Kondisi Umat Islam Saat Ini

@ Cecep Y Pramana

Suatu hari, mungkin kita pernah duduk sejenak setelah shalat, lalu bertanya dalam hati: Bagaimana sebenarnya keadaan umat Islam hari ini? Di satu sisi, kita melihat masjid yang ramai. Majelis ilmu tumbuh di berbagai tempat. Anak-anak belajar Al-Qur’an. Kajian hadir di masjid, kampus, perkantoran, bahkan di ruang digital.

Membaca Realitas, Menata Kembali Langkah Dakwah

Namun di sisi lain, kita juga menyaksikan berbagai persoalan yang tidak sederhana. Ada persoalan aqidah, pendidikan, wawasan, dakwah, pengorganisasian, hingga akhlak. Realitas itu tidak seharusnya membuat kita kehilangan harapan.

Justru dari sanalah muncul sebuah kesadaran: umat membutuhkan pembenahan yang serius, bertahap, dan terarah. Membaca persoalan umat bukan untuk mencari siapa yang paling salah. Membaca realitas adalah langkah awal agar kita tahu dari mana perbaikan harus dimulai.

Pertama, Ketika Aqidah Membutuhkan Penguatan

      Aqidah adalah fondasi kehidupan seorang muslim. Namun di tengah derasnya arus informasi, sebagian umat masih mudah terpengaruh oleh berbagai keyakinan dan praktik yang tidak sejalan dengan tauhid. Perdukunan, ramalan, dan berbagai bentuk kepercayaan yang bertentangan dengan aqidah terkadang bahkan tampil dalam kemasan yang dianggap biasa.

      Fenomena ini mengingatkan kita bahwa tantangan aqidah tidak selalu datang dalam bentuk yang kasar dan mudah dikenali. Kadang ia hadir perlahan melalui kebiasaan. Karena itu, dakwah perlu kembali menguatkan tauhid. Mengajarkan siapa Allah Subhanahu wata’ala.

      Mengapa hanya kepada-Nya manusia bergantung. Mengapa seorang muslim harus menjaga kemurnian ibadah dan keyakinannya. Aqidah yang kokoh membuat seseorang memiliki pegangan ketika zaman berubah. Bergantung kepada selain Allah Subhanahu wata’ala (makhluk) hanya akan mendatangkan kekecewaan karena makhluk juga bersifat lemah, berubah-ubah, dan fana.

      Dalam konsep Islam, hanya kepada Allah Subhanahu wata’alamanusia harus bergantung karena Dia adalah Al-Khaliq (Maha Pencipta) dan As-Samad (Maha Dibutuhkan/Tempat Bergantung segala makhluk). Manusia adalah makhluk yang lemah, penuh keterbatasan, dan tidak memiliki daya serta upaya tanpa pertolongan-Nya.

      Kedua, Pendidikan dan Tsaqafah yang Perlu Dihidupkan

      Persoalan umat juga berkaitan erat dengan pendidikan dan tsaqafah. Pendidikan semestinya menjadi jalan untuk membuka kesempatan, membangun kemampuan, dan melahirkan manusia yang berilmu sekaligus berintegritas.

      Namun, berbagai persoalan seperti ketimpangan akses, praktik korupsi dan kolusi, serta penyalahgunaan dunia akademik menunjukkan bahwa masih ada pekerjaan besar yang harus diselesaikan. Di sisi lain, keterbatasan wawasan dapat membuat seseorang mudah terjebak dalam cara pandang yang sempit.

      Umat membutuhkan budaya belajar yang hidup. Membaca tidak hanya untuk mendapatkan gelar. Belajar tidak hanya untuk mengejar pekerjaan. Ilmu seharusnya membantu manusia memahami kehidupan dan mengambil keputusan dengan lebih bijaksana.

      Generasi muda perlu dibiasakan untuk bertanya, membaca, berdiskusi, meneliti, dan menggunakan teknologi secara produktif. Dakwah pun harus hadir di ruang intelektual. Islam tidak pernah memerintahkan umatnya untuk berhenti belajar. Karena itu, membangun tsaqafah umat merupakan bagian dari ikhtiar membangun masa depan.

