Apa yang Dirindukan di Dalam UPA

@ Cecep Y Pramana

Ada seseorang yang sepanjang pekan terlihat baik-baik saja. Ia bekerja, menyelesaikan tugas, bercanda dengan teman, aktif di media sosial, bahkan bertemu banyak orang. Namun, ada satu hal yang tidak banyak diketahui orang lain. Ia sedang lelah. Bukan hanya tubuhnya, tetapi juga hatinya.

Ketika Pertemuan Sederhana Menjadi Tempat Hati Menemukan Ketenangan

Terlalu banyak yang dipikirkan. Terlalu banyak yang harus diselesaikan. Terlalu banyak informasi yang masuk. Terlalu banyak tuntutan yang harus dipenuhi. Kemudian tiba hari pertemuan UPA. Ia datang. Tidak membawa banyak cerita. Tidak pula sedang mencari sesuatu yang istimewa.

Ia hanya ingin bertemu. Duduk bersama. Mendengar nasihat. Membaca Al-Qur’an. Berbincang dengan saudara seiman. Tertawa sebentar. Mungkin hanya dua jam sampai dua setengah jam. Tetapi setelah itu, ada sesuatu yang berubah.

Masalah belum selesai. Pekerjaan masih menunggu. Tanggung jawab tetap ada. Namun, hati terasa lebih ringan. Mungkin itulah yang sebenarnya dirindukan dari sebuah UPA. Bukan sekadar pertemuannya. Tetapi rasa yang hadir di dalam pertemuan itu.

Apa Sebenarnya yang Dirindukan?

Ketika seseorang mengatakan, “Saya rindu UPA,” pertanyaannya adalah: Apa yang sebenarnya ia rindukan?Apakah tempatnya? Apakah makanannya? Apakah materinya? Apakah suasananya? Apakah orang-orangnya? Atau ada sesuatu yang lebih dalam?

Mungkin yang dirindukan adalah perasaan ketika duduk bersama orang-orang yang mengingatkan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Mungkin yang dirindukan adalah kesempatan untuk berhenti sejenak dari kesibukan. Mungkin yang dirindukan adalah seseorang yang mau mendengarkan tanpa tergesa menghakimi.

Mungkin yang dirindukan adalah suasana ketika ilmu tidak hanya disampaikan, tetapi dibicarakan dan dirasakan dalam kehidupan. Mungkin yang dirindukan adalah ukhuwah. Atau mungkin yang paling dalam adalah kerinduan kepada diri sendiri yang ingin terus menjadi lebih baik.

Karena manusia membutuhkan ruang untuk kembali. Kembali mengingat tujuan. Kembali menata hati. Kembali memperbaiki niat. Kembali menguatkan langkah. Dan UPA dapat menjadi salah satu ruang itu. Ruang untuk kembali adalah sesuatu yang sangat manusiawi, terutama di tengah ritme hidup yang sering kali menuntut kita untuk terus bergerak tanpa sempat berhenti dan berkaca.

Rindu kepada Suasana yang Mengingatkan Allah

Dunia membuat manusia mudah lupa. Kita bangun dengan pekerjaan. Beraktivitas dengan berbagai target. Memegang ponsel. Membuka media sosial. Membaca berita. Mengejar kebutuhan. Menyelesaikan pekerjaan. Lalu hari berakhir. Tanpa terasa, banyak waktu berlalu tanpa cukup ruang untuk bertanya: Bagaimana keadaan hatiku hari ini?

Di tengah kehidupan yang demikian cepat, UPA menjadi penting ketika ia mampu menghadirkan jeda. Jeda untuk mengingat Allah Subhanahu wata’ala. Jeda untuk membaca ayat-Nya. Jeda untuk mendengarkan nasihat. Jeda untuk berbicara tentang kehidupan dengan perspektif iman. Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).

Ketenangan itu bukan berarti semua masalah hilang. Ketenangan adalah ketika hati memiliki tempat untuk bersandar. Karena itu, bisa jadi yang paling dirindukan di dalam UPA bukanlah pembahasannya. Tetapi ketenangan yang muncul setelah hati kembali mengingat Allah Subhanahu wata’ala.

Rindu Bertemu dengan Saudara

Ada hal yang tidak bisa digantikan oleh teknologi. Pertemuan langsung. Kita bisa mengirim pesan. Kita bisa melakukan video call. Kita bisa memberikan tanda suka. Kita bisa mengikuti percakapan di grup. Tetapi ada kehangatan yang berbeda ketika duduk bersama.

Melihat wajah. Mendengar suara. Menangkap ekspresi. Tertawa bersama. Saling menyapa. Saling menanyakan kabar. Di situlah ukhuwah mendapatkan bentuknya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurat: 10).

Persaudaraan bukan sekadar status. Ia membutuhkan perjumpaan. Membutuhkan perhatian. Membutuhkan kepedulian. Membutuhkan kesediaan untuk hadir. Kadang seseorang datang ke UPA bukan karena membutuhkan materi.

Ia hanya ingin bertemu dengan orang-orang yang membuatnya merasa diterima. Dan itu bukan sesuatu yang kecil. Di tengah kehidupan yang semakin individual, merasa memiliki saudara adalah nikmat yang besar. Merasa diterima dan memiliki rasa kekeluargaan adalah salah satu kebutuhan paling dasar manusia yang sering kali sulit ditemukan di era modern ini.

Rindu Didengarkan

Ada banyak orang yang setiap hari berbicara. Namun sedikit yang benar-benar didengarkan. Di rumah, ia mungkin menjadi orang yang harus kuat. Di tempat kerja, ia dituntut profesional. Di lingkungan sosial, ia berusaha terlihat baik-baik saja. Di media sosial, ia mungkin hanya menampilkan sisi yang ingin dilihat orang.

Lalu di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri? Di sinilah UPA dapat memiliki peran yang sangat berarti. Menjadi ruang untuk mendengarkan. Bukan untuk membenarkan semua hal. Bukan untuk membiarkan kesalahan. Tetapi untuk memahami sebelum menasihati. Kadang seseorang tidak membutuhkan jawaban yang panjang.

Ia hanya membutuhkan seseorang yang mau berkata: “Ceritakan. Saya dengarkan.” Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam adalah teladan dalam kelembutan dan kepedulian. Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Maka berkat rahmat Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka.” (QS. Ali Imran: 159). Kelembutan membuat hati terbuka. Dan hati yang terbuka lebih mudah menerima nasihat.

Rindu Mendapatkan Nasihat yang Menguatkan

Ada nasihat yang membuat seseorang merasa semakin kecil. Ada pula nasihat yang membuat seseorang ingin bangkit. Keduanya mungkin sama-sama benar. Tetapi cara menyampaikannya berbeda. UPA membutuhkan nasihat yang membuat anggota mampu melihat dirinya dengan jujur tanpa kehilangan harapan.

Ketika seseorang lalai, ia diingatkan. Ketika seseorang salah, ia diarahkan. Ketika seseorang lemah, ia dikuatkan. Ketika seseorang berhasil, ia diingatkan agar tetap rendah hati. Inilah keseimbangan dalam pembinaan. Tegas dalam prinsip. Lembut dalam pendekatan.

Nasihat bukan untuk menunjukkan siapa yang lebih tahu. Nasihat adalah bentuk kasih sayang. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Agama itu nasihat.” (HR. Muslim). Nasihat yang baik bukan hanya membuat seseorang tahu apa yang salah. Ia membantu seseorang menemukan jalan untuk memperbaikinya.

Rindu Belajar Bersama

Ada orang yang datang ke UPA karena ingin mendapatkan ilmu. Namun setelah beberapa kali pertemuan, ia menemukan sesuatu yang lebih besar. Ia menemukan bahwa belajar menjadi lebih menyenangkan ketika dilakukan bersama. Satu orang bertanya.

