Belajar Menghitung Nikmat Sendiri

@ Cecep Y Pramana

Ada kalanya kita terlalu sibuk melihat kehidupan orang lain. Melihat pencapaian mereka. Melihat rezeki mereka. Melihat rumah yang mereka miliki. Melihat pekerjaan yang mereka jalani. Melihat perjalanan hidup yang tampak begitu baik dari luar.

Tanpa sadar, kita mulai membandingkan. Kita bertanya, “Mengapa hidupnya lebih mudah?” “Mengapa rezekinya lebih banyak?” “Kapan aku bisa seperti mereka?” Padahal, semakin sering kita menghitung nikmat orang lain, semakin mudah kita lupa menghitung nikmat yang Allah Subhanahu wata’ala titipkan kepada diri sendiri.

Apa yang kita miliki hari ini mungkin terasa biasa karena sudah terlalu sering kita nikmati. Kesehatan terasa biasa karena setiap hari kita bangun tanpa banyak keluhan. Keluarga terasa biasa karena mereka selalu ada ketika kita membutuhkan.

Rumah terasa biasa karena setiap hari menjadi tempat kita pulang. Pekerjaan terasa biasa karena sudah menjadi rutinitas. Bahkan kesempatan untuk beribadah terkadang terasa biasa karena Allah Subhanahu wata’ala masih memberi kita waktu dan kemampuan untuk melakukannya.

Padahal, bagi seseorang di luar sana, bisa jadi semua itu adalah sesuatu yang sangat mereka harapkan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman dalam Al-Qur’an surat Ibrahim ayat 7, “Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu.”

Syukur bukan berarti kita berhenti memiliki cita-cita. Kita tetap boleh ingin hidup lebih baik. Tetap boleh bekerja lebih keras. Tetap boleh mengejar impian dan memperbaiki masa depan. Namun, jangan biarkan keinginan terhadap sesuatu yang belum kita miliki membuat kita buta terhadap begitu banyak nikmat yang sudah ada.

Sebab hati yang terus membandingkan akan mudah merasa kurang. Sebaliknya, hati yang belajar bersyukur akan menemukan kecukupan bahkan di tengah kesederhanaan. Maka, sesekali berhentilah mengejar pandangan ke luar. Lihatlah ke dalam.

Hitung kembali berapa banyak nikmat yang masih Allah Subhanahu wata’ala titipkan. Hitung orang-orang yang masih menyayangi kita. Hitung kesempatan yang masih terbuka. Hitung kesehatan, waktu, iman, keluarga, dan kesempatan untuk memperbaiki diri.

Mungkin setelah itu kita akan menyadari: Ternyata hidup kita tidak sesedikit yang selama ini kita kira. Kita hanya terlalu sering membandingkannya dengan milik orang lain.Syukur membuat hati merasa cukup. Bukan karena semua yang kita inginkan sudah dimiliki, tetapi karena kita menyadari bahwa apa yang Allah Subhanahu wata’ala berikan hari ini pun sudah sangat layak untuk disyukuri. Bismillah.

2Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *