Membangun Militansi Kader
@ Cecep Y Pramana
Militansi kader tidak lahir dalam satu malam. Ia tumbuh dari proses yang panjang. Dari pertemuan yang terus berulang. Dari nasihat yang terus menerus diberikan. Dari kesediaan untuk terus belajar. Dari kesanggupan bertahan ketika keadaan tidak selalu mudah. Seorang kader mungkin pernah begitu bersemangat.
Namun, perjalanan waktu mengajarkan bahwa semangat saja tidak cukup. Ada masa ketika agenda terasa padat. Ada saat ketika persoalan pribadi datang bersamaan dengan tanggung jawab organisasi. Ada kalanya apresiasi tidak kunjung terlihat. Bahkan, mungkin muncul rasa lelah dan pertanyaan dalam hati, “Sampai kapan saya harus terus berjalan?”
Di titik seperti itulah militansi diuji. Militansi bukan sekadar keberanian untuk tampil di depan. Bukan pula sekadar banyaknya aktivitas yang diikuti. Militansi adalah kemampuan untuk tetap menjaga komitmen ketika tidak ada yang melihat, tetap menjalankan amanah ketika tidak mendapatkan pujian, dan tetap bergerak ketika suasana hati sedang tidak mendukung.
Militansi Berawal dari Niat
Sebelum berbicara tentang kerja keras kader, kita perlu kembali bertanya kepada diri sendiri: Untuk apa saya berada di jalan ini? Pertanyaan sederhana, tetapi jawabannya sangat menentukan. Jika perjuangan hanya dibangun atas kepentingan pribadi, militansi mudah runtuh ketika kepentingan itu tidak terpenuhi.
Namun, jika perjuangan dibangun karena Allah Subhanahu wata’ala, maka orientasinya menjadi lebih panjang. Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena menjalankan agama…” (QS. Al-Bayyinah: 5).
Ikhlas bukan berarti tidak boleh mendapatkan apresiasi. Ikhlas berarti apresiasi bukan alasan utama kita bergerak. Ketika niat diluruskan, pekerjaan sederhana pun memiliki nilai ibadah. Datang tepat waktu. Menghadiri pembinaan. Membantu kegiatan. Menyapa masyarakat. Mendengarkan keluhan orang lain. Menyelesaikan amanah yang diberikan. Semua dapat menjadi amal ketika dilakukan dengan niat yang benar.
Kader Tidak Hanya Dibentuk oleh Materi, tetapi oleh Proses
Militansi tidak cukup dibangun melalui ceramah. Ia membutuhkan pengalaman. Seorang kader perlu diberi ruang untuk belajar bertanggung jawab. Perlu diberi kesempatan memimpin. Perlu merasakan bagaimana menyelesaikan masalah. Perlu belajar bekerja bersama orang yang berbeda karakter.
Karena itu, pembinaan kader seharusnya tidak hanya bertanya: “Apa yang sudah dipahami?” Tetapi juga: “Apa yang sudah diamalkan?”. “Amanah apa yang sudah diselesaikan?”. “Siapa yang sudah dibantu?”. “Masalah apa yang sudah berani dihadapi?”
Ilmu memberi arah. Pengalaman memberi kematangan. Pembinaan memberi kekuatan. Sedangkan amal membuktikan semuanya. Pengetahuan, proses belajar, dan latihan hidup harus diwujudkan melalui tindakan nyata agar memiliki nilai yang utuh.
Militansi Bukan Fanatisme
Penting untuk memahami bahwa militansi tidak sama dengan fanatisme. Militansi berarti teguh dalam prinsip, disiplin dalam amanah, dan konsisten dalam kebaikan. Fanatisme membuat seseorang sulit menerima koreksi. Militansi justru membuat seseorang siap dievaluasi.
Kader yang militan tidak takut mendapatkan nasihat. Ia tidak merasa harga dirinya jatuh hanya karena dikoreksi. Ia memahami bahwa perjalanan perjuangan adalah perjalanan belajar. Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-Ankabut: 69).
