Saat Hati Mulai Merindukan UPA
@ Tarwiyah Ruslan (Bu Awi)
Ada masa ketika seseorang mulai merindukan sebuah pertemuan. Bukan karena tempatnya istimewa. Bukan pula karena hidangannya selalu tersedia. Bukan karena setiap pertemuan menghadirkan sesuatu yang besar. Ia hanya merasa ada sesuatu yang berbeda ketika berada di sana.
Ada ketenangan. Ada percakapan yang membuat hati lebih lapang. Ada nasihat yang mungkin sederhana, tetapi terasa tepat menyentuh bagian diri yang sedang lelah. Ada wajah-wajah yang tidak selalu sempurna, tetapi membuat kita merasa diterima. Itulah yang sering terjadi ketika UPA mulai menemukan tempatnya di hati.
Awalnya mungkin hanya sebuah agenda rutin. Ada jadwal yang harus dihadiri. Ada materi yang perlu dipelajari. Ada pembina yang menunggu. Ada anggota yang datang silih berganti. Namun perlahan, sesuatu tumbuh. Pertemuan itu mulai dinantikan.
Hari UPA mulai terasa berbeda. Ketika jadwalnya tiba, hati seperti berkata, “Sudah waktunya pulang.” Bukan pulang ke rumah dalam arti tempat tinggal. Tetapi pulang kepada suasana yang mengingatkan kita kepada Allah Subhanahu wata’ala, kepada persaudaraan, kepada ilmu, dan kepada tujuan hidup yang lebih tinggi.
Ada Rindu yang Tidak Banyak Bicara
Kerinduan kepada UPA sering kali tidak datang dengan suara keras. Ia hadir diam-diam. Ketika seseorang sedang sibuk bekerja, tiba-tiba teringat pembicaraan pekan lalu. Ketika sedang menghadapi masalah, teringat nasihat seorang teman di majelis.
Ketika hati mulai lelah, muncul keinginan untuk duduk bersama orang-orang yang selama ini mengingatkan tentang kesabaran dan kebaikan. Rindu seperti itu tidak selalu mudah dijelaskan. Sebab yang dirindukan bukan sekadar pertemuannya. Yang dirindukan adalah suasananya.
Suasana ketika seseorang boleh menjadi dirinya sendiri tanpa harus terlihat selalu kuat. Suasana ketika cerita didengarkan. Suasana ketika kekurangan tidak menjadi alasan untuk dijauhi. Suasana ketika kesalahan tidak hanya dikritik, tetapi diarahkan untuk diperbaiki.
Dan yang paling penting, suasana ketika hati kembali diingatkan bahwa hidup ini bukan sekadar mengejar kesibukan dunia. Allah SWT berfirman: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram”. (QS. Ar-Ra’d: 28). Mungkin itulah salah satu alasan mengapa majelis kebaikan dapat meninggalkan rasa yang berbeda.
Hati manusia membutuhkan tempat untuk berhenti sejenak. Ia membutuhkan ruang untuk mengingat kembali siapa dirinya, untuk apa hidupnya, dan ke mana langkahnya akan dibawa. UPA dapat menjadi salah satu ruang itu.
Dulu Hadir Karena Jadwal, Kini Hadir Karena Rindu
Ada perbedaan antara hadir karena kewajiban dan hadir karena kesadaran. Pada awalnya, seseorang mungkin datang karena ada jadwal. Alarm berbunyi, pesan pengingat masuk. Pembina menghubungi, lalu ia bersiap dan berangkat. Tidak ada yang salah dengan itu.
Disiplin memang sering kali dimulai dari kemampuan memaksa diri melakukan kebaikan. Namun, perjalanan pembinaan yang sehat perlahan mengubah sesuatu. Yang semula terasa sebagai kewajiban, mulai berubah menjadi kebutuhan. Yang semula harus diingatkan, mulai dilakukan dengan kesadaran.
Yang semula hanya datang agar tercatat hadir, mulai datang dengan keinginan untuk mendapatkan sesuatu. Ilmu, nasihat, persaudaraan, ketenangan, kenikmatan. Atau sekadar kesempatan untuk duduk bersama orang-orang yang sama-sama ingin menjadi lebih baik. Di situlah pembinaan mulai menyentuh hati. Sebab pembinaan bukan hanya tentang berapa banyak materi yang selesai disampaikan.
Bukan hanya tentang berapa kali pertemuan berlangsung. Lebih dalam dari itu, pembinaan adalah perjalanan membentuk manusia. Membantu seseorang mengenali kekurangannya. Mendorongnya memperbaiki diri. Menjaga semangatnya ketika lelah. Dan mengingatkannya untuk tetap berjalan ketika langkah mulai berat.
UPA yang Membuat Kita Tidak Merasa Sendirian
Ada masa dalam kehidupan ketika seseorang terlihat baik-baik saja, padahal sebenarnya sedang berjuang. Ia tetap bekerja. Tetap tersenyum. Tetap menjalankan aktivitas. Tetapi di dalam dirinya ada banyak hal yang tidak mampu ia ceritakan kepada siapa pun. Pada saat seperti itu, kehadiran orang-orang yang peduli menjadi sangat berarti.
Bukan untuk menyelesaikan seluruh masalah. Cukup untuk mengatakan, “Kami ada di sini.” Kadang seseorang tidak membutuhkan nasihat panjang. Ia hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan. Tidak buru-buru menghakimi. Tidak membandingkan. Tidak membuatnya merasa kecil. Inilah salah satu bentuk indah dari ukhuwah.
Rasulullah SAW menggambarkan hubungan sesama orang beriman seperti sebuah bangunan. Satu bagian menguatkan bagian lainnya. (HR. Bukhari dan Muslim). Bangunan tidak berdiri karena satu batu. Ia kokoh karena setiap bagian saling menopang. Begitu pula sebuah UPA.
Ia tidak hidup hanya karena pembina atau pembimbing. Tidak pula hanya karena anggota yang paling aktif. Ia tumbuh karena setiap orang bersedia mengambil bagian. Ada yang mengingatkan. Ada yang mendengarkan. Ada yang menyemangati.
Ada yang menyediakan waktu. Ada yang membawa ilmu. Ada yang sekadar hadir tepat waktu dan membuat suasana menjadi lebih hidup. Hal-hal kecil itu sering kali tidak terlihat. Tetapi justru dari sanalah kekuatan sebuah kebersamaan tumbuh.
Ketika UPA Mulai Dirindukan
Sebuah UPA mulai hidup ketika anggotanya tidak hanya merasa harus hadir, tetapi mulai merasa kehilangan ketika tidak hadir. Bukan berarti setiap pertemuan harus selalu sempurna. Tidak. Kadang pembahasannya biasa saja. Kadang ada anggota yang terlambat. Kadang suasana terlalu serius.
Kadang diskusi tidak menemukan titik temu. Kadang seseorang datang dengan wajah lelah. Namun ada sesuatu yang lebih penting daripada kesempurnaan acara. Ada hati yang saling mendekat. Ada keinginan untuk tetap belajar. Ada kesediaan untuk saling memahami.
Ada rasa bahwa pertemuan ini memberi sesuatu bagi kehidupan. Karena itu, UPA yang dirindukan bukanlah UPA yang selalu penuh dengan kemeriahan. UPA yang dirindukan adalah UPA yang membuat anggotanya merasa bertumbuh. Setelah pulang, ada sesuatu yang berubah.
Mungkin hanya satu niat. Satu pemahaman. Satu kebiasaan baik. Satu ayat yang direnungkan. Satu kesalahan yang ingin diperbaiki. Tetapi perubahan kecil itu terus terakumulasi. Hari demi hari. Pekan demi pekan. Bulan demi bulan. Hingga tanpa disadari, seseorang yang dahulu mudah menyerah menjadi lebih sabar.
Yang dahulu mudah marah mulai belajar menahan diri. Yang dahulu ragu mulai berani mengambil peran. Yang dahulu hanya datang mulai belajar mengajak orang lain datang. Itulah pertumbuhan. Tidak selalu terlihat cepat. Tetapi nyata.
Rindu yang Mengajak Kita Kembali
Ada orang yang pernah jauh dari UPA. Kesibukan membuatnya jarang hadir. Pekerjaan semakin padat. Keluarga membutuhkan perhatian. Aktivitas sosial bertambah. Atau mungkin ada masa ketika semangatnya memang sedang turun.
Ia tidak lagi hadir seperti dulu. Namun suatu hari, ia kembali. Duduk di tempat yang mungkin sudah berubah. Bertemu dengan wajah-wajah yang sebagian masih sama. Mendengar suara pembina. Mengikuti pembahasan. Lalu tiba-tiba muncul perasaan yang sulit dijelaskan.
“Rupanya aku merindukan suasana ini.” Ia baru menyadarinya setelah kembali. Ternyata yang dirindukan bukan sekadar UPA. Yang dirindukan adalah dirinya sendiri ketika berada di lingkungan yang mengingatkan kepada kebaikan. Sebab manusia kadang tidak kehilangan jalan.
Ia hanya terlalu lama berjalan sendirian. Dan ketika kembali berkumpul dengan orang-orang yang saling mengingatkan, arah itu perlahan terlihat lagi. Allah SWT berfirman: “Dan tetaplah engkau memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang beriman.” (QS. Adz-Dzariyat: 55).
Kita memang membutuhkan pengingat. Bahkan orang yang sudah lama belajar pun tetap membutuhkan nasihat. Sebab iman manusia tidak selalu berada pada titik yang sama. Ada naik, ada turun, ada kuat, dan ada lemah. Karena itu, kebersamaan dalam kebaikan menjadi penting.
Bukan Sekadar Duduk Bersama
UPA tidak seharusnya berhenti pada pertemuan. Sebab kehidupan dimulai kembali setelah seseorang meninggalkan majelis. Di luar UPA ada keluarga. Ada pekerjaan. Ada masyarakat. Ada tetangga. Ada teman. Ada persoalan kehidupan. Di sanalah nilai-nilai yang dipelajari diuji.
Apakah kesabaran yang dibicarakan di majelis menjadi kesabaran di rumah? Apakah adab yang dipelajari menjadi perilaku ketika berinteraksi dengan orang lain? Apakah kepedulian kepada sesama berhenti menjadi pembicaraan? Apakah semangat dakwah hanya terasa ketika berada di dalam majelis?
Atau justru menjadi energi untuk hadir di tengah masyarakat? UPA yang hidup akan melahirkan anggota yang membawa kebaikan keluar dari ruang pertemuan. Sebab ilmu yang baik semestinya melahirkan amal. Dan amal yang baik semestinya membawa manfaat.
Rasulullah SAW bersabda bahwa manusia yang paling dicintai Allah SWT adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. (HR. ath-Thabrani).Maka ukuran keberhasilan pembinaan bukan hanya seberapa nyaman seseorang berada di dalam UPA. Tetapi juga seberapa besar kebaikan yang ia bawa setelah keluar dari UPA.
Ketika Kesibukan Mulai Mengambil Waktu
Kehidupan modern membuat manusia semakin sibuk. Pekerjaan tidak pernah benar-benar selesai. Pesan masuk hampir setiap saat. Media sosial menghadirkan begitu banyak perhatian yang harus dibagi. Agenda keluarga bertambah. Aktivitas sosial semakin banyak.
Bahkan waktu istirahat pun kadang dipenuhi dengan layar. Di tengah semuanya, menjaga waktu untuk pembinaan menjadi tantangan tersendiri. Sering kali bukan karena seseorang tidak mencintai UPA. Ia hanya merasa tidak memiliki waktu. Padahal waktu adalah sesuatu yang selalu terasa kurang jika tidak sengaja disediakan.
Karena itu, kerinduan kepada UPA perlu diterjemahkan menjadi keputusan. Menyediakan waktu. Menjaga komitmen. Mengatur agenda. Berusaha hadir. Jika sesekali ada uzur, tentu ada ruang untuk saling memahami. Namun, jangan sampai kesibukan membuat kita perlahan kehilangan sesuatu yang sebenarnya sedang kita butuhkan. Ada banyak hal yang bisa ditunda. Tetapi pertumbuhan jiwa jangan terlalu sering ditunda.
Rindu Itu Perlu Dirawat
Kerinduan tidak akan bertahan jika tidak dirawat. Begitu pula rasa cinta kepada majelis. UPA perlu menjadi tempat yang membuat orang ingin kembali. Bukan dengan kemewahan. Bukan dengan acara yang selalu besar. Tetapi dengan kualitas hubungan.
Dengan adab. Dengan perhatian. Dengan materi yang relevan. Dengan pembina yang hadir bukan hanya sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai pendamping perjalanan. Dengan anggota yang saling menghargai. Dengan suasana yang membuat setiap orang merasa memiliki ruang untuk bertumbuh. Kadang sebuah jamuan sederhana dapat membuat seseorang merasa diperhatikan.
Kadang candaan ringan membuat pertemuan terasa lebih hangat. Kadang satu pertanyaan, “Apa kabarmu?” dapat membuka cerita yang sudah lama disimpan. Kadang satu pesan setelah pertemuan, “Semoga Allah mudahkan urusanmu,” membuat seseorang merasa tidak sendirian. Kebaikan memang sering hadir dalam bentuk yang sederhana. Tetapi sederhana bukan berarti tidak bermakna.
Ada Jiwa yang Sedang Bertumbuh
Setiap anggota datang dengan cerita yang berbeda. Ada yang sedang membangun keluarga. Ada yang sedang mengejar pendidikan. Ada yang sedang menata karier. Ada yang sedang mencari arah. Ada yang terlihat kuat tetapi sebenarnya sedang belajar bertahan.
Ada pula yang masih mencari tempat untuk merasa diterima. Karena itu, UPA tidak boleh hanya melihat seseorang dari kehadirannya. Di balik setiap nama ada perjalanan. Ada perjuangan. Ada potensi. Ada masa depan. Ada kemungkinan menjadi pribadi yang jauh lebih baik.
Pembinaan adalah proses menemani perjalanan itu. Tidak semuanya bisa berubah dalam satu pertemuan. Tidak semua nasihat langsung menghasilkan perubahan. Tetapi satu kalimat yang baik dapat tinggal bertahun-tahun di dalam ingatan seseorang. Satu teladan dapat mengubah cara seseorang menjalani hidup.
Satu lingkungan yang baik dapat menyelamatkan seseorang dari kesepian dalam perjalanan mencari kebaikan. Maka jangan pernah meremehkan pertemuan yang terlihat sederhana. Bisa jadi bagi seseorang, itulah tempat Allah menghadirkan kekuatan baru.
Rindu yang Sesungguhnya
Pada akhirnya, mungkin ada satu pertanyaan yang layak kita renungkan. Apa sebenarnya yang kita rindukan ketika merindukan UPA? Apakah kita hanya merindukan orang-orangnya? Apakah kita merindukan suasananya? Atau sebenarnya kita sedang merindukan versi diri kita yang lebih dekat kepada Allah?
Diri yang lebih rajin membaca Al-Qur’an. Diri yang lebih mudah tersenyum. Diri yang lebih sabar. Diri yang lebih peduli. Diri yang berani memperbaiki kesalahan. Diri yang memiliki tujuan. Diri yang tidak mudah menyerah. Bisa jadi itulah makna terdalam dari sebuah kerinduan. Kita merindukan suasana yang membantu kita menjadi lebih baik.
Maka ketika hati mulai merindukan UPA, jangan abaikan rasa itu. Bisa jadi itu adalah panggilan lembut agar kita kembali. Kembali belajar. Kembali mendengar. Kembali berbagi. Kembali menguatkan. Kembali menguatkan orang lain. Dan yang paling penting, kembali menata hati.
Pulang dengan Hati yang Lebih Baik
Ada pertemuan yang selesai ketika orang-orang meninggalkan ruangan. Tetapi ada pula pertemuan yang terus hidup setelah semua orang pulang. Nasihatnya masih teringat. Doanya masih terucap. Semangatnya masih terasa. Kebaikannya masih dibawa ke rumah. Itulah pertemuan yang memiliki bekas.
Semoga UPA menjadi ruang seperti itu. Tempat seseorang datang dengan berbagai kelemahan, lalu pulang membawa sedikit kekuatan. Datang dengan hati yang lelah, lalu pulang dengan harapan. Datang dengan banyak pertanyaan, lalu pulang dengan satu keyakinan baru.
Datang sebagai seseorang yang sedang mencari arah, lalu pulang dengan langkah yang lebih terarah. Sebab pada akhirnya, kita tidak hanya membutuhkan tempat untuk berkumpul. Kita membutuhkan tempat untuk bertumbuh. Kita membutuhkan orang-orang yang mengingatkan ketika lupa.
Menguatkan ketika lemah. Menegur ketika salah. Mendampingi ketika jatuh. Dan mendoakan ketika tidak sedang bersama. Jika suatu hari hati mulai merindukan UPA, mungkin itu bukan sekadar rindu kepada sebuah pertemuan. Mungkin hati sedang merindukan suasana yang pernah membuatnya lebih dekat kepada Allah Subhanahu wata’ala.
Mungkin jiwa sedang meminta kembali kepada lingkungan yang menumbuhkan. Mungkin ada bagian dari diri kita yang ingin kembali belajar menjadi lebih baik. Maka jangan biarkan rindu itu hanya menjadi perasaan. Jadikan ia langkah. Jadikan ia kehadiran.
Jadikan ia semangat untuk kembali bertumbuh. Karena terkadang, jalan untuk kembali kuat tidak dimulai dari sesuatu yang besar. Ia dimulai dari satu langkah sederhana. Datang, duduk, mendengar, belajar, berbagi.
Dan pulang dengan hati yang sedikit lebih baik daripada ketika kita datang. Saat hati mulai merindukan UPA, mungkin sesungguhnya hati sedang merindukan kebaikan. Dan semoga setiap kerinduan kepada majelis kebaikan menjadi jalan bagi kita untuk semakin dekat kepada Allah Subhanahu wata’ala. Wallahu a’lam bishawab.