Seberapa jauh kita menjadikan beliau sebagai teladan dalam kehidupan?”
Sebab mengenal Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam seharusnya tidak berhenti pada pengetahuan tentang sejarah. Sirah Nabawiyah bukan hanya kisah masa lalu. Di dalamnya terdapat cermin untuk melihat diri kita hari ini. Kita belajar bagaimana beliau menghadapi kesulitan.
Bagaimana beliau memperlakukan keluarga, berbicara kepada orang lain, menghadapi orang yang berbeda, memimpin, bersabar ketika dakwah ditolak. Dan bagaimana beliau tetap dekat dengan Allah Subhanahu wata’ala ketika kehidupan terasa berat.
Rasulullah SAW Bukan Sosok yang Jauh
Kadang tanpa sadar kita menempatkan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam sebagai sosok yang begitu agung sehingga terasa jauh dari kehidupan kita. Kita berkata, “Beliau adalah Nabi. Tentu bisa seperti itu. Kita hanya manusia biasa.” Padahal justru karena Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia, kehidupan beliau dapat menjadi teladan bagi manusia.
Beliau makan dan minum, tidur dan beristirahat, berkeluarga, bekerja, merasakan sakit, bersedih ketika kehilangan orang yang dicintai. Dan Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam ketika menghadapi tekanan dan penolakan. Namun, di tengah seluruh sisi kemanusiaan itu, beliau menjalankan amanah terbesar sebagai Rasul Allah Subhanahu wata’ala.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Katakanlah, sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.” (QS. Al-Kahfi: 110). Ayat ini mengajarkan tentang keseimbangan.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia, tetapi beliau membawa wahyu. Beliau hidup dalam dunia nyata, tetapi hatinya selalu terhubung dengan Allah Subhanahu wata’ala. Karena itu, mengikuti Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bukan sesuatu yang mustahil. Beliau menunjukkan kepada kita bagaimana iman diterjemahkan menjadi kehidupan.
Teladan yang Tidak Pernah Kehilangan Relevansi
Dunia berubah, teknologi berkembang, cara manusia berkomunikasi berubah, dan generasi juga berganti. Tetapi manusia tetap memiliki persoalan yang hampir sama. Kita masih membutuhkan kejujuran. Kita masih membutuhkan kasih sayang. Kita masih membutuhkan kesabaran.
Kita masih membutuhkan keadilan. Kita masih membutuhkan keluarga yang saling menguatkan. Kita masih membutuhkan pemimpin yang amanah. Kita masih membutuhkan manusia yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.
Dan semua nilai itu telah dicontohkan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21).
Perhatikan kata uswah. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bukan sekadar seseorang yang dikagumi. Beliau adalah seseorang yang diikuti. Ada perbedaan besar antara mengagumi dan meneladani. Mengagumi membuat kita senang mendengar kisahnya.
Meneladani membuat kita berusaha mengubah diri. Mengagumi membuat kita bershalawat. Meneladani membuat kita belajar memperbaiki akhlak. Mengagumi membuat kita mengenal sejarahnya. Meneladani membuat sejarah itu hidup kembali dalam perilaku kita.
Akhlak Adalah Wajah dari Keimanan
Ketika seseorang ingin mengetahui seperti apa Islam yang hidup dalam diri seorang Muslim, salah satu hal yang paling mudah dilihat adalah akhlaknya. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam adalah teladan terbaik dalam hal ini. Allah Subhanahu wata’ala memberikan kesaksian: “Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4).
Akhlak Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam terlihat dalam banyak hal. Beliau lembut kepada orang yang lemah. Beliau menghormati orang lain. Beliau tidak menjadikan kekuasaan sebagai alasan untuk menyombongkan diri. Beliau peduli kepada keluarga. Beliau menyayangi anak-anak. Beliau menghargai orang yang berbeda.
Beliau memaafkan ketika memiliki kesempatan untuk membalas. Dan beliau tetap tegas ketika kebenaran harus ditegakkan. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Tirmidzi).
Maka, ukuran keberhasilan kita dalam belajar agama tidak hanya terlihat dari bertambahnya pengetahuan. Ia juga terlihat dari perubahan sikap. Apakah kita semakin sabar? Apakah kita semakin jujur? Apakah kita semakin rendah hati?
Apakah kita semakin mudah meminta maaf? Apakah kita semakin mampu menjaga lisan? Apakah kehadiran kita membuat orang lain merasa aman? Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang membuat pembelajaran tentang Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menjadi hidup.
Ketika Dunia Mengajarkan Kita untuk Mementingkan Diri
Kita hidup pada zaman yang sering membuat manusia berlomba menunjukkan dirinya. Media sosial mendorong orang untuk memperlihatkan pencapaian. Lingkungan terkadang membuat kita sibuk membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan orang lain.
Kita mudah mengejar pengakuan. Mudah merasa kurang, mudah tersinggung, mudah marah, mudah menilai seseorang hanya dari apa yang terlihat. Di tengah situasi seperti ini, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kesederhanaan dan ketulusan.
Beliau tidak menjadikan kemuliaan sebagai alasan untuk merasa lebih tinggi. Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam hidup dekat dengan umatnya, mendengar keluhan, menyapa, membantu, memberi, dan hadir di tengah masyarakat.
Dalam sebuah hadis, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ahmad). Pesan ini sangat relevan untuk siapa pun. Untuk anak muda yang sedang mencari arah hidup.
Untuk orang tua yang sedang membesarkan keluarga. Untuk pekerja yang sedang membangun karier. Untuk pemimpin yang sedang memegang amanah. Untuk siapa saja yang ingin kehidupannya memiliki arti. Pertanyaannya bukan hanya: “Apa yang sudah saya dapatkan?” Tetapi juga: “Apa yang sudah saya berikan?”
Meneladani Rasulullah Dimulai dari Hal Sederhana
Kadang kita membayangkan meneladani Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam harus dimulai dari sesuatu yang besar. Padahal keteladanan dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Berbicara jujur ketika berbohong terasa lebih mudah. Menahan amarah ketika kita memiliki alasan untuk marah. Meminta maaf ketika melakukan kesalahan. Memaafkan ketika hati masih terluka.
Menghormati orang tua. Menyayangi keluarga. Menjaga amanah. Tidak merendahkan orang lain. Menyempatkan diri membaca Al-Qur’an. Menjaga shalat. Memperbanyak shalawat. Berbuat baik meskipun tidak ada yang melihat. Di situlah sunnah menjadi kehidupan. Bukan sekadar sesuatu yang kita hafalkan, tetapi sesuatu yang kita jalankan.
Cinta kepada Rasulullah Harus Mengubah Kita
Kita sering mengatakan bahwa kita mencintai Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Itu adalah ungkapan yang sangat mulia. Namun, cinta memiliki konsekuensi. Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Katakanlah, jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai dan mengampuni dosa-dosamu.” (QS. Ali ‘Imran: 31).
Mengikuti Rasulullah SAW adalah bukti cinta. Karena itu, jangan berhenti pada rasa kagum. Jangan berhenti pada cerita. Jangan berhenti pada shalawat. Biarkan kecintaan kepada Rasulullah SAW perlahan mengubah cara kita hidup. Jika kita mencintai Rasulullah, semestinya lisan kita semakin terjaga.
Jika kita mencintai Rasulullah, semestinya keluarga merasakan kelembutan kita. Jika kita mencintai Rasulullah, semestinya amanah menjadi sesuatu yang kita jaga. Jika kita mencintai Rasulullah, semestinya kita tidak mudah menyakiti orang lain. Jika kita mencintai Rasulullah, semestinya hubungan kita dengan Allah semakin baik.
Rasulullah SAW dan Kehidupan Kita Hari Ini
Kita tidak hidup di Madinah pada masa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Kita hidup di zaman digital. Kita menghadapi persoalan yang berbeda. Namun, nilai yang beliau ajarkan tetap dapat menjadi pegangan. Ketika menerima berita yang belum jelas, kita belajar tabayyun.
Ketika berbeda pendapat, kita belajar menjaga adab. Ketika mendapat amanah, kita belajar bertanggung jawab. Ketika berhasil, kita belajar rendah hati. Ketika gagal, kita belajar sabar. Ketika memiliki kelebihan, kita belajar berbagi. Ketika disakiti, kita belajar mengendalikan diri.
Ketika mendapatkan ujian, kita belajar kembali kepada Allah Subhanahu wata’ala. Itulah makna menjadikan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam sebagai teladan. Bukan memindahkan kehidupan masa lalu secara mentah ke zaman sekarang. Tetapi menghadirkan nilai-nilai kenabian dalam konteks kehidupan kita hari ini.
Jadikan Beliau Teladan, Bukan Sekadar Kenangan
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam telah wafat lebih dari empat belas abad yang lalu. Namun, teladan beliau tidak pernah selesai dipelajari. Setiap generasi menemukan pelajaran baru dari kehidupan beliau. Anak muda menemukan keberanian. Orang tua menemukan kesabaran.
Pemimpin menemukan amanah. Pendidik menemukan metode membina manusia. Keluarga menemukan kasih sayang. Orang yang sedang diuji menemukan keteguhan. Dan siapa pun yang sedang mencari arah hidup menemukan satu hal penting: Bahwa hidup yang baik bukan hanya tentang seberapa banyak yang kita miliki, tetapi tentang seberapa benar kita menjalani amanah Allah Subhanahu wata’ala.
Maka, mari mengenal Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam lebih dalam. Bukan hanya untuk mengetahui kisahnya. Tetapi untuk menemukan diri kita di dalam teladan beliau. Ketika marah, ingat kelembutannya. Ketika diuji, ingat kesabarannya. Ketika berhasil, ingat kerendahan hatinya. Ketika memiliki kesempatan membalas, ingat keluasan maafnya.
Ketika bingung menentukan arah, kembali kepada Al-Qur’an dan sunnahnya. Sebab Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bukan sekadar nama yang kita sebut. Beliau adalah teladan yang Allah Subhanahu wata’ala hadirkan agar kita memiliki contoh nyata tentang bagaimana menjadi seorang hamba.
Semoga Allah Subhanahu wata’ala menumbuhkan cinta kita kepada Rasulullah SAW, menghidupkan sunnahnya dalam kehidupan kita, memperindah akhlak kita dengan akhlak yang mulia, dan menjadikan kita bagian dari umat yang beliau cintai. Allahumma shalli wa sallim ‘ala Sayyidina Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam. Wallahu a’lam bishawab.