Yang lain menjawab. Yang lain menambahkan pengalaman. Pembina memberikan arahan. Semua pulang membawa sesuatu. Tidak harus sama. Tetapi masing-masing mendapatkan bagian yang dibutuhkan. Inilah keindahan belajar dalam kebersamaan. Kita menyadari bahwa tidak ada seorang pun yang selesai belajar.

Usia dua puluh masih belajar. Usia tiga puluh masih belajar. Usia empat puluh masih belajar. Usia lima puluh masih belajar. Bahkan ketika usia semakin bertambah, kebutuhan untuk memperbaiki diri tidak pernah selesai.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Katakanlah, apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9).Ilmu membuat perjalanan menjadi lebih terarah. Namun ilmu akan menjadi lebih bermakna ketika diterjemahkan menjadi amal.

Rindu pada Percakapan yang Bermakna

Tidak semua percakapan harus serius. UPA juga membutuhkan tawa. Humor yang sehat. Cerita sederhana. Obrolan ringan. Karena manusia bukan hanya membutuhkan ilmu. Manusia membutuhkan suasana. Terkadang satu candaan membuat pertemuan terasa hangat. Satu cerita membuat anggota lebih mengenal satu sama lain.

Satu percakapan ringan membuka jalan menuju pembicaraan yang lebih dalam. Yang penting adalah tetap menjaga adab. Tidak merendahkan. Tidak mempermalukan. Tidak menjadikan kekurangan seseorang sebagai bahan hiburan. Sebab tujuan kebersamaan bukan hanya membuat orang tertawa. Tetapi membuat orang merasa nyaman berada di antara saudara.

Rindu Perhatian yang Sederhana

Ada perhatian yang nilainya tidak bisa dihitung. “Sudah sampai rumah?” “Bagaimana kabarnya?” “Kenapa beberapa kali tidak hadir?” “Semoga urusannya dimudahkan.” “Kalau ada yang bisa dibantu, kabari.” Kalimat-kalimat itu hanya sederhana.

Tetapi bagi seseorang yang sedang menghadapi masa sulit, perhatian itu bisa sangat berarti. Inilah mengapa UPA tidak cukup hanya memiliki sistem. UPA juga membutuhkan hati. Data anggota penting. Kehadiran penting. Evaluasi penting. Agenda penting.

Tetapi di balik semuanya ada manusia yang perlu diperhatikan. Jangan sampai kita sangat sibuk mencatat siapa yang hadir, tetapi lupa mencari tahu mengapa seseorang mulai tidak hadir. Jangan hanya menghitung jumlah anggota. Kenali manusianya. Pahami keadaannya. Dengarkan ceritanya. Karena pembinaan adalah proses membersamai manusia.

Rindu Merasa Diterima

Tidak semua orang datang ke UPA dalam keadaan sempurna. Ada yang sedang belajar memperbaiki ibadah. Ada yang sedang berjuang meninggalkan kebiasaan buruk. Ada yang masih belajar membaca Al-Qur’an. Ada yang belum percaya diri berbicara.

Ada yang memiliki banyak pertanyaan. Ada yang pernah jatuh berkali-kali. UPA seharusnya menjadi ruang yang membantu mereka bertumbuh. Bukan tempat yang hanya nyaman bagi orang yang sudah kuat. Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Az-Zumar: 53).

Ayat ini mengajarkan bahwa pintu perbaikan selalu terbuka. Maka pembinaan harus menghadirkan harapan. Kesalahan boleh dikoreksi. Kekurangan boleh diperbaiki. Namun jangan sampai seseorang kehilangan keberanian untuk kembali. Sebab orang yang sedang belajar menjadi baik membutuhkan lingkungan yang membuatnya ingin terus mencoba.

Rindu Keteladanan

Ada materi yang kita dengar. Ada keteladanan yang kita lihat. Sering kali, yang kedua lebih membekas. Seorang pembina yang datang tepat waktu sedang mengajarkan disiplin. Pembina yang memegang amanah sedang mengajarkan integritas.

Pembina yang sabar sedang mengajarkan pengendalian diri. Pembina yang meminta maaf sedang mengajarkan kerendahan hati. Pembina yang tetap hadir ketika anggota sedang sulit sedang mengajarkan kesetiaan. Begitu pula anggota.

Ketika seseorang rajin membantu, ia sedang mengajarkan kepedulian. Ketika seseorang menyambut anggota baru, ia sedang mengajarkan ukhuwah. Ketika seseorang berbagi ilmu, ia sedang mengajarkan kemurahan hati. UPA menjadi hidup ketika nilai-nilai Islam tidak hanya dibicarakan. Tetapi terlihat dalam perilaku.

Rindu Pulang dengan Hati yang Lebih Baik

Mungkin ini yang paling penting. Seseorang datang ke UPA sebagai dirinya sendiri. Kemudian ia pulang dengan membawa sesuatu. Bukan barang. Tetapi perubahan kecil. Mungkin hari itu ia mendapatkan satu ayat. Satu nasihat. Satu kesadaran.

Satu tekad. Satu inspirasi. Tidak banyak. Tetapi cukup untuk membuat langkah berikutnya lebih baik. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling kontinu, meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Jangan meremehkan perubahan kecil. Mungkin hari ini seseorang baru mampu memperbaiki satu kebiasaan. Biarkan. Besok mungkin bertambah satu lagi. Lusa bertambah lagi. Begitulah manusia tumbuh. Sedikit demi sedikit. Hari demi hari. Pertemuan demi pertemuan.

Rindu Menjadi Bagian dari Sesuatu yang Baik

Manusia memiliki kebutuhan untuk merasa bahwa dirinya berarti. Ia ingin menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri. UPA dapat memberikan ruang itu. Di sana seseorang belajar bahwa kebaikan tidak harus dilakukan sendirian. Ada saudara yang berjalan bersama.

Ada pembina yang mendampingi. Ada ilmu yang dipelajari. Ada amal yang dilakukan. Ada masyarakat yang ingin dilayani. Ada kehidupan yang ingin diperbaiki. Dari sinilah pembinaan bergerak dari ruang kecil menuju kehidupan yang lebih luas. Seseorang belajar di UPA.

Kemudian ia membawa nilai itu ke rumah. Ke tempat kerja. Ke kampus. Ke lingkungan. Ke masyarakat. Ia menjadi pribadi yang lebih peduli. Lebih sabar. Lebih bertanggung jawab. Lebih siap memberi manfaat.

Rindu pada UPA yang Tidak Kehilangan Ruh

UPA bisa memiliki agenda yang banyak. Namun agenda bukanlah ruhnya. UPA bisa memiliki administrasi yang rapi. Namun administrasi bukanlah ruhnya. UPA bisa memiliki jumlah anggota yang banyak. Namun jumlah bukanlah ruhnya. Ruh UPA ada pada manusia yang bertumbuh di dalamnya.

Ketika hati semakin dekat kepada Allah Subhanahu wata’ala. Ketika ukhuwah semakin kuat. Ketika ilmu semakin bertambah. Ketika amal semakin nyata. Ketika anggota semakin peduli. Ketika pembina semakin memahami. Di situlah UPA hidup. Karena pembinaan bukan tentang membuat orang sekadar hadir. Pembinaan adalah membantu seseorang menjadi lebih baik.

Apa yang Seharusnya Dirindukan?

Maka, ketika kita bertanya: “Apa yang dirindukan di dalam UPA?” Jawabannya mungkin bukan satu hal dan berbeda-beda. Yang dirindukan adalah suasananya. Orang-orangnya. Ilmunya. Nasihatnya. Tawa dan candanya. Doanya. Perhatiannya. Ukhuwahnya. Dan terutama, perasaan bahwa kita sedang berjalan menuju kebaikan bersama-sama.

Rindu bertemu saudara. Rindu membaca Al-Qur’an bersama. Rindu belajar. Rindu berdiskusi. Rindu saling mengingatkan. Rindu mendengar nasihat. Rindu berbagi cerita. Rindu melakukan kebaikan. Rindu menjadi lebih baik. Itulah kerinduan yang seharusnya tumbuh. Bukan hanya rindu kepada tempat. Tetapi rindu kepada nilai-nilai kebaikan yang hidup di dalamnya.

Ketika UPA Menjadi Tempat Hati Kembali

Pada akhirnya, UPA yang baik bukan hanya tempat seseorang datang. Ia menjadi tempat seseorang kembali. Ketika hidup terasa ramai, ia kembali. Ketika hati mulai lelah, ia kembali. Ketika semangat turun, ia kembali. Ketika ingin belajar, ia kembali. Ketika ingin berbagi, ia kembali.

Bukan karena UPA mampu menyelesaikan semua persoalan. Tetapi karena di sana ia menemukan orang-orang yang mengingatkan bahwa kehidupan tidak harus dijalani sendirian. Ada Allah Subhanahu wata’ala yang selalu dekat. Ada saudara yang peduli. Ada ilmu yang menuntun. Ada ukhuwah yang menguatkan.

Dan ada kesempatan untuk terus memperbaiki diri. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perumpamaan orang mukmin dengan orang mukmin lainnya seperti sebuah bangunan, sebagian menguatkan sebagian yang lain.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Betapa indahnya perumpamaan itu. Satu orang mungkin lemah. Tetapi bersama yang lain, ia menjadi kuat. Satu orang mungkin kehilangan arah. Tetapi saudara dapat mengingatkan. Satu orang mungkin sedang jatuh. Tetapi tangan yang lain dapat membantunya berdiri.

Penutup: Bukan Sekadar Rindu Bertemu

Suatu hari, mungkin kita akan lupa materi apa yang pernah dibahas. Kita mungkin lupa siapa yang duduk di sebelah kita. Kita mungkin lupa makanan apa yang pernah disajikan. Tetapi kita mungkin akan selalu mengingat bagaimana perasaan kita ketika berada di sana. Pernah merasa diterima. Pernah merasa didengar.

Pernah merasa dikuatkan. Pernah merasa memiliki saudara. Pernah merasa hati kembali dekat kepada Allah Subhanahu wata’ala. Itulah yang membuat sebuah UPA memiliki tempat khusus dalam hati. Karena yang dirindukan bukan sekadar pertemuan. Yang dirindukan adalah rasa menjadi bagian dari kebaikan.

Maka mari kita bangun UPA yang menghadirkan kerinduan seperti itu. UPA yang membuat anggota ingin hadir tanpa merasa terpaksa. UPA yang membuat orang nyaman belajar. UPA yang membuat hati berani bercerita. UPA yang membuat ukhuwah semakin kuat. UPA yang membuat ilmu menjadi amal.

UPA yang membuat seseorang pulang dengan satu tekad sederhana: “Pekan depan, aku ingin menjadi lebih baik.”Sebab mungkin itulah hakikat pembinaan. Bukan membuat seseorang berubah dalam satu pertemuan. Tetapi menemani seseorang berubah sedikit demi sedikit.

Bukan membuat semua orang sempurna. Tetapi membuat setiap orang terus mau bertumbuh. Dan bukan sekadar membuat orang rindu kepada UPA. Tetapi membuat mereka rindu kepada kebaikan, ilmu, ukhuwah, dan suasana yang mendekatkan hati kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Karena pada akhirnya, yang paling indah dari sebuah UPA bukan ketika banyak orang datang. Tetapi ketika orang-orang yang datang pulang membawa cahaya. Dan ketika hari pertemuan berikutnya tiba, hati mereka berkata: “Aku ingin kembali”. Wallahu a’lam bishawab.

2Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *