Rindu Yang Meneguhkan Iman

@ Cecep Y Pramana

Ketika kerinduan kepada Allah Subhanahu wata’ala, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, dan kebaikan menjadi jalan untuk kembali pulang. Ada jenis rindu yang tidak selalu bisa dijelaskan dengan kata-kata. Ia hadir diam-diam. Kadang muncul ketika seseorang sedang sendirian. Saat malam mulai sunyi, layar ponsel dimatikan, pekerjaan selesai, dan tidak ada lagi yang perlu dikejar.

Pada saat seperti itu, hati tiba-tiba terasa kosong. Bukan karena tidak memiliki apa-apa. Justru mungkin karena terlalu banyak memiliki sesuatu yang bersifat sementara. Pekerjaan ada, teman ada, aktivitas ada, dan hiburan tersedia. Informasi datang tanpa henti. Namun, di balik semua kesibukan itu, ada ruang dalam hati yang tidak bisa diisi oleh semua yang ada di dunia.

Ruang itu hanya bisa diisi dengan kedekatan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Di situlah rindu menemukan maknanya. Rindu bukan selalu tentang seseorang yang jauh. Rindu juga bisa menjadi tanda bahwa hati sedang mencari kedekatan dengan Tuhannya.

Rindu yang Tidak Sederhana

Kita mengenal rindu sebagai perasaan ingin bertemu dengan seseorang. Seorang anak merindukan orang tuanya. Orang tua merindukan anak yang jauh. Sahabat merindukan pertemuan. Seseorang merindukan suasana yang pernah membuatnya bahagia. Tetapi ada rindu yang lebih dalam.

Rindu kepada ketenangan setelah lama gelisah. Rindu kepada masjid setelah lama tidak mengunjunginya. Rindu membaca Al-Qur’an setelah berhari-hari sibuk dengan urusan dunia. Rindu kepada sujud setelah terlalu lama mengejar banyak hal. Rindu kepada suasana Ramadhan setelah bulan suci berlalu.

Rindu kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam setelah membaca kisah perjuangan dan kasih sayangnya kepada umat. Rindu seperti itu tidak selalu membuat air mata jatuh. Kadang ia hanya membuat seseorang ingin menjadi lebih baik. Ia membuat seseorang yang sebelumnya lalai mulai kembali shalat.

Membuat seseorang yang jauh dari Al-Qur’an mulai membuka kembali mushafnya. Membuat seseorang yang lama tidak berdoa kembali menengadahkan tangan. Membuat seseorang yang pernah jatuh dalam kesalahan berani berkata, “Ya Allah, aku ingin kembali.” Itulah rindu yang meneguhkan iman. Rindu yang tidak berhenti pada perasaan, tetapi bergerak menjadi perubahan.

Ketika Dunia Terasa Ramai, Tetapi Hati Tetap Sepi

Kita hidup pada zaman yang serba cepat. Dalam hitungan detik, kita bisa mengetahui apa yang terjadi di berbagai tempat. Kita dapat berbicara dengan orang yang jauh. Kita dapat menikmati hiburan kapan saja. Namun, kemudahan itu tidak selalu membuat hati lebih tenang.

Ada orang yang selalu terhubung dengan banyak manusia, tetapi merasa sendirian. Ada yang setiap hari menerima banyak pesan, tetapi tetap merasa tidak dimengerti. Ada yang memiliki banyak aktivitas, tetapi kehilangan arah. Ada yang terlihat bahagia di depan orang lain, tetapi ketika sendiri justru bertanya, “Mengapa hati ini masih kosong?”

Barangkali masalahnya bukan karena kita kekurangan sesuatu dari dunia. Barangkali hati kita sedang merindukan sesuatu yang lebih tinggi. Allah Subhanahu wata’ala mengingatkan: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).

Ayat ini begitu sederhana, tetapi dalam maknanya. Hati manusia membutuhkan tempat kembali. Ia boleh memiliki cita-cita. Boleh mengejar pendidikan. Boleh bekerja keras. Boleh membangun usaha. Boleh memiliki keluarga dan impian. Tetapi semua itu tidak boleh membuat kita lupa bahwa hati tetap membutuhkan Allah Subhanahu wata’ala. Sebab dunia bisa memenuhi banyak kebutuhan, tetapi tidak selalu mampu memenuhi kebutuhan jiwa.

Rindu yang Membawa Kita Pulang

Ada orang yang baru mengenal arti pulang setelah berjalan terlalu jauh. Bukan pulang ke sebuah rumah. Tetapi pulang kepada Allah Subhanahu wata’ala. Mungkin sebelumnya ia terlalu sibuk mengejar pengakuan. Ingin dipuji. Ingin dianggap berhasil. Ingin terlihat hebat. Ingin membuktikan sesuatu kepada orang lain.

Sampai suatu hari ia merasa lelah. Kemudian ia mulai menyadari bahwa tidak semua yang dikejar harus dimiliki. Tidak semua pujian harus dicari. Tidak semua penilaian manusia harus dipikirkan. Pada akhirnya, yang paling penting adalah bagaimana Allah Subhanahu wata’ala memandang kita.

Di situlah hati mulai berubah. Ia mulai rindu kepada shalat yang khusyuk. Rindu membaca Al-Qur’an. Rindu berada dalam majelis ilmu, halaqah, UPA. Rindu melakukan kebaikan tanpa perlu diketahui orang. Rindu menjadi pribadi yang lebih dekat dengan Allah Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.

Kerinduan itu menjadi energi untuk memperbaiki diri. Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Maka berlarilah kembali kepada Allah.” (QS. Adz-Dzariyat: 50). Ada pesan yang sangat indah dalam ayat tersebut. Ketika hidup terasa melelahkan, jangan hanya mencari tempat untuk melupakan masalah. Carilah Allah Subhanahu wata’ala.

Ketika hati kecewa, maka jangan hanya mencari pelarian. Tetapi carilah Allah Subhanahu wata’ala. Ketika kehilangan arah, maka jangan hanya bertanya kepada manusia. Tetapi mintalah petunjuk kepada Allah Subhanahu wata’ala. Karena terkadang yang kita perlukan bukan kehidupan yang sempurna, tetapi hati yang kembali terhubung kepada-Nya.

Rindu kepada Rasulullah SAW

Ada kerinduan lain yang layak dirawat dalam hati. Rindu kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Kita tidak pernah hidup sezaman dengan beliau. Kita tidak pernah melihat senyumnya. tidak pernah duduk bersama beliau. Tidak pernah mendengar beliau berbicara secara langsung.

Namun, kita mengenal beliau melalui Al-Qur’an, hadits, dan sejarah kehidupannya. Kita mengetahui bagaimana beliau bersabar menghadapi penolakan. Bagaimana beliau memaafkan, memperlakukan anak-anak, menghormati orang tua, memperhatikan orang miskin, dan bagaimana beliau tetap lembut meskipun menghadapi perlakuan yang menyakitkan.

Dan yang paling menyentuh, beliau sangat mencintai umatnya. Allah Subhanahu wata’ala menggambarkan kasih sayang Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam: “Sungguh, telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, sangat menginginkan keimanan dan keselamatan bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At-Taubah: 128).

Mengenal Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam seharusnya tidak berhenti pada rasa kagum. Kerinduan kepada beliau semestinya mendorong kita mengikuti akhlaknya. Jika kita mengaku mencintai Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, maka kita belajar menjaga lisan.

Belajar memaafkan, belajar jujur, belajar menepati janji, belajar menyayangi sesama, belajar menjadi manusia yang menghadirkan kebaikan bagi lingkungan di sekitarnya. Allah Shalallahu ‘alaihi wasallam berfirman: “Katakanlah, jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” (QS. Ali ‘Imran: 31).

Cinta kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam memiliki konsekuensi. Ia bukan sekadar ucapan. Ia terlihat dalam perilaku. Cinta kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam adalah landasan iman yang wajib dibuktikan dengan tindakan, bukan sekadar retorika.

Rindu yang Dibuktikan dengan Amal

Rindu yang hanya disimpan di hati akan tetap menjadi perasaan. Tetapi rindu yang diterjemahkan menjadi amal akan menjadi kekuatan. Ketika rindu kepada Allah Subhanahu wata’ala, kita memperbaiki shalat. Ketika rindu kepada Al-Qur’an, kita kembali membacanya.

Ketika rindu kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, maka kita mempelajari sunnah dan akhlaknya. Membela dan mengagungkannya, dan mencintai apa yang beliau cintai. Ketika rindu kepada surga, kita memperbanyak amal saleh. Ketika rindu menjadi manusia yang lebih baik, kita mulai meninggalkan kebiasaan yang merusak diri.

Inilah yang membedakan rindu biasa dengan rindu yang meneguhkan iman. Ia membuat kita bergerak. Bukan karena kita sudah menjadi orang baik, tetapi karena kita ingin terus memperbaiki diri. Iman memang bisa mengalami pasang dan surut.

Ada masa ketika ibadah terasa ringan. Ada masa ketika hati terasa dekat dengan Allah Subhanahu wata’ala. Namun, ada pula masa ketika kita merasa berat untuk melakukan kebaikan. Pada saat seperti itu, jangan menyerah. Kembali saja, pelan-pelan.

Satu shalat yang dijaga. Satu halaman Al-Qur’an yang dibaca. Satu dosa yang ditinggalkan. Satu kebaikan yang dilakukan. Satu doa yang dipanjatkan. Allah Subhanahu wata’ala tidak meminta kita menjadi sempurna dalam satu malam. Yang penting, kita tidak berhenti kembali.

Rindu yang Tumbuh dari Doa

Ada doa yang sering kita ucapkan: “Ya Allah, dekatkanlah aku kepada-Mu”. Tetapi kedekatan dengan Allah tidak selalu datang melalui keadaan yang menyenangkan. Terkadang Allah Subhanahu wata’ala mendekatkan kita melalui ujian. Melalui kehilangan, kegagalan, kesendirian.

Melalui sesuatu yang tidak kita inginkan. Mengapa? Karena dalam keadaan lapang, manusia terkadang mudah lupa. Namun ketika semua sandaran dunia terasa rapuh, kita belajar kembali bersandar kepada Allah Subhanahu wata’ala. Saat itulah doa menjadi lebih jujur. Tidak ada pencitraan.

Tidak ada kata-kata yang dibuat untuk terlihat kuat. Hanya seorang hamba yang mengakui kelemahannya di hadapan Rabb-nya. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan bahwa Allah Subhanahu wata’ala sangat dekat dengan hamba-Nya.

Dalam sebuah hadits qudsi, Allah berfirman: “Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku.”(HR. Bukhari dan Muslim). Maka, jangan berprasangka buruk kepada Allah Subhanahu wata’ala. Ketika doa belum terkabul, tetaplah percaya. Ketika jalan belum terbuka, tetaplah berharap. Ketika kehidupan belum sesuai rencana, tetaplah yakin bahwa Allah Subhanahu wata’ala mengetahui apa yang tidak kita ketahui.

Rindu yang Menjaga Kita dari Kehilangan Arah

Generasi muda hari ini hidup dalam dunia yang penuh pilihan. Ada banyak suara yang menawarkan bagaimana seharusnya kita menjalani hidup. Media sosial menunjukkan apa yang harus dimiliki. Tren menentukan apa yang harus dikenakan. Lingkungan menentukan apa yang dianggap berhasil.

Algoritma terus memberikan sesuatu yang menarik perhatian. Jika tidak hati-hati, kita bisa menjalani kehidupan berdasarkan apa yang terlihat, bukan berdasarkan apa yang benar-benar kita butuhkan. Kita mengejar popularitas, tetapi kehilangan ketenangan. Mengejar pengakuan, tetapi kehilangan keikhlasan.

Mengejar kesibukan, tetapi kehilangan waktu untuk Allah Subhanahu wata’ala. Karena itu, hati perlu memiliki kompas. Dan iman adalah kompas tersebut. Rindu kepada Allah Subhanahu wata’ala membuat kita memiliki alasan untuk berhenti sejenak.

Bertanya kepada diri sendiri: Untuk apa aku hidup? Apa yang sedang aku kejar? Apakah semua yang aku lakukan mendekatkanku kepada Allah? Jika hari ini adalah kesempatan terakhirku, apakah aku sudah siap bertemu dengan-Nya?

Pertanyaan seperti itu bukan untuk membuat kita takut berlebihan. Justru untuk membuat kita lebih sadar. Bahwa hidup ini memiliki tujuan. Bahwa waktu tidak kembali. Bahwa usia terus berjalan. Dan bahwa setiap perjalanan pada akhirnya akan membawa kita kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Rindu yang Menghidupkan Kembali Hati

Hati manusia bisa lelah, keras, lalai, dan bisa jauh, Namun, hati juga bisa kembali hidup. Salah satu tanda kehidupan hati adalah munculnya kerinduan kepada kebaikan. Kita mulai tidak nyaman ketika meninggalkan shalat. Kita merasa kehilangan ketika jauh dari Al-Qur’an.

Kita ingin kembali menghadiri majelis ilmu. Kita ingin memperbaiki hubungan dengan orang tua. Kita ingin meminta maaf kepada seseorang. Kita ingin memperbaiki kesalahan masa lalu. Kita ingin menjadi manusia yang lebih bermanfaat. Jangan abaikan perasaan itu.

Boleh jadi itulah cara Allah Subhanahu wata’ala mengetuk hati kita. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Rabb-nya dengan orang yang tidak berdzikir, seperti orang hidup dan orang mati.” (HR. Bukhari)

Hidup secara fisik belum tentu berarti hati benar-benar hidup. Hati hidup ketika ia mengenal Tuhannya. Hati hidup ketika ia masih bisa merasa bersalah setelah berbuat dosa. Hati hidup ketika ia bahagia melakukan kebaikan. Hati hidup ketika ia rindu kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Jangan Biarkan Rindu Berhenti Menjadi Kata

Ada banyak hal yang kita rindukan. Tetapi tidak semua rindu perlu diwujudkan dengan mengejar apa yang dirindukan. Ada rindu yang justru harus diarahkan. Jika rindu kepada ketenangan, dekatlah kepada Allah Subhanahu wata’ala. Jika rindu kepada keberkahan, perbaiki ibadah.

Jika rindu kepada kehidupan yang baik, perbaiki akhlak. Jika rindu kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, ikuti teladannya. Jika rindu kepada surga, persiapkan amal. Sebab kerinduan yang benar akan membawa kita kepada tindakan yang benar. Jangan hanya mengatakan, “Aku rindu kepada Allah.”

Tanyakan kepada diri sendiri: Apa yang sudah kulakukan untuk mendekat kepada-Nya? Jangan hanya mengatakan, “Aku mencintai Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.” Tanyakan: Akhlak apa yang sedang aku usahakan untuk meneladaninya?

Jangan hanya mengatakan, “Aku ingin masuk surga.” Tanyakan: Apa yang sudah aku persiapkan untuk perjalanan menuju ke sana?Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin sederhana. Namun, ia dapat menjadi cermin bagi perjalanan iman kita.

Pada Akhirnya, Rindu Itu Akan Menemukan Jawabannya

Setiap manusia memiliki kerinduan. Ada yang rindu dicintai. Ada yang rindu dihargai. Ada yang rindu memiliki keluarga. Ada yang rindu kesuksesan. Ada yang rindu masa lalu. Ada yang rindu seseorang yang telah pergi. Semua itu manusiawi.

Namun, di balik semua kerinduan tersebut, ada satu kerinduan yang lebih tinggi. Kerinduan untuk dekat dengan Allah Subhanahu wata’ala. Kerinduan untuk hidup dalam ridha-Nya. Kerinduan untuk mengakhiri kehidupan dalam keadaan beriman. Kerinduan untuk bertemu dengan Allah dalam keadaan Dia ridha kepada kita.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai.” (QS. Al-Fajr: 27-28). Ayat ini seperti panggilan pulang. Ada perjalanan panjang yang sedang kita jalani. Ada banyak hal yang akan kita temui.

Ada kebahagiaan, kesedihan, keberhasilan, kegagalan, pertemuan, dan perpisahan. Namun, jangan sampai perjalanan yang panjang itu membuat kita lupa kepada tujuan akhir. Kita berasal dari Allah Subhanahu wata’ala. Kita hidup dengan pertolongan Allah Subhanahu wata’ala. Dan pada akhirnya kita akan kembali kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Maka, rawatlah rindu itu. Jika hati mulai jauh, kembalilah. Jika iman mulai melemah, perkuat kembali. Jika langkah mulai salah arah, berhenti dan luruskan. Jika dosa membuat kita malu untuk menghadap Allah Subhanahu wata’ala, jangan menjauh. Justru datanglah kepada-Nya dengan taubat.

Sebab Allah Subhanahu wata’ala tidak pernah lelah menerima hamba yang kembali. Rindu kepada Allah Subhanahu wata’ala bukan sekadar perasaan. Ia adalah panggilan untuk pulang.Rindu kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bukan sekadar kekaguman.

Ia adalah ajakan untuk meneladani akhlaknya. Rindu kepada surga bukan sekadar harapan. Ia adalah dorongan untuk memperbanyak amal saleh. Dan rindu kepada kehidupan yang lebih baik bukan sekadar impian. Ia harus dimulai dari keberanian untuk memperbaiki diri hari ini.Mungkin kita belum menjadi manusia yang baik sepenuhnya. Tidak apa-apa.

Kita masih memiliki kesempatan untuk kembali. Mungkin iman kita belum sekuat yang kita inginkan. Tidak apa-apa. Kita masih bisa menjaganya sedikit demi sedikit. Mungkin perjalanan kita masih panjang. Tidak apa-apa. Yang penting kita tahu arah pulang. Sebab ada kerinduan yang ketika kita ikuti, justru membuat hidup menjadi lebih berarti.

Itulah rindu yang meneguhkan iman.

Rindu yang membuat kita kembali mengingat Allah Subhanahu wata’ala. Rindu yang membuat kita mencintai Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Rindu yang membuat kita mencintai kebaikan. Hakikat rindu yang hakiki sebuah rasa rindu yang membawa keberkahan karena mengarahkan jiwa kepada kebaikan dan Sang Pencipta

Rindu yang membuat kita meninggalkan keburukan. Dan rindu yang pada akhirnya mengajarkan kita satu hal: Sebesar apa pun dunia yang kita kejar, hati tetap membutuhkan Allah Subhanahu wata’ala sebagai tempat kembali. Wallahu a’lam bishawab.

3Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *