Wanita Pengukir Sejarah: Khadijah RA, Perempuan yang Menguatkan Risalah
@ Cecep Y Pramana
Makkah malam itu terasa berbeda. Seorang lelaki pulang ke rumah dengan langkah yang tidak seperti biasanya. Wajahnya menyimpan kegelisahan. Pengalaman yang baru saja dialaminya di Gua Hira begitu besar untuk dipahami dalam sekejap. Dialah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam.
Di tengah kegelisahan itu, ada satu sosok yang menyambutnya. Khadijahradhiyallahu ‘anha. Ia tidak mengetahui bahwa malam itu akan menjadi awal dari sebuah perubahan besar dalam sejarah manusia. Ia juga belum mengetahui bahwa rumahnya akan menjadi salah satu tempat pertama tumbuhnya dakwah Islam.
Namun, ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam datang dalam keadaan membutuhkan ketenangan, Khadijah radhiyallahu ‘anha hadir. Bukan dengan kepanikan. Bukan dengan tuduhan. Bukan dengan pertanyaan yang membuat keadaan semakin berat. Ia hadir sebagai seorang istri yang mengenal pribadi suaminya dengan baik.
Ia tahu siapa Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam sebelum kenabian. Ia tahu bagaimana beliau menjaga amanah, menyambung silaturahmi, menolong orang yang lemah, memuliakan tamu, dan membantu mereka yang membutuhkan.
Karena itu, ketika sebuah peristiwa besar mengguncang kehidupan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, Khadijah radhiyallahu ‘anha tidak melihatnya hanya sebagai sesuatu yang menakutkan. Ia melihat pribadi yang selama ini ia kenal sebagai manusia yang jujur dan terpercaya.
Dari rumah sederhana itulah, salah satu dukungan paling penting bagi perjalanan dakwah Islam bermula. Khadijah tidak berdiri di tengah kerumunan. Ia tidak berada di panggung. Tidak ada sorotan manusia. Namun ia berada di tempat yang sangat penting.
Di sisi Rasulullah SAW.
Dan terkadang, sejarah memang lahir dari tempat-tempat yang tidak banyak diperhatikan manusia. Dari sebuah rumah. Dari sebuah keluarga. Dari seorang perempuan yang memilih untuk percaya. Dari hati yang tetap teguh ketika dunia belum memahami apa yang sedang terjadi.
Kisah Khadijah radhiyallahu ‘anha bukan sekadar kisah seorang istri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Ia adalah kisah tentang seorang perempuan yang menunjukkan bahwa iman dapat menjadi kekuatan, kesetiaan dapat menjadi keberanian, dan pengorbanan yang dilakukan dengan ikhlas dapat meninggalkan jejak yang jauh lebih panjang daripada usia manusia.
Segala puji bagi Allah Subhanahu wata’ala yang memperkenalkan kepada kita sosok-sosok mulia agar kehidupan mereka menjadi pelajaran bagi generasi setelahnya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, keluarga beliau, para sahabat, serta generasi penerus perjuangan Islam hingga akhir zaman.
Sejarah Islam dipenuhi dengan peristiwa besar yang kemudian memengaruhi perjalanan peradaban. Namun di balik peristiwa besar selalu ada manusia yang mengambil bagian. Ada yang berada di depan. Ada yang menjaga dari belakang. Ada yang memberikan ilmu. Ada yang memberikan tenaga.
Ada yang memberikan harta. Ada yang menguatkan dengan doa. Dan ada pula yang menjadi tempat seseorang menemukan kembali ketenangan ketika dunia terasa begitu berat. Khadijah radhiyallahu ‘anha adalah salah satunya.
Kita yang hidup hari ini sesungguhnya sedang menikmati buah dari perjuangan generasi sebelumnya. Banyak nilai kebaikan yang sampai kepada kita karena ada orang-orang yang dahulu bersedia menjaga, memperjuangkan, dan mengorbankan apa yang mereka miliki.
Karena itu, mengenang mereka bukan sekadar melihat masa lalu. Kita sedang mencari cermin untuk memperbaiki kehidupan hari ini. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa tidak berterima kasih kepada manusia, berarti ia tidak bersyukur kepada Allah.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).
Maka, sudah selayaknya kita mengenang, mempelajari, dan meneladani orang-orang yang telah memberikan bagian terbaik dari kehidupannya untuk kebaikan. Di antara mereka adalah para perempuan mulia dalam sejarah Islam. Mereka bukan sekadar pelengkap cerita.
Mereka turut membangun keluarga, mendidik generasi, menjaga nilai, mendukung perjuangan, mengorbankan harta, dan berdiri bersama orang-orang yang memperjuangkan kebenaran. Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (QS. Yusuf: 111).
Karena itu, kisah para perempuan mulia tidak cukup hanya dikagumi. Ia perlu direnungkan. Sebab pertanyaan terpenting setelah membaca kisah mereka bukanlah, “Betapa hebatnya mereka”. Tetapi: “Apa yang dapat saya teladani dari mereka dalam kehidupan saya hari ini?”
Dan dari sekian banyak perempuan yang mengukir sejarah Islam, ada satu nama yang selalu mengundang kita untuk berhenti sejenak, membaca kembali kehidupannya, lalu bercermin: Khadijah binti Khuwailidradhiyallahu ‘anha.
Perempuan yang Memiliki Kemuliaan Bahkan Sebelum Islam
Khadijah RA berasal dari keluarga terpandang Quraisy. Ia dikenal sebagai perempuan yang memiliki kehormatan, kecerdasan, kematangan, dan kemampuan dalam perniagaan. Namun yang membuatnya istimewa bukan semata-mata kekayaan. Ia memiliki karakter.
Pada masa sebelum Islam, ia dikenal dengan sebutan Ath-Thahirah, perempuan yang suci. Sebutan tersebut menggambarkan kehormatan dan kesucian dirinya di tengah masyarakat Makkah. Khadijah radhiyallahu ‘anha menunjukkan bahwa seseorang dapat tetap menjaga prinsip meskipun lingkungan belum sepenuhnya mendukung nilai yang ia pegang.
Ia memiliki harta, tetapi tidak diperbudak oleh harta. Ia memiliki kedudukan, tetapi tidak menjadikannya alasan untuk hidup hanya bagi dirinya sendiri. Ia memiliki kehormatan, tetapi tidak menjadikannya alasan untuk menjauh dari penderitaan orang lain.
Ketika kemudian datang risalah Islam, seluruh kualitas itu menemukan tempatnya. Khadijah radhiyallahu ‘anha menjadi perempuan pertama yang beriman kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Ketika orang lain meragukan, ia percaya. Ketika orang lain mendustakan, ia membenarkan.
Ketika dakwah membutuhkan pengorbanan, ia memberikan apa yang dimilikinya. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang Khadijah: “Ia beriman kepadaku ketika orang-orang mengingkariku, membenarkanku ketika orang-orang mendustakanku, dan menolongku dengan hartanya ketika orang-orang tidak memberiku.”
Inilah salah satu wajah cinta yang paling indah. Cinta tidak berhenti pada perasaan. Cinta menjadi tindakan. Khadijah radhiyallahu ‘anha tidak hanya mengatakan bahwa ia percaya kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Ia membuktikannya dengan seluruh kehidupannya.
Ia menjadi tempat berteduh. Ia menjadi sumber ketenangan. Ia memberikan harta. Ia mendampingi perjuangan. Ia menjaga keluarga. Dan ia tetap berada di sisi Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam ketika jalan dakwah mulai dipenuhi tekanan.
Ketika Dukungan Menjadi Kekuatan
Ada masa dalam kehidupan ketika seseorang tidak membutuhkan banyak orang. Ia hanya membutuhkan satu orang yang benar-benar percaya. Khadijah radhiyallahu ‘anha menjadi orang itu bagi Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Dari kisahnya kita belajar bahwa seseorang dapat menjadi sangat berarti bukan karena banyak bicara, tetapi karena tahu kapan harus hadir.
Ada orang yang kehadirannya membuat masalah terasa semakin berat. Tetapi ada pula orang yang kehadirannya membuat hati kembali tenang. Khadijah radhiyallahu ‘anha termasuk yang kedua. Karena itu, keteladanannya tidak hanya relevan bagi perempuan. Setiap orang dapat belajar darinya.
Seorang suami dapat belajar bagaimana menghargai pasangan. Seorang istri dapat belajar bagaimana menjadi sumber kekuatan bagi keluarga. Orang tua dapat belajar bagaimana membangun rumah yang menjadi tempat bertumbuhnya iman.
Generasi muda dapat belajar bahwa keberhasilan bukan hanya tentang apa yang berhasil dikumpulkan, tetapi juga tentang apa yang bersedia diberikan untuk kebaikan. Khadijah radhiyallahu ‘anha telah memperlihatkan semuanya.
Ia memiliki kemampuan, tetapi tidak sombong. Ia memiliki harta, tetapi tidak diperbudak harta. Ia memiliki kedudukan, tetapi tetap rendah hati. Ia memiliki cinta, tetapi cinta itu diarahkan kepada perjuangan di jalan Allah Subhanahu wata’ala. Dan yang paling penting, ia memiliki iman yang membuatnya mampu bertahan ketika keadaan tidak mudah.
Salam dari Allah SWT
Salah satu kemuliaan terbesar Khadijah radhiyallahu ‘anha adalah kabar gembira tentang rumah di surga. Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim, Jibril ‘alaihissalam datang kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dan menyampaikan salam dari Allah Subhanahu wata’ala kepada Khadijah radhiyallahu ‘anha.
Ia juga membawa kabar gembira bahwa Khadijah radhiyallahu ‘anha akan mendapatkan rumah di surga. Sungguh, penghargaan yang sangat agung. Khadijah tidak mengejar popularitas. Ia tidak sibuk memastikan namanya dikenal manusia. Ia hanya menjalankan apa yang diyakininya benar.
Namun Allah Subhanahu wata’ala menjadikan namanya dikenang oleh umat manusia hingga hari ini. Inilah salah satu pelajaran yang perlu kita bawa pulang dari kisah Khadijah radhiyallahu ‘anha: Jangan terlalu sibuk mengejar agar hidup kita dikenang. Sibuklah melakukan kebaikan yang layak untuk dikenang.
Karena manusia mungkin lupa. Waktu mungkin berlalu. Nama kita mungkin tidak disebut. Tetapi Allah tidak pernah menyia-nyiakan amal orang-orang yang ikhlas. Khadijah radhiyallahu ‘anha telah selesai menulis sejarah kehidupannya. Kini kita sedang menulis sejarah kita sendiri.
Mungkin tidak dengan harta sebesar yang ia miliki. Mungkin tidak dengan kedudukan seperti yang ia miliki. Mungkin tidak pula dengan peran sebesar yang Allah Subhanahu wata’ala berikan kepadanya. Tetapi kita memiliki sesuatu yang sama: kesempatan untuk memilih menjadi baik.
Kita memiliki waktu. Kita memiliki ilmu. Kita memiliki tenaga. Kita memiliki keluarga. Kita memiliki kemampuan. Kita memiliki kesempatan untuk membantu. Dan semua itu adalah amanah. Semoga dari Khadijah radhiyallahu ‘anha kita belajar menjadi manusia yang tidak hanya ingin mendapatkan dukungan, tetapi juga mampu mendukung.
Tidak hanya ingin dicintai, tetapi mampu mencintai dengan pengorbanan. Tidak hanya ingin dihargai, tetapi mampu menghargai. Tidak hanya ingin dikenang, tetapi meninggalkan kebaikan. Sebab pada akhirnya, kehidupan bukan hanya tentang berapa lama kita hidup.
Tetapi tentang apa yang kita lakukan dengan kehidupan yang Allah Subhanahu wata’ala titipkan. Khadijah radhiyallahu ‘anha telah memberikan jawabannya. Ia memilih iman. Ia memilih kesetiaan. Ia memilih pengorbanan. Ia memilih dakwah.
Dan karena pilihan-pilihan itu, namanya tetap hidup dalam hati umat Islam. Khadijah radhiyallahu ‘anha bukan hanya perempuan yang berada di samping Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Ia adalah perempuan yang ikut menguatkan perjalanan risalah sejak langkah-langkah pertamanya.
Semoga Allah Subhanahu wata’ala memberikan kepada kita keteguhan iman, kejernihan hati, keberanian dalam kebaikan, dan keikhlasan untuk memberikan manfaat. Semoga rumah kita menjadi tempat lahirnya ketenangan. Semoga keluarga kita menjadi tempat saling menguatkan. Semoga harta kita menjadi jalan kebermanfaatan. Semoga ilmu kita menjadi cahaya.
Dan semoga kehidupan kita, meskipun sederhana, memiliki arti di hadapan Allah Subhanahu wata’ala. Karena sejarah besar sering kali dimulai dari satu hati yang memilih untuk percaya kepada kebenaran.Dan salah satu hati itu adalah hati Khadijahradhiyallahu ‘anha. Wallahu a’lam bishawab.