Cinta yang Bersenandung

@ Cecep Y. Pramana

Pagi selalu punya cara sendiri untuk mengajarkan manusia tentang cinta. Ketika matahari perlahan muncul dari balik cakrawala, menyiram bumi dengan cahaya keemasan, ada sesuatu yang terasa seperti nyanyian. Alam seakan sedang bersenandung tentang kehidupan, tentang harapan, dan tentang kesempatan untuk kembali memulai. Di sanalah aku jatuh cinta.

Bukan kepada sesuatu yang sempurna. Bukan pula kepada kehidupan yang selalu berjalan sesuai keinginan. Aku jatuh cinta kepada segala sesuatu yang hadir apa adanya. Saat manusia berlari mengejar waktu, aku jatuh cinta. Saat bulan diam-diam merindukan bintang-bintang, aku pun belajar tentang rindu.

Dan ketika daun melepaskan diri dari tangkainya, jatuh perlahan ke tanah, aku mengerti bahwa tidak semua yang pergi harus disesali. Ada saatnya kita harus melepaskan sesuatu agar kehidupan menemukan jalannya sendiri. Aku merindukannya seperti daun merindukan tangkainya.

Aku menginginkannya seperti riak ombak yang tak pernah lelah menyentuh pantai. Dan aku mencintainya seperti langit yang tetap membentang luas, meski kadang harus menanggung mendung dan hujan. Begitulah cinta barangkali bekerja. Ia tidak selalu hadir dalam bentuk pertemuan.

Kadang cinta bersembunyi di balik perpisahan. Kadang ia tinggal dalam sebuah kenangan. Dan sering kali, cinta justru tumbuh dari kemampuan kita untuk menerima kenyataan.

Ketika Pagi Mengajarkan Harapan

Pagi datang. Aku pun bersenandung. “Cinta, embun, burung, bunga, dan kerumunan… apa kabar kalian?” Dunia perlahan bergerak. Burung mencari makan, bunga membuka kelopak, manusia mulai meninggalkan rumah, dan jalan-jalan kembali dipenuhi langkah kaki.

Semua bergerak menuju tujuan masing-masing. Di antara kesibukan itu, aku belajar bahwa hidup tidak pernah benar-benar berhenti. Bahkan ketika kita merasa tertinggal, waktu tetap berjalan. Karena itu, setiap pagi sesungguhnya adalah kesempatan baru.

Kesempatan untuk mencoba lagi. Kesempatan untuk memaafkan. Kesempatan untuk mencintai. Dan kesempatan untuk menjadi manusia yang sedikit lebih baik daripada kemarin.

Ketika Siang Menguji Kesabaran

Kemudian siang datang dengan matahari yang terik. Peluh mulai mengalir. Jalan menjadi bising. Asap kendaraan memenuhi udara. Kesibukan membuat manusia kadang lupa bahwa dirinya juga membutuhkan jeda.

Aku menatap semua itu dan berkata, “Hai terik, peluh, resah, bising, dan asap…apakah kalian datang untuk menjumpaiku?” Ternyata kehidupan memang tidak hanya menawarkan keindahan. Ada panas yang harus dilalui. Ada lelah yang harus diterima.

Ada kegagalan yang harus dipelajari. Ada keresahan yang kadang tidak menemukan jawaban. Namun bukankah justru di sanalah manusia ditempa? Kita tidak akan pernah tahu seberapa kuat diri kita sebelum kehidupan memberikan alasan untuk bertahan.

Maka, jika hari ini terasa berat, mungkin bukan berarti perjalanan kita salah arah. Bisa jadi kita sedang belajar menjadi lebih kuat. Sebab tidak semua luka datang untuk menghancurkan. Sebagian luka datang untuk mengajarkan kita cara berjalan dengan lebih hati-hati.

Senja dan Sisa-Sisa Semangat

Sore akhirnya tiba. Langit berubah warna. Senja kemuning perlahan menggantikan teriknya matahari. Aku pun berteriak kepada dunia, “Hai lelah, senja kemuning, sisa semangat, bulan, dan bintang… teruslah tersenyum dan berdoa kepada Pemilik Alam Semesta.”

Di penghujung hari, manusia sering kali baru menyadari betapa panjang perjalanan yang telah ditempuh. Ada target yang tercapai. Ada harapan yang belum terwujud. Ada pertemuan yang membahagiakan. Ada pula perpisahan yang meninggalkan ruang kosong di dalam hati. Tetapi hidup bukan tentang berapa banyak yang berhasil kita dapatkan.

Hidup juga tentang bagaimana kita tetap bersyukur atas apa yang masih kita miliki. Jika hari ini belum menjadi hari yang kita impikan, tidak apa-apa. Besok masih ada. Jika langkah kita terasa lambat, tidak apa-apa. Yang penting kita belum berhenti. Sebab terkadang kemenangan terbesar bukanlah ketika kita sampai di tujuan, melainkan ketika kita memilih untuk tetap berjalan meski berkali-kali ingin menyerah.

Malam, Tempat Hati Beristirahat

Malam pun datang. Angin bergerak perlahan. Pepohonan bergoyang. Langit menjadi luas dan gelap. Bintang-bintang mulai muncul satu per satu. Di tengah keheningan itu, lirih aku berkata, “Hai malam, angin, pohon, langit, dan tempat peraduan para kekasih… aku mencintaimu dengan syukur semesta.”

Malam mengajarkan satu hal sederhana: setelah berlari seharian, manusia juga membutuhkan tempat untuk berhenti. Kita membutuhkan hening. Kita membutuhkan doa. Kita membutuhkan waktu untuk berbicara dengan diri sendiri.

Sebab di tengah dunia yang begitu ramai, sering kali suara yang paling penting justru adalah suara hati kita sendiri. Di malam itu aku kembali mengingat perjalanan hari ini. Tentang matahari yang bersinar. Tentang manusia yang berlari mengejar waktu. Tentang daun yang jatuh. Tentang ombak yang datang dan pergi. Tentang senja yang perlahan menghilang.

Semuanya mengajarkan hal yang sama: tidak ada yang benar-benar abadi. Mentari akan terbenam. Bunga akan layu. Daun akan gugur. Manusia akan menua. Bahkan kenangan yang dulu terasa begitu kuat, suatu hari mungkin menjadi sesuatu yang samar dalam ingatan.

Mentari seakan terpasung dalam dekapan zaman, hingga perlahan usang dan terlupakan. Tetapi justru karena semuanya sementara, kehidupan menjadi begitu berharga. Maka cintailah selagi masih ada kesempatan. Peluklah mereka yang masih bisa dipeluk.

Ucapkan terima kasih selagi masih ada waktu. Maafkan sebelum jarak membuatnya terlambat. Dan jangan terlalu sibuk mengejar hari esok hingga lupa menikmati hari ini. Sebab barangkali cinta bukanlah tentang memiliki seseorang selamanya.

Cinta adalah kemampuan untuk tetap menghargai kehidupan, bahkan ketika sesuatu harus pergi. Cinta adalah keberanian untuk membuka hati setelah pernah terluka. Cinta adalah kesediaan untuk berjalan lagi setelah pernah jatuh.

Dan cinta adalah rasa syukur karena kita masih diberi kesempatan untuk melihat matahari terbit esok pagi. Maka biarlah kehidupan terus bersenandung. Biarlah pagi membawa harapan. Biarlah siang mengajarkan keteguhan. Biarlah sore mengajarkan penerimaan.

Dan biarlah malam mengajarkan kita untuk bersyukur. Karena pada akhirnya, mungkin kita semua hanyalah bagian kecil dari lagu panjang semesta. Dan selama napas masih ada, teruslah mencintai, teruslah melangkah, dan teruslah bersenandung. Bismillah.

0Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *