Ketika Allah Memilihkan Jalan yang Berbeda

@ Cecep Y Pramana

Ada kehilangan yang pada awalnya terasa seperti akhir dari segalanya. Sesuatu yang kita cintai tiba-tiba pergi. Sebuah kesempatan yang sudah lama dinanti tidak jadi milik kita. Rencana yang disusun dengan penuh harapan harus berhenti di tengah jalan. Seseorang yang kita kira akan selalu ada, ternyata harus melangkah pergi.

Kita terdiam. Lalu bertanya dalam hati, “Mengapa Allah mengambil ini dariku?” Pertanyaan itu manusiawi. Ketika kehilangan sesuatu yang berarti, hati membutuhkan waktu untuk menerima kenyataan. Namun, mungkin ada satu pertanyaan lain yang perlu kita pelajari. “Ya Allah, apa yang sedang Engkau selamatkan dariku melalui kehilangan ini?”

Sebab tidak semua yang pergi adalah keburukan. Tidak semua yang kita kehilangan berarti Allah Subhanahu wata’ala sedang menghukum atau menyakiti kita. Bisa jadi, Allah Subhanahu wata’ala sedang menjaga kita dari sesuatu yang belum mampu kita lihat. Kita hanya melihat apa yang ada di depan mata. Allah Subhanahu wata’ala mengetahui apa yang ada di baliknya.

Kita sering menilai sebuah kejadian dari apa yang terjadi hari ini. Allah Subhanahu wata’ala mengetahui bagaimana peristiwa itu akan memengaruhi hidup kita bertahun-tahun kemudian. Karena itu, terkadang sesuatu yang kita tangisi hari ini justru menjadi alasan kita bersyukur di kemudian hari.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Ayat ini mengajarkan sebuah sikap hati yang tidak mudah. Percaya ketika kita belum memahami.Itulah tawakal. Tawakal bukan berarti kita tidak boleh sedih. Kehilangan tetap boleh membuat kita menangis. Hati tetap boleh merasa berat. Kita boleh kecewa terhadap keadaan. Namun, di balik semua itu, kita belajar untuk tidak berprasangka buruk kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Kita belajar berkata, “Ya Allah, aku belum memahami alasan-Mu. Tetapi aku percaya pilihan-Mu lebih baik daripada pilihanku.” Kalimat sederhana itu dapat mengubah cara kita memandang kehilangan. Sebab terkadang kita terlalu sibuk mempertahankan sesuatu yang memang tidak ditakdirkan untuk tinggal.

Kita memaksa pintu yang sudah Allah Subhanahu wata’ala tutup. Kita terus melihat ke belakang, sementara Allah Subhanahu wata’ala sedang mengarahkan kita kepada jalan yang berbeda. Kita bertanya mengapa sesuatu harus berakhir, padahal mungkin Allah Subhanahu wata’ala sedang memberikan kesempatan untuk memulai sesuatu yang lebih baik.

Tidak semua pintu yang tertutup harus kita buka kembali. Tidak semua yang pergi harus kita kejar. Tidak semua rencana yang gagal harus kita sesali sepanjang hidup. Ada kalanya kita hanya perlu menerima, mengambil pelajaran, lalu melanjutkan perjalanan.

Maka, kehilangan pun dapat menjadi jalan menuju kebaikan ketika kita meresponsnya dengan iman. Mungkin kehilangan membuat kita lebih dekat kepada Allah Subhanahu wata’ala. Mungkin kegagalan membuat kita lebih rendah hati. Mungkin sesuatu yang tidak kita dapatkan justru menyelamatkan kita dari kesombongan.

Mungkin seseorang yang pergi membuat kita belajar bahwa tempat bergantung yang paling kokoh hanyalah Allah Subhanahu wata’ala. Kita tidak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan. Tetapi kita selalu berada dalam pengetahuan Allah Subhanahu wata’ala. Dan itu cukup untuk membuat hati belajar tenang.

Jika hari ini ada sesuatu yang hilang dari hidupmu, tidak apa-apa jika kamu masih sedih. Berikan waktu kepada hatimu untuk menerima. Namun, jangan biarkan kesedihan membuatmu lupa bahwa Allah Subhanahu wata’ala tetap bersama orang-orang yang bersabar.

Mungkin sekarang kita belum melihat kebaikannya. Tidak apa-apa. Tidak semua hikmah harus langsung dipahami. Ada hikmah yang baru terlihat setelah waktu berlalu. Ada jawaban yang baru terasa setelah kita melewati beberapa fase kehidupan.

Suatu hari nanti, mungkin kita akan menoleh ke belakang dan berkata: “Ternyata Allah benar. Ternyata yang dulu kukira kehilangan, adalah bentuk penjagaan-Nya.” Maka ketika sesuatu yang kita cintai harus pergi, jangan hanya bertanya, “Kenapa ini terjadi?”

Cobalah belajar mengatakan: “Ya Allah, aku percaya pilihan-Mu lebih baik.” Jika memang itu baik bagi kita, Allah Subhanahu wata’ala akan mendekatkannya. Jika tidak, Allah Subhanahu wata’ala mampu menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik, atau memberikan ketenangan yang lebih berharga daripada apa yang pernah kita miliki.

Tugas kita bukan memahami seluruh rencana Allah Subhanahu wata’ala. Tugas kita adalah tetap percaya, tetap berikhtiar, tetap bersabar, dan menjaga hati agar tidak jauh dari-Nya. Sebab boleh jadi, sesuatu yang Allah Subhanahu wata’ala ambil dari tangan kita bukan untuk membuat kita kosong. Tetapi agar tangan kita siap menerima sesuatu yang lebih baik.

Dan boleh jadi, kehilangan yang hari ini terasa begitu berat adalah bagian dari cara Allah Subhanahu wata’ala mengajarkan kita satu hal yang sangat penting: Tidak semua yang kita cintai harus kita miliki selamanya. Tetapi apa pun yang Allah Subhanahu wata’ala pilihkan untuk kita, selalu layak kita hadapi dengan iman. Bismillah.

0Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *