Menyikapi “Halangan” Orang Lain

Oleh: Tarwiyah Ruslan (Bu Awi)

Suatu sore, seorang pembina, pembimbing menunggu beberapa orang yang seharusnya hadir dalam sebuah pertemuan. Waktu sudah berjalan cukup lama. Satu per satu kabar mulai masuk. Ada yang terlambat. Ada yang tidak bisa hadir. Ada pula yang sama sekali tidak memberikan kabar.

Di dalam hati, muncul rasa kecewa. “Bukankah sudah disepakati waktunya?” “Bukankah ini bagian dari amanah?” Pertanyaan-pertanyaan itu wajar muncul. Kita memang memiliki harapan kepada orang lain. Kita berharap mereka disiplin, bertanggung jawab, dan menghargai kesepakatan.

Namun, beberapa saat kemudian, salah seorang yang tidak hadir mengirimkan pesan. Ia meminta maaf. Hari itu, ia harus mendampingi keluarganya yang sedang menghadapi persoalan. Ia sebenarnya ingin hadir, tetapi keadaan membuatnya tidak mampu meninggalkan rumah. Seketika hati yang semula dipenuhi kecewa menjadi lebih tenang.

Bukan karena ketidakhadiran itu tiba-tiba menjadi benar. Tetapi karena ternyata ada cerita yang sebelumnya tidak diketahui. Dari peristiwa sederhana itu kita belajar satu hal penting: kita sering kali menilai perilaku seseorang hanya dari apa yang terlihat, sementara Allah SWT mengetahui apa yang sedang mereka hadapi.

Barangkali seseorang tidak hadir bukan karena tidak peduli. Barangkali ia terlambat bukan karena sengaja meremehkan. Barangkali ia diam bukan karena tidak menghargai kita. Ada keadaan yang tidak terlihat. Ada beban yang tidak diceritakan.

Ada persoalan yang hanya diketahui oleh dirinya, keluarganya, dan Allah SWT. Karena itu, sebelum menilai seseorang, kita perlu belajar memberi ruang bagi kemungkinan bahwa ada uzur yang belum kita ketahui.

Belajar Berlapang Dada

Dalam kehidupan bersama, kita akan bertemu dengan banyak karakter. Tidak semua orang berpikir seperti kita. Tidak semua orang memiliki kebiasaan yang sama. Tidak semua orang merespons masalah dengan cara yang kita anggap tepat.

Ada yang cepat memahami. Ada yang membutuhkan penjelasan berkali-kali. Ada yang mudah berkomunikasi. Ada yang lebih banyak diam. Ada yang mampu mengelola tekanan dengan baik. Ada pula yang membutuhkan waktu untuk menata dirinya. Perbedaan itu adalah bagian dari kehidupan manusia.

Karena itu, Islam mengajarkan akhlak dalam bermuamalah. Di antaranya adalah berlapang dada, memberi maaf, dan menahan amarah. Allah SWT berfirman: “…dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali ‘Imran: 134).

Ayat ini mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak hanya terlihat dari kemampuannya melakukan kebaikan, tetapi juga dari kemampuannya mengendalikan diri ketika berhadapan dengan kesalahan orang lain. Memaafkan bukan berarti mengatakan bahwa kesalahan itu tidak ada.

Berlapang dada bukan berarti membiarkan semua persoalan. Menahan amarah juga bukan berarti kehilangan ketegasan. Kita tetap boleh mengatakan bahwa sesuatu itu salah. Kita tetap boleh mengingatkan. Kita tetap boleh membuat aturan dan menjaga amanah. Tetapi semua itu dapat dilakukan tanpa kehilangan kasih sayang.

Jangan Cepat Menyimpulkan

Sering kali kita hanya melihat satu potongan kecil dari kehidupan seseorang. Kita melihat ia tidak hadir, lalu menyimpulkan ia tidak peduli. Kita melihat ia melakukan kesalahan, lalu menganggap ia tidak bertanggung jawab. Kita melihat ia mengambil keputusan yang berbeda, lalu menilainya tidak sejalan.

Padahal kita tidak mengetahui seluruh ceritanya. Allah SWT mengingatkan: “Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa…”(QS. Al-Hujurat: 12). Ayat ini mengajarkan kehati-hatian. Tidak semua yang kita pikirkan tentang seseorang adalah kenyataan.

Tidak semua yang kita dengar adalah keseluruhan cerita. Dan tidak semua yang kita lihat cukup untuk menjadi dasar penilaian. Karena itu, seorang Muslim perlu belajar tabayyun, mendengar, bertanya dengan baik, dan memahami keadaan sebelum mengambil kesimpulan. Terkadang, satu percakapan yang tenang dapat mengubah cara kita memandang seseorang.

Yang semula kita kira malas ternyata sedang kelelahan. Yang kita kira tidak peduli ternyata sedang menyelesaikan persoalan keluarga. Yang kita kira menjauh ternyata sedang berjuang dengan persoalan yang tidak sanggup ia ceritakan. Manusia memang memiliki kekurangan. Tetapi kita juga harus mengingat bahwa kita sendiri bukan manusia yang sempurna.

Teladan Rasulullah SAW

Rasulullah SAW adalah teladan dalam menghadapi manusia dengan berbagai karakter. Beliau berhadapan dengan orang yang berbeda-beda. Ada yang lembut, ada yang keras. Ada yang mudah menerima nasihat, ada yang membutuhkan waktu panjang. Namun, kelembutan tetap menjadi bagian dari akhlak beliau.

Allah SWT berfirman: “Maka berkat rahmat Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.” (QS. Ali ‘Imran: 159).

Ayat ini sangat relevan dalam kehidupan dakwah. Kita mungkin memiliki niat baik. Kita ingin orang lain berubah. Kita ingin organisasi menjadi lebih baik. Kita ingin amanah berjalan dengan benar. Tetapi niat yang baik tetap membutuhkan cara yang baik.

Kebenaran perlu disampaikan. Namun, manusia tetap harus dihargai. Nasihat perlu diberikan. Namun, harga diri seseorang tidak perlu direndahkan. Kesalahan perlu diperbaiki. Namun, pintu untuk berubah jangan ditutup.

Belajar dari Perjalanan Para Pendahulu

Sebagai pegiat dakwah, kita juga perlu membaca perjalanan para ulama dan pembaharu Islam. Sejarah dakwah tidak selalu berisi kisah tentang keberhasilan. Di dalamnya juga terdapat perbedaan, kekecewaan, ujian hubungan, dan dinamika manusia. Ada pelajaran yang sangat dalam di sini.

Perbedaan tidak harus berakhir dengan kebencian.

Kekecewaan tidak harus menghapus seluruh kebaikan. Seseorang yang memilih jalan berbeda tetap memiliki sisi kemanusiaan yang harus dihormati. Mudah menghormati seseorang ketika ia sejalan dengan kita. Yang lebih sulit adalah tetap menjaga adab ketika hati sedang kecewa. Di situlah akhlak benar-benar diuji.

Jangan Biarkan Marah Menghapus Kebaikan

Ada satu kelemahan manusia yang sering tidak disadari. Ketika marah kepada seseorang, kita mudah melupakan semua kebaikannya. Satu kesalahan terasa lebih besar daripada banyak kebaikan yang pernah dilakukan. Satu perkataan yang menyakitkan membuat kita lupa pada begitu banyak perhatian yang pernah diberikan.

Karena itu, Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang kuat bukanlah orang yang pandai bergulat, tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Kekuatan bukan selalu tentang kemampuan membalas.

Kadang-kadang kekuatan justru terlihat ketika kita memilih menahan kata-kata. Kita memilih tidak menggunjing. Kita memilih tidak membuka aib. Kita memilih tidak membalas kesalahan dengan kesalahan. Kita memilih berbicara setelah hati lebih tenang. Itulah kekuatan yang sering tidak terlihat, tetapi nilainya besar di hadapan Allah SWT.

Tegas dalam Kebenaran, Lembut kepada Manusia

Islam tidak mengajarkan kita menjadi pribadi yang lemah. Kita tetap harus berani mengatakan kebenaran, walaupun terasa pahit. Bahkan terhadap diri sendiri. Kita perlu berani mengakui kesalahan. Berani menerima nasihat.

Berani meminta maaf. Berani memperbaiki diri. Dan berani mengatakan bahwa kita juga memiliki kekurangan. Keadilan juga harus tetap dijaga ketika kita sedang marah. Jangan sampai kemarahan membuat kita melupakan kebaikan seseorang.

Jangan sampai rasa suka membuat kita menutupi kesalahannya. Jangan sampai perseteruan membuat kita mengingkari kebaikannya. Inilah bentuk keadilan yang tidak mudah. Tetap adil ketika hati sedang kecewa.

Dengarkan Lebih Banyak

Dalam menghadapi orang lain, mungkin kita perlu lebih banyak mendengar. Tidak semua persoalan membutuhkan debat. Tidak semua perbedaan harus dipertentangkan. Tidak semua kesalahan harus langsung dibalas dengan teguran keras. Ada kalanya seseorang hanya membutuhkan ruang untuk bercerita.

Setelah didengar, barulah nasihat diberikan. Setelah dipahami keadaannya, barulah kita membantu menunjukkan jalan. Karena tausiyah yang disampaikan dengan rasa cinta akan terasa berbeda. Orang mungkin tidak langsung menerima nasihat kita. Tetapi setidaknya ia tahu bahwa nasihat itu lahir dari kepedulian, bukan dari kebencian.

Jangan Tutup Pintu Perubahan

Dalam dakwah, kita berhadapan dengan manusia yang sedang bertumbuh. Ada yang hari ini masih jauh, tetapi besok mendekat. Ada yang hari ini lemah, tetapi suatu saat menjadi kuat. Ada yang pernah melakukan kesalahan, lalu berubah menjadi orang yang bermanfaat. Karena itu, jangan menilai seseorang hanya berdasarkan keadaan hari ini.

Kita tidak mengetahui bagaimana Allah SWT akan membentuk dirinya esok hari. Bisa jadi seseorang yang hari ini membuat kita kecewa, suatu saat justru menjadi orang yang memberikan manfaat besar. Tugas kita adalah menyampaikan kebenaran dengan cara yang baik, memberikan nasihat dengan kasih sayang, dan tetap membuka ruang bagi perbaikan.

Menjaga Hati di Tengah Pergaulan

Menyikapi uzur orang lain sebenarnya bukan hanya tentang bagaimana kita memahami mereka. Lebih jauh, ini adalah latihan untuk menjaga hati kita sendiri. Kita belajar untuk tidak mudah berprasangka. Kita belajar untuk tidak memata-matai kehidupan orang lain. Kita belajar menjaga lisan dari ghibah. Kita belajar untuk tidak arogan.

Kita belajar menghargai orang lain dalam pertemuan. Kita belajar meminta izin. Kita belajar menjaga adab. Semua itu mungkin terlihat sederhana. Namun, justru dari hal-hal sederhana itulah akhlak seseorang terbentuk. Sebab dakwah bukan hanya tentang apa yang kita sampaikan kepada manusia. Dakwah juga terlihat dari bagaimana manusia merasa diperlakukan ketika berada di dekat kita.

Pada Akhirnya, Kita Semua Memiliki Uzur

Mungkin hari ini kita sedang menilai seseorang karena kesalahannya. Tetapi suatu hari nanti, mungkin kita berada di posisi yang sama. Kita terlambat, lupa, keliru. Kita tidak mampu memenuhi harapan orang lain. Dan pada saat itulah, kita berharap ada seseorang yang mau memahami keadaan kita. Karena itu, belajarlah memberikan kepada orang lain apa yang suatu hari ingin kita terima.

Jika mereka salah, nasihati dengan baik. Jika mereka lemah, kuatkan. Jika mereka memiliki uzur, pahami. Jika mereka kecewa, dengarkan. Jika mereka jatuh, bantu bangkit. Jika mereka meminta maaf, berikan ruang untuk memperbaiki diri. Dan jika kita yang melakukan kesalahan, jangan terlalu gengsi untuk mengatakan, “Saya minta maaf.”

Sebab menjadi pribadi yang matang bukan berarti tidak pernah salah. Kematangan justru terlihat dari kemampuan mengakui kesalahan, memperbaiki diri, dan tetap menjaga hubungan dengan sesama. Pada akhirnya, kita semua sedang belajar. Belajar menjadi lebih sabar. Belajar lebih adil. Belajar mengendalikan amarah.

Belajar memaafkan. Belajar memahami bahwa di balik sikap seseorang, mungkin ada cerita yang belum kita ketahui. Maka, sebelum hati kita berkata, “Mengapa dia seperti itu?”, mungkin ada pertanyaan yang lebih baik: “Apa yang sedang ia hadapi?”

Sebelum kita menghakimi, mungkin kita perlu mendengar. Sebelum kita menjauh, mungkin kita perlu memahami. Sebelum kita marah, mungkin kita perlu memberi ruang. Dan sebelum kita menutup pintu, ingatlah bahwa setiap manusia masih memiliki kesempatan untuk berubah. Semoga Allah SWT menjadikan kita pribadi yang tegas dalam kebenaran, tetapi lembut kepada manusia.

Lapang dalam menghadapi perbedaan. Mudah memaafkan. Mampu menahan amarah. Adil ketika hati sedang kecewa. Karena dakwah tidak hanya membutuhkan orang-orang yang mampu menyampaikan kebenaran. Dakwah juga membutuhkan hati yang mampu memahami manusia dalam proses mereka menuju kebaikan. Wallahu a’lam bishawab.

2Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *