Dalam Rezeki Kita, Ada Hak Orang Lain

@ Cecep Y Pramana

Pagi itu, seorang lelaki keluar dari rumah lebih awal dari biasanya. Langit belum sepenuhnya terang. Jalanan mulai dipenuhi kendaraan yang bergerak menuju tempat kerja. Di tangannya ada secangkir kopi, sementara pikirannya sudah dipenuhi berbagai urusan: pekerjaan yang harus selesai, cicilan yang jatuh tempo, kebutuhan anak, tagihan rumah, dan rencana-rencana yang ingin diwujudkan.

Di lampu merah, ia berhenti. Di sisi jalan, seorang anak kecil berdiri membawa beberapa bungkus makanan ringan. Ia menawarkan dagangannya dari satu kendaraan ke kendaraan lain. Sesekali ia tersenyum kepada pengendara yang menolak. Tidak ada keluhan. Tidak ada paksaan.

Lelaki itu memperhatikannya beberapa saat. Ia sebenarnya sedang menghitung uang di dompet. Bukan karena tidak punya uang sama sekali. Tetapi karena ia merasa banyak kebutuhan yang harus diselesaikan. “Bulan ini pengeluaran banyak,” pikirnya.

Kalimat yang sangat biasa. Kita mungkin pernah mengatakannya. Bahkan mungkin sering. Lampu lalu lintas masih merah. Anak itu kembali berjalan di antara kendaraan. Lelaki tersebut akhirnya membuka dompet. Ia mengambil sejumlah uang, lalu memanggil anak itu.

Karena Sebagian Rezeki Kita, Ada Hak Orang Lain di Dalamnya

Bukan untuk membeli sesuatu yang sebenarnya tidak ia perlukan, tetapi sekadar ingin memberikan sedikit bantuan. Anak itu menerima uang tersebut dengan wajah yang berubah cerah. “Terima kasih, Pak”. Hanya dua kata. Kemudian lampu berubah hijau. Kendaraan kembali bergerak.

Pemandangan itu selesai begitu saja. Tidak ada yang istimewa bagi lalu lintas pagi itu. Orang-orang kembali mengejar tujuan masing-masing. Tetapi bagi lelaki tadi, ada sesuatu yang terasa berbeda. Ia tiba-tiba menyadari bahwa selama ini ia terlalu sering memikirkan apa yang belum dimilikinya.

Rumah yang ingin diperbaiki. Kendaraan yang ingin diganti. Tabungan yang ingin ditambah. Keinginan yang ingin dipenuhi. Sementara pagi itu, Allah Subhanahu wata’ala memperlihatkan kepadanya seseorang yang mungkin sedang berjuang hanya untuk memenuhi kebutuhan hari itu. Ia tersenyum kecil.

Bukan karena merasa telah menjadi orang baik. Justru sebaliknya. Ia merasa sedang diingatkan. Bahwa rezeki bukan hanya tentang apa yang kita kumpulkan, tetapi juga tentang apa yang bersedia kita bagikan. Mungkin itulah salah satu cara Allah Subhanahu wata’ala mendidik hati manusia.

Kadang melalui kajian. Kadang melalui halaqah, dan UPA. Kadang melalui ayat-ayat Al-Qur’an. Kadang melalui nasihat seorang guru. Dan kadang, melalui pertemuan singkat dengan seseorang di lampu merah. Kita sering merasa bahwa sedekah baru bisa dilakukan ketika memiliki kelebihan.

Ketika penghasilan sudah besar. Ketika kebutuhan keluarga sudah selesai. Ketika tabungan sudah aman. Padahal, jika kita menunggu semua kebutuhan selesai, mungkin kita tidak akan pernah merasa benar-benar memiliki kelebihan. Sebab kebutuhan manusia hampir selalu tumbuh bersama penghasilannya.

Ketika pendapatan bertambah, keinginan bertambah. Ketika satu kebutuhan selesai, muncul kebutuhan lain. Karena itu, sedekah bukan sekadar persoalan menunggu sisa. Sedekah adalah keputusan hati untuk menyisihkan sebagian dari apa yang Allah Subhanahu wata’ala titipkan kepada kita.

Tidak harus besar. Tidak harus diketahui orang. Tidak harus menunggu kaya. Yang dibutuhkan adalah kesadaran diri kita bahwa di balik rezeki yang sampai ke tangan kita, ada amanah yang mungkin Allah Subhanahu wata’ala ingin kita teruskan kepada orang lain.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Dan apa saja yang kamu infakkan dari suatu kebaikan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya”. (QS. Al-Baqarah: 273).Allah Subhanahu wata’ala mengetahui pemberian yang mungkin tidak diketahui siapa pun.

Allah Subhanahu wata’ala mengetahui uang yang kita sisihkan diam-diam. Allah Subhanahu wata’ala mengetahui makanan yang kita berikan kepada seseorang. Allah Subhanahu wata’ala mengetahui bantuan yang tidak pernah kita ceritakan. Dan Allah Subhanahu wata’ala mengetahui niat yang tersembunyi di balik setiap pemberian.

Karena itu, jangan tunggu menjadi kaya untuk bersedekah. Jangan tunggu memiliki banyak untuk mulai berbagi. Barangkali yang Allah Subhanahu wata’ala lihat bukan besarnya pemberian kita. Barangkali yang Allah Subhanahu wata’ala lihat adalah besarnya keikhlasan hati ketika kita memberi.

Sedekah Bukan Sekadar Mengeluarkan Harta

Dalam Islam, sedekah memiliki makna yang luas. Ia memang dapat berupa harta yang diberikan kepada orang yang membutuhkan. Tetapi kebaikan juga dapat hadir dalam banyak bentuk. Dalam Islam, sedekah tidak terbatas pada pemberian harta atau uang saja, melainkan mencakup segala bentuk kebaikan yang dilakukan secara ikhlas untuk mencari ridha Allah Subhanahu wata’ala.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap persendian manusia wajib bersedekah setiap hari…” Dalam hadits tersebut, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan berbagai bentuk kebaikan sebagai sedekah, seperti berlaku adil, membantu seseorang, mengucapkan perkataan yang baik, dan menyingkirkan gangguan dari jalan. (HR. Bukhari dan Muslim)

Betapa luasnya pintu kebaikan. Artinya, seseorang tidak harus menunggu menjadi kaya untuk bersedekah. Ada yang bersedekah dengan uang. Ada yang membantu tenaga. Ada yang berbagi makanan. Ada yang memberikan ilmu.

Ada yang membantu orang menyelesaikan persoalan. Ada yang menghibur hati orang yang sedang bersedih. Ada yang hanya memberikan senyum yang tulus. Semua itu mengajarkan satu hal: Seorang muslim selalu memiliki kesempatan untuk memberi.

Jangan Biarkan Kebaikan Berhenti di Dalam Hati

Mungkin setelah membaca tulisan ini, kita akan kembali kepada kesibukan masing-masing. Besok pagi kita bekerja. Mengurus keluarga. Mengejar target. Membayar kebutuhan. Menyelesaikan pekerjaan. Menjalani hidup seperti biasa.

Namun, sebelum semuanya kembali seperti semula, ada satu hal yang semoga tidak kita lupakan: Sedekah. Jangan hanya tersentuh ketika melihat orang lain kesulitan. Jangan hanya terharu ketika mendengar kisah tentang kemiskinan. Jangan hanya berkata, “Semoga Allah membantu.”

Jika Allah memberi kita kemampuan untuk membantu, mungkin doa kita sedang diminta untuk diwujudkan melalui tangan kita sendiri. Tidak perlu menunggu kaya. Tidak perlu menunggu memiliki banyak. Tidak perlu menunggu hidup benar-benar lapang.

Lihat apa yang ada di tangan kita hari ini. Mungkin ada sedikit uang. Mungkin ada makanan. Mungkin ada ilmu. Mungkin ada tenaga. Mungkin ada waktu. Mungkin ada kesempatan untuk menolong seseorang yang sedang kesulitan.

Gunakan apa yang Allah titipkan.

Sebab kita tidak pernah tahu kebaikan mana yang kelak menjadi penyelamat. Bisa jadi uang yang kita keluarkan hari ini menjadi sebab Allah Subhanahu wata’ala memudahkan urusan kita esok hari. Bisa jadi makanan yang kita berikan menjadi sebab hadirnya doa dari seseorang yang tidak kita kenal.

Bisa jadi bantuan kecil yang kita anggap biasa menjadi amal yang sangat berarti ketika seluruh amal kita diperlihatkan di hadapan Allah Subhanahu wata’ala. Dan bisa jadi, ketika suatu hari kita berdiri sendiri di hadapan-Nya, tidak banyak yang kita banggakan dari dunia ini.

Bukan jabatan. Bukan kendaraan. Bukan rumah. Bukan jumlah pengikut. Bukan saldo rekening. Yang tersisa adalah amal. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim).

Maka jangan biarkan kesempatan berbuat baik berlalu begitu saja. Jika hari ini Allah Subhanahu wata’ala memberi kita rezeki, sisihkan. Jika Allah Subhanahu wata’ala memberi kita kekuatan, gunakan untuk membantu. Jika Allah Subhanahu wata’ala memberi kita ilmu, bagikan.

Jika Allah Subhanahu wata’ala memberi kita kesempatan, manfaatkan untuk menghadirkan kebaikan. Jangan terlalu sibuk menghitung berapa yang tersisa setelah kita memberi. Sesekali, hitunglah berapa banyak yang sudah Allah Subhanahu wata’ala berikan kepada kita sebelum kita menerima semua itu.

Di situlah hati belajar bersyukur. Di situlah harta menemukan keberkahannya. Di situlah sedekah berubah dari sekadar memberi menjadi ibadah. Malam ini, sebelum tidur, mungkin tidak ada salahnya kita membuka kembali dompet, rekening, atau apa pun yang kita miliki.

Bukan untuk menghitung apa yang kurang. Tetapi untuk bertanya kepada diri sendiri: “Dari semua yang Allah titipkan kepadaku, apa yang hari ini bisa kubagikan?”Kemudian lakukan. Tidak perlu menunggu besok. Tidak perlu menunggu kaya.

Tidak perlu menunggu ada yang meminta. Mulailah dari yang kecil. Mulailah dari yang mampu. Mulailah dengan ikhlas. Mulailah hari ini.Karena suatu hari nanti, kita semua akan sampai pada sebuah masa ketika kesempatan memberi sudah tidak ada lagi.

Yang tersisa hanyalah catatan amal. Semoga ketika halaman itu dibuka, kita menemukan banyak kebaikan yang pernah kita lakukan dengan diam-diam. Kebaikan yang tidak diketahui manusia. Tetapi diketahui oleh Allah Subhanahu wata’ala.

Jangan lupa sedekah. Bukan karena kita memiliki banyak. Tetapi karena kita sadar, semua yang kita miliki berasaldari Allah Subhanahu wata’ala.Dan boleh jadi, tangan yang hari ini kita gunakan untuk memberi, kelak menjadi saksi bahwa kita pernah berusaha menjadi hamba yang bermanfaat. Wallahu a’lam bishawab.

2Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *