Halaqah yang Sangat Dirindukan

@ Cecep Y Pramana

Ada masa ketika saya membayangkan halaqah sebagai sebuah majelis yang selalu menyenangkan. Bayangan itu tumbuh dari cerita seorang teman yang lebih dahulu mengikuti halaqah. Ia bercerita tentang suasana yang hangat, murabbi yang menyenangkan, teman-teman yang akrab, materi yang menarik, dan pertemuan yang selalu dinanti.

Cerita itu membuat ekspektasi saya tumbuh tinggi. Dalam bayangan saya, kelak saya akan mendapatkan murabbi yang ideal. Seorang murabbi yang supel, pengertian, pandai berbicara, mampu membangkitkan semangat, dan selalu tahu bagaimana membuat suasana halaqah menjadi hidup.

Namun ternyata, perjalanan tarbiyah tidak selalu berjalan seperti yang kita bayangkan. Allah Subhanahu wata’ala justru mempertemukan saya dengan sebuah halaqah yang jauh dari gambaran ideal yang pernah saya pikirkan.

Hampir empat tahun saya menjalani halaqah yang pada waktu itu, sering saya anggap sebagai halaqah yang tidak ideal. Materinya terasa berulang. Murabbinya tidak seperti yang saya bayangkan. Teman-teman halaqah pun tidak selalu membuat suasana menjadi ramai dan menyenangkan.

Terkadang pertemuan hanya dihadiri tiga orang. Datang, bertemu, berbagi cerita seperlunya, mungkin curhat sebentar, lalu pulang. Sederhana sekali. Bahkan pernah terlintas dalam pikiran saya, “Apa yang sebenarnya saya dapatkan dari halaqah seperti ini?” Saya merindukan halaqah yang berbeda.

Saya membayangkan sebuah halaqah dengan materi-materi yang memperluas wawasan keislaman. Saya ingin setiap pertemuan memberikan pengetahuan baru. Saya ingin pulang dengan semangat yang bertambah. Saya ingin merasakan kerinduan yang membuat satu pekan terasa panjang ketika tidak bertemu.

Saya ingin memiliki halaqah yang benar-benar dirindukan. Tetapi Allah Subhanahu wata’ala ternyata sedang mengajarkan sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar mendapatkan halaqah yang sesuai dengan keinginan saya. Allah Subhanahu wata’ala sedang mengajarkan tentang makna tarbiyah.

Bahwa tarbiyah bukan semata-mata tentang siapa murabbi kita. Tarbiyah bukan hanya tentang menarik atau tidaknya materi. Bukan pula tentang seberapa pandai seorang murabbi berbicara. Tarbiyah adalah tentang bagaimana kita tetap bertumbuh dalam sebuah lingkaran kebaikan, meskipun tidak semua keadaan sesuai dengan harapan.

Kemudian tibalah satu fase ketika Allah Subhanahu wata’ala memberikan kesempatan kepada saya untuk melihat halaqah dari sisi yang berbeda. Saya pun diamanahi untuk membina sebuah halaqah. Di situlah saya mulai memahami banyak hal yang sebelumnya hanya saya lihat dari luar.

Saya mulai sadar bahwa murabbi bukan malaikat. Murabbi juga bukan manusia yang selalu memiliki jawaban untuk semua persoalan. Ia bukan seorang pembicara profesional yang setiap saat mampu menyampaikan materi dengan penuh energi.

Murabbi adalah manusia biasa. Ia memiliki keterbatasan. Ia bisa lelah. Ia bisa kehabisan ide. Ia bisa merasa tidak cukup baik. Ia pun masih terus belajar dan memperbaiki dirinya sendiri. Namun di balik keterbatasan itu, ada satu hal yang sering tidak terlihat oleh para mutarabbi (binaan, murid).

Ada doa. Ada perhatian. Ada harapan agar orang-orang yang dibinanya tetap tumbuh dan istiqamah. Boleh jadi seorang murabbi tidak selalu mampu menyampaikan nasihat dengan kata-kata yang indah. Tetapi bukan berarti ia tidak peduli. Boleh jadi ia tidak pandai membangkitkan semangat di hadapan kita.

Tetapi mungkin, dalam kesunyian malam, nama kita hadir dalam doanya. Di situlah saya mulai memahami bahwa seorang murabbi bukan sekadar orang yang menyampaikan materi. Ia adalah seseorang yang Allah Subhanahu wata’ala hadirkan untuk membersamai perjalanan kita.

Seperti sebuah perjumpaan yang Allah Subhanahu wata’ala atur. Kita tidak selalu memilih siapa yang akan menjadi murabbi kita. Tetapi mungkin justru di situlah letak pendidikan dari Allah Subhanahu wata’ala. Kita belajar menerima dan belajar menghargai.

Kita belajar bertumbuh bersama manusia dengan segala keterbatasannya. Karena dalam tarbiyah, yang sedang dibentuk bukan hanya kemampuan kita memahami materi. Yang sedang dibentuk adalah kesabaran. Keistiqamahan, ukhuwah yang kuat, juga kerendahan hati.

Selain itu kesediaan untuk terus berada di jalan kebaikan meskipun suasananya tidak selalu sesuai dengan keinginan. Saya pernah merasa kecewa. Bahkan pernah ada masa ketika saya ingin tidak hadir liqa karena merasa tidak mendapatkan apa-apa.

Saya merasa waktu saya terbuang begitu saja. Saya merasa tidak bertambah banyak. Saya merasa halaqah itu tidak memberikan sesuatu yang saya harapkan. Sampai suatu ketika seorang ustadz menyampaikan sebuah kalimat yang sederhana, tetapi kemudian menetap lama dalam pikiran saya.

“Boleh jadi antum ditempatkan di kelompok ini bukan agar antum banyak menerima, melainkan agar antum banyak memberi”. Lalu saya pun terdiam. Ahh, yaa Allah. Betapa sering pesan-Mu begitu indah, tetapi saya yang belum mampu membacanya.

Mungkin selama ini saya terlalu sibuk bertanya, “Apa yang saya dapatkan dari halaqah ini?” Padahal pertanyaan yang seharusnya saya ajukan adalah, “Apa yang bisa saya berikan melalui halaqah ini?” Pertanyaan itu mengubah cara saya memandang sebuah pertemuan, majelis ilmu.

Tidak semua halaqah harus sempurna untuk menjadi bermakna. Tidak semua pertemuan harus penuh materi untuk menjadi bernilai. Tidak setiap halaqah harus berlangsung dengan suasana yang ramai untuk menghadirkan keberkahan. Ada kalanya sebuah halaqah justru menjadi tempat seseorang menemukan kekuatan setelah melewati hari yang berat.

Ada anggota yang datang membawa kegelisahan, lalu pulang dengan hati yang lebih ringan. Ada anggota yang datang dalam keadaan lelah, kemudian menemukan bahwa ternyata ia tidak sendirian. Ada anggota yang tidak mendapatkan materi panjang, tetapi mendapatkan perhatian.

Bahkan ada anggota yang tidak mendapatkan ceramah yang menggebu-gebu, tetapi mendapatkan teman yang bersedia mendengarkan. Dan mungkin, itulah salah satu wajah tarbiyah yang sering luput kita sadari. Hari ini, ketika saya duduk dalam sebuah majelis bersama saudara-saudara se-halaqah, saya mulai merasakan sesuatu yang dahulu saya cari-cari.

Kami bercerita, saling bertukar kabar, berbagi kebahagiaan, menyampaikan kegelisahan. Bahkan kami saling menguatkan. Tidak selalu ada materi yang panjang. Tidak selalu ada pembahasan yang berat. Tetapi ada kebersamaan yang membuat hati merasa pulang dengan tenang.

Lalu pertemuan itu kami tutup dengan doa rabithah. Doa yang dilantunkan secara bersama. Perlahan suasana menjadi hening. Ada hati yang tersentuh. Ada mata yang berkaca-kaca. Dan ada air mata yang jatuh tanpa perlu dijelaskan.

Di saat itulah saya memahami sesuatu. Ternyata yang saya rindukan bukan sekadar halaqah dengan materi yang banyak. Tetapi saya merindukan perasaan ketika berada di antara orang-orang yang sama-sama ingin menjadi lebih baik. Saya merindukan majelis yang membuat saya tidak merasa sendirian dalam perjalanan.

Saya merindukan kawan-kawan yang saling mengingatkan ketika lalai, saling menguatkan ketika lemah, dan saling mendoakan ketika tidak sedang berada dalam satu tempat. Tarbiyah ternyata bukan tentang mencari halaqah yang “sempurna”. Tetapi tarbiyah adalah tentang belajar mencintai sebuah proses.

Belajar menerima keterbatasan. Belajar untuk hadir bukan hanya ketika mendapatkan sesuatu, tetapi juga ketika dibutuhkan untuk memberikan sesuatu. Sebab bisa jadi, alasan Allah Subhanahu wata’ala mempertahankan kita dalam sebuah majelis bukan karena kita akan selalu menjadi orang yang menerima.

Bisa jadi, suatu hari kita justru dibutuhkan menjadi seorang murabbi untuk menjadi alasan seseorang bertahan. Maka jangan terlalu cepat meninggalkan sebuah majelis kebaikan hanya karena ia tidak sesuai dengan ekspektasi kita. Boleh jadi ada pelajaran yang belum kita sadari dan pahami.

Boleh jadi ada seseorang yang membutuhkan kehadiran kita. Boleh jadi Allah Subhanahu wata’ala sedang mendidik kita untuk memberi, bukan sekadar menerima. Dan boleh jadi, suatu hari nanti, kita akan merindukan kembali pertemuan-pertemuan sederhana yang dahulu pernah kita anggap biasa.

Karena pada akhirnya, yang membuat sebuah halaqah itu hidup bukan hanya materi yang disampaikan. Bukan pula semata-mata siapa murabbinya. Yang membuatnya hidup adalah hati-hati kita yang bersedia hadir, saling menguatkan, saling mengingatkan, dan berjalan bersama menuju Allah Subhanahu wata’ala.

Barangkali itulah halaqah yang sebenarnya yang memang kita rindukan. Bukan halaqah yang sempurna. Tetapi halaqah yang membuat kita ingin terus kembali dan kembali. Halaqah yang ketika satu pekan kita tidak hadir, akan ada ruang kosong di hati yang sangat terasa.

Halaqah yang mengajarkan bahwa kita tidak berjalan sendirian. Halaqah yang membuat kita memahami bahwa perjalanan menuju Allah Subhanahu wata’ala membutuhkan teman seperjalanan. Dan ketika majelis itu akhirnya menjadi bagian dari kehidupan, kita akan mengerti bahwa tarbiyah bukan tentang mendapatkan siapa yang paling ideal.

Tarbiyah adalah tentang bagaimana kita bertahan dalam majelis kebaikan, lalu bersama-sama tumbuh di dalamnya. Saling mengingatkan, saling menguatkan, dan saling mendoakan. Hingga pada akhirnya, kita tidak hanya merindukan pertemuannya. Tetapi kita merindukan kebaikan yang tumbuh di dalamnya. Wallahu a’lam bishawab.

3Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *