Kebaikan Kecil yang Tidak Pernah Kecil
@ Cecep Y Pramana
Suatu ketika, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengisahkan tentang seorang laki-laki yang sedang berjalan. Di tengah perjalanan, ia menemukan seekor anjing yang kehausan. Anjing itu menjulurkan lidah dan menjilat tanah karena rasa haus yang sangat berat.
Laki-laki itu kemudian mengambil air dari sebuah sumur dengan menggunakan sesuatu yang ada padanya. Ia memberi minum anjing tersebut. Tindakan itu tampak sederhana. Tidak ada yang besar dari apa yang dilakukannya. Ia hanya memberikan air kepada seekor hewan yang kehausan.
Namun, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa Allah Subhanahu wata’ala menghargai perbuatan tersebut. Dosa laki-laki itu diampuni karena kasih sayangnya kepada makhluk Allah Subhanahu wata’ala. (HR. Bukhari dan Muslim). Kisah itu seharusnya membuat kita berhenti sejenak. Betapa sering kita menganggap kebaikan terlalu kecil untuk diperhitungkan.
Kita berpikir bahwa amal harus besar agar bernilai. Harus banyak agar berarti. Harus terlihat agar dianggap bermanfaat. Padahal, di hadapan Allah Subhanahu wata’ala, ukuran kebaikan tidak selalu sama dengan ukuran manusia. Sesuatu yang menurut kita sederhana bisa menjadi sangat berarti di sisi-Nya.
Senyum kepada seseorang yang sedang bersedih. Mengucapkan terima kasih kepada orang yang membantu kita. Membukakan pintu untuk orang lain. Menolong seseorang membawa barang. Menghormati dan mendengarkan orang tua. Memberikan makanan kepada tetangga. Menyisihkan sedikit rezeki untuk orang yang membutuhkan.
Atau sekadar berkata lembut ketika kita sebenarnya memiliki kesempatan untuk membalas dengan perkataan yang menyakitkan. Semua itu mungkin terlihat kecil. Tetapi kebaikan memang tidak selalu harus besar. Allah Ta’ala berfirman: “Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya.” (QS. Az-Zalzalah: 7).
Ayat ini mengajarkan kepada kita agar tidak meremehkan amal. Ada kebaikan yang mungkin tidak diketahui siapa pun, tetapi diketahui Allah Subhanahu wata’ala. Ada pertolongan yang tidak pernah dipuji manusia, tetapi tercatat di sisi-Nya.
Ada air mata yang kita hapus dari wajah seseorang tanpa pernah menceritakannya kepada siapa pun. Ada pemberian yang kita anggap sedikit, tetapi mungkin sangat berarti bagi orang yang menerimanya. Karena itu, jangan menunggu memiliki banyak untuk mulai berbagi.
Jangan menunggu menjadi orang hebat untuk memberi manfaat. Jangan menunggu memiliki jabatan untuk membantu orang lain. Dan jangan menunggu datangnya kesempatan besar untuk berbuat baik. Mulailah dari apa yang kita punya.
Jika kita memiliki ilmu, bagikan dengan bijaksana. Jika memiliki tenaga, gunakan untuk membantu. Jika memiliki rezeki, sisihkan meskipun sedikit. Jika memiliki waktu, berikan perhatian kepada orang yang membutuhkan.
Jika hari ini kita hanya mampu tersenyum dan berkata lembut, maka lakukanlah dengan tulus. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kamu meremehkan kebaikan sedikit pun, walaupun sekadar bertemu saudaramu dengan wajah yang berseri-seri.” (HR. Muslim).
Betapa dekatnya Islam dengan kehidupan sehari-hari. Kebaikan tidak selalu berada di tempat yang jauh. Ia hadir di rumah, di tempat kerja, di lingkungan sekitar, bahkan dalam percakapan sederhana. Kita hanya perlu lebih peka untuk melihatnya. Mungkin hari ini ada orang tua yang membutuhkan sedikit perhatian.
Mungkin ada teman yang sedang lelah tetapi tidak bercerita. Mungkin ada tetangga yang sedang mengalami kesulitan. Mungkin ada seseorang yang hanya membutuhkan satu kalimat yang membuatnya merasa tidak sendirian. Jangan abaikan kesempatan itu.
Sebab kita tidak pernah tahu kebaikan mana yang akan menjadi sebab datangnya rahmat Allah Subhanahu wata’ala. Hidup juga tidak selalu diukur dari seberapa besar pencapaian yang berhasil kita raih. Ada nilai lain yang jauh lebih dalam, yaitu seberapa banyak manfaat yang kita tinggalkan dalam perjalanan.
Boleh jadi nama kita tidak dikenal banyak orang. Boleh jadi tidak ada yang mengingat semua yang pernah kita lakukan. Tidak mengapa. Kebaikan tidak membutuhkan tepuk tangan manusia. Cukuplah Allah Subhanahu wata’ala yang mengetahui. Maka, mulai hari ini, jangan menunggu mampu melakukan sesuatu yang besar.
Lakukan apa yang bisa dilakukan. Bantu ketika mampu. Berbagi ketika memiliki. Tersenyum ketika bertemu. Berkata baik ketika ada kesempatan. Dan hormati orang lain, terutama mereka yang selama ini mungkin jarang mendapatkan penghargaan.
Karena bisa jadi, satu kebaikan kecil yang kita lakukan hari ini menjadi sesuatu yang besar ketika kelak kita menghadap Allah Subhanahu wata’ala. Jangan pernah meremehkan kebaikan.Sebab di sisi Allah Subhanahu wata’ala, tidak ada kebaikan yang benar-benar kecil. Yang terlihat sederhana bagi manusia, bisa menjadi sangat berharga di hadapan-Nya. Bismillah.