      Ketiga, Dakwah yang Menjawab Kebutuhan Zaman

      Dakwah adalah jalan untuk mengajak manusia kembali kepada kebaikan. Namun dakwah juga menghadapi tantangan. Bukan hanya persoalan jumlah penyampai dakwah, tetapi juga kualitas materi, kemampuan komunikasi, serta sarana yang digunakan. Hari ini manusia mendapatkan informasi dalam hitungan detik.

      Anak muda hidup di tengah media sosial. Perubahan budaya berlangsung cepat. Berbagai pandangan hadir tanpa batas. Dakwah perlu hadir di ruang tersebut. Bukan dengan kehilangan prinsip, tetapi dengan memperbaiki cara menyampaikan pesan. Dakwah harus mampu menyentuh akal sekaligus hati.

      Mampu menjawab pertanyaan sekaligus menghadirkan keteladanan. Mampu berbicara tentang akhirat tanpa mengabaikan persoalan kehidupan sehari-hari. Sebab manusia tidak hanya membutuhkan nasihat. Mereka juga membutuhkan pendampingan, keteladanan, dan lingkungan yang membantu mereka bertumbuh.

      Keempat, Potensi Besar yang Membutuhkan Pengorganisasian

      Umat Islam memiliki banyak potensi. Ada orang yang kuat dalam pendidikan. Ada yang ahli teknologi. Ada yang memiliki kemampuan ekonomi. Ada yang bergerak di bidang sosial. Ada yang memiliki kemampuan komunikasi. Ada pula yang memiliki ketekunan dalam membina masyarakat.

      Namun potensi yang besar membutuhkan pengelolaan. Tanpa pengorganisasian yang baik, banyak energi dapat berjalan sendiri-sendiri. Niatnya baik, tetapi hasilnya belum maksimal. Karena itu, dakwah membutuhkan manajemen. Ada perencanaan. Ada pembagian peran. Ada kaderisasi. Ada koordinasi. Ada evaluasi.

      Semangat harus berjalan bersama kemampuan. Keikhlasan perlu bertemu dengan profesionalitas. Dengan demikian, potensi umat tidak hanya menjadi kekuatan yang tersebar, tetapi dapat menjadi energi perubahan yang terarah.

      Kelima, Akhlak adalah Wajah Umat

      Pada akhirnya, kualitas umat akan terlihat dari akhlaknya. Ilmu yang banyak seharusnya melahirkan kerendahan hati. Kekuatan seharusnya melahirkan tanggung jawab. Kekuasaan seharusnya melahirkan keadilan. Kekayaan seharusnya melahirkan kepedulian.

      Namun ketika nilai agama semakin jauh dari perilaku, masyarakat akan kehilangan salah satu fondasi terpentingnya. Akhlak bukan pelengkap agama. Akhlak adalah bagian dari wajah keimanan. Karena itu, membangun umat berarti membangun manusia. Tidak hanya pikirannya, tetapi juga hatinya. Tidak hanya pengetahuannya, tetapi juga kejujurannya.

      Mengapa Dakwah Harus Bergerak?

      Berbagai persoalan tersebut tidak cukup hanya dibicarakan. Harus ada ikhtiar, harus ada gerakan perbaikan. Dan perubahan nyata selalu lahir dari sebuah tindakan dan gerakan yang konsisten. Serta bagaimana mengubah pembicaraan gerakan perbaikan tersebut menjadi sebuah ikhtiar nyata.

      Di sinilah gagasan dakwah harakiah mendapatkan relevansinya. Dakwah tidak berhenti pada pemahaman, tetapi diterjemahkan menjadi gerak perubahan yang terarah dan menyeluruh (dakwah harakiyah syamilah). Namun, perubahan tidak boleh dilakukan secara serampangan. Ada prinsip yang perlu dijaga.

      1. Rabbaniyah (Berorientasi Ketuhanan)

      Dakwah harus berorientasi kepada Allah Subhanahu wata’ala. Tujuannya bukan membesarkan nama pribadi, kelompok, golongan, atau kepentingan tertentu. Orientasi utamanya adalah mencari ridha Allah Subhanahu wata’ala dan menghadirkan kemaslahatan. Ketika orientasinya benar, aktivitas dakwah tidak mudah berubah menjadi sekadar kompetisi.

      2. Manhajiyah (konsepsional)

      Dakwah membutuhkan konsep yang jelas. Apa yang hendak diperbaiki? Siapa yang dibina? Bagaimana caranya? Apa tahapannya? Bagaimana mengukur keberhasilannya? Semangat penting, tetapi semangat tanpa arah dapat menghabiskan energi. Karena itu, dakwah membutuhkan perencanaan, program, koordinasi, dan evaluasi.

      3. Marhaliyah (Bertahap)

      Perubahan membutuhkan tahapan. Tidak mungkin memperbaiki seluruh persoalan umat dalam satu waktu. Seseorang pun tidak berubah hanya karena satu nasihat. Ia membutuhkan proses untuk mengenal, memahami, menerima, membiasakan, kemudian istiqamah. Dakwah yang sabar memahami bahwa perubahan adalah perjalanan.

      4. Aulawiyah (menekankan prioritas)

      Dakwah juga harus mengenal prioritas. Mana yang paling mendasar? Mana yang harus diselesaikan lebih dahulu? Mana yang dapat ditunda? Aqidah harus diperkuat. Pendidikan harus dibangun. Akhlak harus diperbaiki. Setelah itu berbagai persoalan lain ditangani secara proporsional. Tidak semua masalah harus diselesaikan sekaligus.

      5. Waqi’iyah (Realistis)

      Dakwah harus memahami realitas/realita. Kita hidup di zaman yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Cara manusia berkomunikasi berubah. Teknologi berkembang. Persoalan sosial semakin kompleks. Karena itu, memahami kondisi masyarakat merupakan bagian dari kebijaksanaan dalam berdakwah. Dakwah tidak boleh kehilangan prinsip, tetapi juga tidak boleh kehilangan kepekaan terhadap realitas.

      6. Mutawazinah (Keseimbangan)

      Dakwah membutuhkan keseimbangan. Aqidah diperkuat. Ilmu dikembangkan. Akhlak dibangun. Keluarga diperhatikan. Ekonomi diberdayakan. Kepedulian sosial ditumbuhkan. Generasi muda dibina. Semua membutuhkan perhatian yang proporsional.

      Sebab manusia adalah makhluk yang memiliki banyak sisi. Perubahan yang kokoh juga membutuhkan pembinaan yang menyentuh berbagai sisi kehidupan. Manusia memang makhluk multidimensional (memiliki banyak sisi), sehingga perubahan atau transformasi diri yang sejati tidak bisa terjadi secara instan atau hanya menyentuh satu aspek saja.

      Dari Kegelisahan Menjadi Gerakan Kebaikan

      Mungkin kita tidak mampu menyelesaikan seluruh persoalan umat. Tetapi kita selalu dapat mengambil bagian. Jika belum mampu membina banyak orang, mungkin kita bisa membina keluarga. Jika belum mampu membangun lembaga besar, mungkin kita bisa membangun lingkungan kecil yang baik.

      Jika belum mampu berdakwah di hadapan banyak orang, mungkin kita bisa mengajak satu sahabat kepada kebaikan. Jika belum mampu melakukan perubahan besar, kita dapat memulai dari memperbaiki diri. Sebab perubahan umat selalu membutuhkan manusia yang bersedia berubah dan mengambil tanggung jawab.

      Maka, melihat kondisi umat Islam hari ini seharusnya tidak membuat kita hanya mengeluh. Jadikan kegelisahan sebagai energi untuk belajar. Jadikan ilmu sebagai bekal untuk bergerak. Jadikan dakwah sebagai jalan untuk melayani.

      Dan jadikan kesabaran sebagai kekuatan untuk terus berjalan. Umat membutuhkan generasi yang bukan hanya mampu melihat persoalan, tetapi juga mau menjadi bagian dari penyelesaiannya. Generasi yang kokoh aqidahnya. Luas ilmunya. Baik akhlaknya. Teratur kerjanya. Bijak membaca realitasnya. Dan tulus pengabdiannya.

      Barangkali kita tidak akan melihat seluruh hasil dari perjuangan itu. Namun, setiap langkah kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas tidak pernah sia-sia di sisi Allah Subhanahu wata’ala. Tugas kita adalah menanam. Allah Subhanahu wata’ala yang menentukan bagaimana dan kapan kebaikan itu tumbuh. Wallahu a’lam bishawab.

      2Shares

      Leave a Reply

      Your email address will not be published. Required fields are marked *