Kesungguhan adalah bagian dari jalan menuju pertolongan Allah Subhanahu wata’ala. Karena itu, jangan menunggu semuanya sempurna untuk mulai bergerak. Mulailah dari apa yang mampu dilakukan. Lakukan dengan sungguh-sungguh. Kemudian terus perbaiki.
Kader yang Militan Tidak Mudah Hilang Ketika Sulit
Ada orang yang aktif ketika suasana sedang menyenangkan. Ketika kegiatan ramai, ia hadir. Ketika banyak orang memberikan apresiasi, ia bersemangat. Namun ketika keadaan berubah, ia perlahan menghilang. Padahal, kualitas seorang kader justru terlihat ketika keadaan tidak ideal.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling kontinu meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini memberikan pelajaran yang sangat dalam. Allah Subhanahu wata’ala tidak hanya melihat seberapa besar sesuatu yang kita lakukan. Ada nilai besar dalam konsistensi.
Lebih baik sedikit tetapi terus berjalan daripada besar sesaat lalu berhenti. Lebih baik satu langkah setiap hari daripada berlari jauh kemudian kehilangan arah. Militansi adalah kemampuan menjaga langkah. Konsistensi dan ketekunan kecil jauh lebih berharga daripada semangat besar yang cepat padam.
Menjaga Ruhiyah di Tengah Kesibukan
Kader yang sibuk dengan aktivitas tetapi kehilangan kedekatan dengan Allah Subhanahu wata’ala perlu berhenti sejenak dan melakukan evaluasi. Sebab perjuangan membutuhkan energi spiritual. Shalat harus dijaga. Al-Qur’an harus tetap menjadi teman. Doa harus diperbanyak. Istighfar harus dibiasakan. Majelis ilmu harus dirawat.
Karena manusia memiliki batas tenaga, tetapi pertolongan Allah tidak terbatas. Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28). Ruhiyah yang kuat bukan berarti hidup tanpa masalah.
Ruhiyah yang kuat berarti memiliki tempat kembali ketika masalah datang. Kader boleh lelah. Kader boleh beristirahat. Tetapi jangan kehilangan arah. Kekuatan spiritual (ruhiyah) menjadi jangkar utama bagi seorang kader saat menghadapi berbagai ujian perjuangan.
Militansi Tumbuh dalam Kebersamaan
Tidak ada perjuangan besar yang dibangun sendirian. Kader membutuhkan saudara seperjalanan. Membutuhkan murabbi yang mengingatkan. Membutuhkan teman yang menguatkan. Membutuhkan lingkungan yang menjaga semangat.
Karena itu, ukhuwah bukan sekadar pelengkap dalam pembinaan. Ukhuwah adalah salah satu kekuatan utama yang membuat seseorang mampu bertahan. Ketika satu orang mulai lelah, yang lain menguatkan. Ketika seseorang jatuh, yang lain membantu berdiri.
Ketika seseorang kehilangan arah, yang lain mengingatkan kembali tujuan. Inilah makna kebersamaan dalam perjuangan. Bukan berarti semua orang selalu kuat. Tetapi ketika ada yang lemah, yang lain tidak membiarkannya berjalan sendirian.
Jangan Menunggu Menjadi Besar untuk Memberi Kontribusi
Kadang seorang kader merasa dirinya belum cukup hebat untuk berbuat sesuatu. Belum memiliki jabatan. Belum memiliki banyak pengalaman. Belum memiliki kemampuan yang besar. Padahal, kontribusi tidak selalu membutuhkan posisi yang tinggi.
Ada yang pandai berbicara, kuat dalam mengorganisasi, teliti mengelola administrasi, senang mendampingi anak muda, mampu membangun hubungan dengan masyarakat, dan ada yang bekerja dalam diam, tetapi hasilnya dirasakan banyak orang.
Setiap orang memiliki ruang kontribusi. Yang dibutuhkan bukan menjadi seperti orang lain, tetapi menemukan kemampuan terbaik yang Allah Subhanahu wata’ala titipkan kepada diri kita. Setiap manusia diciptakan dengan keunikan serta peran yang berbeda untuk membawa kebaikan bagi sesama.
Militansi Perlu Dirawat
Semangat kader seperti api yang perlu dijaga. Jika tidak dirawat, ia dapat meredup. Karena itu, militansi perlu dibangun melalui pembinaan yang berkelanjutan, komunikasi yang sehat, keteladanan, evaluasi, penghargaan, dan ruang aktualisasi. Kader perlu merasa bahwa perjuangannya memiliki makna.
Pembina atau pembimbing perlu hadir bukan hanya untuk memberi tugas, tetapi juga untuk mendengarkan. Organisasi perlu memberikan ruang, bukan hanya tuntutan. Sesama kader perlu saling menguatkan, bukan saling membandingkan. Sebab manusia bukan mesin.
Ada rasa lelah. Ada persoalan keluarga. Ada kebutuhan ekonomi. Ada fase kehidupan yang berubah. Maka membangun militansi juga berarti memahami manusia yang sedang dibina. Membangun militansi yang sejati harus dimulai dari kepedulian terhadap kondisi nyata manusia yang dibina. Militansi tidak akan tumbuh dari paksaan, melainkan dari rasa aman dan dipahami.
Pada Akhirnya, Kita Akan Ditanya tentang Amanah
Setiap kader memiliki fase hidup masing-masing. Ada masa belajar, masa berkhidmat, masa memimpin, dan masa menjadi pendamping bagi generasi berikutnya. Apa pun posisinya, semuanya adalah amanah.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya…” (QS. An-Nisa: 58). Karena itu, jangan terlalu sibuk menghitung seberapa besar posisi yang kita dapatkan. Lebih baik bertanya: Seberapa baik amanah yang sudah kita jalankan?
Jangan terlalu sibuk menghitung berapa banyak orang yang mengikuti kita. Tanyakan: Berapa banyak orang yang menjadi lebih baik karena kehadiran kita? Jangan hanya bertanya kapan perjuangan akan memberikan hasil. Tanyakan: Apa yang sudah kita berikan selama berada di jalan perjuangan ini?
Menjadi Kader yang Tetap Menyala
Militansi sejati bukan tentang siapa yang paling keras suaranya. Bukan tentang siapa yang paling banyak tampil. Bukan tentang siapa yang paling lama bertahan dalam sebuah posisi. Militansi adalah tentang hati yang tetap terhubung kepada Allah Subhanahu wata’ala, langkah yang tetap bergerak dalam kebaikan, dan kesediaan menjaga amanah meskipun perjalanan tidak selalu mudah.
Mungkin suatu hari nama kita tidak lagi disebut. Mungkin jabatan akan berganti. Mungkin panggung akan berpindah kepada generasi berikutnya. Tidak apa-apa. Yang penting, kebaikan terus berjalan. Sebab perjuangan yang ikhlas tidak bergantung pada siapa yang mendapatkan sorotan.
Ia bergantung pada seberapa tulus kita menjalankan amanah. Maka, bangunlah militansi kader dari hati yang ikhlas, ilmu yang terus bertumbuh, ibadah yang terjaga, ukhuwah yang kuat, dan amal yang konsisten.Karena kader yang baik bukan hanya mereka yang mampu bergerak cepat.
Tetapi mereka yang tahu mengapa harus bergerak, untuk siapa harus bergerak, dan kepada siapa seluruh perjuangan itu akhirnya dipersembahkan. Allah SWT. Semoga kita menjadi kader yang tidak hanya aktif ketika dibutuhkan, tetapi selalu siap ketika amanah datang.
Tidak hanya kuat ketika dipuji, tetapi tetap teguh ketika diuji. Tidak hanya bersemangat di awal perjalanan, tetapi mampu menjaga langkah sampai akhir. Bergerak karena Allah Subhanahu wata’ala. Berkhidmat untuk umat. Menjaga amanah. Dan terus bertumbuh menjadi lebih baik. Wallahu a’lam bishawab.